Minggu, 09 Desember 2012

Sistem komunikasi kelompok

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam hidup bermasyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain, niscaya akan terisolasi dari masyarakatnya. Banayak pakar menilai bahwa komunikasi adalah sebuah kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat.
Apa yang mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya ? teori dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan, yakni kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyasuaikan diri dengan lingkungannya.
Pentingnya komunikasi dalam kehidupan social telah menjadi perhatian para cendikiawan sezak zaman Aristoteles walaupun hanya berkisar pada retorika dalam lingkungan kecil. Baru pertengahan abad ke-20, ketika dunia di rasakan semakin kecil akibat revolusi industri dan revolusi teknologi Eloktronik, para cendikiawan menyadari pentingnya meningkatkan komunikasi dari pengetahuan menjadi ilmu. Kini ilmu komunikasi semakin mendapat perhatian dari masyarakat karena relavansinya dalam berbagai bidang kehidupan semakin jelas. Selanjutnya di dalam makalah ini akan menjelaskan tentang komunikasi kelompok.









BAB II
PEMBAHASAN
A.       KOMUNIKASI KELOMPOK
Sebagaimana halnya seputar bidang komunikasi, tatanan komunikasi, metode komunikasi, teknik komunikasi, dan lain sebagainya. Para pakar komunikasi tidak mempunyai pendapat yang sama, demikian pula mengenai komunikasi kelompok yang kita bahas sekarang ini.
Perbedaan pendapat seperti itu tidak mengherankan, oleh karena disiplin ilmu yang melatarbelakanginya yang berbeda, pengalamannya yang berbeda, yang mengakibatkan visinya pun menjadi berbeda. Para pakar tertentu tidak membedakan komunikasi kelompok dengan dinamika kelompok (group dynamics), membedakan komunikasi kelompok dari diskusi kelompok (group discussion), mempertentangkan komunikasi kelompok dengan komunikasi organisasional, dan sebagainya. Situasi seperti itu, di sebabkan pula seorang pakar membahasnya dengan pendekatan psikologi, pakar lainnya dengan pendekatan komunikasi adalah logis apabila dalam pengkajiannya terdapat persamaan, karena antara psikologi, sosiologi, dan komunikologi ada kesamaan dalam objek materialnya (obiectum materiale), yakni manusia. Tidak dapat di sangka pula jika terdapat perbedaan, karena psikologi, sosiologi, komunikologi[1] beda dalam objek formalnya (obiectum formale).
Oleh karena buku ini mengenai buku ilmu komunikasi, maka pembahasan tentang komunikasi kelompok sekarang ini adalah dengan pendekatan komunikologi (ilmu komunikasi).
Berbeda dengan psikologi, sosiologi, antropologi, dan ilmu social (social science) lainnya, ilmu komunikasi adalah ilmu memproses pernyataan antar manusia. Berbeda dengan fenomena social lainnya, komunikasi merupakan suatu proses, suatu kegiatan manusia yang berlangsung terus menerus secara sinambung, dimana paling sedikit harus meliputi tiga komponen (menurut Schramm), yakni mesti ada komunikator, mesti ada pesan, dan mesti ada komunikan ; bahkan mereka pernah di singgung di muka, menurut Lasswel proses komunikasi meliputi pula media dan efek. Jadi, apabila suatu fenomena social bukan merupakan proses, tidak jelas seseorang merupakan komunikator dan menyampaikan pesan  yang di sampaikan kepadany, maka fenomena itu bukan komunikasi.
Tidak mengherankan kalau suatu istilah beda maknanya, begitu pula komunikasi dan di siplin ilmu social lainnya. Seperti telah di terangkan di muka istilah diadik dan triadic dalam ilmu komunikasi adalah komunikasi antarpribadi, bukan komunikasi kelompok, sedangkan dalam social diad (dyad) dan triad adalah tiga orang yang secara berkelompok bertempat di suatu tempat, sedangkan bagi ilmu komunikasi, komunikasi diadik adalah komunikasi antara seseorang antara komunikator dengan seorang komunikan, dan komunikasi triadik adalah komunikasi antar seseorang komunikator dengan dua orang komunikan.[2]
Tegasnya seseorang yang hendak meneropong suatu fenomena social dengan pendekatan ilmu komunikasi, maka ia harus berperan sebagai orang komunikasi yang melihatnya dengan mata indera dengan mata hati komunikasi, serta mendengarkan dengan telinga indera dan telinga hati komunikasi. Apakah fenomena itu suatu peruses, apakah ada komunikatornya, pesannya, dan komunikannya ?
Meskipun demikian, oleh karena sifat ilmu social itu interdisipliner atau multidisipliner, atau trandisipliner, maka ketika kita menalaah fenomena dengan pendekatan ilmu komunikasi, kita tetap harus memperhitungkan disiplin ilmu social lainnya yang berpengaruh, seperti telah di singgung di muka diantara di siplin ilmu social, yang paling berpengaruh terhadap proses komunikasi adalah psikologi, sosiologi, dan antropologi.
Oleh karena itu, maka jika kita menelaah kominikasi kelompok kita perlu memahami pengertian kelompok menurut disiplin ilmu lain. Dengan demikian kita akan dapat menganalisanya secara intens.
1.      Pengertian Kelompok
Dalam Ilmu Sosiologi, kelompok pada umumnya didefinisikan sebagai dua atau lebih orang yang memiliki suatu identitas bersama dan yang berinteraksi secara regular. Apapun bentuknya, kelompok social terdiri dari orang-orang yang memiliki kesadaran keanggotaan yang sama yang didasarkan pada pengalaman, loyalitas, dan kepentingan yang sama. Singkatnya mereka sadar tentang individualis mereka, sebagai anggota kelompok social yang secara sfisifik disadari sebagai “kita”.[3]
Namun apakah keberadaan orang-orang yang bersatu dan berkumpul dapat disebut kelompok? Diperlukan persyaratan-persyaratan apakah suatu kumpulan individu-individu di sebut sebagai kelompok, diantaranya adalah :
·         Ada kesadaran dari anggota bahwa ia merupakan dari bagian kelompok ia bersama;
·         Ada hubungan timbal balik antara individu-individu yang menjadi kelompok dari bagian itu;
·         Ada factor yang dimiliki secara bersama oleh individu-individu anggota kelompok itu, yang menjadi pengikat antara mereka. Faktor ini merupakan perasaan yang ditimbulkan oleh nilai-nilai, ideologi, norma, tujuan, maupun orang yang di anggap mampu menyatukan;
·         Berstruktur, berkaidah, dan memiliki pola prilaku.
Beberapa definisi kelompok yang di buat oleh para sosiolog, antara lain :
§  Suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang di antara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan ( Joseph S.Roucek ).
§  Kelompok social adalah satu grup, yaitu sejumlah orang yang ada antara hubugan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur (Mayor Polak) dan
§  Kelokpom merupakan satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi (Wila Hukt).
Dari beberapa definisi diatas, dapat di simpulkan bahwa kelompok menurut tinjauan Sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan terjadi hubungan timbale balik yang ia merasa bagian dari kelompok tersebut.
Kita bia mencari tahu alasan manusia menyukai hidup berkelompok. Alasan yang paling mendasar adalah dorongan alamiah yang menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk hidup dan sebagai bagian dari alam, harus memenuhi kebutuhan-kebutuhnnya, seperti makan, minum, seks, tempat tinggal, selain juga kebutuhan eksistensial yang butuh di akui oleh orang lain. Selain itu, juga adanya hukum alam yang melingkupi kehidupan makhluk hidup (manusia), yaitu adanya kontradiksi yang harus dihadapi dan di insting kerja sama lahir dari situasi itu. Kenyataan-kenyataan penting  yang dapat kita lihat dalam sejarah masyarakat adalah :
-          Kebutuhan yang memenuhi kebutuhan hidup telah menyatukan manusia untuk bekerja sama mencari makanan secara berkelompok. Hal ini terjadi sejak manusia ada (zaman kuno) hingga zaman sekarang. Ketika mereka berburu, mereka butuh kerj sama dan pembagian tugas. Kemudian, hasilnya dipakai bersama-sama.
-          Kerj sama dan dibutuhkannya ikatan kelompok juga di sebabkannya adanya ancaman dari luar manusia (kontradiksi) yang di hadapi. Saat mencari makanan masuk kehutan, mereka akan menghadapi kontradiksi alam (seperti medan yang sulit, gangguan alam, seperti angin topan, tanah longsor, binatang buas, dan lain-lain). Saat mereka berburu binatang sebagai makanan, juga belum tentu binatang itu mampu di hadapi oleh seorang diri. Masalah-masalah alamiah seperti semacam itulah yang membuat manusia berkelompok, untuk memudahkan dalam menghadapi lontradiksi dan dialektika alam.
-          Kebutuhan yang didukung oleh kebutuhan seksual, naluri, yang inheren, dan menjadi bagian dari kehidupan, dilakukan dengan menjalin ikatan dengan lawan jenis, untuk mendapatkan kenikmatan dan meninggalkan penjara nafsu, serta untuk mencari keturunan. Dari situ muncul keluarga sebagai unit kelompok manusia. Keluarga ini akan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara anak menuju kedewasannya.
-          Kemudian juga ada nilai-nilai yang lahir dari interaksi antara orang-orang menjalin kelompok. Karena sering bersama, masing-masing indifidu awalnya saling mempertukarkan nilai-nilai yang menyakkut pemahaman kontradiksi alam maupun pandangan etis tehadap kehidupan. Proses pertukaran makna ini akan menghasilkan di terimanya nilai yang di anggap paling mampu menjelaskan kebutuhan bersama. Nilai ini juga akan mengikat dan mengatur bagaimana mereka menjalankan ikatan.
-          Ada pula kekuatan pengikat selain nilai, yaitu otoritas yang lahir dari nilai dan kesepakatan bersama. Otoritas ini di wakilkan oleh seorang tokoh yang dianggap paham dan bisa dijadikan sumber dan nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Sejak zaman kuno, manusia yang dianggap paling menonjol dan mampu memberikan penjelasan kognitif dan psikologis bagi para anggotanya, selalu akan dianggap sebagai tokoh, biasanya kepala suku.

2.      Pengertian Komunikasi Kelompok
Umumnya, disepakati bahwa jika jumlah pelaku komunikasi lebih dari tiga orang, cenderung dianggap komunikasi kelompok atau lazim disebut komunikasi kelompok saja. Sedangkan, komunikasi kelompok besar biasa di sebut sebagai komunikasi public atau komunikasi massa. Jumlah manusia pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok, besar atau kecilnya, tidak di tentukan secara matematis, tetapi bergantung pada ikatan  emosioanal pada anggotanya.
Dalam komunikasi kelompok, komunikator relatif mengenal komunikan, dan demikian juga antar kominikan. Bentuk kmunikasi kelompok kecil, misalnya pertemuan, rapat, dan lain-lain. Komunikasi kelompok kecil pasti melibatkan komunikasi antar pribadi sehingga teori komunikasi antar pribadi juga berlaku disini. Umpan balik yang dapat diterima dengan segera menentukan penyampaian pesan berikutnya. Namun, pesan relatif lebih terstruktur daripada komunikasi antarpribadi, bersifat formal maupun informal. Komunikasi kelompok sering kita temui dalam keluarga, tetangga, teman dan kerabat, atau kelompok diskusi. Komunikasi kelompok dapat terjadi didalam kelompok dan juga antar-kelompok.
Sekelompok orang yang menjadi komunikan itu bisa sedikit, bisa banyak. Apabila jumlah orang yang dalam kelompok itu sedikit yang berarti kelompok itu kacil, komunikasi yang berlangsung disebut komunikasi kelompok kecil ( smaal group communicaton) : jika jumlahnya banyak yang berarti kelompoknya besar dinamakan komunikasi kelompok besar (large group communication).
Sehubungan dengan itu sering timbul pertanyaan, yang termasuk komunikasi[4] kecil itu jumlah komunikannya berapa orang, demikian komunikasi kelompok besar. Apakah 100 prang atau 200 orang termasuk kelompok kecil atau kelompok besar ? secara teoritis dalam komunikasi untuk membedakan komunikasi kelompok kecil dari komunikasi kelompok besar tidak didasarkan pada jumlah komunikan dan hitungan secara matematik, melainkan pada kualitas proses komunikasi.
Pengertian kelompok disitu tidak berdasarkan pengertian psikologi melainkan pengertian komunikologis, misalnya sejumlah kecil orang-orang yang sedang mendengarkan pidato tukang obat di pasar, secara psikologis bukan merupaakn kelompok, melainkan kerumunan orang yang berkumpul bersama-sama untuk sesaat. Bagi ilmu komunikasi kelompok, sejumlah orang yang menjadi komunikan.
Apakah itu komunikasi kelompok kecil atau komunikasi kelompok besar bergantung pada kualitas proses komunikasi.
Karekteristik yang membedakan komunikasi kelompok kecil dan kelompok besar dapat dikaji dalam paparan berikut ini :
a.      Komunikasi Kelompok Kecil
Komunikasi kelompok kecil[5] ( small/ micro group communication) adalah komunikasi yang :
-          Ditujukan kepada kognisi komunikan
-          Prosesnya berlangsung secara dialogis
Dalam komunikasi kelompok kecil komunikator menunjukkan pesan kepada benak atau pikiran komunikan, misalnya : kuliah, ceramah, diskusi, seminar, rapat, dan lain-lain. Dalam situasi komuikasi seperti itu berperan penting. Komunikan akan dapat menilai. Logis tidaknya untuk komunikator.
Ciri yang kedua dari komunikasi kelompok kecil ialah bahwa prosesnya berlangsung secara dialogis, tidak linear, melainkan sirkular. Komunikan dapat menanggapi uraian komunikator, biasa bertanya jika tidak mengerti, dapat menyanggah bila tidak setuju, dan lain sebaginya.
Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak jenis kominikasi kelompok kecil antara lain : seperti telah di singgung di atas, seperti rapat (rapat kerja, rapat pimpinan, rapat mingguan), kuliah, ceramah, brifing penataran, loka-karya, diskusi, panel, forum, simposium, seminar, konferensi kongres, curahsaran (brainstorming), dan lain-lain.
b.      Komunikasi Kelompok Besar
Sebagai kebalikan dari komunikasi kelompok kecil, komunikasi kelompok besar (large/ macro group communication) adalah komunikasi yang :
-          Ditujukan kepada efeksi komunikan
-          Prosesnya berlangsung secara linear
Pesan yang disampaikan oleh komunikator dalam situasi komunikasi kelompok besar, ditujukan kepada efeksi komunikan, kepada hatinya atau kepada perasaannya, contoh untuk komunikasi kelompok besar adalah misalnya rapat raksasa di sebuah lapangan. Jika komunikan pada komunikasi kelompok kecil umumnya bersifat homogeny (antara lain sekelompok orang yang sama jenis kelaminnya, sama pendidikannya, sama status sosialnya), maka komunikan pada komunikasi kelompok besar umumnya bersifat heterogen : mereka terdiri dari individu-individu yang beraneka ragam dalam jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, agama, dan lain sebagainya.
Mereka yang heterogen dalam jumlah yang relatif sangat banyak dan berada disuatu tempat seperti disebuah lapangan seperti itu, dalam psikologi disebut massa yang dipelajari oleh psokilogi massa. Dalam situasi seperti itu, khalayak yang diterpa suatu pesan komunikasi masa menanggapinya lebih banyak dengan perasaan ketimbang pikiran. Mereka tidak sempat bepikir logis tidaknya pesan komunikator yang disampaikan kepadanya. Oleh karena pikiran didominasi oleh perasaan, maka dalam situasi kelompok besar terjadi apa yang dinamakan “cointagoin mentale” yang berarti wabah mental. Seperti halnya dengan wabah yang cepat menjalar, maka dalam situasi komunkasi seperti itu jika satu orang menyatakan sesuatu akan segera diikuti oleh anggota kelompok lainnya secara serentak dengan serempak. Misalnya orang yang berteriak : “ hidup bapak pembangunan “, diikuti oleh seluruh khalayak secara serentak : “ Hiduuuuuuuup “. [6]
Komunikator yang muncul dalam situasi kelompok besar yang menghadapi massa rakyat dinamakan orator atau retor, yang mahir memukau khalayak. Ia menyampaikan pesannya dengan suara keras dan lantang, nadanya bergelombang, tidak monoton, dan kata-katanya bombass. Khlayak tidak di ajak berpikir logis, melainkan perasaan gairah seperti halnya dengan pidato Hilter di Studium Neurenberg semacam perang Dunia II, dalam situasi komunikasi seperti itu terjadi apa yang di sebut atau penjalaran semangat yang bernyala-nyala, sejenis histeris atau hiptonis secara kolektif mempengaruhi pikiran dan tindakan.
Proses komunikasi kelompok besar bersifat linear, satu arah dari yang satu ke titik lain, dari komunikator ke komunikan. Tidak seperti komunikasi kelompok kecil yang seperti telah di terangkan tadi secara langsung secara sirkular, dialogis, bertanya jawab. Dalam pidato di lapangan amat kecil kemungkinannya terjadi dialog antara seorang orator dengan salah seorang khalayak massa.
Demikian paparan mengenai komunikasi yang terdiri dari komunikasi kelompok kecil/makro. Cirri-ciri dari klasifikasi kelompok diatas bersifat ekstrim, artinya diantara kedua akstrimitas itu terdapat modifikasi-modifikasi. Sebagai contoh komunikasi kelompok dalam bentuk sidang DPR. Dilihat dari jumlah komunikan yang relatif banyak jumlahnya dapat di masukkan kedalam jenis komunikasi kelompok besar, tetapi jelas mereka homogen. Oleh karena mereka homogen, maka contagion mentalnya tidak sampai berteriak seperti khalayak heterogen dilapanga, tetapi hanya sampai tepuk tangan.
Demikian pula denagn rapat mahasiswa, misalnya, meskipun termasuk komunikasi kelompok kecil yang bersifat rasional, ditujukan kepada kognisi, bisa juga terjadi dialog yang emosional. Dalam suatu komunikasi seperti itulah berperannya wibawa seorang komunikator dan pentingnya kemampuan berkomunikasi.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak mengherankan kalau suatu istilah beda maknanya, begitu pula komunikasi dan di siplin ilmu social lainnya. Seperti telah di terangkan istilah diadik dan triadic dalam ilmu komunikasi adalah komunikasi antarpribadi, bukan komunikasi kelompok, sedangkan dalam social diad (dyad) dan triad adalah tiga orang yang secara berkelompok bertempat di suatu tempat, sedangkan bagi ilmu komunikasi, komunikasi diadik adalah komunikasi antara seseorang antara komunikator dengan seorang komunikan, dan komunikasi triadik adalah komunikasi antar seseorang komunikator dengan dua orang komunikan.
-          Pengetian Kelompok
kelompok pada umumnya didefinisikan sebagai dua atau lebih orang yang memiliki suatu identitas bersama dan yang berinteraksi secara regular. Apapun bentuknya, kelompok social terdiri dari orang-orang yang memiliki kesadaran keanggotaan yang sama yang didasarkan pada pengalaman, loyalitas, dan kepentingan yang sama. Singkatnya mereka sadar tentang individualis mereka, sebagai anggota kelompok social yang secara sfisifik disadari sebagai “kita”.
-          Pengetian Komunikasi Kelompok
Umumnya, disepakati bahwa jika jumlah pelaku komunikasi lebih dari tiga orang, cenderung dianggap komunikasi kelompok atau lazim disebut komunikasi kelompok saja. Sedangkan, komunikasi kelompok besar biasa di sebut sebagai komunikasi public atau komunikasi massa. Jumlah manusia pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok, besar atau kecilnya, tidak di tentukan secara matematis, tetapi bergantung pada ikatan  emosioanal pada anggotanya.





[1] Onong uchjana, effendi. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi.Halm 70
[2] Onong uchjana, effendi. Halm 71
[3] Nurani, Soyomukti. Pengantar Ilmu Komunikasi. 2010. Yogyakarta : Ar-Ruzz madia. Hal. 173

[4] Onong, Uchjana Effendy. Ilmu Komunukasi Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya : Bandung. 1984. Halm 1
[5] Arni, Muhammad. Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta. Halm 181
[6] Onong, Uchjana Efendy. 78



By : Arjamudin /Public Relation

Sabtu, 08 Desember 2012

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI

4 komentar

MAKALAH ILMU KOMUNIKASI
HAMBATAN-HAMBATAN KOMUNIKASI


Dosen Pembimbing : Agus Salim,S.Ag,M.Pd.I









DISUSUN OLEH :
NAMA           : ARJAMUDIN
NIM                : UR .110973


JURUSAN PUBLIC RELATION FAKULTAS USHULUDDIN
IAIN SULTJHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting. Bukan hanya dalam kehidupan organisasi, namun dalam kehidupan manusia secara umum. Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan kita. Kita semua berinteraksi dengan sesama dengan cara melakukan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai yang kompleks, dan teknologi kini telah merubah cara manusia berkomunikasi secara drastis.
Komunikasi tidak terbatas pada kata-kata yang terucap belaka, melainkan bentuk dari apa saja interaksi, senyuman, anggukan kepala yang membenarkan hati, sikap badan, ungkapan minat, sikap dan perasaan yang sama. Diterimanya pengertian yang sama adalah merupakan kunci dalam komunikasi. Tanpa penerimaan sesuatu dengan pengertian yang sama, maka yang terjadi adalah “dialog  antara orang satu”.
Komunikasi juga dikatakan sebagai inti dari kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif dapat dicapai melalui proses komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin kepada anggotanya. Visi pemimpin bisa saja bagus, namun tanpa komunikasi yang efektif, maka visi tersebut tidak akan pernah bisa terwujud. Dalam mengkomunikasikan visi, maka pemimpin harus bisa menyampaikan suatu gambaran di masa depan yang mendorong antusiasme serta komitmen orang lain.

B.     Pokok Permasalahan
Untuk memudahkan proses penjabaran dan penjelasan, makalah ini memiliki beberapa rumusan masalah, yaitu :

1.      Apa saja hambatan-hambatan dalam komunikasi, dan
2.      Pembagian hambatan komunikasi itu sendiri
3.      Apa saja yang menjadi hambatan komunikasi?
4.      Apa saja jenis-jenis komunikasi?
5.      Mengapa komunikasi menjadi inti kepemimpinan?

1.3  Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengertian dari komunikasi dalam organisasi, proses komunikasi, apa saja hambatan komunikasi,  bagaimana mengatasi hambatan komunikasi, apa saja jenis-jenis komunikasi, dan mengapa komunikasi menjadi inti kepemimpinan. Di samping itu, makalah ini ditulis sebagai tugas kelompok pada mata kuliah Kepemimpinan  yang diberikan oleh dosen pembimbing.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN KOMUNIKASI
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berartisamaataumenjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berartikita berusaha agarapa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi adalah:
1.      Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama olehpihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi(Astrid).
2.      Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3.      Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).

Setiap kegiatan komunikasi, apakah komunikasi antarpersona, komunikasi kelompok, komunikasi medio dan komunikasi massa sudah dapat dipastikan akan menghadapi berbagai hambatan. Hambatan dalam kegiatan komunikasi yang manapun tentu akan memengaruhi efektivitas proses komunikasi tersebut. Pada komunikasi massa, jenis hambatannya relative lebih kompleks sejalan dengan kompleksitas komponem komunikasi massa.
Setiap komunikasi selalu menginginkan komunikasi yang dilakukannya dapat mencapai tujuan. Oleh karenanya seorang komunikator perlu memahami setiap jenis hambatan komunikasi, agar ia dapat mengantisipasi hambatan  tersebut.
B.       HAMBATAN PSIKOLOGIS
Hambatan komunikasi massa yang termasuk dalam hambatan psikologis adalah kepentingan (interest), prasangka (prejudice), stereotip (stereotype), dan motivasi (motivation). Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia.

a.         Kepentingan  (Interest)
Kepentingan atau interest akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati pesan. Orang hanya memperhatikan perangsang (stimulus) yang ada hubungannya dengan kepentingannya. Effendy (komala dalam karlinah, dkk. 1999) mengemukakan secara gamblang bahwa apabila kita tersesat dalam hutan dan beberapa hari tak menemui makanan sedikitpun, maka kita akan lebih memperhatikan perangsang-perangsang yang mugkin dapat dimakan dari pada yang lain-lainnya.
Andaikata dalam situasi demikian kita dihadapkan pada pilihan antara makanan dan sekantong berlian, maka pastilah kita akan memillih makanan. Berlian baru akan diperhatikan kemudian. Lebih jauh Effendy mengemukakan, kepentingan bukan hanya memengaruhi perhatian kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku kita.
b.             Pransangka (prejudice)
Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka (komala, dala Karlinah, dkk. 1999). Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai prasangka, maka sebaiknya kita bahas terlebih dahulu secara singkat pengertian persepsi.
Presepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat, pada komala, dalam karlinah. 1999) persepsi itu ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. David Krech dan Richard S. Crutchfield (komala, dalam Karlinah. 1999) menyebutkan sebagai faktor fungsional dan faktor struktural.
Faktor personal atau fungsional itu antara lain adalah kebutuhan (need), pengalaman masa lalu, peran dan status. Jadi yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimulus, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimulus itu.
Faktor situasional atau struktur yang menentukan persepsi berasal semata-semata dari sifat stimulus secara fisik. Menurut Kohler, jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandanganya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus melihat dalam konteks, dalam linkungan dan dalam masalah yang dihadapinya.
Pembahasan tentang persepsi sekalipun singkat telah memberikan gambaran yang jelas, bahwa persepsi memang dapat menentukan sikap orang terhadap stimulus (benda, manusia, peristiwa) yang dihadapinya.
Pada umumnya prasangka dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lainnya karena perbedaan suku ras dan agama. Seperti prasangka orang kulit putih terhadap orang Negro di Amerika Serikat, Nazi terhadap orang Yahudi di Eropa. Prasangka merupakan jenis sikap yang secara sosial sangat merusak.
Berkenaan dengan kegiatan komunikasi, prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan bagi tercapainya suatu tujuan.komunikasi yang mempunyai prasangka, sebelum pesan disampaikan sudah bersikap curiga dan menentang komunikator. Prasangka seringkali tidak didasarkan pada alasan-alasan yang objektif,sehingga prasangka komunikan pada komunikator tidak ditujukan pada logis dan tidaknya suatu pesan atau manfaat pesan itu bagi dirinya, melainkan menentang pribadi komunikator. Menurut Effendy (Komala, dalam Karlinah. 1999), dalam prasangka,emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar prasangka tanpa menggunakan pikiran yang rasional.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi yang berupa prasangka yang ada pada komunikasi, maka komunikator yang akan menyampaikan pesan melalui media massa sebaiknya komunikator yang netral, dalam arti ia bukan orang yang kontroversial.

c.         Stereotip (Stereotype)
Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif (Gerungan,pada komala, dalam Karlinah, dkk. 1999). Stereotip mengenai orang lain atau itu sudah terbentuk pada orang yang berprasangka, meski sesungguhnya orang yang berprasangka itu belum bergaul dengan orang yang diprasangkainya.

d.        Motivasi (Motivation)
Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupisemua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu.
 Gerungan menjelaskan,dalam mempelajari tingkah laku manusia pada umumnya, kita harus mengetahui apa yang dilakukannya, bagaimana ia melakukannya dan mengapa ia melakukan itu, dengan kata lain kita sebaik-baiknya mengetahui know what, know how, dan know why.dalam masalah ini, persoalan know why adalah berkenaan dengan pemahaman motif-motif manusia dalam perbuatanya, karena motif memberi tujuan dan arah pada tingkah laku manusia.
            Seperti kita ketahui, keinginan dan kebutuhan masing-masing individu berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ketempat, sehingga motif juga berbeda-beda. Motif seseorang bisa bersifat tunggal, bisa juga bergabung. Misalnya, motif seseorang menonoton acara “seputar indonesia” yang disiarkan RCTI adalah untuk memperoleh informasi
(motif tunggal), tapi bagi seseorang lainya adalah untuk memperoleh informasi, sekaligus juga pengisi waktu luang (motif bergabung).
            Contoh lain, seseorang menonton acara “Dialog Terbuka” yang disiarkan oleh ANTV mengenai topik hukum memiliki motif tunggal karena sesuai dengan profesinya, penonton lainya memiliki motif bergabung, yakni menambah wawasan dan pengisi waktu luang. Atau mungkin ada juga penonton lainnya yang menonton acara tersebut hanya karena tidak bisa tidur. Hal ini berlaku pula pada orang-orang yang membaca media cetak, surat kabar atau majalah. Bagi seseorang yang khusus menyediakan waktu untuk membaca surat kabar akan memiliki motif yang berbeda dengan seorang lainnya yang membaca surat kabar atau majalah di ruang tunngu dokter.

C.           HAMBATAN SOSIOKULTURAL
a.           Aneka Etnik
Belasan ribu pulau yang membenteng dari sabang sampai merauke merupakan kekayaan alam Indonesia yang tidak ternilai harganya. Tiap-tiap pulau di huni oleh etnik yang berbeda. Pulau-pulau besar, seperti pulau jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua terbagi menjadi beberapa bagian, dimana tiap bagian memiliki budaya yang berbeda.
b.           Perbedaan Norma Sosial
Perbedaan budaya sekaligus juga menimbulkan perbadaan norma sosial yang berlaku pada masing-masing etnik. Norma sosial dapat didefinisikan sebagai suatu cara, kebiasaan, tat krama dan alat istiadat yang disampaikan secara turun temurun, yang dapat memberikan petunjuk bagi seseorang untuk bersikap dan bertingkah laku dalam masyarakat (disarikan dari Soekanto, 1982: 194).
Norma sosial mencerminkan sifat-sifat yang hidup pada suatu masyarakat dan dilaksanakan sebagai alat pengawas secara sadar dan tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
Mengingat beragam norma sosial yang berlaku di indonesia, maka tidak tertutup kemungkinan terhadap pertentangan nilai, dalam arti kebiasaan dan adat istiadat yang dianggap baik bagi suatu masyarakat, dianggap tidak baik bagi masyarakat lainnya dan sebaliknya.
c.            Kurang Mampu Berbahasa Indonesia
Keragaman etnik telah menyebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Dapat dikatakan, jumlah bahasa yang ada di indonesia adalah sebanyak etnik yang ada. Seperti kita ketahui bersama bahwa masyarakat Batak memiliki berbagai macam bahasa batak. Masyarakat di Papua, Kalimantan juga demikian keadaannya. Jadi sekalipun bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang selalu kita ucapkan pada saat memperingati sumpah pemuda, kita tidak dapat menutup mata akan kenyataan yang ada, yakni masih masih adanya masyarakat Indonesia, terutama di daerah terpencil yang belum bisa berbahasa Indonesia. Hal ini dapat menyulitkan penyebarluaskan kebijakan dan program-program pemerintah.
Kita ambil contoh, suatu saat pemerintah akan mengeluarkan kebijakan baru yang harus segera diketahui dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.cara yang paling tepat dan cepat untuk mengkomunikasikan pesan itu adalah melalui media massa ( radio siaran ,surat kabar, dan televisi). Sesuai dengan karaktristik media massa, dalam waktu bersamaan pesan akan diterima oleh sejumlah besar komunikan. Masalah akan timbul manakala komunikan tidak bisa berbahasa indonesia, atau kemampuan berbahasa indonesianya minim. Ini berarti pesan tidak sampai pada mereka. Dalam menanggulangi masalah ini, pemerintah akan menggunakan aparat setempat atau para petugas penyuluh, atau para opinion leader untuk mengkomunikasikan kebijakan dan program pemerintah dengan menggunakan bahasa daerah setempat.



d.           Faktor Semantik
Semantik adalah pengetahuan tentang pengertin atau makna kata yang sebenarnya. Jadi hambatan semantik adalah hambatan mengenai bahasa, baik bahasa yang digunakan oleh komunikator, maupun  bahasa yang digunakan oleh komunikan. Hambatan semantis dalam suatu proses komunikasi dapat terjadi dalam beberapa bentuk.
Pertama, komunikator salah mengucapkan kata-kata atau istilah sebagai akibat bebrbicara terlalu cepat. Pada saat ia berbicara, pikiran dan perasaan belum terformulasika, namun kata-kata terlanjur terucapkan. Maksudnya akan mengatakan “ demokrasi” jadi “demonstrasi”; partisipasi menjadi “ partisisapi”; ketuhanan”jadi “kehutanan”, dan masih banyak lagi kata-kata yang sering salah diucapkan karena tergesa-gesa.
Kedua, adanya perbedaan makna makna dan penegrtian untuk kata atau istilah yang sama sebagai akibat aspek psikologi. Misalnya kata “Gedang”akan berarti”pepaya” bagi orang sund, namun berarti “ pisang” menurut orang jawa. Sedangkan kata “pepaya” untuk orang jawa adalah “ kates”.
Ketiga, adalah adanya pengertian yang konotatf. Sebagaiman kita ketahui semantik pengetahuan mengenai pengertian kata-kata yang sebenarnya. Kata-kata yang sebenarnya itu disebut pengertain denotatif, yaitu kata-kata yang lazim diterima oleh orang-orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama (Efendy, pada komala, dalam karlina, dkk, 1999).

e.            Pendidikan Belum Merata
Penduduk indonesia pada saat ini sudah mencapai 200 juta jiwa dan tersebar diseluruh pulau dan Nusantar. Ditinaju dari sudut pendidikan, maka tingkat pendidikan rakyat indonesia belum merata. Di perkotaan, relatif banayak penduduk yang dapat menyelesaikan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi, tetapi di desa-desaterpencil, jangankan menyelesaikan perguruan tinggi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dasar pun relatif kecil. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, namun amat disadari oleh pemerintah, sehingga untuk menanggulanginya pemerintah telah mencanangkan program pendidikan sembilan tahun.

f.            Hambatan Mekanis
Hambatan komunikasi massa lainnya adalah hambatan teknis sebagai konsekuensi penggunaan media massa yang dapat disebut sebagai hamabatn mekanis. Hambatan mekanis pada media televisi terjadi pada saat stasiun atau pemancar penerima mendapat gangguan baik secara teknis maupun akibat cuaca buruk, sehingga gambar yang diteima pada pesawat televisi tidak jelas, buram, banayak garis atau tidak ada gambar sama sekali.

D.      HAMBATN INTERAKSI VERBAL
Devito, pada komala, dalam karlinah, dkk. 1999, mengemukakan tujuh jenis hamabatan yang sering terjadi pada komunikasi antara persona yang ia sebut sebagai baries to verbal interaction. Dari ketujuh jenis hamabtan interaksi verbal tersebut beberapa pula diantaranya dapat pula terjadi pada komunikasi mass, namun dengan sedikit perbedaan. Apabila pda komunikasi antarapesona ahmbatan-hambatan itu dapat terjadi pada pihak komunikator dan komunikan sekaligus secara bersama-sama atau masing-masing, maka pada komunikasi massa hambatan tersebut pada umumnya terjadi pada pihak komunika. Jenis-jenis hamabatan itu di antaranya adalah :
a.         Polarisasi
Polarisasi ( polarization ) kencenderungan untuk melihat dunia dalam bentuk lawan kata dan menguraikannya dalam bentuk ekstrem, seperti baik atau buruk, positif atau negatif, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, dan lainlain. Kita mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat titik-titik ekstrem dan mengelompokkan manusia, objek, dan kejadian dalam bentuk lawan kata yang ekstrem.
Diantara dua kutub atau dua sisi yang berlawanan itu, sebagaian besar manusia atau keadaan berada di tengah-tengah. Di antara yang sanagt miskin dan yang sangat kaya, kenyataannya lebih banyak yang sedang-sedang saja. Di antara yang sangat baik dan sangat buruk, lebih banyak yang cukup baik.
b.      Oreintasi Intensional
Oreintasi intensional ( intensional orientation ) mengcau pada kecenderungan kita untuk melihat manusia, objek dan kejadian sesuai dengan ciri yang melekat pada mereka. Orientasi intensio-nal terjadi bila kita bertindak seakan-akan label adalah lebih penting daripada orangnya sendiri.
Dalam proses komunikasi massa, orentasi internasioal biasanya dilakukan oleh komunikan terhadap komunikator, bukan sebaliknya. Misalnya, seorang presenter yang  berbicara dilayar televisi, dan kebetulan wajah presenter tersebut tidak manarik ( kuarang cantik/ganteng ), maka komunikan akan intensional menilainya sebagai tidak menarik sebelum kita mendengar apa yang dikatakannya. Cara mengatasi oreintasi intensional adalah dengan ekstensionalisas, yaitu dengan memberikan perhatian utama kita pada manusia, benada atau kajadian-kejadian di dunia ini sesuai dengan apa yang kita lihat.
c.       Evaluasi Statis
Pada suatu hari kita melihat seorang komunikator X berbicara melalui pesawat televisi. Menurut presepsi kita, cara berkomunikasi dan materi komunikasi yang dikemukakan komunikator tersebut tidak baik, sehingga kita membuat abstraksi tentang komunikator  itupun tidak baik. Evaluasi kita tentang komunikator X bersifat statis tetap seperti itu dan tidak beruba. Akibatnya, mungkin selamanya kita tidak mau menonton atau mendengar komunikator X berbicara. Tetapi seharusnya kita menyadari bahwa komunikastor X dari waktu ke waktu dapat berubah, sehingga beberapa tahun kemudian ia dapat menyampaikan pesan secara baik dan menarik.
d.      Indiskriminasi
Indiskriminasi ( indiscrimination ) terjadi bila ( komunikan ) memusatkan perhatian pada kelompok orang, benda atau kejadian dan tidak mampu melihat bahwa masing-masing bersifat unik atau khas dan perlu diamati secara individual. Indiskriminasi juga merupakan inti dari stereotip. Stereotip adalah gambaran mental yang menetap tentang kelompok tertentu yang kita anggap berlaku untuk setiap orang ( anggota) dalam kelompok tersebut tanpa memperhatikan adanya kekhasan orang bersangkutan. Terlepas dari apakah stereotip itu positif atau negatif, masalah yang ditimbulkan tetap sama. Sikap ini membut kita mengambil jalan pintas yang seringkali tidak tepat.
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari uraian diatas pemakalah dapat menyimpulkan Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting. Bukan hanya dalam kehidupan organisasi, namun dalam kehidupan manusia secara umum. Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan kita. Kita semua berinteraksi dengan sesama dengan cara melakukan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai yang kompleks, dan teknologi kini telah merubah cara manusia berkomunikasi secara drastis. Maka akan timbulah suatu hambatan-hambatan dalam penyampaian pesan ini. yang mana hambatan-hambatan itu sangat mempengaruhi seorang penyampai pesan. Manakalah hambatan itu ada akan menyembabkan proses dalam komunikasi tidak efektif.

B.  Saran
Pemakalah berharap dengan adanya makalah ini dapat dijadikan panutan kita semua untuk menyampaikan pesan. mudah-mudahan dengan adanya pengetahuan dari makalah ini akan membantu kita untuk memebrikan informasi secara jelas dan dapat diterima oleh komunikan khususnya. Pemakalah juga mengucapkan rasa maaf sebesar-besarnya jika ada penulisan yang tidak tepat serta penjelasan yang belum rinci. Tidak lupa pula pemakalah meminta kritikan dan saran kepada kawan-kawan semua terhadap makalah ini untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Segudang uang akan menipis satu goresan kata yg dibutuhkan mengembalikan ketipisan ( ilmu )
By : Arjamudin



 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com