Jumat, 02 November 2012

Dasar -Dasar Pengetahuan ( Filsafat Ilmu )



MAKALAH
FILSAFAT ILMU
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
(Rasionalisme, emperalisme, dan Kritisme)
Dosen Pembimbing : Nurhasanah,S.Ag.M.Hum


DISUSUN OLEH :
NAMA : ARJAMUDIN
NIM      : UR110973


JURUSAN PUBLIC REALTION FAKULTAS USHULUDDIN
IAIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN AKADEMIK
2011/2012

KATA PENGANTAR

Assalmu’alaikum Wr.Wb.

            Untaian Puji syukur hanyalah milik Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasi, Karena dengan rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW kepada keluarganya para sahabatnya dan kepada kita semua umatnya. Amin
            Dalam makalah ini saya ingin memaparkan kajian tentang “Dasar-dasar Pengetahuan dalam Filsafat Ilmu”sebagai tugas dari mata kuliah filsafat ilmu dengan Dosen pembimbing Ibu Nurhasanah, S.Ag.M.Hum.

            Pemakalah juga menyadari bahwa isi makalah ini jauh dari kesempurnaan, saran dan kritik pemakalah sangat harapkan untuk proses perbaikan dan penyempurnaan dalam menyusun makalah selanjutnya. Dan juga saya berharap semoga makalah ini bisa berguna dan bermanfaat bagi kita semua umumnya dan bagi saya khususnya. Amin yaa robbal ‘alamin.                
Walaikumsalam Wr.Wb.
   Jambi, 8 November 2011
                Penulis


                ARJAMUDIN
                NIM.UR110973


                                                                                
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Latar belakang masalah ini adalah untuk membantu kita dalam memperbanyak pengetahuan tentang dasar-dasar pengetahuan dalam filsafat ilmu.
Inzaallah dengan makalah ini kita dapat memahami sekilas tentang rasionalisme, emperalisme, dan kritisme di dalam dasar-dasar pengetahuan.
B.     Rumusan Masalah
1.         Agar mengetahui dasar-dasar pengetahuan ?
2.         Mengetahui keterkaitan dasar-dasar pengetahuan  ?
3.         Agar mengetahui istilah-istilah dalam filsafat ilmu ?

C.    Tujuan
1.         Agar mengetahui tujuan dan manfaat dasar-dasar pengetahuan .
2.         Agar dapat membedakan rasionalisme, emperalisme, dan kritisme.
D.      Manfaat
Manfaat makalah ini adalah agar kita lebih  mengetahui dan memahami dasar-dasar pengetahuan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Rasionalisme
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.
Descartes juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang yang ragu-ragu terhadap segala sesuatu, dlam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berpikir. Sebab yang sedang berpikir itu tentu ada yang dan jelas terang benderang. Cogito Ergo Sum (saya berpikir, makna saya ada) rasio merupakn sumber kebenaran.
Rasio sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran. Yang benar adalah tindakan akal yang terang benderang yang di sebut Ideas Claires el Distenctes ( pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilih).
Ida yang terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan  ( Idea Innatae = ide bawaan). Sebagai pemebrian tuhan, maka tak mungkin tak benar.
Jadi rasonalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.

B.        Sebab Timbulnya Pemikiran Rasionalisme
Descartes merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi. Ia banyak menguasai filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar filfasat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya. Ia berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Hal ini merupakan terobosan baru semenjak zaman Aristoteles dan hal ini merupakan sebuah neo-self-confidence yang dihasilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan. Dia berhasrat untuk menemukan “sebuah ilmu yang sama sekali baru pada masyarakat yang akan memecahkan semua pertanyaan tentang kuantitas secara umum, apakah bersifat kontinim atau terputus.”
Dalam usahanya untuk mencapai kebenaran dasar tersebut Descartes menggunakan metode “Deduksi”, yaitu dia mededuksikan prinsip-prinsip kebenaran yang diperolehnya kepada prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya yang berasal dari definisi dasar yang jelas.
C.  Pola Pikir Rasionalisme
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, dari pada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut: Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik. Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
Di luar konteks religius, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum, umpamanya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer.
Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.
D.   Implikasi Aliran Rasionalisme Terhadap Dunia Pendidikan
Seperti kita ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan atau “angan-angan” yang mungkin (all possible intelligebles).
Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan ini harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud. Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.
Rasionalisme mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan adagiumnya: Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Ia beranggapan bahwa pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu tidak dapat meyakinkan, bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat diandalkan. Yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.
B.  Empirisme
 Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang meneakankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani epeiria yang berari coba-cobaatau pengalaman. Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivism logis ( logical positivism ) dan dan filsafat Ludwig wettegenstein. Akan tetapi teori makna dalam empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman.
Perjalanan empirisme yang dimulai dari Plato sampai John Locke selain jatuh pada dogmatisme emprisme[5], juga terjebak kepada kepada skeptisisme berlebih (kecurigaan) dan ketidakpercayaan terhadap golongan lain semisal rasionalisme. Empirisme lahir dan terjebak kepada afirmasi rasio praksis dan menegasikan rasio murni sehingga muncul dogmatisme empiris sendiri, terlebih dengan membangun kecurigaan/ ketidakpercayaan/ menegasikan (skeptisis) terhadap epistema yang lainnya telah banyak dianut oleh pendidikan modern, inilah bukti kenaifannya.
Dampak epistemologis dari kecendrungan-kecendrungan tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1.      Terjadinya pemisahan antara bidang sangkral dan bidang duniawi
misalnya pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik, atau pemisahan materi dan ruh yang terwujud dalam seorang ahli fisika atau ekonomi tidak akan berbicara agama dalam karya ilmiah mereka, sementara fisika dan ekonomi direduksi menjadi angka-angka, materi dan ruh tampak tidak kompatebel di mata mereka.[6]
2.      Kecendrungan kearah reduksionisme, materi dan benda direduksi kepada element-elemennya. Ini tampak pada fisika Newton, sama halnya dengan homo ekonomi-kus dalam ekonomi modern. (dua hal ini pengaruh sejarah rasionalisme empirisme).
3.      Pemisahan antara subyektivitas dan obyektifitas, misalnya dalam ilmu sosial hal yang merupakan debuku obyektif adalalah keniscayaan yang mengarah kepada relitas pasti, (pengaruh positivisme pengetahuan yang berujung pada statusquo hinggga dominasi kebenaran).
4.      Antroposentrisme, ini tampak dalam dalam konsep demokrasi dan individualisme (ini merupakan pengaruh dari rasionalisme Rendescartes dengan jargon individu bebas atau subyek manusia akan menjadi sentral peradaban dunia).
5.      Progresivisme, progresivisme diwakili oleh Marx, tetapi juga diyakini secara luas seperti pada kemajuan ilmu pengetahuan dan obat-obatan.



C. Dampaknya terhadap penyelenggaraan pendidikan Islam
Rasionalisme maupun empirisme sudah sama-sama menjadi landasan perfikir para penyelenggaran pendidikan di negeri ini, semangat keduanya terlihat dari pelaksanaan pembelajaran yang banyak menitikberatkan pada kemampuan logika semata dan sedikit banyak mengenyampingkan potensi, talenta, motivasi, kemauan, kemampuan pesertadidik yang lainnya. Semangat pendidikan semacam itu merupakan turunan dari cara berfikir berbasis rasionalisme.
Misalnya, dalam hal ini adalah kebijakan tentang UN, apakah persoalan hidup yang mereka hadapi hanya mampu dipecahkan dengan berbekal kemahiran mereka dalam menjawab soal-soal normatif diatas kertas. Pesertadidik pada akhirnya miskin pengalaman atau belum banyak teruji di lapangan dan cendrung normatif serta tidak kreatif menghadapi persoalan hidup dan menyelesaikannya. Pesertadidik kemudian berkembang tidak dengan seluruh potensi yang mereka miliki tetapi hanya berbekal logika tersebut, sebuah perkembangan yang timpang dan tidak utuh, hal ini tentu saja dilarang agama Islam yang melarang cara-cara seperti ini karena terlalu menyederhanakan ciptaanNYA yang mulia dan penuh potensi yang bernama manusia.
Adapun empirisme ekpresinya dapat kita temukan dari cara-cara pendidik untuk membuat pesertadidik belajar dengan menciptakan suasana atau lingkungan dan mendisiplinkan pikiran dan aktivitas mereka yang kecendrungannya memaksa mereka untuk kemudian mengikuti selera dan warna lingkungan yang telah tercipta sebelumnya. Sebuah cara berfikir yang tidak lagi sensitiv bahkan masabodoh terhadap potensi pesertadidik, mesin sudah dibuatkan tinggal memasukkan dan mencetak bahan-bahan yang akan diproses melalui mekanisme dan proses-proses yang telah dibuat sebelumnya.
Pada taraf inilah kemudian kecendrungan pendidikan adalah mencetak siswa sesuai kemauan, persepsi, pengetahuan, selera, anggapan, asumsi kita sebagai orangtua dan kita sebagai para ahli pendidikan. Keadaan ini diperparah dengan cara pandang instrumental (implikasi industrialisasi) yang beranggapan bahwa pendidikan itu laksana mengumpulkan pasukan perang untuk mencapai tujuan tertentu, pesertadidik pada akhirnya dididik hanya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu saja. Pendidikan sudah bergesar dari tujuan semula yaitu proses untuk membantu pesertadidik untuk menemukan dan mengasah potensi dan jatidirinya sendiri.
Pengaruh lainnya adalah sistem kontrol dan evaluasi yang jamak digunakan oleh para guru terhadap pesertadidik adalah metode induksi, yaitu penilaian aktivitas (dengan berkesimpulan) dan memberlakukannya secara universal terhadap seluruh siswa dengan hanya melihat kebiasaan mereka secara umum tanpa memperhatikan secara lebih dan inten keragaman karakter mereka.
Dalam hal kurikulum, mayoritas pola rancangan dan pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam akan banyak memakai cara-cara yang berkesadaran Eropasentris, taruhlah dalam hal ini, 1. Pola kurikulum yang menekankan pada isi, 2. Pola kurikulum yang menekankan pada proses, 3. Pola kurikulum yang menekankan perpaduan pada isi dan proses serta pengalaman belajar sekaligus.
E.  Kritisisme
Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu: Immanuel Kant (1724-1804).
Kritisisme; Semangat Rennissance Sepanjang Masa
Menggambarkan kritisisme sebagai semangat rennissance sepanjang masa paling tidak dapat dilakukan dengan telaah historis. Dengan pembacaan historis filosofis—sebagaiman a yang pernah dilakukan Ibnu Kholdûn dalam Muqaddimah-nya—"borok-borok" sejarah akan terungkap, sekaligus membedakannya dari ide-ide brilian para pendekar peradaban.
Berawal dari Yunani, gudang segala ilmu pengetahuan, para raksasa filsafat bermunculan. Masa ini mengenal para raksasa filsafat dengan segala temuan sainsnya. Doktrinasi filosofis yang mereka kemukakan mengenai hakekat alam semesta diterima dengan cerdas oleh para pengikutnya. Sejarah mencatat, di masa itu [hampir] tak ditemukan perbedaan antara ilmuwan dengan agamawan; mereka adalah ilmuwan yang beragama sekaligus agamawan yang intelek. Taruhlah misal, Phytagoras—sebagai filosof pertama yang tertintakan sejarah—selain menemukan teori Phytagoras dalam Matematika, ia pula seorang agamawan yang memiliki doktrin metempsychosis; sebuah doktrin agama yang mengajarkan reinkarnasi jiwa manusia.
Dua filosof Yunani paling masyhur, Plato dan Aristoteles, pun tak ketinggalan. Ajaran intuisi Plato dalam mencapai hakekat kebenaran tak disangka adalah semacam counter terhadap kaum Sophia yang tak mempunyai dasar epistemologis yang tegas dalam pencapaian hakekat. Baginya, hati adalah epistemologi paling logis dalam menyingkap kebenaran. Tak terima dengan konsep gurunya yang cenderung gnostis, Aristo pun mengangkat suara. Baginya, nalar paripatetik adalah jawaban segala keraguan. Dua ide filosof kawakan ini kemudian bermetamorfosis menjadi Ruwâqiyyah [Plato] dan Misyâiyyah [Aristo] yang menyusupi peradaban selanjutnya; peradaban Islam dengan segala nalaritas retorika-demonstrat ifnya.
Era Islam, al-Kindi pun menjadi filosof muslim pertama secara de yure. Meski ia menyerap sekian banyak intelektualitas Yunani, ia tetap mantap dengan keislamannya. Jika "katanya" Yunani mengingkari ke-hâdits-an alam semesta, ia menyuarakan sebaliknya; baginya alam adalah hâdits, hanya Tuhanlah yang qadîm.  Ia benar-benar berusaha mengharmonisasikan filsafat dengan agama laiknya Mutakallimin.
Belum rampung usaha ini di sini. Dua filosof Muslim paling populer pun muncul. Al-Fârâbi dan Ibnu Sîna kembali menggebrak dunia filsafat. Mereka tetap meyakini ke-qadîm-an alam, namun di sisi lain mereka cukup inovatif; mereka berusaha menggabungkan nalar gnostik milik Plato dengan paripatetik Aristo.
Al-Ghazâli sebagai agamawan-filosofis- sufistik cukup "kebakaran jenggot" dengan "ulah" kedua filosof di atas. Dengan berasumsi the incoherency of philosophers ia pun mengkafirkan keduanya sekaligus banyak filosof. Baginya ide mereka membahayakan orang awam. Meski terkesan defensif, tak disangka ternyata diam-diam al-Ghazâli bersimpati pada mereka. Karyanya Ma'ârij al-Quds menyimpan hakekat pemikiran al-Ghazâli. Riset ilmiah membuktikan bahwa al-Ghazâli adalah filosof ramah kebapakan yang melindungi "anak-anaknya" dengan menyembunyikan kefilosofisannya. (Sulaimân Dunyâ, 1994).
Kritisisme filosofis Aswaja semakin tak punya masa depan pada kurun-kurun berikutnya. Apalagi semenjak muncul "fatwa-fatwa liar" dari rahim muhadditsîn, yang cenderung demonstratif dan membenci paripatetik, semisal Ibnu Shâlah, Ibnu Taimiyyah dan al-Suyûthi yang mengharamkan filsafat secara mutlak atau sangat ketat. ('Ali Sâmi Nasysyâr, 2008).  Aswaja pun kehilangan kejayaannya dan berangsur-angsur surut pamornya ditelan zaman.    
Dunia Islam telah lesu dengan semangat intelektualitasnya dan membutuhkan penyegaran. Di abad-19 muncul pemikir brilian Mesir, Muhammad 'Abduh, yang sebelumnya Rifa'ah Thahthâwi muncul dengan ide liberalismenya dan Jamâluddin al-Afghâni dengan evolusi politiknya. Yang pertama berusaha membangunkan jiwa kritisisme dan menghendaki gerakan puritanisme. Jika di Nejd M. 'Abdul Wahhab dengan puritanismenya mengedepankan teks dan cenderung radikal sehingga dicap Neo-Khawârij, Muhammad 'Abduh dengan rasionalitas- filosofisnya dan cenderung liberal sehingga dicap Neo-Muktazilah. Saat inilah Islam mulai mengenal rennissance kembali.  
Berkat kegigihan mereka, terutama 'Abduh, era kontemporer melahirkan banyak pemikir prolifik yang gigih memperjuangkan rasionalitas agama tanpa takut ancaman ideologi apapun. Sebagai misal, 'Ahmad Na'im dengan sekularismenya, Arkoun dengan arkeologisnya, 'Âbed al-Jâbiri dengan epistemologisnya, Khalîl 'Abdul Karîm dengan historiografi marxismenya, Hasan Hanafi dengan Islam-Kirinya, Abu Zaid dengan hermeneutiknya, Adonis dengan al-Tsâbit wa al-Mutahawwil-nya, Jamâl Bannâ dengan Fiqh Jadîd-nya dan seabrek pemikir lain adalah para pejuang rennissance Islam Timur Tengah.
Di Indonesia, para pecinta intelektualitas pun tak kalah. Sebut saja Harun Nasution dengan teologinya, Nur Kholis Majid dengan pluralismenya, 'Abdurrahman Wâhid dengan sekulerismenya, JIL dengan liberalismenya, Hussein Muhammad dengan feminismenya, Quraisy Syihab dengan moderasi tafsirnya adalah para pejuang rasionalitas. Bahkan yang terakhir adalah alumnus lembaga pendidikan tertua di dunia, al-Azhar University, tempat 'Âbduh mengucurkan ide pembaharuannya.
Dengan belajar dari historisitas kita pun memahami bahwa kritisisme adalah semangat rennissancerennissance anti kemapanan atau fundamentalisme pendukung status quo. yang tak boleh pudar. Ketika sedikit mengendur, karena fatwa-fatwa pembenci filsafat misalnya, rasionalitas pun mati dan intelektualitas terancam. Sekarang saatnyalah kita yang memilih antara kritisisme
pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang Rasionalisme berpendirian bahwa rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut.














BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran
Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang meneakankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri.
Sedangkan Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.
B.       Saran
           Tidak ada gading yang tak retak,  disini saya sebgai penulis menyadari makalah jauh dari sempurna. Saya mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk di jadikan bahan pedoman untuk pembuatan makalah selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, hlm. 3-5.
Hakim Abdul Atang dan Saebani Ahmad, Beni Filsafat Umum dari Metologi sampia Teofisikolog, CV Pustaka Setia. Bandung Desember 2008.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com