Jumat, 10 Februari 2012


MAKALAH
HAKIKAT TASAWUF IRFANI
BESERTA TOKOH-TOKOHNYA

DOSEN PEMBIMBING : M. SOLIHIN MUSTAQIM,S.Ud






Disusun Oleh :

Nama : Arjamudin
NIM    : UR 110973



JURUSAN PUBLIC RELATION FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN AKADEMIK
2011/2012




KATA PENGANTAR

Assalamualikum wr.wb
Pertama-tama, kami mengajak semua untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dalam perlindungan-Nya.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ahmad Solihin, S.Ud selaku dosen mata kuliah Tasawuf yang memberikan pelajaran serta bimbingan yang tidak pernah putus kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini jauh dari sempurna dan tentu masih banyak kesalahan, kejanggalan dan kehilafan serta kekurangan disana sini. Tapi ini bukan lah halangan untuk memahami tasawuf irfani dan tokoh-tokohnya justru ini akan menjadi pendorong semangat dalam mengejar pengetahuan di maksud untuk di mengerti dan di pahami secara utuh.
Akhirnya kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini kami harapkan. Untuk menjadi bahan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.


Wassalamu’alaikum Wr.Wb
                                                                                                                         Jambi, 21 November 2011
                                                                                                                                         Penulis


                                                                                                                                      Arjamudin


DAFTAR ISI


Kata Pengantar ………………………………………………………….. i
Daftar Isi ………………………………………………………………... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………….........… 1
B. Tujuan ……………………………………………………….........…. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Hakikat Irfani ……………………………………………..........…….. 2
B. Tokoh-Tokoh Tasawuf Irfani ……………………………............……. 3
1. Rabi’ah Al-Adawiyah …………………………………..................….. 3
2. Dzu Al-Nun Al-Misri …………………………………..................…... 5
3. Abu Yazid Al- Bustami ………………………………….................…. 7
4. Abu Mansur Al-Hallaj …………………………………..................….. 7
BAB III PENUTU P
A. Kesimpulan ……………………………………………….........……. 11
B. Saran ……………………………………………………….......…… 11
Daftar Pustaka ……………………………………………………….…. 12









BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Latar belakang masalah ini adalah untuk membantu kita dalam memperbanyak pengetahuan tentang aliran asal usul aliran tasawuf.
Inzaallah dengan makalah ini kita dapat memahami sekilas tentang asal usul aliran tasawuf, dan para tokoh-tokohnya.
B. Rumusan Masalah
1. Agar mengetahui pengertian tasawuf ?
2. Pembedaan unsur-unsur tasawuf ?

C. Tujuan
1. Agar mengetahui tujuan dan manfaat bejar tasawuf .
2. Agar dapat membedakan unsur-unsur tasawuf dari asal mulanya.
D. Manfaat
Manfaat makalah ini adalah agar kita lebih mengetahui dan memahami apa itu asal usul tasawuf itu sendiri.















BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Dan Asal - Usul Tasawuf

Menurut bahasa, istilah tasawuf berasal dari kata shaf, shuf, dan shuffah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan - Nya dalam barisan ( shaffan ) yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

Jika dilihat dari asal kata shaf, maka tasawuf berarti menyusun barisan di jalan Allah. Shuf adalah bulu domba yang sering digunakan oleh pemimpin Yahudi dan Kristen sebagai simbol kesederhanaan. Jika ditinjau dari asal kata shuf, maka tasawuf berarti hal yang identik dengan kesederhanaan.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF
Tasawuf yang sering kita temui dalam khazanah dunia Islam, dari segi sumber perkembangannya, ternyata memunculkan pro dan kontra, baik dikalangan musli maupun nonmuslim. Mereka yang kontra menganggap bahwa tasawuf Islam merupakan sebuah paham yang bersumber dari agama-agama lain.
Mereka mengatakan bahwa tasawuf dalam Islam (misticisme, sifisme) tumbuh karena terpengaruh oleh ajaran luar Islam, antara lain ajaran agama Hindu, agama Persia, ajaran agama Masehi, pemikiran filsafat Yunani, dan ajaran Neo Platonisme.
Sebagian beranggapan bahwa tasawuf berasal dari Masehi (Kriten), sebagian lagi mengatakan dari unsur Hindu-Budha, Persia, Yunani, Arab, dan sebagainya.

C. UNSUR NASRANI (KRISTEN)
Pertama, adanya interaksi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa Jahiliah maupun zaman Islam. Kedua, adanya segi-segi kesamaan antara kehidupan para asketis atau sufi dalam hal ajaran cara mereka melatih jiwa (riyadhah) dan mengasingkan diri (khalwat) dengan kehidupan Al-Masih dan ajaran-ajarannya, serta dengan para rahib ketika sembahyang dan berpakaian.
Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf merupakan buah kenasranian pada zaman jahiliah. Sementara itu, Goldziher berpendapat bahwa sikap fakir dalam Islam merupakan pengaruh dari agama Nasrani. Goldziher membagi tasawuf menjadi dua: Pertama, asketisme. Menurutnya, sekalipun telah terpengaruh oleh kependetaan Kristen, aliran ini, lebih mengakar pada semangat Islam dan para Ahli Sunnah. Kedua, tasawuf dalam arti lebih jauh lagi, seperti pengenalan kepada Tuhan (Ma’rifat), pendakian batin (hal), intuisi (wijdah), dan rasa (dzauq), yang terpengaruh oleh agama Hindu disamping Neo-Platonisme.
Abu Bakar Aceh, sebagaimana dikutip Abdul Qadir Zaelani, pernah menulis bahwa agama Yahudi dan agama Kristen mempengaruhi pula cara berfikir dalam Islam.

Pokok-pokok ajaran tasawuf yang diklaim berasal dari agama Nasrani antara lain adalah:

1. Sikap fakir. Al-Masih adalah fakir. Injil disampaikan kepada orang fakir sebagaimana kata Isa dalam Injil Matius, “Berntunglah kamu orang-orang miskin karena bagi kamulah kerajaan Allah… Beruntunglah kamu orang yang lapar karena kamu akan kenyang.”

2. Tawakal kepada Allah dalam soal penghidupan. Para pendeta telah mengamalkan dalam sejarah hidupnya, sebagaimana dikatan dalam Injil, “Perhatikan burung-burung dilangit, dia tidak menanam, dia tidak mengetam dan tidak duka cita pada waktu susah. Bapak kamu dari langit memberi kekutan kepadanya. Bukankah kamu lebih mulia daripada burung?”

3. Peranan Syeikh yang menyerupai pendeta. Perbedaanya pendeta dapat menghapuskan dosa.

4. Selibasi, yaitu menahan diri tidak menikah karena menikah dianggap dapat mengalihkan diri dari Tuhan.

5. Penyaksian, bahwa syufi menyaksikan hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah. Injil pun telah menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan Tuhan.

D. UNSUR HINDU BUDHA
Tasawuf dan Kristen kepercayaan agama Hindu memiliki persamaan, seperti sikap fakir. Pada paham reinkarnasi (perpindahan roh dari satu badan kebadan lain), cara pelepasan dari dunia versi Hindu-Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah.
Salah satu maqamat syufiyah, yaitu al-Fana memiliki persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu. Menurut Harun Nasution, ajaran nirwana agama Budha mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplatif.
Goldziher mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Budha Sidharta Gautama dengan Ibrahim bin Adham, tokoh syufi yang muncul dalam sejarah umat Islam sebagai seorang putra mahkota dari Balkh yang kemudian mencampakkan mahkotanya dan hidup sebagai darwish.
Qamar Kailani dalam ulasannya tentang asal-usul tasawuf menolak pendapat mereka yang mengatakan tasawuf berasal dari agama Hindu-Budha. Menurutnya, pendapat ini terlalu ekstrim. Kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari Hindu-Budha, berarti pada zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu-Budha ke Mekkah. Padahal, sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu.

E. UNSUR YUNANI
Kebudayaan Yunani, seperti filsafat, telah masuk kedunia Islam pada akhir Daulah Amawiyah dan puncaknya pada masa Daulah Abasyiah ketika berlangsung zaman penerjemahan filsafat Yunani.
Metode-metode berfikir filsafat ini juga turut mempengaruhi pola piker sebaian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Pada persoalan ini, boleh jadi tasawuf yang terkena pengaruh Yunani adalah tasawuf yang kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf yang bercorak filsafat.
Mungkin saja ajaran tasawuf itu dimasuki oleh paham pemikiran Yunani. Misalnya, perkataan, “Apabila sudah baik, seseorang hanya memerlukan sedikit makan. Dan apabila sudah baik, hati manusia hanya memerlukan sedikit hikmat.” Ahli-ahli sejarah, seperti Syaufan menerangkan bahwa banyak bagian dari cerita “Seribu Satu Malam” berasal dari Yahudi.
Selain itu, ada yang mengatakan bahwa masuknya filsafat kedunia Islam melalui mazhab peripatetic dan Neo-Platonisme. Mazhab yang pertama (peripatetic) kelihatannya lebih banyak masuk kedalam bentuk skolastisisme ortodoks (kalam), sedangkan untuk Neo-Platonisme lebih masuk kepada dunia tasawuf.
Filsafat emanasinya plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancarkan dari Dzat Tuhan Yang Maha Esa menjadi salah satu dasar argumentasi para orientalis dalam menyikapi asal-mula tasawuf di dunia Islam.
Ketika ajaran Neo-Platonisme ini berhasil menyusup kedalam tasawuf, hal yang pertama terjadi adalah penolakan terhadap “keberbedaan” benda-benda (ghairiyat) dari Allah.
Al-Ghazali menegaskan bahwa cahaya kenabian mustahil di dapat oleh sufi yang terkenal dengan keganjilan atau keekstriman konsep-konsepnya. Ia mengambil contoh ungkapan keganjilan yang dibawakan oleh Al-Hallaj, “Aku Yang Maha besar”, atau ungkapan Abu Yazid Al-Busthami, “Maha Suci Aku.” Karena mengaku “Mahasuci”, mereka merasa tidak perlu lagi syari’at Isalam. Ini pulalah yang dikatakan “nihilisme syari’at.”
Neo-Platonisme, menurut mir Valiudin, adalah benda yang bukan merupakan satu-satunya objek mulai di anggap sebagai satu-satunya objek yang sebenarnya justru diabaikan.
Ungkapan Neo-Platonisme, “Kenalilah dirimu dengan dirimu”, diambil oleh para sufi menjadi ungkapan, “siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.” Hal ini bias jadi mengerah munculnya teori Hulul, Wahdat Asy-Syuhud, dan Wahdat Al-Wujud. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa cara berfikir kelompok Neo-Shopi (Sufi berketuhanan dan filosof), seperti Al-Farabi, Ibnu Arabi, dan Al-Hallaj, banyak dipengaruhi oleh filsafat.

F. UNSUR PERSIA
Sebenarnya Arab dan Persia memiliki hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan dan sastra. Namun, belum ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab.
Sejak zaman klasik, bahkan hingga saat ini, terkenal sebagai wilayah yang melahirkan sufi-sufi ternama. Dalam konsep ke-fana-an diri dalam universalitas, misalnya, salah seorang penganjurnyaadalah seorang ahli mistik dari Persia, yakni Bayazid dari Bistam, yang telah menerima dari gurunya, Abu Ali (dari Sind).
Kebanyakan ahli tasawuf muslim yang berpikiran moderat mengatakan bahwa factor pertama timbulnya tasawuf hanyalah Al-Quran dan As-Sunnah, bukan dari luar Islam.

E. UNSUR ARAB.
Mengingat kehadiran Islam bermula dari daratan Arab maka uraian tentang sejarah Tasawuf ini pun bermula dari tanah Arab. Untuk melacak perkembangan tasawuf tidak hanya memperhatikan ketika tasawuf mulai dikaji sebagai ilmu, melainkan sejak zaman Rasulullah SAW. Memang pada masa Rasulullah dan masa sebelum datangnya Islam, istilah “tasawuf” itu belum ada. (Muhammada Yasir Syarf). Istilah sufi itu sendiri baru pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang zahid dari Syiria (w.780 h).
Akan tetapi tidak dapat di sangkal lagi bahwa hidup seperti yang digambarkan dalam kalangan sufi itu sudah ditemukan orang, baik pada diri Nabi Muhammad SAW sendiri maupun pada diri sahabat – sahabatnya. Sikap – sikap Rasulullah SAW dan para sahabat ini kemudian dipraktekkan pula oleh kaum sufi berikutnya. Para tabi’in merupakan perintis dalam usaha sendiri – sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa melepaskan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai poko syariat Islam.
















BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan

Menurut bahasa, istilah tasawuf berasal dari kata shaf, shuf, dan shuffah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan - Nya dalam barisan ( shaffan ) yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”
Bahwa tasawuf terdapat beberapa unsure-unsur diantaranya:
1. Unsur Persia
2. Unsur Yunani
3. Unsur Hindu Budha
4. Unsur Nasrani ( Kristen)
5. Unsur Arab

b. Saran

Setelah tersusunnya makalah ini saran kami sebagai penyusun makalah ini, setidaknya dari berbagi pihak yang telah membaca makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Amin-Amin Yarobal Alamin…



DAFTAR PUSTAKA



http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/pengertian-dan-asal-usul-tasawuf.html

http://www.scribd.com/doc/45012825/Aliran-Aliran-Tasawuf-Dan-Tokoh-Tokohnya 5 oktober 2011

http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/pengertian-dan-asal-usul-tasawuf.html
http://persatuanislam72.blogspot.com/2010/02/sejarah-perkembangan-tasawuf.html



0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com