Jumat, 07 Februari 2014

BERPERANNYA HUMAS DARI BERBAGAI PENJURU

0 komentar


Peranan Humas ( Hubungan Masyarakat ) atau Public Relations sangat dibutuhkan oleh hamper semua bentuk organisasi atau lembaga, bersifat komersial maupun tidak komersial, dari perusahaan/industry, organisasi profesi, institusi pendidikan, organisasi social budaya sampai pemerintahan. Secara garis besar peran Humas adalah komunikator sebuah organisasi/lembaga/perusahaan, baik kepada public internal maupun public ekstrena. Karena itu, Humas merupakan salah satu ujung tombak dari organisasi/lembaga/perusahaan untuk bersaing dalam era globalisasi. Bagi sebuah organisasi, Humas sangat diperlukan untuk menjalin komunikasi dengan para stakeholders ataupun untuk mengkomunikasikan  visi, misi, tujuan dan program organisasi kepada public.[1]


[1] Badan Operasi Bersama (2007).PT.BPS-Pertamina Hulu,CPP Block,central Sumatra Basin (BOBCPP, Beranda, Ujung Tombak. Diambil 7 februari 2014, dari http://ww.digilib.ui.ac.id

SEJARAH IAIN SULTAHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

0 komentar
Sejarah Perkembangan IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Lahirnya IAIN Sultan Thaha Saifuddin tidak terlepas dari perkembangan Agama Islam dan lembaga pendidikan Islam di Propinsi Jambi. Didorong oleh hasrat masyarakat dan ulama Jambi, maka diadakanlah Kongres Ulama Jambi pada tahun 1957, yang "menelorkan" suatu keputusan bahawa di Jambi segera didirikankanlah Fakultas Syari'ah Perguruan Tinggi Agama Islam al-Hikmah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Jambi.
Dalam masa tiga tahun pertama, Fakultas Syariah ini menunjukkan kemanunggalan antara pimpinan dengan masyarakat dan pemerintah daerah serta pemerintah pusat. Dengan SK Menteri Agama Nomor: 50 tahun 1963 tanggal 12 Mei 1963 dinegerikanlah Fakultas Syariah ini menjadi Fakultas Syariah Cabang IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan kemudian berubah menjadi cabang IAIN Raden Fatah Palembang. Penegerian ini mendorong para pejabat, ulama, dan pemuka masyarakat, terutama Gubernur KDH Tingkat I Propinsi Jambi saat itu (M.J Singadekane) untuk memperjuangkan berdirinya IAIN yang mempunyai beberapa fakultas.
Sejak tanggal 11 Juli 1965 Yayasan Perguruan Tinggi Al-Ma'arif telah memiliki Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin di Kotamadya Jambi dan sejak Maret 1964 di Sungai Penuh Kerinci telah berdiri Fakultas Syariah Muhammadiyah. Maka untuk memenuhi keinginan masyarakat, para ulama dan Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi tersebut, Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin al-Ma'arif dan Fakultas Syariah Muhammadiyah Kerinci diusulkan untuk menjadi Fakultas Syariah di lingkungan IAIN Jambi. Hal ini dilakukan kerana berdasarkan ketetapan MPR Nomor: 11 tahun 1960 dan Peraturan Menteri Agama nomor 5 tahun 1963, bahwa suatu IAIN minimal harus memiliki 3 (tiga) Fakultas. Pada tanggal 30 September 1965, terbentuklah Panitia Persiapan Pembukaan IAIN Jambi. Panitia tersebut dipersetujui oleh Menteri Agama dengan Surat Keputusan nomor : 83 tahun 1965 tanggal 22 Nopember 1965. Setelah melalui beberapa tahapan perjuangan Panitia Persiapan Pembukaan IAIN Jambi, maka pada akhirnya Menteri Agama menyetujui berdirinya IAIN dengan Surat Keputusan Nomor : 84 tahun 1967 tanggal 27 Juli 1967.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama tersebut, pada tanggal 8 September 1967 bertepatan dengan tanggal 3 Jumadil Akhir 1387 Hijriah diresmikanlah IAIN Sultan Thaha Saifuddin oleh Menteri Agama, Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, dengan personalia sebagai berikut:
1. Rektor, H.A Manap, Gubernur KDH Tingkat 1 Jambi.
2. Dekan Fakultas Syari’ah, H.M.O. Bafadhal
3. Dekan Fakultas Tarbiyah, Drs. Z. Azuan
4. Dekan Fakultas Syari’ah Kerinci, A.R. Dayah
Kemudian setelah keluar SK Menteri Agama Nomor : 69 tahun 1982 tanggal 27 Juli 1982, fakultas yang ada di lingkungan IAIN Sulthan Thaha Saifuddin ditingkatkan statusnya dari fakultas muda menjadi fakultas madya. Fakultas tersebut telah diperkenankan menyelenggarakan perkuliahan tingkat doktoral.
Pada tahun 1995, ketika tenaga dosen yang berkualifikasi S.2 dan S.3 semakin diperlukan kehadirannya, ide untuk membuka Program Pascasarjana pun mengemuka. Untuk menindaklanjuti ide tersebut, maka pada bulan Februari 1999, Dr. H. Asafri jaya, MA selaku Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi membentuk Panitia Persiapan Pendirian Program Pascasarjana yang diketuai oleh Prof. Dr. H. Sulaiman Abdullah. Panitia ini telah mempersiapkan program persiapan pendirian Program Pascasarjana di Departemen Agama di Jakarta pada tanggal 14 April 1999.
Prestasi tersebut ditindaklanjuti dengan visitasi (kunjungan ke lapangan) ke Jambi dalam sebuah tim yang diketuai oleh Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed, untuk melihat persiapan IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi membuka Program pascasarjana. Visitasi dilakukan dua kali yaitu tanggal 14-15 Juli 1999 dan 30-31 Juli 1999. Hasilnya merekomendasikan bahwa Program Pascasarjana IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi layak dilaksanakan, yang kemudian dikukuhkan dengan SK Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam nomor: E/283/1999 tentang penyelenggaraan Program Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Berdasarkan SK Rektor, ditetapkanlah pengelola Program Pascasarjana untuk pertama kalinya yang dipimpin oleh Drs. Ahmad Haris, MA, Ph.D.
Dalam rangka mewujudkan RIP IAIN Sultan Thaha Saifuddin yang mengacu pada Kepres No. 18/1985, maka melalui Kep. Menag. tanggal 25 Mei 2000 memutuskan dan mengesahkan berdirinya Fakultas Adab (Sastra dan Kebudayaan Islam). Sebagai Dekan pertama, ditetapkan Prof. Dr. Adrianus Chatib, MA. Dengan demikian IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi yang semula hanya terdiri atas tiga fakultas, sekarang telah menjadi empat fakultas dan satu Program Pascasarjana yang dengan sendirinya tentu meningkatkan status IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Pada tahun 2001, dibentuk lembaga baru yaitu Pembantu Rektor IV yang mempunyai tugas membuka hubungan kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka penguatan dan pengembangan IAIN.
Untuk meningkatkan penyelenggaraan dan pembinaan Pendidikan Tinggi Agama Islam, sesuai dengan perkembangan IAIN dewasa ini, maka sebagai pedomannya adalah Peraturan Pemerintah nomor: 60 dan 61 tahun 1999, KMA No. 489 tahun 2002 tentang statuta IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan peraturan terkait lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, IAIN juga telah berkomitmen untuk melakukan transformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) STS Jambi melalui program Wider Mandate (WM). Keinginan ini diharapkan terwujud sekitar tahun 2008 dengan dukungan berbagai pihak, antara lain Pemerintah Propinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten / Kota, pihak swasta, dan Islamic Development Bank (IDB).

VISI
Visi IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi adalah sebagai lembaga pendidikan tinggi unggulan yang mengintegrasikan unsure keislaman, keilmuan, teknologi dan kemanusiaan.

MISI
Misi IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi adalah melaksanakan secara optimal Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara:
  1. Mencetak sarjana yang memiliki keunggulan kompetitif dalam persaingan global.
  2. Melakukan reintegrasi epistimologi keilmuan
  3. Memberikan landasan moral terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Mengembangkan keilmuan melalui kegiatan penelitian
  5. Memberikan konstribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

TUJUAN
IAIN bertujuan:
  1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan agama Islam dan ilmu-ilmu lain yang terkait.
  2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam dan ilmu-ilmu lain yang terkait serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan. Sumber :  http://www.kias.edu.my/makjambi.htm

Sabtu, 04 Januari 2014

Syarat Judul Berita

0 komentar
Tugas kelima saya kali ini yaitu membuat artikel mengenai syarat judul yang baik. Tapi sebelum saya membahas langsung menenai syarat-syaratnya, alangkah baiknya kita mengerti apa yang dimaksud dengan judul itu sendiri.  Judul adalah perincian atau penjabaran dari topik. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas. Judul juga merupakan nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain;
Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan. Judul tidak harus sama dengan topik. Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat umum dan ruang lingkupnya sangat luas. Judul dibuat setelah selesai menggarap tema, shingga bisa terjamin bahwa judul itu cocok dengan temanya. Sebuah judul yang baik akan merangsang perhatian pembaca dan akan cocok dengan temanya.
Judul karangan sedapat-dapatnya :
a.. singkat dan padat,
b. menarik perhatian, serta
c. menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.

Syarat Judul yang baik, yaitu :
a. Asli
Jangan menggunakan judul yang sudah pernah ada, bila terpaksa dapat dicarikan sinonimnya,
b. Relevan dengan tema dan bagian-bagian dari tulisan tersebut,
c. Provokatif (Menimbulkan rasa ingin tahu orang lain untuk membaca tulisan itu),
d. Singkat,
Tidak mempergunakan kalimat yang terlalu panjang, jika judul terlalu panjang, dapat dibuat judul utama dan judul tambahan (subjudul).
e. Harus bebentuk frasa,
f. Awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,
g. Tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
h. Menarik perhatian,
i. Logis,
j. Sesuai dengan isi.
Judul dibagi menjadi dua,yaitu :
1. Judul langsung :
Judul yang erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubugannya dengan bagian utama nampak jelas.
2. Judul tak langsung :
Judul yang tidak langsung hubungannya dengan bagian utama berita tapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.

mungkin ini bermanfaat buat jurusan Public Relation dan Ilmu Jurnalistik.
salam dari PR

Kamis, 26 Desember 2013

Candi Muaro Jambi, Bukti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

0 komentar
Ketika saya sampai ke candi Muaro Jambi. sedikit sejarah tentang candi Muaro Jambi  dari saya.

Candi Muaro Jambi terletak di Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di Kecamatan Muaro Sebo, Provinsi Jambi. Lokasi candi ini terdapat di pinggir Sungai Batang Hari. Candi ini merupakan peninggalan abad ke-11, di mana Kerajaan Sriwijaya sedang dalam masa jayanya. 
Kompleks Candi Muaro Jambi luasnya 260 hektere dan merupakan kompleks candi yang paling luas di Sumatra.Candi Muaro Jambi merupakan candi peninggalan era Hindu-Budha di Sriwijaya. Ajaran sepiritual ini dipengaruhi oleh budaya India. Kompleks ini terdapat candi utama dan enam candi kecil lainnnya. Semua candi dibuat dari batu bata yang disusun rapi. Bentuk candi utama kotak persegi panjang. Pada bagian depan, terdapat susun tangga yang menghubung ke lantai paling atas.
Candi utama ini terdiri atas tiga bagian. Bagian bawah berupa tumpukan batu dengan hiasan panel berjenjang. Pada bagian atasnya terdapat bangunan serupa, tapi ukurannya lebih kecil. Sementara bagian atas sendiri berupa altar kecil, tempat sembahyang. Pada sekitar candi terdapat puluhan gundukan batu-bata yang diperkirakan bangunan itu adalah candi. Ada banyak penemuan benda sejarah dari kompleks candi ini seperti perhiasan emas, koin dari Cina, arca perunggu dwarapala, gong perunggu, lumpang, dan pecahan gerabah, serta masih banyak lagi.

Kalau kita melihat sekilas dari poto yang ada di belakang saya memang candi Muaro Jambi seperti batu bata yang sering kita jumpai di sekitar kita.. yang hebatnya lagi ud beribu-ribu tahun tidak lapuk di makan alam..
masih banyak lagu candi-candi yang ada di muaro jambi ini,, di antaranya candi tinggi, candi gembar batu ...

terima kasih atas waktu saudara melihat blog saya..  salam anak semendo dara laut ( Muara Enim Palembang )

Kamis, 19 Desember 2013

SALAM PUBLIC RELATION ANGKATAN III IAIN STS JAMBI

0 komentar
SAAAT KITA BERSAMA.
tidak ada kata yang tepat selain satu kata kalimat " semoga kita semua sukses dalam mempelajari ilmu komunikasi. ingat kawan kebersamaan kita semoga tetap terjaga seperti dalam poto ini. cita-cita kita tentunya ingin baik. begitupun harapan saya selalu seperti poto di bawah ini kawan ...
kenangan terindah  saat kita bersama

KITA SEMUA INDAH PADA SAAT BERSAMA.. SEDIH SAAT BERPISAH. JADIKAN POTO INI OBAT HATI JIKA KITA INGIN MELIHAT KEBERSAMAAN NANTINYA

Rabu, 04 Desember 2013

http://unyil1284.blogspot.com/2011/06/berbicara-sebagai-suatu-cara.html

0 komentar
http://unyil1284.blogspot.com/2011/06/berbicara-sebagai-suatu-cara.html

Kamis, 28 November 2013

TEFL

0 komentar


1)      Acquisition Vs Learning
v  Acquisition is the process by which humans acquire the capacity to perceive and comprehend language, as well as to produce and use words and sentences to communicate.
For example, all of this is bound up with the age child and what happens to us as our brains develop and grow. Language acquisition is guaranteed for children up to the age of six, is steadily compromised from then until shortly after puberty, and is rare thereafter’ (Pinker 1994:293).
However, at around the time of puberty, children start to develop an ability for abstraction which makes them better learners, but may also make them less able to respond to language on a purely instinctive level.

v  Learning is the human activity which least needs manipulation by others. Most learning is not the result of instruction. It is rather the result of unhampered participation in a meaningful setting.
For example, they had asked students to study grammar; they had explained vocabulary and taught paragraph organization. But it didn’t seem to be working and it did not feel right. How would it be, they wondered, if they abandoned all that and instead devoted their efforts to exposing students to English and getting them to use it, particularly given that they were highly motivated to learn.
Finally, the suggestion that acquisition and learning are such separate processes that learnt language cannot be part of the acquired store is not verifiable unless we are able to get inside the learner’s brains.
2)      Innatism, Behaviorism, and Interactionism.
v  Innatism is believes that human beings were born with language acquisition devices in their brain which contains language universals. The language development is a biological function development.
Noam Chomsky is the main person for this theory. He suggested that there is no need to teach children language since all children were born with an innate ability to discover themselves. His idea also links to critical period hypothesis which it stated that one would have a very hard time to learn or master one language after they passed a certain period of time, usually before the puberty.
 Innatism view language as a create process, and they treat environment as nourishment to support the use of the language.

v  Behaviorism is sometimes derided and its contribution to language teaching practice heavily criticized. Behaviorist believes that environment plays a very important role in acquiring language, especially during children early language development.S.F. Skinner was the person who best known of this theory. He emphasized the importance of imitation and repetition in learning process.
Children got “positive reinforcement” during the learning process, thus encouraged them to repeat the same words or phrases, practice and more practice, gradually they would produce the words or phrases by forming “habits”, so that children could acquire language.
However, the behaviorism cannot fully explain how children acquire language because children are not only imitating same words or phrases from adults; they also creating the new words and forming the new sentences.

v  Interactionism is believes children learned language mainly through through interacting with people, included adults and their peers. This theory was represented by Swiss psychologists Jean Piaget and Lev Vygotsky.
 Piaget believes that children acquire language through their physical interactions with the environment. He also stated that language is a symbol system. Vygotsky concluded that children were able to have a high achievement if they would have the social interact with the others. This is his famous “zone of proximal development”.

3)      Input, Hypothesis – Comprehensible input
v  The input hypothesis, also known as the monitor model, is a group of five hypotheses of second-language acquisition developed by the linguist Stephen Krashen in the 1970s and 1980s. Krashen originally formulated the input hypothesis as just one of the five hypotheses, but over time the term has come to refer to the five hypotheses as a group. The hypotheses are the input hypothesis, the acquisition–learning hypothesis, the monitor hypothesis, the natural order hypothesis and the affective filter hypothesis. The input hypothesis was first published in 1977.
The hypotheses puts primary importance on the comprehensible input (CI) that language learners are exposed to. Understanding spoken and written language input is seen as the only mechanism that results in the increase of underlying linguistic competence, and language output is not seen as having any effect on learners' ability.
Furthermore, Krashen claimed that linguistic competence is only advanced when language is subconsciously acquired, and that conscious learning cannot be used as a source of spontaneous language production.
 Finally, learning is seen to be heavily dependent on the mood of the learner, with learning being impaired if the learner is under stress or does not want to learn the language. Krashen's hypotheses have been influential in language education, particularly in the United States, but have been criticised by academics. Two of the main criticisms are that the hypotheses are untestable, and that they assume a degree of separation between acquisition and learning that does not in fact exist. 
v  Comprehensible Input
A hypothesis that learners will acquire language best when they are given the appropriate input.  The input should be easy enough that they can understand it, but just beyond their level of competence. If the learner is at level i, then input should come at level i+1.
 Comprehensible input is an essential component in Stephen Krashen's Input Hypothesis, where regulated input will lead to acquistion so long as the input is challenging, yet easy enough to understand without conscious effort at learning.
One problem with this hypothesis is that i and i+1 are impossible to identify, though arguably teachers can develop an intuition for appropriate input. That is, teachers develop an intution of how to speak to be understood.
4)      Source Language – Target Language
v  Source Language ;
Source Language as the name suggests is the language in which you will receive the document to translate into another language. A tip, source language should be the language which you have learnt and not necessarily your native language.
 This is the language which your client understands very well, so your expertize in this language can even be upto a moderate level. If you can comprehend this language very well, but cannot think much in this language, then its fine.
v  Target Language ; The idea that students should be involved in ‘solving communication problems in the target language-that is, performing communicative tasks in which they have to (mostly) speak their way out of trouble-has given rise to Task-based language teaching. Task-based learning has at its core the idea that students learn better when engaged in meaning-based tasks than if they are concentrating on language forms just for their own sake. But that learning should grow out of the performance of communicative tasks rather than putting the learning first and following it by having students perform communicative tasks.
For example, or it might happen because the teacher gives feedback on a task the students have just been involved in. focus on form is often incidental and opportunistic, growing out of tasks which students are involved in, rather than being pre-determined by a book or a syllabus.
5)      ZPD (Zone of Proximente Development)
Zone of Proximal Development
The zone of proximal development (sometimes abbreviated ZPD), is the difference between what a learner can do without help and what he or she can do with help.
It is a concept developed by Soviet psychologist and social constructivist Lev Vygotsky (1896 - 1934). Vygotsky stated that a child follows an adult's example and gradually develops the ability to do certain tasks without help or assistance. Vygotsky's often-quoted definition of zone of proximal development presents it as "the distance between the actual developmental level as determined by independent problem solving and the level of potential development as determined through problem solving under adult guidance, or in collaboration with more capable peers."
Vygotsky among other educational professionals believes the role of education to be to provide children with experiences which are in their ZPD, thereby encouraging and advancing their individual learning. The concept of ZPD has been expanded, modified, and changed into new concepts since Vygotsky's original conception.
The concept of scaffolding is closely related to the ZPD, although Vygotsky himself never mentioned the term; instead, scaffolding was developed by other sociocultural theorists applying Vygotsky's ZPD to educational contexts. Scaffolding is a process through which a teacher or more competent peer gives aid to the student in her/his ZPD as necessary, and tapers off this aid as it becomes unnecessary, much as a scaffold is removed from a building during construction.
 According to education expert Nancy Balaban, "Scaffolding refers to the way the adult guides the child's learning via focused questions and positive interactions." This concept has been further developed by Ann Brown, among others. Several instructional programs were developed on the basis of the notion of ZPD interpreted this way, including reciprocal teaching and dynamic assessment.







 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com