Sabtu, 10 November 2012

PENGERTIAN KOMUNIKASI MASSA

0 komentar
1. PENGERTIAN KOMUNIKASI MASSA
Terdapat beberapa definisi mengenai komunikasi massa yang disampaikan oleh beberapa ahli diantaranya:
· Menurut Bittner (1980:10)
“Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.”
· Menurut Garbner (1967)
“Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paing luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.”
· Ruben (1992)
“Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak.”
Dari definisi-definisi diatas dapat diambil suatu rangkuman definisi bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau media elektronik sehingga pesan yang sama dapat disampaikan secara serempak dan sesaat. Atau dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada klayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis.
Karena perbedaan teknis, maka sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologi yang khas dibandingkan dengan sistem komunikasi interpersonal. Hal ini tampak pada :
a. Pengendalian arus informasi
Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Pada komunikasi massa, seorang komunikator mengendalikan arus informasi sehingga menunjang persuasi yang efektif. Komunikator sulit untu menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan.
b. Umpan balik
Umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberitahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan pada sumber untuk memberikan reaksi selanjutnya. Dalam komunikasi massa umpan balik (feedback) m
c. Stimulasi alat indra
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada media massa yang digunakan.
d. Proporsi unsur isi dengan hubungan
Dalam komunikasi massa lebih menekankan isi pesan dibandingkan dengan hubungan yang terjadi pada saat proses berkomunikasi berlangsung. Dengan kata lain dalam komunikasi massa lebih menekankan apa yang menjadi isi pesan dibandingkan dengan bagaimana penyampaian pesan tersebut berlangsung.
2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI KHALAYAK PADA KOMUNIKASI MASSA
A. Teori DeFleur dan Ball-Rokeach tentang Pertemuan dengan Media
Menurut DeFleur dan Ball-Rokeach faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa meliputi:
1) Organisasi personal-psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman yang berbeda pada setiap individunya. Perbedaan ini dapat menyebabkan pengaruh media massa yang berbeda pula.
2) Kelompok-kelompok social dimana individu menjadi anggota yang mempunyai reaksi pada stimuli tertentu cenderung sama. Setiap anggota dalam suatu kelompok cenderung memilih kisi komunikasi yang sama dan akan member respon kepadanya dengan cara yang hamper sama pula.
3) Hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.
B. Pendekatan Motivasional dan Uses and Gratification
Menurut pendekatan ini, perbedaan motif dalam konsumsi media massa menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Secara garis besar terdapat dua motif yaitu :
1) Motif Kognitif dan Gratifikasi Media
Pada kelompok kognitif yang berorientasi pada pemeliharaan keseimbangan, McGuire menyebut empat teori yaitu :
a. Teori konsistensi; menekankan kebutuhan individu untuk memelihara orientasi eksternal pada lingkungan. Komunikasi massa mempunyai kecendrungan menyampaikan informasi yang menggoncangkan. Tetapi, pada saat yang sama, karena individu mempunyai kebebasan untuk memilih isi media, media massa memberikan banyak peluang untuk memenuhi kebutuhan akan konsistensi.
b. Teori atribusi; memandang individu sebagai psikolog amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Respon yang kita berikan pada suatu peristiwa akan bergantung pada nterpretasi kita terhadap peristiwa tersebut.
c. Teori kategorisasi; menjelaskan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan kategori internal dalam diri kita. Isi komunikasi massa, yang disusun berdasarkan alur-alur cerita yang tertentu, dengan mudah diasimilasikan pada kategori yang ada.
d. Teori objektifikasi; menerangkan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan hal-hal eksternal. Menyatakan bahwa kita mengambil kesimpulan tentang diri kita dari perilaku yang tampak.
2) Motif Afektif dan Grafitikasi Media
Teori yang berkaitan dengan motif ini antara lain :
a. Teori reduksi tegangan; memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan tegangan. Menurut kerangka teori ini, komunikasi massa menyalurkan kecendrungan deskruktif manusia dengan menyajikan peristiwa-peristiwa atau adegan-adegan kekerasan.
b. Teori ekspresif; menyatakan bahwa orang memperoleh kepuasan dalam mengungkapkan eksistensi dirinya, menampakkan perasaan dan keyakinan dirinya. Komunikasi massa mempermudah orang untuk berfantasi, melalui identifikasi dengan tokoh-tokoh yang disajikan sehingga orang secara tidak langsung mengungkapkan perasaannya.

c. Teori ego-defensif; beranggapan bahwa dalam hidup ini kita mengembangkan citra diri yang tertentu dan kita berusaha untuk mempertahankan citra diri ini serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan dunia kita. Dari media massa kita memperoleh informasi untuk membangun konsep diri kita serta pandangan tentang dunia dan juga hubungan sosial. Komunikasi massa membantu memperkokoh konsep diri. Komunikasi massa memberikan bantuan dalam melakukan teknik-teknik pertahanan ego.

d. Teori peneguhan; memandang manusia sebagai makhluk yang selalu mengemabngkan seluruh potensi dirinya untuk memperoleh penghargaan dari dirinya dan dari orang lain. Komunikasi massa merupakan intitusi pendidikan yang menyediakan informasi dan keterampilan yang membantu orang umtuk menaklukkan dunia dan juga memberikan kesempatan kepada khalayak untuk mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh yang berkuasa.
3. EFEK KOMUNIKASI MASSA
A. Efek Kehadiran Media Massa
Menurut Steven H. Chaffee menyebut lima hal yang menjadi efek kehadiran media massa yaitu :
(1) Efek ekonomis, kehadiran media massa menggerakkan berbagai usaha seperti usaha pensuplai kertas koran, percetakan dan lain sebagainya.
(2) Efek sosial, berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa.
(3) Efek pada penjadwalan kegiatan
(4) Efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu
(5) Efek pada perasaan orang terhadap media
B. Efek Kognitif Komunikasi Massa
(1) Pembentukan dan perubahan citra, komunikasi massa memberikan informasi, perincian, analisis, dan tinjauan mendalam tentang berbagai peristiwa sehingga dapat membentuk citra sesuatu bahkan mengubah citra tersebut. Perubahan citra seringkali disusul oleh perubahan perilaku.
(2) Agenda setting, kemampuan media massa untuk mempengaruhi apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Pada teori agenda setting memiliki asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel dan tulisan yang akan disiarkannya.
(3) Efek prososial kognitif, media memberikan informasi kepada khalayak dan khalayak merasa informasi yang diterima bermanfaat sesuai dengan kehendak khalayak itu sendiri.
C. Efek Afektif Komunikasi Massa
(1) Pembentukkan dan perubahan sikap, informasi yang disampaikan melalui media massa dapat membentuk sikap seseorang terhadap sesuatu yang diinformasikan, contohnya membentuk sikap pro KPK dalam kasus KPK dan POLRI setelah diberitakan di televisi. Sebagian besar masyarakat membentuk sikap antipati kepada POLRI karena dianggap ingin menjatuhkan KPK. Selain itu, informasi tersebut juga dapat mengubah sikap seseorang yang mungkin asalnya biasa-biasa saja kepada POLRI berubah menjadi antipati.
(2) Rangsangan emosional, rangsangan yang terdapat dalam sebuah informasi (seperti film, novel, sandiwara) yang disampaikan melalui media massa yang digunakan untuk menyentuh emosi kita. Rangsangan emosional memiliki lima faktor yaitu:
· Suasana emosional, suatu film akan dirasa sangat mengahrukan ketika kita telah mengalami hal yang menyedihkan sebelumnya.
· Skema kognitif, yaitu semacam “naskah” pada pikiran kita yang menjelaskan “alur” peristiwa, dapat dikatakan pula konsep awal suatu peristiwa yang sebelumnya pernah kita alami atau bayangkan. Misalnya pada skema kognitif kita bahwa orang baik akan selalu menang membuat kita tidak terlalu cemas ketika menonton film dan tokoh tersebut sedang terdesak karena merasa bahwa kebaikan akan selalu menang.
· Suasana terpaan (setting of exposure), merupakan suasana lingkungan saat kita menonton sebuah film. Selain itu juga dapat berupa respon dari orang lain pada saat menonton juga akan mempengaruhi.
· Predisposisi individual, mengacu pada karakteristik pribadi seseorang. Ketika seseorang mempunyai karakter yang melankolis maka cenderung akan menanggapi suatu film secara lebih dramatis. Satu acara akan ditanggapi berbeda oleh orang yang berbeda, karena setiap karakteristik orang berbeda-beda.
· Tingkat identifikasi, menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa.
(3) Rangsangan seksual, disebabkan oleh adegan-adegan merangsang dalam media massa. Objek yang netral dapat menjadi stimuli erotis (stimuli yang membangkitkan gairah seksual) hanya karena proses pelaziman, imajinasi, dan pengalaman yang bermacam-macam.
D. Efek Behavioral Komunikasi Massa
(1) Efek prososial behavioral, memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang didapat dari media massa karena media massa juga dapat dijadikan sebagai alat pendidikan.
(2) Agresi, film kekerasan mengajari agresi, mengurangi kendali moral penontonnya, dan menumpulkan perasaan mereka. Karena manusia akan lebih tertarik untuk mengikuti sesuatu yang ditampilkan dan menarik bagi mereka.
Selain efek-efek diatas, Kappler (1960) mengatakan bahwa komunikasi masa juga memiliki efek sebagai berikut:
1. conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
2. memperlancar atau malah mencegah perubahan
3. memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada

Makalah Sistem Komunikasi Kelompok

1 komentar

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pengertian Komunikasi Kelompok
Sebelum kita membahas mengenai bentuk-bentuk komunikasi kelompok, tentunya kita harus mengetahui pengertian dari komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok”kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konfrensi dan sebagainya.
            Sedangkan menurut Michael Burgon ( dalam wiryanto, 2005) mendefenisikan komunikasi kelompok yaitu :
“ komunikasi kelompok sebagi intraksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagai informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggota dapat mengingat karaktristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.”[1]
Dari dua defenisi diatas dapat kita simpulkan bahwa, komuniksi kelompok adalah suatu intraksi yang dilakukan tiga orang atau lebih secara tatap muka dengan ketentuan yang telah disepakati.

B.                 Bentuk-Bentuk Komunikasi Kelompok
Didalam bukunya psikologi komunikasi Jalaluddin Rahmat berdasarkan pendapat Jhon.F Cragan dan David W.Wright. membagi kelompok pada dua kategori yaitu kelompok deskriftif dan kelompok perspektif.[2]
1.      Komunikasi Kelompok Deskriftif
Dalam komunikasi kelompok deskriftif, menunjukkan kelasifikasi kelompok  melihat proses tahapan perkembangan kelompok.

Kelompok deskriftif dibedakan menjadi 3 :
a.       Kelompok tugas
b.      Kelompok pertemuan
c.       Kelompok penyadar
a)         Kelompok Tugas
Kelompok tugas adalah kelompok yang bertujuan untuk mememcahkan suatu masalah. Aubrey Fisher ( dalam buku Jalaluddin Rahmat 1999),[3] bahwa kelompok melewati empat tahap yaitu orentasi , konflik, pemunculan, dan peneguhan. Pada tahap orentasi, setiap anggota saling mengenal dan saling memahami satu sama lain. Tindak komunikasi pada tahap ini umumnya menunjukkan persetujuan, mempersoalkan pernyataan serta terkadang tidak seragam dalam menafsirkan usulan. Pada tahap konflik tentunya akan terjadi kontroversi diantara kelompok serta mempertahankan pendirian masing-masing. Pada tahap pemunculan, anggota-anggota bersikap tidak jelas dan komunikasi berupa usulan-usulan yang ambigu. Pada tahap penengahan disini anggota kelompok mulai menemukan solusi dari permasalahan dan menyatakan pendapat-pendapat mereka, dan pernyataan umumnya bersifat positif.

b)        Kelompok Penemuan
Kelompok penemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Sebagi contoh ialah kelompok terapi dirumah sakit jiwa yang membantu pasiennya untuk menemukan jati dirinya sendiri.

c)             Kelompok Penyadar
Kelompok penyadar bertujuan untuk menciptakan indentitas social politik  yang baru. Kelompok penyadar ini dibentuk atas dasar kesamaan nasib, golongan dan ras. Sebagai contoh yaitu pada tahun 1960-an di Amerika muncul gerakan emansipasi wanita radikal, mereka membentuk kelompok-kelompok yang menggunakan kelompok wanita untuk menentang masyarakat yang di dominasi pria.
Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa kelompok penyadar muncul karena mereka memiliki pemikiran yang sama.[4]

2.      Komunikasi Kelompok Perspektif
Sudah sangat jelas jika komunikasi kelompok sangat berpengaruh untuk menyelesaikan tugas, memecahkan persoalan, membuat keputusan, serta dapat melahirkan gagasan-gagasan keratif untuk memecahkan suatu masalah.
Dalam kelompok perspektif, kelompok ini mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapi tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok perspektif, yaitu diskusi meja bundar, symposium, diskusi panel, forum,, kolokuium dan prosedur parlementer.
a.       Diskusi Meja Bundar
Didalam diskusi meja bundar ini, lenih member kebebasan  kepada anggota kelompok. Karena sususnan tempat duduk yang bundar menyebabkan arus komunikasi yang bebabs diantara anggota-anggota kelompok. Dan dengan susunan meja bundar memudahkan pertisipasi sponytan yang lebih demokratis, sehingga hubungan social secara interpersonal dan semua anggota merasa diikut sertakan.[5]
b.      Simposium
Symposium adalah  serangkaian pidato pendek yang menyajikan berbagai aspek dari sebuah topic atau posisi yang pro dan kontra terhadap masalah yang kontroversal dalam format diskusi yang telah dirancang sebelumnya.
c.       Diskusi Panel
Diskusi pane adalah format khusus yang anggota-anggota kelompoknya berintraksi, baik berhadap-hadapan maupun melalui mediator diantara mereka sendiri dan dihadiri tentang masalah yang kontroversal.
            Jalaludin Rahmat mengutip pendapat (Cragan dan Wright : 1980 ) menyatakan :
            “ biasanya, susunan tempat duduk diskusi panel meletakkan peserta diskusi pada meja segi empat yang menghadap khalayak deengan moderator yang duduk di tengah-tengah diantara kedua belah pihak.

d.      Forum
Forum adalah waktu Tanya jawab yang terjadi setelah diskusi terbuk, misalnya symposium. Ada lima macam symposium (1) Forum ceramah (2) forum debat (3) forum dialog(4) forum panel dan, (5) forum symposium.[6]
e.       Kolokium
Kolokium adalah sejenis format diskusi yang memebrikan kepada khalayak untuk bebas member pertanyaan kepada orang atau beberapa orang ahli, perlu diinga, kolokkium beformal dan diatur oleh seorang moderator.
f.       Prosedur Perlementer
Prosedur perlemnetr  adalah format diskusi yang secara ketat mengatur peserta diskusi yang besar pada periode waktu yang tertentu ketika sejumlah keputusan harus dibuat. Tata tertib perlemen dijalankan dengan ketat sehingga siding dapat menentukan siapa yang dapat berbicara, untuk berapa lama dan berapa kali.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
-          Didalam bentuk-bentuk komunikasi kelompok terdapat dua bentuk yaitu kelompok deskriptif dan kelompok perspektif.
-          Kelompok deskriftif dibedakan menjadi 3 yaitu :
a.       Kelompok tugas
b.      Kelompok pertemuan
c.       Kelompok penyadar
-          Kelompok perspektif, dikategorikan kedalam 6 kelompok :
a.       Diskusi meja bundar
b.      Symposium
c.       Diskusi panel
d.      Forum
e.       Kolokium, dan
f.       Prosedur parlementer.


DAFTAR PUSTAKA
Rahmat, Jalaludin, (1999). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Arni, Muhammad, (2007), Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Internet, makalah al-ayyubi. Komunikasi kelompok (2005)


[1] Internet komunikasi kelompok (al-ayubi 2005).
[2] Jalaluddin Rahmat,PSikologi Komunikasi 1999,hlm 175
[3] Ibid hlm 175
[4] Psikologo Komunikasi, hlm.180.
[5] Arni Muhamma, Komunikasi Organisasi, Hlm 182
[6] jalaludinRahmat, Psikologi Komunikasi, hlm 182

Penulis : Arjamudin
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com