Kamis, 06 Juni 2013

SISTEM KOMUNIKASI DIPERDESAAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan saluran sosialisasi kebudayaan, yang mencerminkan bahwa komunikasi antar sesama adalah merupakan suatu yang harus dijaga dalam komunikasi di pedesaan, komunikasi tidak sekedar sebuah fenomena pertukaran informasi pengirim dan penerima pesan, lebih dari itu komunikasi merupakan upaya mencapai saling pengertian dan dari komunikasi inilah suatu kebudayaan diturunkan ke generasi selanjutnya. Kemudian komunikasi menyebarluaskan ide-ide baru sehingga menjadi nilai-nilai baru.Nilai-nilai baru ini biasanya muncul dari kreatifitas individu-individu dari kelompok-kelompok manusia.Komunikasi menyediakan kesempatan dan rentang waktu bagi masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai baru tersebut.Pada hakekatnya masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunikasi yang terpisah satu sama lain. Tetapi dalam keadaan yang wajar di antara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena di antara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan. Dan desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri umum dari masyarakat pedesaan?
2. Adakah media yang berpotensi untuk menyebarkan informasi di pedesaan?
3. Bagaimana peran penyuluhan bagi pembangunan di pedesaan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui ciri umum dari masyarakat pedesaan.
2. Untuk mengetahui media apa yang berperan dalam menyebarkan informasi di pedesaan.
3. Untuk mengetahui peran penyuluhan  di pedesaan.
1.4 Metode penulisan
Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka / literatur yang diambil dari berbagai sumber buku dan media internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ciri Umum Masyarakat Desa
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga atau anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat .Dimana ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggungjawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama didalam masyarakat.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Di dalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.
2.      Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan ( Gemeinschaft atau paguyuban )
3.      Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan ( part time ) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
4.      Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Hubungan komunikasi masyarakat pedesaan lebih banyak menggunakan komunikasi antarpribadi karena masyarakat pedesaan belum begitu percaya terhadap media massa. Artinya, masyarakat lebih percaya terhadap informasi yang di sampaikan oleh seseorang yang patut di percaya.Dengan proses komunikasi antarpersonal yang terjadi di pedesaan yang biasa di sebut dengan istilah “gethok tular” artinya pesan komunikasi tersebut disampaikan secara lisan melalui satu orang kepada orang yang lainnya. Tidak hanya itu saja ketika berbicara mengenai hal yang baru yang belum diketahui oleh masyarakat desa, misalnya program KB pemasaran pelaksanaan program KB tersebut lebih efektif lewat lisan seperti yang pernah dilakukan oleh sebuah unit mobil di desa.
Namun, sejalan dengan tingkat perkembangan pengetahuan dan pendidikan penduduk yang sudah mulai maju, komunikasi seperti itu lambat laun akan ditinggalkan.Dengan demikian, proses komunikasi melalui lisan atau antar persona akan cepat berubah apabila pembaharuan cepat diterima oleh masyarakat desa. Yakni dengan munculnya media yang yang berpotensi menyebarkan informasi seperti Koran Masuk Desa, Media Rakyat dan Media Tradisional.
2.2  Media yang Berpotensi  Menyebarkan Informasi
1. Media Rakyat
Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah masyarakat tradisional terdapat berbagai media sosial sebagai sarana efektif saling berinteraksi.Media ini telah sejak lama tumbuh dan berkembang bersama masyarakat dan menjadi media sosialisasi nilai-nilai antar warga masyarakat, bahkan dari generasi ke generasi.Media ini dikenal sebagai media rakyat.Media rakyat adalah wahana komunikasi atau pertukaran informasi yang telah terpola dalam kehidupan sosial suatu komunitas masyarakat. Media rakyat menuntut keterlibatan secara fisik individu dalam proses komunikasi (Sigman;124). Media rakyat menggunakan komunikasi tatap muka dalam bentuk komunikasi antar personal maupun komunikasi kelompok. Disini proses keterlibatan anggota menjadi sangat penting. Media rakyat ini digambarkan sebagai media yang murah, mudah, bersifat sederajat, dialogis, sesuai dan sah dari segi budaya, bersifat setempat, lentur, menghibur dan sekaligus memasyarakat juga sangat dipercayaoleh kalangan masyarakat pedesaan yang kebetulan menjadi kelompok sasaran utama (Oepen).Adapun fungsi media rakyat adalah sebagai berikut(Oepen, 1988):
1.      memberi saluran alternative sebagai sasaran bagi rakyat untuk mengemukakan kebutuhan dan kepentingan rakyat.
2.      Berguna menyeimbangkan pemihakan kepada perkotaan yang tercermin dari isi media. Membantu menjembatani kesenjangan antara pinggiran dengan perkotaan.
3.      Mencegah membesarnya rasa kecewa, rasa puas diri dan keterasingan dikalangan penduduk daerah pedesaan.
4.      Memberikan fasilitas berkembangnya keswadayaan, kemampuan mendorong diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.
5.      Berguna bagi umpan balik system pemantauan dan pengawasan suatu proyek tertentu.
Bisa dikatakan bahwa Media Rakyat adalah bentuk komunikasi dengan memakai media massa sebagai salurannya. Media itu dari,oleh dan untuk rakyat artinya media yang menganggap kepentingan rakyat adalah hal yang utama. Media rakyat juga sangat berperan dalam membantu perkembangan masyarakat, sebab ia tumbuh dan berkembang di masyarakat.
2. Koran Masuk Desa
Koran masuk desa (KMD) adalah koran kota yang beredar di pedesaan. Pentingnya koran masuk desa tercermin dari tujuannya :
1.      Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aspek-aspek pembangunan dan pembaruan. Sebab, masyarakat pedesaan masih berpegang teguh pada norma, nilai tradisi yang sangat bertolak belakang dengan pembangunan. KMD juga bisa mengubah prilaku dan kepercayaan yang menghambat pembangunan. Tentunya, informasi yang dikemukakan dalam KMD tidak bertolak belakang dengan adat istiadat stempat.
2.      Meningkatkan keterampilan terutama yang menyangkut cara hidup dan cara memenuhi kebutuhan hidup. KMD bisa menjadi agen pembaruan yang berperan mengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.
3.      Memotivasi masyarakat untuk menimbulkan keinginan mengubah nasibnya serta bergerak dalam partisipasi pembangunan. KMD bisa menciptakan serta mendorong masyarakat pedesaan agar mampu dan terampil sehingga mendorong kreativitas dan inovasi dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup mereka
4.      Meratakan informasi dalam rangka peningkatan arus komunikasi ke pedesaan. Untuk itu perlu dilakukan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan KMD dalam hubungan yang saling menguntungkan.
Untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan diatas, maka di usahan agar ada pengintegrasian lembaga-lembaga atau potensi yang mempunyai hubungan dengan pelaksanaan KMD. Lembaga yang biasanya terkait dengan KMD antara lain Kantor Kepala Desa dan aparatnya, lembaga Ketahanan Masyarakat Desa, termasud pihak lain yang tak terlembaga namun berpengaruh langsung dengan KMD, seprti peran Opinion leader.
Sebagai koran yang berbeda dengan koran pada umumnya, tentnya dari segi liputan reportase juga
berbeda karena perbedaan target, tujauan, misi, dan sasarannya. Misalnya, lingkup daerah yang hanya meliputi desa.Kalaupun ada reportase di Kota presentasenya kecil, mungkin hal-hal yang berhubungan dengan pembaruan agar ditiru oleh masyarakat desa.
Namun demikian, hal ini harus dilakukan dengan hati-hati, sebab KMD adalah koran kota yang beredar di pedesaan, sehingga perlu dihindari munculnya sinyalemen bahwa koran itu adalahkorankotabukankoranmasukdesa.Isi pemberitaan sudah selayaknya diprioritaskan pasa tokoh-tokoh desa yang masi mempunyai pengaruh dan wibawa yang tinggi. Sebab masyarakat desa masih memandang pemuka masyarakat sebagai pihak pemberi ” restu ” atau menentukan berbagai pembahruan masyarakat. Adapun kejadian yang sangat diminati adalah kejadia yang sangat dekat dengan masyarakat desa, misalnya peristiwa gunung meletus , banjir, kebakaran, cara becocok tanaman yang baik ,pemakaian pupuk yang efisien atau masalah perternakan yang diadopsi dari pengalaman di kota atau hasil penelitian orang kota disuatudesatertentu. Berdasarkan klasifikasi, isi KMD lebih menitik beratkan pada informasi atau pemberitaan, kemudian menyusul penerangan , penyuluhan ,pendapat umum dan artikel-artikel yang punya makna sosial budaya dan sosial ekonomi pedesaan. Yaitu, berita umum atau informasi 40%, penerangan 15%, penyuluhan 15%, pendidikan 10%, hiburan/olahraga 10%, rubrik pembaca/iklan 5%.Adapun jika dilihat ruang lingkup wilayah beritaatauasalwilayahreportaseadalahsebagaiberikut : Beritapedesaanregional(desa,kecamatan,kabupaten,provinsi):80%,Beritanasional:15%,Internasioanal:5%

Berita KMD tentunya akan diminati jika lebih dekat dengan pembacanya. Dalam istilah junalistik disebut proximity. KMD tentu akan menarik jika hal itu berhubungan dengan diri, keluarga, dan teman dekat atau desanya. Secara psikologis ini sangat menentukanefektiftidaknyaKMD.KMD berbeda dengan Media Rakyat. Media rakyat tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan. Jika media rakyat adalah media milik orang desa. Sedangkan KMD adalah koran yang direncanakan terbitnya di kota dan berkembang di pedesaan. Artinya KMD adalah koran milik orang kota untuk orang desa. Disini jelaslah perbedaan keduanya. Media rakyat dianggap lebih merakyat, sedangkan KMD tidak begitu merakyat. Alasannya, KMD adalah koran yang dibuat orang kota, memakai pola pikir orang kota untuk warga desa. Jadi KMD kurang mengakar di desa. KMD juga dibuat tak lepas dari usaha untuk mencapai keuntungan ekonomis. Sementara Media rakyat lebih menitikberatkan pada sisi ideal.
3. Media Tradisional
Membicarakan media tradisional tidak bisa dipisahkan dari seni tradisional. Yakni suatu bentuk kesenian yang digali dari cerita-cerita rakyat dengan memakai media tradisional. Media tradisional seraing disebut sebagai bentuk folklor. Bentuk – bentuk folklor tersebut antara lain cerita prosa rakyat(mite, legenda, dongeng); ungkapan rakyat(peribahasa, pepatah); puisi rakyat; nyanyian rakyat; teater rakyat; gerak isyarat( memicingkan mata tanda cinta); dan alat bunyi-bunyian( kentongan,gong,bedug dll).William Boscon (dalam Nurudin, 2004) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Sebagai sistem proyeksi. Folklor menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.
  2. Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di Pantai Parang Kusumo.
  3. Sebagai alat pendidik. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.
  4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak” dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara namun sedikit kerja.
Ranganath (1976), menuturkan bahwa media tradisional itu akrab dengan massa khalayak, kaya akan variasi, dengan segera tersedia, dan biayanya rendah. Ia disenangi baik pria ataupun wanita dari berbagai kelompok umur. Secara tradisional media ini dikenal sebagai pembawa tema. Disamping itu, ia memiliki potensi yang besar bagi komunikasi persuasif, komunikasi tatap muka, dan umpan balik yang segera. Ranganath juga memepercayai bahwa media tradisional dapat membawa pesan-pesan modern.Sifat-sifat umum media tradisional ini, antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur, menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah, dan sebagainya. Disssanayake (dalam Jahi,1988) menambahkan bahwa media tradisional menggunakan ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol yang mudah dipahami oleh rakyat, dan mencapai sebagaian dari populasi yang berada di luar jangkauan pengaruh media massa, dan yang menuntut partisipasi aktif dalam proses komunikasi.
Beberapa kelebihan media tradisional dan seni tradisional dibanding media lain adalah:
1.      Tumbuh dan berkembang di masyarakat,sehingga dianggap sebagai bagian atau cermin kehidupan masyarakat desa. Di samping apa yang disuguhkan lebih mengena di hati masyarakat, melalui media tradisional juga bisa diselipkan pesan pembangunan, misalnya dalam cerita teater rakyat.
2.      Media rakyat harus dinikmati dengan jenjang pengetahuan atau pendidikan tertentu, sedangkan media tradisional bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.
3.      Seni tradisional sifatnya lebih menghibur sehingga lebih mudah mempengaruhi sikap masyarakat. Di samping itu, seni tradisional tidak perlu dinikmati dengan mengerutkan dahi.
Melihat fungsi media tradisional yang sedemikian besar, ia jelas punya fungsi yang sangat efektif untuk menyebarkan pesan di pedesaan. Ia tidak dilakukan dengan komunikasi antarpersonal dan juga tidak memakai media massa modern, tetapi dengan alat tradisional yang memang hanya ada di pedesaan. Seni tradisional di masyarakat telah menjadi suatu pola dalam proses komunikasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Seni tradisional telah membantu perkembangan masyarakat baik yang menyangkut kepercayaan, perkembangan sosial dan budaya atau secara ekonomis. Bahkan, lewat seni tradisional itulah jati diri suatu kelompok masyarakat bisa terlihat.
2.3 Penyuluhan di Pedesaan
Penyuluh menurut Everet M.Rogers adalah seseorang yang atas nama pemerintah atau lembaga penyuluhan berkewajiban untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasaran penyuluhan untuk mengadopsi inovasi. Fenomena penyuluhan pembangunan merupakan ciri khas di pedesaan. penyuluhan di pedesaan tersebut berbagi inovasi untuk kelangsungan hidup masyarakat desa. lewat penyuluh pembangunan diharapkan masyarakat desa mengetahui inovasi serta menerapkannya di kehidupan sehari – hari. Penyuluhan di pedesaan memiliki peran diantaranya :
1.      Penyuluhan sebagai proses penyebaran informasi. Seorang penyuluh ketika pergi ke desa sudah dibekali seperangkat pengetahuan dan pesan-pesan pembangunan atau pertanian yang harus disebarluaskan kepada masyarakat. Jadi, penyuluh menyampaikan pesan – pesan yang memang sudah digariskan oleh pemerintah untuk disampaikan kepada masyarakat
2.      Penyuluhan sebagai proses penerangan. Penyuluhan berfungsi sebagai sebuah proses penerangan pada masyarakat. Artinya, masyarakat yang belum tahu sebisa mungkin dibuat tahu terhadap pesan yang disampaikan
3.      Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku. Informasi yang disebarkan sebisa mungkin tidak sekedar memberikan pemahaman pada masyarakat, tidak pula hanya sekedar perubahan yang terjadi pada sikap mereka. Tetapi perubahan yang terjadi pada perilaku mereka.
4.      Penyuluhan sebagai proses pendidikan. Sebab, ada informasi/pesan yang disebarkan untuk memberikan pemahaman baru atau membenarkan terhadap asumsi yang keliru pada masyarakat pedesaan.
5.      Penyuluhan sebagai proses rekayasa sosial. Tak jarang jika penyuluhan yang dilakukan selama ini terkesan sebuah “rekayasa” sepihak pemerintah. Artinya, pemerintah adalah (menganggap) pihak yang aktif,sedangkan sasaran adalah masyarakat yang dianggap pihak yang pasif
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga.Ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Di dalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.
2.      Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan ( Gemeinschaft atau paguyuban )
3.      Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan ( part time ) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
4.      Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Sejalan dengan tingkat perkembangan pengetahuan dan pendidikan penduduk yang sudah mulai maju, komunikasi seperti itu lambat laun akan ditinggalkan.Dengan demikian, proses komunikasi melalui lisan atau antar persona akan cepat berubah apabila pembaharuan cepat diterima oleh masyarakat desa. Yakni dengan munculnya media yang yang berpotensi menyebarkan informasi seperti Koran Masuk Desa (KMD), Media Rakyat (MR) dan Media Tradisional.
Penyuluhan di pedesaan berbagi inovasi untuk kelangsungan hidup masyarakat desa. lewat penyuluh pembangunan diharapkan masyarakat desa mengetahui inovasi serta menerapkannya di kehidupan sehari – hari.Kemudian penyuluhan di pedesaan memiliki peran diantaranya :
1.      Penyuluhan sebagai proses penyebaran informasi.
2.      Penyuluhan sebagai proses penerangan.
3.      Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku.
4.      Penyuluhan sebagai proses pendidikan.
5.      Penyuluhan sebagai proses rekayasa sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Nurudin, 2004, Sistem Komunikasi Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Ranganath, 1976, Telling the People Tell Themselves, Media Asia 3
Amri Jahi, 1988, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga, PT Gramedia, Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com