lucunya masa kecil itu.. rintangan hidup mulai berangsur terselesaikan... harapan ini belum juga tercapai untuk kedua orang tua dan keluarga. sedikit berangsur membuat mereka tersenyum menghilangkan keriput dipipi mereka. terima kasih atas keikhlasan untuk saling mengasih semangat. buat Ayanda Marzuki dan Ibunda Rusmidah.
Selasa, 05 Agustus 2014
Jumat, 27 Juni 2014
PPL SUMATRA DAN JAWA PUBLIC RELATION IAIN STS JAMBI
wawancara dengan mahasiswa baru jalaur SPMB-PTAIN.
Lagi fokus membantu menyusun LJS
exis dulu sebelum meliput pelaksanaan tes mahasiswa baru.
Dalam kesempatan ini. kami hanya bisa mengabdikan diri dalam rangka PPL di rektorat IAIN STS Jambi. bukan ketidak inginan kami melakukan PPL di luar pulau sumatra. akan tetapi, banyak hal yang kami pertimbangkan, dan bukan hal ini menjadikan suatu ketidak akraban. melainkan hal yang justru membuat kita kaya dengan ide. terima kasih kawan Public Relation Angkatan III.
dan ini sahabat PR lagi PPL di UIN KALI JAGA
dan ini sahabat PR lagi PPL di UIN KALI JAGA
Senin, 09 Juni 2014
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI
“PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI”
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan
Islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan
sumber daya manusia dan pembangunan karakter, sehingga masyarakat yang tercipta
merupakan cerminan masyarakat islami.
Dengan demikian Islam benar-benar menjadi rahmat bagi
seluruh alam. Pendidikan Islam bersumber pada nilai-nilai agama Islam di
samping menanamkan atau membentuk sikap hidup yang dijiwai nilai-nilai
tersebut.
Namun, hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi
permasalahan yang komplek, dari permasalahan konseptual-teoritis, hingga
permasalahan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini
menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan
sebagai pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi
muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.
Ketertinggalan pendidikan Islam dari lembaga pendidikan
lainnya setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
- Pendidikan Islam sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan yang akan datang.
- Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam fisika, kimia, biologi, dan matematika modern.
- Pendidikan Islam tetap berorientasi pada masa silam ketimbang berorientasi kepada masa depan, atau kurang bersifat future oriented.
- Sebagian pendidikan Islam belum dikelola secara professional baik dalam penyiapan tenaga pengajar, kurikulum maupun pelaksanaan pendidikannya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
saja problematika pendidikan islam masa kini?
2.
Bagaimana
solusi problematika pendidikan islam masa kini?
C. Tujuan
1. Agar kita tahu apa saja
problem-problem pendidikan Islam masa kini
2. Agar kita tahu bagaimana solusi yang
tepat untuk mengatasi problematika pendidikan Islam masa kini
BAB II
PEMBAHASAN
A. Problematika Pendidikan Islam Masa
Kini
1.
Problem
Konseptual-Teoritis
Ketertinggalan pendidikan Islam ini
salah satunya dikarenakan oleh terjadinya penyempitan terhadap pemahaman
pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah
dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan
kehidupan jasmani.
Oleh karena itu, akan tampak adanya
pembedaan dan pemisahan antara yang dianggap agama dan bukan agama, yang sakral
dengan yang profan, antara dunia dan akhirat.
Cara pandang yang memisahkan antara
yang satu dengan yang lain ini disebut sebagai cara pandang dikotomi. Adanya
dikotomi inilah yang salah satu penyebab ketertinggalan pendidikan Islam.
Hingga kini pendidikan Islam masih memisahkan antara akal dan wahyu, serta
pikir dan zikir.Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan paradigmatik,
yaitu kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan
Islam, karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada konsep ‘abdullah
(manusia sebagai hamba), ketimbang sebagai konsep khalifatullah (manusia
sebagai khalifah Allah).
Selain itu orientasi pendidikan
Islam yang timpang tindih melahirkan masalah-masalah besar dalam dunia
pendidikan, dari persoalan filosofis, hingga persoalan metodologis.
Di samping itu, pendidikan Islam
menghadapi masalah serius berkaitan dengan perubahan masyarakat yang terus
menerus semakin cepat, lebih-lebih perkembangan ilmu pengetahuan yang
hampir-hampir tidak memperdulikan lagi sistem suatu agama.
Kondisi sekarang ini, pendidikan
Islam berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Dalam artian
bahwa, satu sisi umat Islam berada pada romantisme historis di mana mereka
bangga karena pernah memiliki para pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan besar
dan mempunyai kontribusi yang besar pula bagi pembangunan peradaban dan ilmu
pengetahuan dunia serta menjadi transmisi bagi khazanah Yunani, namun di sisi
lain mereka menghadapi sebuah kenyataan, bahwa pendidikan Islam tidak berdaya
dihadapkan kepada realitas masyarakat industri dan teknologi modern. Hal ini
pun didukung dengan pandangan sebagian umat Islam yang kurang meminati
ilmu-ilmu umum dan bahkan sampai pada tingkat “diharamkan”.
Terjadinya pemilahan-pemilahan
antara ilmu umum dan ilmu agama inilah yang membawa umat Islam kepada
keterbelakangan dan kemunduran peradaban, lantaran karena ilmu-ilmu umum
dianggap sesuatu yang berada di luar Islam dan berasal dari non-Islam.
Agama dianggap tidak ada kaitannya dengan
ilmu, begitu juga ilmu dianggap tidak memperdulikan agama.
Begitulah gambaran praktik
kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai
dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat. Sistem
pendidikan Islam yang ada hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja. Di sisi lain,
generasi muslim yang menempuh pendidikan di luar sistem pendidikan Islam hanya
mendapatkan porsi kecil dalam hal pendidikan Islam atau bahkan sama sekali
tidak mendapatkan ilmu-ilmu keislaman.
2. Problem
Mendasar : Sekularisme sebagai Paradigma Pendidikan
Jarang ada
orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang
sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas
No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Tapi perlu
diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti
“iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk
mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan.
Jadi, selama agama hanya menjadi masalah pribadi
dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem
pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular,
walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai
perilaku individu).
Sesungguhnya
diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang
sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas
No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian
kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan
umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus”.
Dari pasal ini
tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan
umum. Sistem pendidikan dikotomi semacam ini terbukti telah gagal melahirkan
manusia yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan
perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara
kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui
madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama;
sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan
serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek)
dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama.
Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses
pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar
sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan
dari seluruh aspek kehidupan.
Hal ini juga
tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang kurikulum pendidikan dasar dan
menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan
agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran
yang lainnya.
Ini jelas tidak
akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan
nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
3. Problem-problem Cabang
Masalah-masalah cabang yang dimaksud
di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang
berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.
Masalah-masalah cabang ini tentu banyak sekali
macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut:
Ø Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk
sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang
gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku
perpustakaan tidak lengkap.
Sementara laboratorium tidak standar,
pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak
sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak
memiliki laboratorium dan sebagainya.
Ø Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan
guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki
profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut
dalam pasal 39 UU No 20/2003 tentang Sisdiknas yaitu merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat.
Walaupun
guru bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi guru
merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas,
tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang
menjadi tanggung jawabnya.
Ø Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya
kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan
Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada
pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan sebesar Rp
3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5
juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp
10 ribu per jam.
Dengan
pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan
sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari,
menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa
ponsel, dan sebagainya.
Dengan
adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak
lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam
pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan
memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji,
tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang
berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah
khusus juga berhak atas rumah dinas.
Tapi,
kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang
muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit
mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70
persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan
kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen.
B. Solusi Problematika Pendidikan Islam
Masa Kini
a.
Solusi
Problem Konseptual-Teoritis
Mencermati kenyatan tentang konsep
dikotomi pendidikan, maka mau tidak mau persoalan konsep dikotomi pendidikan
harus segera ditumbangkan dan dituntaskan, baik pada tingkatan
filosofis-paradigmatik maupun teknis departementel.
Pemikiran filosofis menjadi sangat penting,
karena pemikiran ini nanti akan memberikan suatu pandangan dunia yang menjadi
landasan ideologis dan moral bagi pendidikan.
Pemisahan antar ilmu dan agama
hendaknya segera dihentikan dan menjadi sebuah upaya penyatuan keduanya dalam
satu sistem pendidikan integralistik. Namun persoalan integrasi ilmu dan agama
dalam satu sistem pendidikan ini bukanlah suatu persoalan yang mudah, melainkan
harus atas dasar pemikiran filosofis yang kuat, sehingga tidak terkesan hanya
sekedar tambal sulam.
Langkah awal yang harus dilakukan
dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan “kerangka dasar
filosofis pendidikan” yang sesuai dengan ajaran Islam, kemudian mengembangkan
secara “empiris prinsip-prinsip” yang mendasari terlaksananya dalam konteks
lingkungan (sosio dan kultural) Filsafat Integralisme adalah bagian dari
filsafat Islam yang menjadi alternatif dari pandangan holistik yang berkembang
pada era postmodern di kalangan masyarakat barat.
Inti dari pandangan filsafat
integralistik ini adalah bahwa yang mutlak dan yang nisbi merupakan satu
kesatuan yang berjenjang, bukan sesuatu yang terputus sebagaimana pandangan
ortodoksi Islam. Pandangan Armahedi Mahzar, pencetus filsafat integralisme ini,
tentang ilmu juga atas dasar asumsi di atas, sehingga dia tidak membedakan
antara ilmu agama dan ilmu umum, ilmu Tuhan dan ilmu sekular, ilmu dunia dan
ilmu akhirat. Dari pandangan dia tentang kesatuan tersebut juga akan
berimplikasi pula pada pemikiran Armahedi pada permasalahan yang lain, termasuk
juga pendidikan Islam.
Bagi Armahedi, pendidikan Islam
haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh atau integral. Baginya,
manusia-manuisa saat ini merupakan produk dari pemikiran Barat modern yang
mengalami suatu kepincangan, karena merupakan suatu perkembangan yang parsial.
Peradaban Islam adalah contoh lain.
Keduanya dapat ditolong dengan membelokkan arah perkembangannya ke arah
perkembangan yang evolusioner yang lebih menyeluruh dan seimbang. Hanya ada
beberapa sisi saja dari kehidupan manusia yang dikembangkan. Begitu juga halnya
dengan masyarakat yang ada, pada hakikatnya adalah cerminan dari satu sistem
pendidikan yang ada saat itu.
Masyarakat saat ini adalah masyarakat
materialis yang dapat dibina dengan menggunakan suatu mesin raksasa yang
bernama teknostruktur. Di sini ada satu link yang hilang, yaitu
spiritualisme. Dengan demikian, pendidikan sebagai produksi sistem ini haruslah
mengembangkan seluruh aspek dari manusia dan masyarakat sesuai dengan fitrah
Islam, yaitu tauhid.
Pandangan filosofis inilah yang
menjadikan pentingnya kajian terhadap pemikiran Armahedi Mahzar tentang sistem
pendidikan Islam integratif, karena permasalahan pendidikan sebenarnya terletak
pada dua aspek, filosofis dan praktis. Persoalan filosofis ini yang menjadi
landasan pada ranah praktis pendidikan. Ketika ranah filosofis telah terbangun
kokoh, maka ranah praktis akan berjalan secara sistematis. Dengan demikian,
filsafat integralisme nantinya akan menjadi landasan idiologis dalam
pengembangan sistem pendidikan integratif.
b.
Solusi
Problem Mendasar: Sekularisme sebagai Paradigma Pendidikan
Penyelesaian problem mendasar tentu
harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan
perombakan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan
sekular menjadi paradigma Islam. Ini sangat penting dan utama.
Ibarat mobil yang salah jalan, maka
yang harus dilakukan adalah mengubah haluan atau arah mobil itu terlebih dulu,
menuju jalan yang benar agar bisa sampai ke tempat tujuan yang diharapkan. Tak
ada artinya mobil itu diperbaiki kerusakannya yang macam-macam selama mobil itu
tetap berada di jalan yang salah. Setelah membetulkan arah mobil ke jalan yang
benar, barulah mobil itu diperbaiki kerusakannya yang bermacam-macam.
Artinya, setelah masalah mendasar
diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang pendidikan diselesaikan,
baik itu masalah rendahnya sarana fisik, kualitas guru dan kesejahteraan guru.
Solusi masalah mendasar itu adalah
merombak total asas sistem pendidikan yang ada, dari asas sekularisme diubah
menjadi asas Islam, bukan asas yang lain.
Bentuk nyata dari solusi mendasar
itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara
menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan Islam.
Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya
adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang
menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan, seperti tujuan
pendidikan dan struktur kurikulum.
c.
Solusi
Problem-problem Cabang
Seperti diuraikan di atas, selain
adanya masalah mendasar, sistem pendidikan Islam di Indonesia juga mengalami
masalah-masalah cabang, antara lain:
·
Rendahnya
sarana fisik
·
Rendahnya
kualitas guru
·
Rendahnya
kesejahteraan gutu
Untuk mengatasi masalah-masalah
cabang di atas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:
Ø Solusi sistemik.
yakni solusi dengan mengubah
sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan Islam. Seperti
diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang
diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam
konteks sistem ekonomi kapitalisme yang berprinsip antara lain meminimalkan
peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan
pendidikan.
Maka, solusi untuk masalah-masalah
cabang yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya
sarana fisik dan kesejahteraan guru berarti menuntut juga perubahan sistem
ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan
Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam.
Maka sistem kapitalisme saat ini wajib
dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa
pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
Ø Solusi teknis,
yakni solusi yang menyangkut hal-hal
teknis yang berkaitan langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk
menyelesaikan masalah kualitas guru.
Maka, solusi untuk masalah-masalah
teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas
sistem pendidikan.
Rendahnya kualitas guru, misalnya,
di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan
membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan
memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Problematika
Pendidikan Islam Masa Kini
·
Problem
Konseptual-Teoritis
Ketertinggalan
pendidikan Islam ini salah satunya dikarenakan oleh terjadinya penyempitan
terhadap pemahaman pendidikan Islam.
·
Problem Mendasar : Sekularisme sebagai
Paradigma Pendidikan
Jarang ada
orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang
sekular-materialistik.
·
Problem-problem Cabang meliputi : Rendahnya
kualitas sarana fisik, Rendahnya kualitas Guru, Rendahnya kesejahteraan Guru.
2. Solusi
Problematika Pendidikan Islam Masa Kini
·
Solusi problem konspetual-teoritis
Langkah awal yang harus dilakukan
dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan “kerangka dasar
filosofis pendidikan”.
·
Solusi problem mendasar: sekularisme sebagai
paradigm pendidikan
Melakukan perombakan secara
menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi
paradigma Islam.
·
Solusi problem-problem cabang
Ada dua solusi
untuk mengatasi problem ini yautu solusi
sistemik dan solusi teknis.
Minggu, 01 Juni 2014
PENGERTIAN PRESS RELEASE
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah perusahaan dibutuhkan seorang praktisi public
relations untuk membantu dalam membentuk citra positiif dan mencapai tujuan
yang diinginkan perusahaan, public relations menurut Byron
Christian dalam Ardianto (2011:10) merupakan suatu usaha sadar
memotivasi terutama melalui komunikasi agar orang-orang terpengaruh,
timbul pikiran yang sehat terhadap suatu organisasi, memberi rasa hormat,
mendukung, dan memberi kesadaran dengan berbagai cobaan dan masalah. Public
relations dalam suatu perusahaan memiliki ruang lingkup publiknya
sendiri yaitu internal dan external perusahaan, publik internal
adalah yang terdapat didalam organisasi atau perusahaan antara lain
karyawan, pemegang saham, manajer, dan pengawas. Sedangkan publik external
adalah publik yang berada diluar perusahan atau organisasi yaitu
pemerintah, pers atau media massa, pelanggan, pemasok, dan komunitas.
Salah
satu fungsi dan tugas public relations dalam menjalankan tugasnya dalam
Arianto (2011:261) adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan
informasi melalui berbagai media tentang kegiatan organisasi atau perusahaan,
yang seharusnya diketahui oleh publik. Public relations juga berfungsi dan
bertugas menghasilkan publisitas untuk memperoleh tanggapan positif dari publik.
Public
relations menyebarkan
informasi ke berbagai media baik melalui media cetak maupun media elektronik.
Media cetak adalah segala bentuk informasi yang disajikan dalam suatu
lembaran-lembaran. Contoh yang sering kita ketahui yaitu seperti koran,
majalah, dan tabloid. Sedangkan media elektronik adalah segala bentuk informasi
yang dapat kita nikmati dalam bentuk audio,gambar yang lebih menarik baik untuk
disaksikan maupun didengar. Media elektronik meliputi televisi, portal, radio,
dan internet. Segala informasi yang dikaji oleh media cetak dan media elektronik,
merupakan berita seputar masyarakat, politik, kriminalitas, acara-acara terkini,
launching sebuah produk, dan sebagainya.
Sebuah
informasi yang datang dari seorang praktisi public relations tidak dapat
dengan mudah dimuat dalam setiap media, informasi yang datang harus dipilih
oleh redaksi media tersebut berdasarkan nilai berita dan menarik atau tidaknya
informasi tersebut sehingga akhirnya dinaikan menjadi sebuah isu atau berita
dalam suatu media. Untuk menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut, public
relations menulis informasi yang ingin disampaikan melalui press release
yang dapat segera diterbitkan ke masyarakat oleh media yang bersangkutan. press
release merupakan suatu sarana dari perusahaan atau organisasi yang ingin
isu perusahaan atau organisasinya di angkat, yang kemudian di berikan ke media
untuk segera diterbitkan kepada masyarakat.
Hubungan
Eksternal dalam penelitian ini lebih dikhususkan pada kegiatan hubungan pers
dalam hal penyampaian Press Release kepada wartawan. Ini dikarenakan peneliti
melihat bahwa dalam pembuatan hingga penyampaian Press Release oleh suatu
perusahaan kepada wartawan itu tidak begitu saja diterima oleh wartawan dan
disiarkan oleh media.
Pada
umumnya, siaran pers dikirimkan melalui pos, melalui faximile, ataupun
dikirimkan melalui surat elektronik kepada para editor dari semua surat kabar,
majalah, stasiun-stasiun radio; televisi dan jaringannya. Terkadang siaran pers
tunda dikirimkan dalam rangka undangan untuk menghadiri “Konferensi pers“.
Penulis,
hingga saat ini, masih aktif membuat siaran pers untuk lembaga atau pribadi.
Siaran pers itu dibuat penulis berdasarkan kebutuhan dari sebuah lembaga atau
pribadi terhadap sebuah isu, fenomena, ataupun kegiatan. Tema yang dibuat
sangat beragam.
B. Identifikasi Masalah
Salah satu bentuk komunikasi yang umum digunakan oleh
praktisi Humas adalah Press Release dengan harapan Press Release tersebut dapat
dimuat disurat kabar. Setiap praktisi humas harus mampu menilai kelayakan
berita dari suatu materi yang hendak disiarkannya karena Press Release
menciptakan suatu penjelasan tertentu dimata kritis para editor perihal
organisasi yang menyebarkannya.
C. Tujuan Penelitian
·
Menganalisa pembuatan press Release
·
Menganalisa proses
evaluasi pembuatan press release
·
Mencari tahu
jenis-jenis press release apa saja
·
Menganalisa proses
pengelolaan press release
D. Kegunaan
Penelitian
1. Kegunaan
Teoritis
Kegunaan penelitian
secara teoritis berguna sebagai pengembang untuk mengembangkan Ilmu Komunikasi secara umum dan ilmu Humas atau
Public Relations khususnya mengenai
Efektivitas Penyajian Press Release terhadap Kepuasan
Wartawan Memperoleh Informasi.
2. Kegunaan
Praktis
a. Untuk
Penelitian
Penelitian ini secara
praktis berguna untuk peneliti sebagai aplikasi ilmu yang selama studi diterima secara teori dan
diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam bidang
komunikasi dan Public Relations.
b. Untuk
Universitas
Penelitian ini secara
praktis berguna bagi mahasiswa/i Universitas secara umum, dan untuk mahasiswa/i Ilmu Komunikasi konsentrasi Humas secara
khusus sebagai literatur terutama untuk
peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian pada kajian yang sama.
c. Untuk
Perusahaan
Penelitian ini secara
praktis berguna bagi perusahaan sebagai referensi atau evaluasi khususnya mengenai Efektivitas Penyajian Press
Release.
E. Manfaat
Penelitian
1. Dengan
dilakukannya penelitian ini, diharapkan dapat membantu penulis dalam memahami
tahapan-tahapan penulisan press release dan bagaimana membuat press
release yang baik.
2. Bagi
institut pendidikan, memperkaya teori tentang public relations di dalam
membuat press release.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Komunikasi
Komunikasi atau comunication berasal dari bahasa
Latin “communis”. Communis atau dalam bahasa Inggrisnya “common” berarti
sama. Jadi, apabila kita berkomunikasi (to communicate), ini
berarti bahwa kita berada dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan suatu
persamaan (commonness) dalam hal sikap dengan seseorang. Jadi,
pengertian komunikasi adalah sebagai proses menghubungi atau mengadakan
perhubungan. (Rosmawati. 2010: 17).
Harold
Laswell menyatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah
dengan menjawab pertanyaan: whos says what? In which channel? To
whom? With what effect? Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa komunikasi
merupakan proses penyampain pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui
media yang menimbulkan efek (akibat) tertentu. (Tamburaka. 2012: 7).
Berdasarkan
definisi Laswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling
bergantung satu sama lain, yaitu sumber (source) adalah pihak yang
berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, pesan adalah apa
yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima, saluran atau media adalah
alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada
penerima, penerima (receiver) adalah orang yang menerima pesan dari
sumber dan efek adalah apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan
tersebut, misalnya penambahan pengetahuan, terhibur, perubahan sikap, perubahan
keyakinan, perubahan perilaku dan sebagainya. (Mulyana. 2009: 69)
Sedangkan
menurut Hafied Cangara, komunikasi disebut komunikasi apabila memiliki beberapa
unsur-unsur pendukung yang membangunnya sebagai body of knowledge,
yakni:
1. Sumber
Sumber
yang biasa disebut dengan komunikator merupakan pembuat atau pengirim pesan dalam proses komunikasi. Dalam
komunikasi sumber bisa menjadi satu orang,
satu lembaga atau perusahaan, beberapa kelompok.
2. Pesan
Pesan
merupakan sesuatu yang dikirimkan oleh pengirim kepada penerima, isinya dapat berupa hiburan, informasi,
nasihat, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.
3. Media
Media
atau yang biasa disebut dengan channel atau medium adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari
sumber kepada penerima. Media komunikasi
ada yang berbentuk saluran antarpribadi, media massa dan media kelompok.
4. Penerima
Penerima
atau yang biasa disebut dengan komunikan atau audience adalah pihak yang menerima sasaran pesan ayng
dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang, organisasi atau instansi, perusahaan, negara
dan lain-lain.
5. Efek
Efek
merupakan apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut. Efek bisa terjadi pada
pengetahuam, sikap dan tingkah laku seseorang, misalnya
penambahan pengetahuan, perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan perilaku, dan sebagainya.
6. Umpan Balik (Feedback)
Umpan
balik yakni apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan
sebagai petunjuk mengenai efektivitas pesan
yang ia sampaikan sebelumnya, apakah dapat dimengerti, diterima, menghadapi kendala dan sebagainya, sehingga
sumber dapat mengubah pesan selanjutnya
agar sesuai dengan tujuannya. Tidak semua respons penerima disebut umpan balik. Suatu pesan disebut umpan
balik apabila hal itu merupakan respons terhadap
pesan pengirim dan bila mempengaruhi perilaku selanjutnya. (Tamburaka. 2012: 8).
Komunikasi
adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikannya melalui
suatu channel tertentu yang menyebabkan adanya persamaan persepsi
terhadap suatu hal antara komunikator dan komunikan tersebut. Dari pendapat
para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa unsurunsur komunikasi terdiri dari
sumber, pesan, media, penerimaserta efek. Itulah unsur-unsur yang membentuk
proses komunikasi.
B. Komunikasi Massa
Menurut Josep A. Devito (Nurudin. 2007: 11), pertama
komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak
yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk
atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya
ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar
untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah
komunikasi yang disalurkan oleh
pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa barangkali akan
lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya
(televisi,radio, surat kabar, majalah, film, buku, dan tapes).
C. Public Relations
Menurut W. Emerson Reck, public relations adalah
pertama lanjutan dari proses pembuatan kebijaksanaan, pelayanan dan tindakan
bagi kepentingan terbaik dari suatu individu atau kelompok agar individu atau lembaga
tersebut memperoleh kepercayan dan goodwill (itikad baik) dari publik.
Kedua, pembuatan kebijaksanaan, pelayanan dan tindakan untuk menjamin adanya
pengertian dan penghargaan yang menyeluruh. (Ardianto. 2011: 9)
Sedangkan
menurut John Marston dan Sheila Clough Crifasi, public relations adalah
fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap publik, mempelajari kebijakan
dan prosedur individual atau organisasi sesuai dengan kepentingan
publik, dan menjalankan program untuk mendapatkan pemahaman dan
penerimaan publik. (Nova. 2011: 43)
Public
relations adalah
suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat
memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu atau
organisasi/perusahaan.
kata-kata
kunci yang perlu diingat untuk mendefinisikan public relations adalah:
1. Sengaja
(deliberate). Kegiatan public relations adalah sesuatu yang disengaja,
dirancang untuk mempengaruhi,
mendapatkan pengertian, memberikan informasi dan
memperoleh umpan balik (reaksi dari mereka yang terkena dampak kegiatan ).
2. Terencana
(planned). Kegiatan public relations adalah sesuatu yang terorganisasi.
Solusi masalah diketahui dan
logistik dipikirkan, dengan kegiatan yang memerlukan jangka waktu. Kegiatan ini sistematis, membutuhkan riset
dan analisis.
3. Kinerja
(performance). Public relations yang efektif didasarkan pada kebijakan
dan penampilan nyata dari
seseorang atau sebuah organisasi. Tidak ada public relations yang dapat menciptakan simpati serta
dukungan jika organisasi yang bersangkutan merupakan
pemilik usaha yang tidak tanggap terhadap kepentingan masyarakat.
4. Kepentingan
publik (public interest). Dasar dari kegiatan public relations adalah
melayani kepentingan publik dalam
suatu masyarakat, bukan sekedar memperoleh keuntungan bagi organisasi. Idealnya, saling menguntungkan
bagi organisasi dan masyarakat. Ini
adalah benang yang menjalin kepentingan diri organisasi dengan kepentingan dan urusan masyarakat.
5. Komunikasi
dua arah (two way communication). Kamus sering kali memberikan kesan bahwa public relations terdiri
hanya dari penyebaran materi melalui informasi. Namun, penting juga bahwa definisi itu termasuk umpan balik dari
khalayak. Kemampuan mendengarkan
adalah bagian dari keahlian komunikasi yang pokok.
6. Fungsi
manajemen (management function). Public relations paling efektif apabila
berfungsi menjadi bagian dari pengambilan
keputusan oleh manajemen puncak. Public
relations melibatkan konsultasi dan pengentasan masalah tingkat tinggi,
tidak hanya mengeluarkan informasi setelah
keputusan dibuat.
D. Media Relations
Salah satu kegiatan external public relations dalam
memberikan informasi kepada publik/masyarakat untuk memperoleh dukungan dan kepercayaan
publik adalah kegiatan media relations. Media relations atau dalam
istilah lainnya press relations adalah membina hubungan baik dengan kalangan
pers yang mengelola media cetak (surat kabar dan majalah), media elektronik
(radio dan televisi) dan media massa online (newspaper online, magazine
online, radio digital dan televisi digital). (Ardianto. 2011: 264)
Menurut
Averill, media relations merupakan salah satu bagian dari public
relations yang menjadi sarana yang sangat penting dan efisien. Penting karena
akan menopang keberhasilan program, dan efisien karena tak memerlukan banyak
daya dan dana untuk menginformasikan program yang hendak dijalankan dengan
menggunakan teknik publisitas.
Dalam
masyarakat komunikatif, mereka yang gagal atau tidak bisa berkomunikasi akan
segera dilupakan. Itu dapat menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang
dilakukan organisasi. Bila organisasi tidak berkomunikasi dengan publiknya,
maka mereka akan segera dilupakan. Dalam konteks inilah akan terasa betapa
pentingnya mengembangkan relasi yang baik dengan media.
Namun
sebenarnya tujuan pokok diadakannya hubungan pers adalah menciptakan
pengetahuan dan pemahaman, bukan semata-mata untuk menyebarkan suatu pesan
sesuai dengan keinginan perusahaan induk atau klien demi mendapatkan ‘suatu
citra atau sosok yang lebih indah daripada aslinya di mata umum’. Tidak
seorangan pun yang berhak mendikte apa yang harus diterbitkan atau disiarkan
oleh media massa, setidak-tidaknya di suatu masyarakat yang demokratis. Dengan
publik yang tersebar, bukan saja secara geografis, maka kegiatan komunikasi
akan sulit dilakukan bila tidak memanfaatkan media massa.
Satu
hal yang penting untuk diperhatikan adalah media relations itu bukan
berarti hanya menjalin hubungan baik dengan wartawan melainkan juga dengan
redaksi dan media sebagai institusi. Menjalin hubungan yang baik dengan
wartawan memang penting karena akan memudahkan kita untuk menyampaikan
informasi. Namun, kita juga hendaknya mengingat bahwa keputusan untuk
menyiarkan atau menolak informasi tidak sepenuhnya berada pada tangan wartawan,
karena keputusan ada pada redaksi.
Hubungan
media yang semula merupakan hubungan kerja akan menjadi semakin kompleks karena
meningkatnya jumlah media, semakin terspesialisasinya media, semakin tajamnya persaingan
media dan pentingnya publisitas melalui media dalam kegiatan public
relations. Kendati para pejabat public relations semakin profesional
dalam melakukan publisitas, media tetap bersikap kritis terhadap perusahaan
untuk membedakan pengiriman berita yang tidak relevan atau berkualitas buruk,
yang publisitasnya agak berbau promosi. Pengelola media seperti redaktur
menyadari bahwa public relations merupakan sumber berita asli dan sumber
informasi teknis yang dapat mengembangkan kisah berita, gambar, artikel dan
bahan penunjang lainnya. Dalam upaya berhubungan dengan media, public
relations melakukan berbagai kegiatan yang bersentuhan dengan media antara
lain :
1. Press
Conference (konferensi pers, temu media atau jumpa media) Syarat utama dari sebuah konferensi pers adalah
berita yang disampaikan sangat penting. Sebuah konferensi
pers akan kehilangan fungsinya bila berita yang disampaikan kurang penting, apalagi jika diliput oleh radio
dan televisi. Menurut Oemi Abdurrachman, konferensi
pers diselenggarakan bila ada peristiwa-peristiwa penting di suatu perusahaan atas inisiatif sendiri
atau permintaan wakil-wakil pers.
2. Press
Briefing (perbincangan
dengan media)
Diselenggarakan
secara reguler oleh praktisi public relations. Dalam kegiatan ini, praktisi public relations menyampaikan
informasi-informasi mengenai kegiatan yang baru
terjadi kepada media. Bila media belum puas dan menginginkan keterangan lebih terperinci, diadakan tanggapan atau
pertanyaan.
3. Press
Tour (wisata media)
Diselenggarakan
oleh suatu perusahaan atau lembaga untuk mengunjungi daerah tertentu dan merekapun (media) diajak
menikmati objek wisata yang menarik.
4. News
Release (siaran pers,
press release, broadcast release)
News
Release sebagai
publisitas, yaitu media yang banyak digunakan dalam kegiatan kehumasan karena dapat menyebarkan berita.
5. Special
Events
Yaitu
peristiwa khusus sebagai kegiatan public relations yang penting dan memuaskan banyak orang untuk ikut serta dalam
suatu kesempatan, mampu meningkatkan
pengetahuan dan memenuhi selera publik, seperti peresmian gedung, peringatan ulang tahun perusahaan, seminar,
pameran, lokakarya, open house. Kegiatan
ini biasanya mengundang media untuk meliputnya.
6. Press
Luncheon
Yaitu
public relations mengadakan jamuan makan siang bagi para wakil media massa (wartawan atau reporter) sehingga pada
kesempatan ini pihak pers bisa bertemu
dengan top management perusahaan/lembaga guna mendengarkan perkembangan perusahaan atau lembaga tersebut.
7. Press
Interview (wawancara
media)
Sifatnya
lebih pribadi, lebih individu. Public relations atau top management yang
diwawancarai hanya berhadapan dengan
wartawan atau reporter yang bersangkutan.
Meskipun hanya diwawancarai seusai meresmikan suatu acara oleh banyak wartawan, bahkan diliput radio
dan televisi, tetap saja wawancara tersebut bersifat individu. (Ardianto. 2011: 267).
E. PR Online
PR Online atau biasa disebut E-PR muncul ketika internet
memainkan peranan penting dalam perkembangan ICT (Information and Communication
Technologies). Sehingga kalangan bisnis memandang internet bisa menjadi media
komunikasi strategis untuk menjalankan fungsi PR dalam organisasi. E-PR
kemudian menjadi tantangan baru bagi strategi PR yang selama ini dilakukan secara
offline.
Istilah
E-PR merupakan bentuk penerapan perangkat ICT untuk kegiatan PR. Seperti
menyebarkan press release, membangun komunikasi dengan stakeholders,
mempublikasikan kegiatan perusahaan dan sebagainya. Saat ini parktisi PR mau
tidak mau harus memanfaatkan ICT untuk menjalankan komunikasi yang efektif dan
efisien. Mengirimkan press release kini tidak lagi melalui pos atau fax, tapi
cukup melalui email. Sejumlah korporat yang memiliki website dan dikelola
dengan baik, juga mempublikasikan press release di website-nya, sehingga media
tinggal men-download.
Saat ini
praktisi PR dituntut bisa memposisikan diri dalam E-PR. Sehingga sumber daya
manusia yang dibutuhkan korporat adalah orang yang handal berselancar di dunia
maya dan tahu ke mana saja mereka harus berselancar untuk membangun corporate
image. Seperti dikatakan pakar bisnis dan ICT BJ Onggo, seorang praktisi E-PR
harus mampu mengembangkan content untuk format distribusi apa saja (media
cetak, radio, TV, situs web, e-mail, iTV, PDA, WAP, Usenet dan sejenisnya) agar
dapat dengan tepat menjangkau berbagai macam audiens.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Press Release
Press
Release atau siaran pers menurut Soemirat dan Ardianto (2004) adalah informasi
dalam bentuk berita yang dibuat oleh Public Relations (PR) suatu organisasi/
perusahaan yang disampaikan kepada pengelola pers/ redaksi media massa (tv,
radio, media cetak, media online) untuk dipublikasikan dalam media massa
tersebut.
Pengertian dari Press Release
menurut Effendy adalah :
"Bahan
berita yang dikirimkan pihak instansi atau organisasi, biasanya biasanya
dikerjakan oleh bagian Humas ke media massa dengan harapan dapat
disiarkan" (Effendy, 1898 : 80). Press Release atau siaran pers biasanya
hanya berupa lembaran siaran berita yang disampaikan kepada wartawan atau media
massa. (Abdullah, 2004 : 80).
B. Perbedaan
Press Release dan Berita
a. Press
Release
Penyampaian kegiatan
organisasi. Misalnya, produsen mie instant membuat kegiatan “lomba kreasi mie”. Kemudian Public relations membuat
press-release yang berisi
informasi tentang kegiatan ini ke media. Sebagai bahan atau sumber berita bagi media. Sebuah release yang dikirim
public relations (setelah dianggap layak oleh
media) bisa dimuat dalam bentuk berita. Tentu saja isinya tidak sama persis dengan tulisan dalam release. Media bisa saja
lebih menonjolkan sesuatu pokok (angle)
peristiwa yang dianggap penting, yang mungkin berbeda dengan apa yang ditonjolkan Public relations dalam
release-nya. Alat untuk membina dan menumbuhkan
sikap, pendapat atau citra yang baik dari anggota masyarakat kepada organisasi (membentuk opini positif). Alat
untuk mengalihkan perhatian publik dari fakta
yang merugikan organisasi dan memusatkan fakta yang menguntungkan organisasi. Dibuat oleh organisasi atau
perusahaan. Beritanya mencakup peristiwa yang
direncanakan, yaitu dari event yang dibuat perusahaan. Misalnya pengangkatan manajer baru, perubahan
pelayanan, dan sebagainya.
b. Berita
Jurnalistik
Dibuat oleh wartawan.
Wartawan mencari dan menulis berita untuk diedit redaksi. Sumber berita bisa berasal dari mana saja, termasuk dari
Public relations. Melaporkan
fakta sebagaimana adanya. Ini tanggung jawab profesi wartawan untuk memenuhi hak informasi dari publik
(public’s right to know). Biasanya banyak untuk peristiwa yang nonrekayasa. Maksudnya adalah peristiwa yang terjadi
dengan sendirinya tanpa direncanakan
manusia. Misalnya, kecelakaan, musibah, dan lainnya.
Namun tidak menutup kemungkinan untuk peristiwa yang direkayasa (direncanakan), seperti acara wisuda
sarjana yang diadakan sebuah institusi pendidikan.
Dampak pemberitaan tidak selalu harus berkembang kepada sikap atau pendapat yang baik terhadap apa yang
disampaikan, malah dapat terjadi yang sebaliknya.
Fungsi berita untuk kontrol sosial, memberi tahu, mendidik, membimbing, meyakinkan, dan membantu khalayak dalam
menyikapi peristiwa.
`Persamaan
antara press-release dan berita :
1. Merupakan informasi yang ditujukan untuk khalayak.
2. Harus mengandung news-values yang dapat menarik
perhatian khalayak.
3. Menuntut adanya teknik penulisan tertentu, seperti
5W+1H.
C. Penulisan
Press Release
Meskipun
semua press release yang dibuat PR memiliki format yang sama, sebenarnya
memiliki perbedaan penekanan pada informasinya yaitu:
Basic Press
Release mencakup berbagai informasi yang terdapat di dalam suatu organisasi/
perusahaan yang memiliki berbagai nilai berita untuk media lokal, regional atau
pun nasional;
Product Release mencakup transaksi
tentang target suatu produk khusus atau produk reguler lainnya untuk suatu
publikasi perdagangan di dalam suatu industri;
Financial
Release digunakan terutama dalam membina hubungan dengan pemegang saham.
Penulisan press release layak muat
apabila cara menulisnya seperti halnya wartawan menulis berita langsung
(straight news) dengan gaya piramida terbalik (inverted pyramid). Dimulai
dengan membuat lead/ teras berita/ kepala berita sebagai paragraf pertama yang
mengandung unsur 5W + 1H (What: apa yang terjadi? Where: dimana terjadinya? When:
kapan peristiwa tersebut terjad? Who: siapa yang terlibat dalam peristiwa
tersebut? Why: mengapa peristiwa tersebut terjadi? How: bagaimana
berlangsungnya peristiwa tersebut?).
Penulisan dengan gaya piramida
terbalik ini digunakan dengan alasan: Pertama, pembaca dikategorikan sebagai
orang sibuk dan mempunyai waktu yang singkat untuk mendapatkan berita-berita
yang faktual. Kedua, redaksi media massa harus memotong Press Release tersebut
tanpa mengurangi isi pokoknya. Ketiga, redaksi tidak mempunyai cukup waktu
untuk membaca keseluruhan Press Release. Sebelum redaksi memutuskan dibuang
atau dipakai release tersebut, mereka harus tahu dengan cepat apa keseluruhan
isi release itu (Cole dalam Soemirat dan Ardianto, 2004).
Setelah menulis lead sebagai paragraf
pertama, kembangkan lead itu dalam paragraf kedua untuk menjelaskan atau
mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan atau mendukung paragraf
pertama yang perlu dijelaskan. Kemudian masuk kepada tubuh berita. Penulisan
dengan gaya piramida terbalik ini berarti menulis berita dari mulai yang sangat
penting (lead) sampai kepada semakin tidak penting. Sedangkan judul diambil
dari lead (berita yang sangat penting tadi).
Austin (1996) menyarankan agar PR
membaca surat kabar––lokal dan nasional––dan mempelajari gaya bahasa yang
mereka gunakan. Tulislah siaran pers dengan gaya surat kabar yang akan dikirimi
tulisan tersebut. Siaran pers yang ditulis harus meniru gaya artikel dalam
surat kabar itu. Sebagai contoh bila mereka selalu mencetak nama lengkap gunakan
nama lengkap dan bukannya singkatan.
Untuk menarik perhatian pembaca,
Austin menjelaskan beberapa aturan dasar yang biasa digunakan wartawan untuk
menarik perhatian pembaca. Aturan tersebut juga berlaku ketika menulis siaran
pers, yaitu:
·
Memilih judul yang
positif (aktif) dan bukannya pasif.
·
Paragraf pertama
(lead) harus tajam dan ringkas; antara 12 sampai 20 kata merupakan ukuran yang
ideal.
·
Usahakan supaya
kalimat dan paragraf pendek-pendek.
·
Hindari kata yang
berlebihan seperti “ini” dan “itu”, serta kata keterangan dan kata sifat yang
tidak perlu. Anda tidak perlu mengatakan bahwa sesuatu “hebat” atau
“fantastis”. Kalau itu sehebat yang anda nyatakan, maka akan jelas dengan
sendirinya dari teks yang anda tulis.
·
Hindari kata-kata
panjang karena kolom surat kabar sempit.
·
Hindari istilah
khusus dan penggunaan singkatan.
·
Jawab enam
pertanyaan ––siapa, mengapa, apa, bilamana, di mana dan bagaimana. Kalau anda
tidak menjawab keenam pertanyaan ini maka siaran pers anda tidak berisi semua
informasi yang diperlukan wartawan.
·
Jangan menulis
awal, bagian tengah dan akhir. Masukkan semua butir yang penting pada awal
siaran pers. Kalau artikelnya terlalu panjang mereka akan memotongnya dari
bawah dan jika Anda meletakkan butir-butir yang paling penting pada akhir
berita, maka bagian itu tidak akan termuat.
·
Tulislah berita
dan bukan pandangan (harus berdasarkan fakta).
·
Selalu periksa
kembali ejaan nama orang.
·
Ketiklah siaran
pers hanya pada satu sisi kertas saja dengan spasi rangkap. Berikan margin yang
cukup pada semua sisi halaman.
·
Selalu beri
tanggal pada siaran pers.
·
Selalu cantumkan
nama kontak dan nomor telepon di siang hari pada bagian bawah siaran.
·
Buatlah siaran
pers sesingkat mungkin.
Berkaitan dengan press release Jefkins (2003)
mengungkapkan hal-hal terpenting perihal pers yang harus diketahui oleh seorang
praktisi PR:
1.
Kebijakan
editorial. Hal ini mengungkapkan pandangan dasar dari suatu media yang dengan
sendirinya akan melandasi pemilihan subjek-subjek yang akan dicetak atau yang
akan diterbitkannya. Selain itu aturan keredaksian dan aturan kewartawanan juga
perlu diketahui PR dalam menulis dan mengirimkan press release.
2.
Frekuensi
penerbitan. Setiap terbitan punya frekuensi penerbitan yang berbeda-beda, bisa
harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Hal itu perlu diketahui oleh
para praktisi PR, sehingga dapat menyesuaikan diri dalam pembuatan press
release.
3.
Tanggal/tenggat
terbit. Kapan tanggal dan saat terakhir sebuah naskah harus diserahkan ke
redaksi untuk penerbitan yang akan datang? Hal ini ditentukan oleh frekuensi
dan proses percetakannya. Hal ini penting diketahui praktisi humas karena kerap
kali siaran pers yang dikirimkan tidak bisa termuat karena terganjal oleh
tenggat terbit.
4.
Proses percetakan.
Hal ini wajib diketahui oleh praktisi humas sehingga pemuatan press release
bisa sesuai dengan yang hiharapkan.
5.
Daerah sirkulasi.
Apakah jangkauan sirkulasi dari suatu media itu berskala lokal, pedesaan,
perkotaan, nasional atau internasional. Hal ini dinilai sangat penting agar
pesan yang disampaikan efektif dan efisien.
6.
Jangkauan pembaca.
Berapa dan siapa saja yang membaca jurnal atau media yang bersangkutan? Seorang
praktisi PR juga dituntut untuk mengetahui kelompok usia, jenis kelamin,
pekerjaan, status sosial, minat khusus, kebangsaan, etnik, agama, hingga ke
orientasi politik dari suatu khalayak pembaca media.
7.
Metode distribusi.
Praktisi PR juga perlu mengetahui metode-metode distribusi suatu media, apakah
eceran atau langganan. Kemudian ihwal tiras juga patut diketahui dalam upaya
efektivitas dan efisiensi komunikasi yang dijalankan.
Abdullah
(2000) mengatakan bahwa yang dinomorsatukan oleh wartawan atau redaktur dalam
menilai sebuah peristiwa yang akan menjadi berita adalah nilai jurnalistiknya.
Hal serupa diberlakukan pula kepada rilis yang masuk yang dikirimkan oleh
lembaga humas, atau materi sebuah jumpa pers, juga kegiatan khusus (special
event) hingga hasil wawancara dengan narasumber. Meskipun nilai jurnalistik
masing-masing media relatif berbeda, para praktisi media massa di seluruh dunia
memiliki patokan unsur-unsur yang memiliki nilai jurnalistik, yaitu:
aktualitas, kedekatan (proximity), penting, keluarbiasaan, ketegangan, konflik
atau pertentangan, seks, kemajuan, emosi, dan humor. Kemudian ada beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan dalam pengiriman press release:
1.
Kirimkan secepat
mungkin. Artinya, jika kegiatan berlangsung hari itu, kirimkan hari itu juga.
Jangan menunda hingga esok harinya, kecuali jika pelaksanaannya adalah malam
hari.
2.
Jika pengirim
siaran pers sudah mengenal nama wartawan sesuai bidangnya, tujukanlah pada
wartawan tadi.
3.
Pengiriman bisa
pula melalui faksimili (atau e-mail).
4.
Jika melampirkan
foto atau cetakan berwarna atau contoh produk, lebih baik melalui kurir.
5.
Konfirmasikan
kembali melalui telepon, apakah siaran pers tadi sudah diterima atau belum.
Adakalanya siaran pers ini melengkapi acara jumpa
pers atau konferensi pers sehingga para kuli tinta tidak salah mengutip
pernyataan atau data yang ada. Karena itulah menurut Abdullah (2000) ada
hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan konferensi pers
atau jumpa pers:
1.
Jangan mengundang
wartawan secara mendadak karena biasanya wartawan sudah memiliki jadwal kerja
yang padat.
2.
Hargailah waktu
wartawan, jangan menunda waktu yang telah dijadwalkan.
3.
Jangan
mengundurkan waktu hanya karena ada wartawan yang belum datang.
4.
Wartawan paling
menyukai acara jumpa pers pagi hari.
5.
Hindari jumpa pers
pada hari libur.
6.
Hindari jumpa pers
yang jaraknya sangat jauh.
7.
Jika ingin suasana
santai, jumpa pers bisa pula di rumah makan atau tempat rileks lainnya.
8.
Hadirkanlah orang
yang mempunyai kredibilitas sehingga menambah bobot acara jumpa pers.
9.
Jangan “mengusir”
wartawan yang datang tidak diundang sejauh ia betul-betul membutuhkan informasi
untuk berita.
10.
Sediakan
bahan-bahan atau data tertulis sebagai pelengkap tulisan/ berita yang akan
ditulis wartawan. Apakah itu proposal, brosur, rilis dan lain-lain.
11.
Masukkan
bahan-bahan tadi dalam map atau amplop.
12.
Jika akan memberi
cinderamata atau uang transportasi, masukkanlah ke dalam amplop besar atau map
tadi.
13.
Hindari jumpa pers
satu arah. Berilah kesempatan wartawan untuk bertanya.
14.
Jangan heran
apabila dalam kesempatan itu wartawan akan bertanya pula tentang materi lain di
luar materi yang dijumpaperskan.
15.
Hindari jawaban “No
Comment” dalam diskusi, sebab jawaban ini mengesankan pembenaran dari
pernyataan wartawan.
16.
Khusus dalam Press
Briefing karena dilakukan secara reguler dalam kegiatan besar, maka perlu
diperhatikan hal-hal berikut:
17.
Susunlah jadwal
yang pasti, siapa yang tampil sebagai narasumber dan siapkan data yang akurat.
18.
Konfirmasikan
dahulu, apakah narasumber yang akan ditambilkan itu bersedia muncul dalam
pertemuan dengan wartawan.
19.
Siapkan
bahan-bahan tertulis dalam press room yang disediakan.
20.
Buatlah jurnal
harian yang akurat dan lengkap.
21.
Sediakan press
room yang memadai yang dilengkapi dengan berbagai sarana komunikasi dan
pengetikan
D. Jenis-jenis Press Release
Mengacu pada pendapat Thomas
Bivins, terdapat tiga jenis press-release yaitu :
a. Basic Publicity Release
Topik
press-release jenis ini adalah segala
informasi yang dinilai mengandung nilai
berita bagi media massa.
b. Product Release
Press-release ini berisi informasi tentang produk
perusahaan, misalnya peluncuran produk
baru, perubahan nama produk, dan lainnya. Jenis release ini biasanya lebih terbatas pada media-media
ekonomi bisnis.
c. Financial Release
Tidak
semua perusahaan menganggap penting informasi jenis ini. Informasi keuangan biasanya dianggap tabu untuk
menjadi konsumsi umum. Sekarang, bukan hanya
pemegang saham yang berhak atas informasi ini, tetapi publik pun juga berhak disodori informasi keuangan.
Informasi ini akan menjadi penilaian publik tentang
kredibilitas perusahaan. Misalnya, press-release berjudul “Laba Bank Mega Syariah Rp 53 Milyar”.
Berkaitan
dengan jenis-jenis release, Terence Shimp menyebut tiga jenis press-release,
yaitu :
a. Product Release
Mengumumkan
produk-produk baru, memberikan informasi yang relevan mengenai fitur dan manfaat produk serta memberi tahu
bagaimana informasi tambahan dapat
diperoleh.
b. Executive Statement Release
Lebih
luas daripada product-release, karena menyampaikan berbagai isu yang relevan dengan perusahaan, seperti :
pernyataan tentang perkembangan dan tren
industri; ramalan penjualan di masa depan; pandangan tentang perekonomian; pemberitahuan tentang program pemasaran baru
perusahaan; pandangan tentang persaingan
antarnegara atau perkembangan global dan komentar tentang isu-isu lingkungan.
c. Feature Articles
Merupakan
penjelasan yang rinci mengenai produk atau program lain yang layak diberitakan, yang telah ditulis
Public relations untuk segera dipublikasikan.
Selain
beberapa jenis di atas, ada jenis lain yang perlu ditambahkan yaitu relational
release. Press-release ini berisi informasi yang ditujukan untuk menjaga
hubungan dengan publik. Misalnya, release tentang ucapan terima kasih atau
release untuk meluruskan komplain pelanggan.
E. Contoh Press Release
PT. BEAUTY CARE INDONESIA,Tbk
The Plaza Lantai 22-23
Jl. MH. Thamrin
Jakarta Selatan
Press Release
Launching Produk
Tanggal 10 Mei 2014, PT. BEAUTY CARE INDONESIA,Tbk
kembali mengeluarkan produk kosmetik baru berupa: Beauty Natural Blush,
Powershine Lipstick, Herbal Natural Handbody dan Milk&Honey Gold Shampoo.
Karena keberhasilan kami memasarkan produk-produk kosmetik sebelumnya,
diharapkan produk kosmetik terbaru kami ini dapat diterima pasar dan berhasil
dalam penjualannya.
Harga yang diberikan untuk produk kosmetik terbaru
cukup terjangkau. Untuk Beauty Natural Blush Rp. 125.000,-, Powershine Lipstick
Rp. 80.000,-, Herbal Natural Handbody Rp. 70.000,- dan Milk&Honey Gold
Shampoo Rp. 65.000,-
Event launching akan dimeriahkan oleh bintang tamu penyanyi Afghan dan Citra
Scholastika. Pada event kali ini, desain acara dibuat sangat elegan ditambah
dengan pemberian discount harga untuk produk-produk kosmetik lainnya. Terdapat
stand kosultasi kecantikan yang telah kami persiapkan bagi mereka yang ingin
mendapatkan tip dan trik perawatan kecantikan.
“Dengan keberhasilan event launching tersebut,
diharapkan akan diikuti oleh keberhasilan pemasaran produk kosmetik BEAUTY CARE terbaru ini, dan kami
dari PT. BEAUTY CARE INDONESIA,Tbk akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk
para konsumen.
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi situs kami
di :
beautycare-indonesia.blogspot.com
Atau hubungi:
PT. BEAUTYCARE INDONESIA,Tbk
THE PLAZA
Lantai 22-23
Jl. MH. Thamrin Kav. 10
Jakarta Selatan
Phone : +62 21 9791010 (hunting)
Fax : +62 21 9791011
Customer Service : +62 21 9791010 ext. 10
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Ide pendapat
atau pandangan pihak yang mengeluarkan press release hendaklah berkaitan
dengan cita-cita institusional lembaga, organisasi atau individu yang
mengeluarkan press release tersebut. Karena itu, ia selalu bersifat
positif. Dengan ide, pendapat atau pandangan yang positif tersebut, lembaga,
organisasi atau individu yang mengeluarkan press release akan memperoleh
citra positif dari khalayak.
Data dan fakta
yang mendukung ide, pendapat atau pandangan pihak yang mengeluarkan press
release harus tegas dan lengkap. Artinya, data dan fakta tersebut tidak
malah menjadikan khalayak bertanya-tanya lagi tentang mengapa ide, pendapat
atau pandangan itu perlu diperhatikan. Sebaliknya, data dan fakta itu harus
bisa meyakinkan khalayak bahwa ide, pendapat atau pandangan pihak yang
mengeluarkan press release masuk akal dan layak untuk didukung.
Kesimpulan
sebuah press release harus menimbulkan kesan kuat di pikiran dan hati
khalayak. Untuk itu, kadang-kadang orang menempatkan klimaks peristiwa pada
kesimpulan sebuah press release. Dengan terbentuknya kesan yang kuat di
pikiran dan hati khalayak, kita harapkan khalayak bisa memberikan pemaknaan
yang kuat pula.
SARAN
Isi Press Release dibuat lebih
menarik sehingga berita yang dimuat di Website
dapat menjadi pilihan bacaan masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)







