Kamis, 06 Juni 2013

PENGERTIAN SILOGISME

0 komentar
BAB I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sejak manusia dilahirkan pada dasarnya sudah sepantasnya untuk dilatih berpikir dengan jelas , tajam dan terang rumusannya , hal itu juga supaya lebih tangkas dan kreatif . dengan demikian kita sebagai generasi penerus bangsa perlu belajar berpikir tertip , jelas , serta tajam. Hal yang sangat penting juga adalah belajar membuat deduksi yang berani dengan salah satu cara untuk melahirkannya adalah silogisme. . Hal ini diperlukan karena mengajarkan kita untuk dapat melihat konsekwensi dari sesuatu pendirian atau pernyataan yang apa bila di telaah lebih lanjut, sebenarnya pendirian atau pernyataan itu tadi self – destructive.
Mungkin hal itu bisa terjadi karena tidak mau menghargai kebenaran dari sesuatu tradisi atau tidak dapat menilai kegunaannya yang besar dari sesuatu yang berasal dari masa lampau, ada juga sebagian orang yang mengatakan atau menganggap percuma mempelajari seluk beluk silogisme . Tetapi mungkin juga anggapan itu didasarkan pada kenyataan bahwa biasanya dalam proses penulisan atau pemikiran hanya sedikit orang saja yang dapat mengungkapkan pikirannya dalam bentuk silogisme. Akan tetapi , proses pemikiran kita menurut kenyataanya mengikuti pola silogisme jauh lebih sering dari pada yang kita duga. Misalnya ucapan “ Saya tidak senang kepada pegawai itu karena ia biasa datang terlambat ke kantor “ Proses pemikiran tersebut haya bisa di uji dan di kaji apabila kita beberkan dalam bentuk silogisme karena bentuk silogismelah setiap langkah dari proses tersebut menjadi terbuka .
B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan latar belakang masalah sebagai mana yang telah kami tulis diatas maka maka perlu di susun suatu perumusan masalah , hal ini di maksudkan untuk tidak terjadinya kesalah fahaman dan penafsiran antara penenulis dengan pembaca. Dengan demikian maka perumusan masalah dalam makalah ini , penulis akan berpijak pada masalah yang telah di uraikan di muka . Adapun perumusan masalah yang di jadikan ukuran dalam makalah ini sebagai berikut,:
“ Apakah silogisme itu “
Dalam penulisan ini kami hanya terbatas pada Pengertian silogisme ,bagian – bagian silogisme dan macam- macam silogisme.
C. TUJUAN
1. Penulisan makalah silogisme ini betujuan agar dapat mengetahui Pengertian silogisme ,bagian – bagian silogisme dan macam- macam silogisme.
2. Dengan adanya makalah ini di harapkan menjadi masukan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada para pembaca khususnya pada rekan STAIN Pamekasan serta pada generasi penerus bangsa ini.
BAB I
SILOGISME
A. PENGERTIAN SILOGISME
Silogisme merupakan bagian yang paling akhir dari pembahasan logika formal dan dianggap sebagian yang paling penting dalam ilmu logika . Dilihat dari bentuknya silogisme adalah contoh yang paling tegas dalam cara berpikir deduktif yakni mengambil kesimpulan khusus dari kesimpulan umum . hanya saja dalam teori silogisme kesimpulan terdahulu hanya terdiri dari dua keputusan saja sedang salah satu keputusannya harus universal dan dalam dua keputusan tersebut harus ada usur – unsur yang sama – sama dipunyai oleh kedua keputusannnya
Jadi tegasnya yang di namakan dengan silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan dari dua macam keputusan ( yang mengandung unsur yang sama dan salah satunya harus universal ) suatu keputusan yang ketiga yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya [1]. Dengan kata lain silogisme adalah merupakan pola berpikir yang di susun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan . [2]Contoh
1, Semua makhluk mempuyai mata , ( Primis Mayor )
2. Si kacong adalah seorang mahluk ( Primis Minor )
3. Jadi Si kacong mempuyai mata . ( Kesimpulan )
Pada contoh diatas kita melihat adanya persamaan antara keputusan pertama dengan keputusan kedua yakni sama – sam mahkluk dan salah satu dari keduanya universal ( Keputusan pertama ) oleh karena itu nilai kebenaran dari keputusan ketiga sama dengan nilai kebenaran dua keputusan sebelumnya. Kesimpulan yang diambil bahwa Si kacong mempuyai mata adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua primis yang mendukungnya. Pertanyaan apakah kesimpulan itu benar maka hal ini harus di kembalikan kepada kebenaran primis yang mendahuluinya.. Sekiranya kedua primis yang mendukungnya adalah benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang di tariknya juga adalah benar.
Dengan demikian maka ketetapan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni kebenaran primis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan kesimpulan . Dan ketika salah satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannya tidak di penuhi maka kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif, Argumentasi matematik seperti : a sama dengan b dan bila b sama dengan c maka a sama dengan c hal ini merupakan penalaran deduktif , Kesimpulan ang berupa pengetahuan baru bahwa a sama dengan c pada haketnya bukan merupakan pengetahuan baru dalam arti yang sebenarnya , melainkan sekedar konsekwensi dari dua pengetahuan yang sudah kita ketahui sebelumnya , yakni bahwa a sama dengan b dan b sama dengan c.[3]
B. Bagian Bagian Silogisme
Pada dasarnya silogisme mempuyai empat bagian
  1. Bagian pertama adalah keputusan pertama , yang biasanya disebut premis mayor. Premis mempuyai arti kalimat yang di jadikan dasar penarikan kesimpulan [4] , ada juga yang mengatakan primes adalah kata- kata atau tulisan sebagai pendahulu untuk menarik suatu kesimpulan [5] atau dapat juga diartikan sebagai pangkal pikiran . Mayor artinya besar . Primis mayor artinya pangkal pikir yang mengandung term mayor dari silogisme itu , dimana nantinya akan muncul menjadi predikat dalam kongklusi ( kesimpulan )
Contoh : Semua makhluk mempuyai mata
  1. Bagian kedua adalah keputusan kedua , yang umunya di sebut dengan premis minor. Premis minor artinya pangkal pikiran yang mengandung term minor ( Kecil ) dari silogisme itu , dimana nantinya akan muncul menjadi subjek dalam kongklusi.
Contoh : Si kacong adalah seorang mahluk
  1. Bagian ketiga adalah bagian – bagian yang sama dalam dua keputusan tersebut , yang biasanya disebut medium atau term menengah ( middle term ) , Karena ia terdapat pada kedua premis ( Mayor dan minor ) , maka bertindak sebagai penghubung ( medium ) antara keduanya , tetapi tidak muncul dalam kongklusi.
  2. Bagian keempat adalah keputusan ketiga yang disebut kongklusi atau kesimpulan , adalah merupakan keputusan baru ( dari dua keputusan sebelumnya ) yang mengatakan bahwa apa yang benar dalam mayor , juga benar dalam term minor Artinya kalau miming benar., Semua makhluk mempuyai mata , maka Si kacong yang menjadi bagian dari mahkluk adalah mempuyai mata
Si kacong mempuyai mata
C. Macam – macam silogisme.
Penyimpulan deduksi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik – teknik , silogisme kategosik baik melaui bentuk standarnya maupun bukan , Silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung di katakan demikian karena dalam silogisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya di ambil secara sintetis dari dua permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu , yang tidak terjadi dalam penyimpulan Eduksi. Dan pada saat ini Silogisme terdiri dari silogisme katagorik ,silogisme hipotetik, Silogisme disyungtif maupun melalui dilema. untuk lebih lanjut akan kami jelaskan berikut ini ;
1. Silogisme kategorik adalah silogisme yang semua posisinya merupakan proposisi kategorik , Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal , sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya . Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya , tapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya dengan demikian satu pangalan umum dan satu pangkalan khusus dapat di hubungkan dengan berbagai cara tetapi hubungan itu harus di perhatikan kwalitas dan kantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi atau natijah yang valid [6]
Sekarang kita praktekkan bagaimana dua permasalahan dapat menghasilkan kesimpulan yang absah
Semua Manusia tidak lepas dari kesalahan
Semua cendekiawan adalah manusia
Pangkalan umum disini adalah proposisi pertama sebagai pernyataan universal yang di tandai dengan kuantifier ‘ semua ‘ untuk menegaskan sifat yang berlaku bagi manusia secara menyeluruh . Pangkalah khusussnya adalah proposisi kedua miskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia berada dibawah aturan pernyataan pertama sehingga dapat kita simpulkan : semua cendikiawan tidak lepas dari kesalahan .
Bila pangkalan khususnya berupa proposisi singules prosedur penyimpulannya juga sama segingga dari pernyataan :
Semua tanaman membutuhkan air ( Premis Mayor )
M P
Padi adalah tanaman ( Primis Minor )
S M
Padi membutuhkan air ( Konklusi )
S P
Keterangan :
S = Subyek; P = Predikat M. = Middle term.
Kode – kode serupa membantu kita dalam proses untuk menemukan kesimpulan langkah pertama tandailah terlebih dahulu term – term yang sama pada kedua premis , dengan memberi garis bawah kemudia kita tuliskan huruf M . term lain pada premis mayor pastilah P dan pada premis Minor pastilah S. kemudian tulislah konklusinya dengan menulis secara lengkap term S dan P nya untuk menentukan mana perimis manyor tidaklah sukar karena ia boleh dikatakan selalu di sebut pada awal bangunan silogisme , term menengah tidak boleh kita sebut atau kita tulis dalam konklusi . begitulah dasar dalam memperoleh konklusi . namun demikinan kita perlu memperhatikan patokan – patokan lain agar di dapat kesimpulan yang apsah dan benar.
2. Silogisme Hipotetik : Adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidk memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi .
Pada silogisme hipotetik term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian anteseden dan mungkin pula bagian konsekuensinya tergantung oleh bagian yang diakui atau di pungkiri oleh premis minornya. Kita menggunakan istilah itu secara analog , karena premis pertama mengandung permasalahan yang lebuh umum , maka kita sebut primis mayor , bukan karena ia mengandung term mayor. Kita menggunakan premis minor , bukan karena ia mengandung term minor , tetapi lantaran memuat pernyataan yang lebih khusus[7]
Macam tipe silogisme hipotetik
a) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan , saya naik becak
Sekarang Hujan .
Jadi saya naik becak.
b) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya , seperti :
Bila hujan , bumi akan basah
Sekarang bumi telah basah .
Jadi hujan telah turun
c) Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti :
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa , maka kegelisahan akan timbul .
Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa ,
Jadi kegelisahan tidak akan timbul
d) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya , seperti:
Bila mahasiswa turun kejalanan , pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa tidak gelisah
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan
3. Silogisme disjungtif : adalah silogisme dimana premis mayor maupun minornya , baik salah satu maupun keduanya , merupakan keputusan disjunctive[8] atau ada juga yang mengatakan bahwa silogisme disjungtif adalah silogisme yang primis mayornya berbentuk proposisi disjungtive Contoh :
· Kamu atau saya yang pergi
· Kamu tidak pergi
· Maka sayalah yang pergi
Silogisme disjungtive mempunyai dua buah corak diantaranya : [9]
a) Akuilah satu bagian disjungtif pada premis minor, dan tolaklah lainnya pada kesimpulan . misalnya :
· Planet kita ini diam atau berputar.
· Karena berputar, jadi bukanlah diam.
Corak ini di sebut modus ponendo tolles.
b) Tolaklah satu bagian disjungsi pada premis minor , dan akuilah yang lainnya pada kesimpulan . Misalnya :
· Planet bumi kita ini diam atau berputar
· Planit bumi kita ini tidak diam
· Jadi . planet bumi kita ini berputar.
Corak ini disebut modus tolledo ponens.
N.B. Silogisme disjungtif bisa diplangkan ke silogisme kondisional . Misalnya :
· Apabila kamu tidak pergi, sayalah yang pergi .
· Kami tidak pergi .
· Maka sayalah yang pergi.
Silogisme disjungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua tipe[10] yaitu :
a) Primis minornya mengingkari salah satu alternative, konklusinya adalah mengakui alternative yang lain, seperti :
· Ia berada diluar atau di dalam
· Ternyata tidak berada di luar.
· Jadi ia berada di dalam.
· Ia berada di luar atau di dalam
· Ternyata tidak berada di dalam
· Jadi ia berada di luar.
b) Premis minor mengakui salah satu alternative, kesimpulannya adalah mengingkari alternative yang lain, seperti:
· Budi di masjid atau di sekolah
· Ia berada di masjid.
· Jadi ia tidak berada di sekolah.
· Budi di masjid atau di sekolah
· Ia berada di sekolah .
· Jadi ia tidak berada di masjid.
4. Silogisme Konjungtif adalah silogisme yang premis mayornya berbentuk suatu proporsi konjungtif. Silogisme konjungtif hanya mempunyai sebuah corak, yakni: akuilah satu bagian di premis minor, dan tolaklah yang lain di kesimpulan . Misalnya :
· Tidak ada orang yang membaca dan tidur dalam waktu yang bersamaan .
· Sartono tidur .
· Maka ia tidak membaca
Nb. Silogisme konjungtif dapat di kembalikan ke bentuk silogisme kondisional, Misalnya ;
· Andaikata Sartono tidur, ia tidak membaca.
· Sartono tidur
· Maka ia tidak membaca.
5. Dilema , menurut Mundari dalam bukunya yang berjudul logika ia mengartikan Dilema adalah argumerntasi , bentuknya merupakan campuran antara silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif . Hal ini terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disjungtif . Konklusinya, berupa proposisi disyungtif , tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema , terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat . Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan . Dalam debat, dilemma dipergunakan sebagai alat pemojok , sehingga alternatif apapun yang dipilih , lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan . [11]
Suatu contoh lkasik tentang dilemma adalah ucapan seorang ibu yang membujuk anaknya agar tidak terjun dalam dunia politik , sebagai brikut;
· Jika engkau berbuat adil manusia akan membencimu . Jika engkau berbuat tidak adil tuhan akan membencimu . Sedangkan engkau harus bersikap adil atau tidak adil . Berbuat adil ataupun tidak engkau akan dibenci.
· Apabila para mahasiswa suka belajar , maka motivasi menggiatkan belajar tidak berguna . Sedangkan bila mahasiswa malas belajar motivasi itu tidak membawa hasil . Karena itu motivasi menggiatkan belajar itu tidak bermanfaat atau tidak membawa hasil.
Pada kedua contoh tersebut , konklusi berupa proposisi disjungtif , Contoh pertama adalah dilemma bentuk baku , kedua bentuk non baku.
Sekarang kita ambil contoh dilema yang konklusinya merupakan keputusan kategorika.
· Jika Budi kalah dalam perkara ini , ia harus membayarku berdasarkan keputusan pengadilan . Bila ia menang ia juga harus membayarku berdasarkan perjanjian . Ia mungkin kalah dan mungkin pula menang . Karena itu ia harus tetap harus membayar kepadaku.
· Setiap orang yang saleh membutuhkan rahmat supaya tekun dalam kebaikan .
Setiap pendusta membutuhkan rahmat supaya dapat ditobatkan.
Dan setiap manusia itu saleh atau pendusta.
Maka setiap manusia membutuhkan rahmat.
Dilema dalam arti lebih luas adalah situasi ( bukan argumentasi ) dimana kita harus memilih dua alternative yang kedua – duanya mempuyai konsekwensi yang tidak diingi, sehingga sulit menentukan pilihan. [12]
Aturan – aturan dilema dan Cara Mengatasi Dilema
1. Aturan – aturan dilema :
· Disjungsi harus utuh . Masing – masing bagian harus betul – betul selesai, sehingga tidak ada kemungkinan lain . Apabila terdapat kemungkinan lain , hal akan merupakan jalan keluar. Tutuplah jalan keluar tersebut . Waspadalah untuk tidak tergelincir kedalam sofisme, yakni pemikiran yang nampaknya betul , tetapi sesungguhnya salah.
· Consequent haruslah sah disimpulkan dari masing – masing bagian.
· Kesimpulan yang ditarik dari masing – masing bagian , haruslah merupakan satu satunya kesimpulan yang mungkin diambil . Jika tidak , maka lawan kita akan sanggup mengambil kesimpulan yang berlawanan dengan kesimpulan kita.
2. Cara Mengatasi Dilema
Ada beberpa cara yang dapat kita pakai dalam mengatasi dilemma yang kita hadapi.
a. Dengan meneliti kausalitas premis mayor . Sering benar terjadi dalam dilema terdapat hubungan kausalitas tidak benar yang dinyatakan dalam premis mayornya. Dalam contoh diatas dikemukakan bahwa motivasi peningkatan belajar tidak berguna atau tidak membawa hasil . konklusi tidak benar , karena di tarik dari premis mayor yang mempuyai hubungan kausalitas tidak benar . Tidak semua mahasiswa yang tidak suka belajar mempuyai sebab yang sama . Dari sekian mahasiswa yang tidak suka belajar , bisa disebabkan kurang kesadaran , sehingga motiovasi sangat berguna bagi mereka. Untuk mengatasi dilemma model ini kita tinggal menyatakan bahwa premis tidak mempuyai dasar kebenaran yang kuat.
b. Dengan meneliti alternative yang di kemukakan. Mengapa, karena mungkin sekali alternative pada permasalahan yang diketegahkan tidak sekedar dinyatakan , tetapi lebih dari itu . Pada masa lalu seorang pemimpin sering berkata : Pilihlah Sukarno atau biarlah Negara ini hancur. Benarkan hanya Sukarno yang bisa menyelamatkan Negara ini ? Apakah tidak ada orang lain nyang bisa menggantinya ? Tentu saja ada , sehingga alternatifnya lebih dari dua.
c. Dengan contra dilemma.. Bila dilema yang kita hadapi tidak mengandung kemungkinan , maka dapat kita atasi dengan mengemukakan dilemma tandingan . Banyak sekali dilema yang di hadapi orang kepada kita merupakan alat pemojok yang sebenarnya tidak mempuyai kekuatan , maka dilema itu dapat dinyatakan dalam bentuk lain yang mempuyai konklusi berlainan dengan penampilan semula. Sebagai contoh adalah pendapat orang yang menyatakan bahwa hidup ini adalah penderitaan , hendak memaksakan keyakinan itu dengan mengajukan dilemma kepad kita sebagai berikut:
Bila kita bekerja maka kita didak bisa menyenangkan diri kita. Bila kita tidak bekerja , kita tidak dapat uang . Jadi bekerja atau tidak bekerja , kita dalam keadaan tidak menyenangkan
Dilema itu dpat kita jawab dengan kontra dilemma sebagai berikut:
Bila kita bekerja, kita mendapat uang . Bila kita tidak bekerja kita dapat meyenangkan diri kita . Jadi bekerja atau tidak , selalu menyenangkan kita.
d. Dengan memilih alternative yang paling ringan . Bila dilema yang kita hadapi tidak mungkin kita atasi dengan teknik diatas , maka jalan terakhir adalah memilih alternatif yang paling ringan . Pada dasarnya tidak ada dilema yang menampilkan alternatif yang benar- benar sama beratnya. Dalam dilema serupa dibawah ini kita hanya dapat memilih alternative yang paling ringan . contoh
· Apabila tuan masih tercatat sebagai pegawai negeri , maka tuan tidak bisa menduduki jabatan tertinggi pada PT “ Buana Jaya “ ini . Untuk menduduki jabatan tinggi pada PT ini maka anda harus rela melepaskan status tuan sebagai pegawai negeri . Sementara itu anda berat melepas pekerjaan sebagai pegawai negeri , sedangkan bila tidak menjabat pimpinan pendapatan anda di PT itu tetap sedikit.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Silogisme adalah suatu cara untuk melahirkan deduksi . Silogisme mengajarkan pada kita merumuskan , menggolong – golongkan pikiran sehingga kita dapat melihat hubungannya dengan mudah , Dengan demikian kita belajar berfikir tertib , jelas , tajam . Ini diperlukan karena mengajarkan kita untuk dapat melihat akibat dari suatu pendirian atau penyataan yang telah kita lontarkan. Banyak orang merumuskan pendirian atau membuat pernyataan yang apabila ditelaah lebih lanjut , sebenarnya pendirian atau pernyataannya tadi kurang tepat atau kurang benar. Mungkin saja hal itu karena tidak mau menghargai kebenaran dari suatu tradisi atau tidak dapat menilai kegunaan yang besar dari sesuatu yang berasal dari masa lampau. Akan tetapi kita generasi penerus , proses pemikiran kita menurut kenyataannya mengikuti pola silogisme jauh lebih sering dari pada yang kita duga dan dari proses tersebut pemikiran kita lebih terbuka tertib dan jelas.
CATATAN PUSTAKA
1. Sunardji dahri tiam H. Drs. Prof , Langkah – langkah berpikir logis , cet 2 ( CV Bumi Jaya nyalaran Pamekasan 2001 )
2. Jujun s. suria sumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular, pustaka sinar harapan , Jakarta,2003 )
3. Tim media , Kamus lengkap bahasa Indonesia media senter ,
4. Pius A partanto Dahlan Al Barry , Kamus Ilmiyah popular , ( Arkola Surabaya, 1994 )
5. Mondiri H. Drs, Logika ( PT Raja Gravindo Persada Jakarta , 1994) ,
6. W. Poespoprodjo, Dr, Sh, SS Phd, LPh Logika scientivika pengantar dialektika dan ilmu ( pustaka gravika 1999 )


[1] Sunardji dahri tiam H. Drs. Prof , Langkah – langkah berpikir logis , cet 2 ( CV Bumi Jaya nyalaran Pamekasan 2001 ) 70
[2] Jujun s. suria sumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular, pustaka sinar harapan , Jakarta,2003 ) 49
[3] Ibid 49
[4]Tim media , Kamus lengkap bahasa Indonesia media senter , 427
[5] Pius A partanto Dahlan Al Barry , Kamus Ilmiyah popular , ( Arkola Surabaya, 1994 ) 621
[6] Mondiri H. Drs, Logika ( PT Raja Gravindo Persada Jakarta , 1994) , 100
[7] Ibid. Mundari., 130
[8] Ibid. Sunardji, 80
[9] W. Poespoprodjo, Dr, Sh, SS Phd, LPh Logika scientivika pengantar dialektika dan ilmu ( pustaka gravika 1999 ) 222.
[10] Ibid , Mundari ,135
[11] Ibid , Mundari ,138
[12] Ibib , Mundari ,140

PENALARAN DEDUKTIF, PENALARAN INDUKTIF, DAN SILOGISME

0 komentar

PENALARAN DEDUKTIF, PENALARAN INDUKTIF, DAN SILOGISME


Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data / fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Fakta / data yang akan dinalar itu boleh benar dan juga tidak. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi. Macam-macam penalaran, yaitu :
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa umum yang kebenarannya telah diketahui, dan berakhir pada suatu kesimpulan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian, konteks penalaran deduksi tersebut konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran deduksi tergantung pada premisnya ( proposisi tempat menarik kesimpulan ). Artinya, jika premisnya salah, mungkin akan membawa kita pada hasil yang salah. Begitu juga sebaliknya. Penarikan kesimpulan secara deduktif, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung.
• MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG
Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh kalimat :
- Semua ikan bernafas melalui insang. ( premis )
- Semua yang bernafas melalui insang adalah ikan. ( simpulan )


• MENARIK SIMPULAN SECARA TIDAK LANGSUNG
Penarikan ini ditarik dari dua premis. Premis pertama adalah premis yang bersifat umum, sedangkan yang kedua adalah yang bersifat khusus. Contoh : Silogisme Kategorial. Silogisme kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi, yaitu :
- Premis umum : premis mayor ( My )
- Premis khusus : premis minor ( Mn )
- Premis simpulan : premis kesimpulan ( K )
Contoh silogisme kategorial :
- My : Semua mahasiswa Universitas Gunadarma memiliki KTM.
- Mn : Aini Fatimah adalah mahasiswa Universitas Gunadarma.
- K : Aini Fatimah memiliki KTM.
•. Bentuk Gagasan / Penalaran Induktif
• Generalisasi ialah perihal bentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian hal, atau sebagainya.
Contoh dalam paragaraf.
1.      Setelah tugas menggambar kelas I B dikumpulkan, ternyata duapuluh anak perempuan menggambar bunga, dua orang anak perempuan menggambar pemandangan, dan satu orang saja menggambar binatang, sedangkan anak laki-laki bermacam-macam. Boleh dikatakan anak perempuan kelas I B cenderung membuat gambar bunga.
• Analogi ialah suatu penalaran yang bertolak dari peristiwa khusus mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan apa yang berlaku untuk suatu hal akan bertolak pula untuk hal lain.
• Kausalitas (sebab-akibat) ialah memulai suatu penjelasan dari peristiwa atau hal yang merupakan sebab, kemudian bergerak menuju ke suatu kesimpulan sebagai aspek (akibat) terdekat.
• Bentuk Gagasan / Penalaran Deduktif
1.        Silogisme ialah menarik kesimpulan dari dua pernyataan(premis) yaitu
premis umum/mayor(PU) dan premis khusus/minor(PK).
PU : Semua A=B
PK : Semua C=A
S : Semua C=B
Contoh
PU : Semua makhluk hidup memiliki mata
PK : si Polan adalah makhluk hidup
S : maka si Polan mempunyai mata

Silogisme
Silogisme adalah suatu argumen yang bersifat deduktif yang mengandung tiga proporsi kategori yakni dua premis dan satu kesimpulan. Masing-masing premis itu yakni premis mayor (premis umum) biasanya disingkat PU dan premis minor (premis khusus) bisanya disingkat PK.
Kriteria silogisme sebagai barikut :
Premis Umum (PU) : Menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (semua A) memiliki sifat atau hal tertentu (=B)
Permis KhusuS (PK) : Menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (=C) adalah golongan tertentu itu (=A)
Kesimpulan (K) : Menyatakan bahwa sesuatu atau sesorang itu (=C) memiliki sifat atau hal tersebut pada B (=B)
Silogisme ini bagian dari penalaran deduksi. Jika dirumuskan sebagai berikut :
PU : A = B
PK : C = A
K : C = B
A = semua anggota golongan tertentu
B = sifat yang ada pada A
C = sesorang atau sesuatu anggota A

Contoh :
Silogisme salah yaitu silogisme yang salah satu premisnya salah atau mungkin penalarannya salah, maka kesimpulannyapun tentu akan salah sehingga penarikan kesimpulannya sering tidak logis dan tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Contoh :
PU : Prasetyo pelajar teladan
PK : Prasetyo putra seorang guru
K : Putra seorang guru pasti pelajar teladan

Entimem
Entimem adalah silogisme yang dipersingkat. Disaat tertentu orang ingin mengemukakan sesuatu hal secara praktis dan tepat sasaran.
Contoh :
Ø PU : Semua orang ingin sukses harus belajar dan berdoa
Ø PK : Lisa ingin sukses
Ø K : Lisa harus belajar dan berdoa
Rumus Silogisme Entinem : C = B karena C = A

• PROPOSISI
Bentuk pemikiran kedua yang merupakan pengembangan dari konsep atau pengertian adalah proposisi. Pada saat terjadinya observasi empirik, di dalam pikiran tidak hanya terbentuk pengertian saja tetapi juga terjadi perangkaian dari term – term itu. Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran. Rangkaian pengertian itulah yang disebut dengan proposisi
Dalam proses pembentukan proposisi ini terjadi dua hal. Atau dapat dikatakan bahwa syarat terbentuknya proposisi mencakup dua hal yaitu:

1. Ada terjadi pengertian yang menerangkan pengertian yang lain atau ada pengertian yang diingkari tentang pengertian lain.
Contoh:
Ø Lemari itu besar.
Kata besar menerangkan tentang lemari Pengertian yang menerangkan itu disebut dengan predikat. Sedangkan pengertian yang diterangkan disebut subyek. Predikat biasanya disingkat dengan P dan Subyek disingkat dengan S, dan kata itu atau fungsi menerangkan diberi tanda = maka proposisi itu dapat ditulis menjadi S=P. Hasil dari perangkaian ini adalah proposisi positif. Kalau dalam proses perangkaian itu P.¹terjadi pengingkaran maka proposisi yang terbentuk menjadi S Hasilnya adalah proposisi negatif.
Di sinlah keunikan kalimat dalam logika dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Jika dalam bahasa Indonesia kita mengenal ada subyek, predikat, objek bahkan keterangan, di dalam logika tidak. Yang ada di dalam logika sepanjang apapun kalimat itu yang ada hanyalah subyek dan predikat. Ini adalah konsekuensi dari syarat terbentuknya proposisi yang sedang kita bicarakan ini.

2.Proses pembentukan yang kedua adalah jika terjadi pembentukan proposisi sekaligus terjadi pengakuan bahwa lemari itu memang besar adanya atau bahwa lemari itu tidak besar. Maka tampak di sini bahwa dalam proposisi mengandung benar dan salah sementara dalam pengertian tidak. Yang dinyatakan dalam proposisi tersebut adalah fakta yaitu pengamatan yang dapat diverifikasi atau diuji kecocokannya secara empirik dengan menggunakan indera.
Bagi pikiran, fakta merupakan data empirik yang tinggal diterima saja. Benar tidaknya tergantung dari tepat atau tidaknya cara dan alat yang digunakan untuk mengamati. Karena proposisi ini didasarkan pada observasi empirik maka proposisi ini disebut sebagai proposisi empirik.
Di samping proposisi empirik ada juga proposisi yang sifat benar atau salahnya dapat dicocokkan langsung, tampak pada pikiran dan oleh karenanya itu harus diterima. Proposisi yang demikian ini disebut dengan proposisi mutlak. Proposisi seperti ini jelas dengan sendirinya (self evident). Contoh proposisi mutlak adalah Air jatuh selalu dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Dalam proposisi predikat selalu dihubungkan dengan subyek Jika hubungan tersebut bergantung pada syarat yang harus dipenuhi maka proposisi tersebut disebut dengan proposisi hipotetis. Jika hubungan antar predikat dan subyek itu adalah hubungan yang tanpa syarat maka proposisi itu disebut dengan proposisi kategorik.
Seperti halnya pengertian, proposisi juga abstrak, untuk menyatakannya dalam bahasa berupa kalimat. Lambang dari proposisi merupakan kalimat berita dan hanya kalimat beritalah di antara kalimat yang lain (tanya maupun perintah) yang merupakan lambang dari proposisi. Kalimat tanya bukan merupakan lambang dari proposisi karena dalam kalimat tanya hubungan antara subyek dan predikat masih dicari, sedangkan dalam kalimat perintah hubungan antara subyek dan predikat adalah dipaksakan harus ada. Padahal seperti telah diketahui bahwa inti dari proposisi adalah adanya hubungan atau kaitan antara subyek dan predikat.
Proposisi merupakan unit terkecil dalam pemikiran yang mengandung maksud sempurna. Proposisi masih dapat dianalisis lagi menjadi kata – kata karena seperti kita ketahui syarat bagi terbentuknya sebuah proposisi jika ditilik dari prosesnya adalah jika terjadi perangkaian konsep yang berfungsi menerangkan atau mengingkari konsep yang lainnya. Dalam logika dikenal ada 2 macam proposisi menurut sumbernya yaitu proposisi analitik dan proposisi sintetik. Proposisi analitik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang sudah terkandung pada subyeknya.
Contoh:
Ø Manusia adalah mahkluk hidup
Ø Kursi adalah benda mati
Jika dilihat dari contoh tampak bahwa predikat pada proposisi analitik tidak mendatang pengetahuan baru karena pengertiannya sudah terkansung pada subyeknya. Proposisi ini disebut dengan proposisi a priori
Proposisi yang kedua adalah proposisi sintetik yaitu proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan menjadi keharusan bagi subyeknya.
Contoh:
Ø Dian adalah pemain film yang berbakat
Predikatnya merupakan pengetahuan baru yang didapat melalui pengalaman. Proposisi ini merupakan lukisan dari kenyataan empirik dan untuk menguji benar salahnya diukur berdasarkan sesuai atau tidaknya dari kenyataan empiriknya.Proposisi ini disebut proposisi a posteriori
Selain itu, berdasarkan bentuknya ada 3 macam yaitu proposisi kategorik, proposisi disjungtif dan Proposisi Hipotetik.
Dari ketiga proposisi tersebut yang akan digunakan dalam penalaran baik langsung ataupun tidak langsung dalam perkuliahan ini adalah hanya proposisi kategorik saja

PREMIS
Pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.
contoh :
Tidak semua manusia luput dari dosa.

TERM
Ungkapan pengertian dalam bentuk kata atau beberapa kata.
contoh :
harimau adalah karnivora

.   Kesalahan Dalam Penalaran.
Kesalahan penalaran dapat terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan emosi.
Kesalahan Penalaran ada dua macam:

    Kesalahan induktif, berupa :
1.     kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas,
2.     kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
3.     kesalahan analogi.

    Kesalahan deduktif dapat disebabkan :
1.   kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi;
2.   kesalahan karena adanya term keempat;
3.   kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi;
4.   kesalahan karena adanya 2 premis negatif.

Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.
Pengertian dan contoh kesalahan penalaran :
    Gagasan,pikiran,kepercayaan,simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis misalnya. Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.

Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.
Berikut ini kesalahan penalaran yang berhubungan dengan induktif, yaitu :

A. Generelisasi terlalu luas.
Contoh : perekonomian Indonesia sangat berkembang.

B. Analogi yang salah
Contoh : ibu Yuni, seorang penjual batik, yang dapat menjualnya dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ibu Lola seorang penjual batik, tentu dapat menjualya dengan harga terjangkau.

Konsep dan simbol dalam penalaran.
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen. Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen.

Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

Rabu, 29 Mei 2013

MACAM-MACAM PERS SERTA KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA BY ARJA

0 komentar
Penggagas pertama kali Sistem Pers di dunia adalah:
Siebert, Schramm dan Theodore Peterson.
Sistem Pers Otoriter
Lahir pada abad ke-15 sampai 16.
Pengertian: Sistem pers dimana sistem yang dikuasai oleh pemerintahan.
Kelebihannya adalah konflik dalam masyarakat cenderung berkurang.
Kekurangannya adalah tertutupnya kesempatan untuk berkreasi.
Sistem Pers Liberal
Lahir pada abad 17 s/d 18.
Fungsi utama: menjaga hak warga negara agar tidak tertindas oleh kesewenangan.
Kelemahannya adalah disalahgunakan dengan cara menayangkan/ menerbitkan.
Kelebihannya adalah kebebasan untuk berinformasi.
Sistem Pers Soviet Komunis
Lahir pada abad ke 20.
Pengertian : sistem pers yang media massa dilarang melakukan kritik-kritik terhadap tujuan partai yang dibedakan dari taktik-taktik partai.
Kelebihannya adalah pers terkontrol penuh oleh pemerintah.
Kekurangannya adalah pers tidak dapat bergerak secara leluasa.
Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial
Lahir pada abad ke-20.
Pengertian: merupakan suatu teori yang  mempunyai asumsi utama bahwa kebebasan memliki nilai yang sepadan dengan tanggung jawab atas kebebasan tersebut
Kekurangannya adalah terkadang lembaga yang mengontrol pers dijadikan kedok penguasa untuk mengontrol media.
Kelebihannya adalah masyarakat dapat mendapat informasi yang dibutuhkan dan mengontrol media.
Sistem Pers Pancasila
Asumsi utama pers ini adalah bahwa kebebasan mengandung di dalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan.
Kebebasan pers ini baru di dapat pada era B.J Habibie setelah 32 tahun setelah Orde Baru.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com