Sabtu, 06 Juli 2013

Revolusi Belajar dalam Pembelajaran : Metode Cornell


Revolusi Belajar dalam Pembelajaran : Metode Cornell

Jika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggap permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya.
Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar.
Tak sedikit siswa menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.
Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar.  Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan.  Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia,  yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka;  (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.
Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R: survey (meninjau), question (bertanya), read
(membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).
Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi tiga  yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya, hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja.
Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran berupa gambar atau grafik.  Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.
Cara mencatat yang baik adalah dengan memggunakan metode Cornell dan Mind map. Mencatat dengan metode Cornell, yaitu dengan membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting.
Sedangkan metode Mind map adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Mind map sebenarnya merupakan suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam suatu proses berpikir.
Untuk mengingat, bisa digunakan metode  loci, assosiasi dan chunking. Ketiga metode ini bisa meningkatkan daya ingat karena memaksimalkan kerja otak kanan. Contoh metode asosiasi adalah mengambil suku kata yang mudah diingat. Misalnya, untuk mengingat negara-negara yang ada di Asia Selatan, bisa dibuat kalimat bapa ibhune srimala, yang artinya Bangladesh, Pakistan, India, Bhutan Nepal, Srilangka dan Maladewa. Metode chunking, adalah metode untuk mengingat angka dengan cara mengelompokannya sehingga mudah dihafal.
Sedangkan metode loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat (dihapalkan) dengan tempat atau benda tertentu secara spesifik dan familiar dengan kita. Jadi kita harus memilih tempat yang kita kenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar. Maka kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, maka diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.
(-)Anda ingin anak anda sukses dalam belajar? Bacalah buku menarik ini,
dapatkan di CORDOVA Bookstore Online

SINOPSIS:
“Tampaknya, peristiwa paling buruk (di dunia ini) adalah jika sekolah
dijalankan dengan metode ancaman, paksaan, dan autoritas semu.” (ALBERT
EINSTEIN)
Bob Samples sepertinya menyimpan kecemasan yang sama dengan Einstein
ketika berbicara tentang sistem belajar di sekolah. Mengawali karir
sebagai seorang guru sekolah anak-anak, Samples sangat memahami bahwa
sistem sekolah yang kaku, dogmatis, searah, pasif, dan tertutup akan
membelenggu kebebasan siswa untuk berekspresi. Sistem ini pada akhirnya
membuat mereka menjadi manusia yang tidak kreatif dan berwawasan sempit.
Di dalam buku ini, Samples melontarkan gagasan menakjubkan tentang:
- fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka;
- modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta
cara-cara mengembangkannya;
- pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk
membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan
dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran;
- aktifitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan
kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas
belajar yang kita miliki.
Disamping memperkaya cara-cara belajar yang diuraikan dalam QUANTUM
LEARNING dan REVOLUSI CARA BELAJAR, buku ini juga membekali Anda dengan
kemampuan belajar lebih jauh untuk mengidentifikasi dan menajamkan
modalitas, gaya belajar, kreatifitas, dan kedewasaan Anda.
* BOB SAMPLES adalah pengarang enam buku, termasuk karya klasik METAPHORIC
MIND. Sejak 1960-an dia mengabdikan dirinya untuk menyelidiki masalah
pembelajaran. Tulisan dan karya filmnya telah memenangi berbagai
penghargaan nasional.
3. QUANTUM LEARNING: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan
Oleh: Bobbi DePorter & Mike Hernacki
“Karena hasil tidak memuaskan yang dicapai sekolah-sekolah umum, Quantum
Learning menjadi suatu keharusan. Kita hidup dalam dunia yang penuh
tantangan. Strategi dalam buku ini dapat membantu memberikan
tantangan-tantangan tersebut kepada orang dari segala usia agar sukses
dalam kehidupan.” –Patrick Foley, Presiden, CEO DHL Worldwide Express.
4. QUANTUM TEACHING: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas
Oleh: Bobbi De Porter, Mark Reardon, Sarah Singer-Nourie
“Untuk guru-guru yang telah kehilangan idealisme, gairah, cinta mengajar
yang pernah mereka miliki, saya menganjurkan Quantum Teaching. Buku ini
akan mengobarkan kembali api dalam diri Anda –juga dari siswa Anda!
–Jack Canfield, Penulis Chicken Soup for the Soul
Revolusi Belajar dalam Pembelajaran[Opini]
Revolusi Belajar dalam Pembelajaran
Oleh : Indra Yusuf
Ketika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggapnya permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya. Sama halnya saat kita mencoba suatu jenis alat musik, tentu pertama kali akan terasa sulit. Namun setelah kita mengetahui cara dan biasa menggunakannya, tentu kita akan merasakan bermain musik itu sangat mengasyikan.
Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar (baca : sekolah). Karena tidak sedikit siswa yang menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian keadaanya, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.
Sebagai seorang guru yang profesional tentu kita berkewajiban untuk terus berupaya memotivasi dan menjaga semangat belajar siswanya. Namun disamping itu ada yang lebih penting, yakni mengenalkan sekaligus mengajarkan cara atau seni belajar kepada
siswa. Sehingga nantinya siswa akan merasa enjoy dalam belajar. Karena cara belajar adalah kunci dari kegiatan belajar itu sendiri. Sekolah akan menjadi suatu tempat yang menyenangkan dan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang memenjarakan bagi para siswa.
Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan diberbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia dianugrahi otak yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Ternyata kedua otak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Otak kanan memiliki sifat long term memory atau mampu mengingat dalam jangka waktu yang lebih lama. Kegiatan otak kanan lebih pada pengolahan informasi yang berupa irama, musik, imajinasi, emosi, warna, gambar dan diagram. Sedangkan otak kiri yang tergolong short term memory atau mengingat dalam jangka waktu yang lebih pendek. Otak Kiri berkaitan dengan kemampuan verbal, matematis, analitis, sistematis dan bersifat logis. Aktifitas yang dapat direspon secara baik oleh otak kiri diantaranya adalah membaca, menulis dan berhitung. Sebagai contoh yang membuktikan bahwa daya ingat otak kanan lebih panjang dari otak kiri adalah saat guru bertemu dengan muridnya. Guru akan lebih dulu mengenal wajahn muridnya dibandingkan dengan namanya. Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka; (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki. Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R survey (meninjau), question (bertanya), read (membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).
Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi 3 yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru dalam kegiatan \\ hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja. Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran jika erupa gambar atau grafik. Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah
tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.
Cara mencatat yang baik adalah dengan memggunakan metode Cornell dan Mind Maping. Mencatat dengan metode cornell, yaitu dengan membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kemudian kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang
sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting. Metode mind Map adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Mind Map sebenarnya merupakan suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam suatu proses berpikir.
Sedangkan Cara mengingat dapat menggunakan metode loci, assosiasi dan chunking. Ketiga metode ini bisa meningkatkan daya ingat karena memaksimalkan kerja otak kanan. Contoh dari metode asosiasi, ambil suku kata yang mudah diingat, misal untuk mengingat negara-negara yang berada di Asia Selatan dengan bantuan kalimat bapa ibhune srimala, yang artinya Bangladesh, Pakistan, India, Bhutan Nepal, Srilangka dan Maladewa. Metode chunking, adalah metode untuk mengingat angka dengan cara mengelompokanny sehingga mudah dihafal.
Sedangkan metode loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat (dihapalkan) dengan tempat atau benda tertentu (spesifik) yang familiar dengan kita. Jadi kita harus memilih tempat yang kita kenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar. Maka kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, maka diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.
Cara berpikir kreatif yakni berpikir dengan sudut pandang yang berbeda, berpikir optimis karena semua dapat kita kerjakan dan meninggalkan gaya berpikir konservatif. Berkat berpikir kreatif inilah karya dan kesuksesan besar diraih, sehingga tidaklah berlebihan jika berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Diharapkan dengan menerapkan revolusi belajar dalam pembelajaran dapat menggali dan melejitkan potensi siswa yang masih tersembunyi. Bagaimanapun setiap siswa memiliki potensi untuk mengantarkannya ke sebuah gerbang kesuksesanya.
Penulis adalah guru SMA Negeri 7 Cirebon dan Pengajar Bimbel Ganesha Operation Cirebon.
Alfa Class
Penelitian terbaru tentang akselerasi dalam proses pembelajaran adalah melibatkan seluruh bagian otak secara menyeluruh seperti fisik, pikiran, indra dan emosi. Bahkan menurut Profesor Diamond, rahasia terdalam bagi proses pembelajaran di otak adalah kesiapan pembelajar (siswa) untuk menerima informasi, dan itu terjadi jika otak dalam keadaan relaxed alertness (waspada yang relaks), yaitu pada kondisi alfa. Hasil pengukuran dengan mesin EEG, otak dalam kondisi alfa mempunyai gelombang elektro
magnetik 8-12 cps (cycle per second), suatu kondisi ideal untuk belajar (optimum learning state),sehingga proses KBM lebih optimal.

Tambahan :
Catatan dengan sistem Cornell mengurangi kelemahan pada sistem pencatatan biasa. Proses mencatat seperti yang biasa dilakukan oleh orang pada umumnya, seringkali tidak disertai keaktifan dalam proses mencatatnya. Mudah sekali bagi orang untuk sekedar menyalin saja tanpa mengerti apa isi yang dicatatnya.

Catatan dengan sistem Cornell memaksa orang untuk selalu aktif dalam proses mencatat. Secara bentuk catatan Cornel mirip seperti catatan biasa, hanya ada tambahan kolom yang lebih kecil.  Kolom kecil ini gunanya adalah untuk mencatat pemikiran yanng timbul saat mencatat, ide-ide yang timbul, hubungan dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya maupun pertanyaan yang timbul. Catatan pribadi pada kolom kecil ini yang membedakan dengan catatan biasa. Dengan sistem Cornell, pikiran kita saat mencatat menjadi jauh lebih aktif sehingga apa yang didapat selama perkuliahan menjadi lebih efektif.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com