Minggu, 21 April 2013

"TOKOH ORIENTALISME "CHRISTIAN SNOUCK HURGRONJE"

1 komentar
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sepanjang perkembangan sejarahnya, kajian orientalis tentang Islam dan kaum Muslim pada umumnya telah mengalami pasang surut dan memiliki fase-fase kekhususannya sendiri. Ada beberapa tahapan penting dalam sejarah terbentuknya Orientalisme. Pertama, tanggapan awal kedatangan dan perkembangan Islam (sejak abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi). Pada masa itu kesan Barat tentang Islam dan kaum Muslim tidak akurat dangan sangat negatif. Menurut W. Montgomery Watt ada “citra standar” masyarakat Eropa—yang telah dibangun oleh para teolog Kristen—tentang Islam. Kesan-kesan tersebut adalah: Islam merupakan agama yang keliru dan merupakan pemutarbalikan secara sengaja terhadap kebenaran Kristen; Islam adalah agama yang disebarkan melalui kekerasan dan pedang; Islam adalah agama hawa nafsu; dan Muhammad adalah anti Kristus.[1] Di samping empat citra tersebut, mereka juga memandang al-Qur’an sebagai kitab suci palsu buatan Muhammad sendiri dengan mengambil bahan-bahan dari perjanjian lama, perjanjian baru dan dari kaum murtad.
Kajian orientalis ini sendiri mulai marak yaitu setelah adanya kemunduran islam, setelah perang salib, yang mana perang ini masih menimbulkan banyak pertanyaan dari segi kebenarannya maupun asal dari perang salib ini. Dan setelah perang salib ini berakhir, maka banyak pula dari kalangan barat yang mengkaji seputar  agama islam. Dan banyaknya para pengkaji inilah yang di namakan “Orientalisme” (dari barat ke timur).
Sejak berabad-abad di negeri Belanda terdapat banyak peminat yang rajin mempelajari bahasa Arab. Orientalis ini banyak dikenal masyarakat Indonesia. Lahir di Belanda, Snouck meraih gelar sarjananya di Fakultas Teologi, Universitas Leiden. Kemudian ia melanjutkan ke jurusan sastra Semitik dan meraih doktor, ketika umur 23 tahun (24 November 1880). Snouck Hurgronje menempati posisi tersendiri di kalangan jajaran orientalis yang meniti Islam, baik dari sisi Islam sebagai agama maupun syari’at.
Christian Snouck Hurgronje, seorang orientalis besar pada zamannya. Oleh kebanyakan orang di Indonesia, Snouck Hurgronje dianggap sebagai kaki tangan kaum imperalis; alat kaum penjajah; sehingga segala ulah dan sikapnya dinilai sangat menguntungkan kolonialis Belanda semata.
Snouck Hurgrunje bermaksud menukar Islam dengan kebudayaan Eropa, sehingga upaya kepentingan politik dan agama  (Kristen) menjadi gampang.
   “To bring about a cultural  unity string enough to void the difference of religious denomination from its political and social significance.”
    (Menjadikan ikatan kesatuan budaya dapat melenyapkan perbedaan agama dari kepentingan politik dan kemasyarakatan).[2]
Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kehidupan sosial Snouck Hurgronje ?
2.      Bagaimana pendidikan Snouck Hurgronje ?
3.      Apa saja karya-karya Snouck Hurgronje ?
4.      Bagaimana konsep pokok pemikiran Snouck Hurgronje ?
Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui kehidupan sosial Snouck Hurgronje.
2.      Untuk mengetahui latar belakang pendidikan Snouck Hurgronje.
3.      Untuk mengetahui karya-karya Snouck Hurgronje.
4.      Untuk mengetahui konsep pokok pemikiran Snouck Hurgronje.

PEMBAHASAN
Latar belakang Keluarga Snouck Hurgronje
Christian Snouck Hurgronje adalah seorang ilmuwan sekaligus politikus ulung yang lahir pada 8 Februari 1857 di desa Osterhout yang terletak di Timur Laut kota Breda, Belanda. dari pasangan JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Meninggal pada tanggal 26 Juni 1936, di Leiden. Berasal dari keluarga pendeta Protestan tradisional, mirip Ortodoks. Tetapi lingkungan pendidikannya bercorak Liberal dan bebas.
Dua saudara Christiaan Snouck Hurgronje lahir di luar perkawinan resmi. Christiaan Snouck Hurgronje adalah anak yang ke empat dan dilahirkan dua tahun setelah perkawinan resmi orang tua kandungnya. Dari arsip Kota Oosterhout, Terheijden dan Mechelen, didapat keterangan bahwa kedua anak pertama, Anna Maria dan Jacqueline Julie dilahirkan berturut-turut di Chilham (Inggris) pada tanggal 24 Mei 1849 dan di Mechelen pada tanggal 4 Desember 1850. Setelah perkawinan lahirlah pada tanggal 19 Februari 1855 Christina Anna Catherina (wafat pada 3 Maret 1856 di Oosterhout); pada 8 Februari 1857 Christiaan di Oosterhout; pada 3 September 1859 Anna Catherina di Oosterhout. Kedua anak pertama yang lahir sebelum perkawinan sah memakai nama ibu mereka ‘De Visser’ setelah meninggalkan Oosterhout pada tanggal 3 Mei 1871; anak-anak lainnya selalu memakai nama "Snouck Hurgronje".[1]
Nama Chistiaan Snouck Hurgronje merupakan gabungan nama kakeknya “Christiaan” dan nama ayahnya “Snouck Hurgronje”. Dengan menyandang dua nama besar ini menjadi tugas berat baginya. Karena ia harus menjalani hidup sebagai pemuka bagi penganut Protestan atau pendeta dalam rangka memperbaiki atau menebus kesalahan yang pernah diperbuat ayah dan ibunya.
Orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya. Mereka adalah para guru dan keluarganya. Snouck hidup dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Kristen Protestan yang setia. Pengetahuan Snouck tentang Islam berkaitan dengan pengetahuan kakeknya tentang Islam. Pemikirannya tentang teologi modern di dapatkan dari para gurunya di Universitas Leiden. Di bawah bimbingan para modernis, ia medalami ilmu sejarah dan perbandingan agama. Berakar dari sini Snouck mengembangkan ilmu di bidang orientalistik.
Kondisi politik dunia semasa Snouck Hurgronje Hidup. Ia hidup pada masa kolonialisme. Kekhalifahan Turki Usmani runtuh dan bangsa Eropa tampil dengan kekuatannya. Negaranya menganggap bahwa peradaban Eropa dan agama Kristen lebih unggul daripada peradaban lain. Realitas ini yang menentukan arah hidupnya.
Posisinya sebagai politikus kolonial Belanda. Ia mencurahkan tenaga, pikiran, dan ilmunya untuk melakukan penelitian yang kemudian digunakan untuk kepentingan pemerintah Belanda yaitu melawan pemberontakan negeri jajahannya.
Latar belakang Pendidikan Snouck Hurgronje
Dia belajar bahasa Latin dan Yunani pada guru khusus sebagai persiapan masuk universitas dan berhasil menempuh ujian masuk universitas pada Juni 1874. Dia mendaftar ke Fakultas Teologi di Universitas Leiden dan pada Mei 1876 ia menempuh ujian kandidat dalam filologi klasik Yunani dan Latin, lalu pada April 1878 ia mengikuti ujian kandidat dalam Teologi. Pada bulan November 1879 dia berhasil memperoleh gelar doktor dengan risalah yang berjudul “ Musim Haji di Makkah “.[2] Pada tahun ajaran 1880 / 1881, Snouck menghadiri perkuliahan Theodore Noldeke di Strassburg bersama koleganya, di antaranya adalah dua orientalis terkenal, C. Bezold yang meninggal pada tahun 1922 di Hedelburg dan R. Bunnow yang meninggal pada tahun 1917 di Amerika. Pada tahun 1884 Snouck mengadakan petualangan ke Jazirah Arab dan menetap di Jeddah sejak Agustus hingga Februari 1885 sebagai persiapan menuju Makkah yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Makkah pada 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar. Dia menetap di Makkah selama delapan bulan dan menghasilkan karya berjudul “Makkah”. Namun akhirnya, pada bulan Agustus Snouck dipaksa keluar dari Makkah oleh konsul Prancis. Dia pulang dengan empat ekor unta yang membawa barang-barang yang dikumpulkan selama mukim disana. Yang disesalkan adalah bahwa perintah untuk meninggalkan  Makkah bertepatan dengan awal musim Haji. Padahal risalah doktor yang pernah ditulisnya berkaitan dengan musim Haji, meskipun hanya berdasarkan pada sumber-sumber literatur, manuskrip-manuskrip, dan pengalaman orang yang berziarah kesana bukan atas dasar pengalamannya sendiri.
Snouck memulai kegiatan mengajarnya di Leiden dan Delf di Sekolah Calon Pegawai di Indonesia. Dengan meninggalnya A.W.T Joynboll tahun 1887, Snouck ditugasi menggantikan posisinya di Delf, namun Snouck lebih memilih mengajar bidang syari’at Islam di Universitas Leiden.  Sejak tahun 1889, Snouck memulai kegiatannya sebagai penasihat kolonial Belanda di Indonesia. Pertama kali ia menetap di Indonesia selama dua tahun, sebagai penasihat umum pemerintah kolonial Belanda dalam masalah Islam yang bertempat di Pulau Jawa. Pada Maret 1891 ia menjadi penasihat dalam bahasa-bahasa Timur dan Syari’at Islam bagi pemerintah kolonial Belanda, dan menetap di Aceh sejak tahun 1891-1892.
Pemikir lain yang mempengaruhi tokoh
Ds. J. Scharp (1756-1829), buyut (ayah kakeknya) dari pihak ibu, bisa dikatakan sebagai salah satu yang sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran Christiaan Snouck Hurgronje. Ds. J. Scharp, seorang orator ulung Rotterdam di zamannya. Pada 1824 berhasil menyelesaikan buku pelajaran Islam “Korte schets over Mohammed en de Mohammadanen. Hendleiding voor de kwekelingen van het Nederlandsche Zendelinggenootschap,” atau Sketsa Singkat tentang Muhammad dan Kaum Muslimin. Buku Pegangan bagi Para Siswa Perhimpunan Pengabar Injil Belanda. Buku ini menguraikan kelemahan ajaran Islam, disertai trik-trik melumpuhkan ajaran Islam. Selain karena pendidikan modern yang diperoleh di Leiden, pelajaran dari Ds. J. Scharp bisa dianggap sangat mempengaruhi pola pemikiran Christiaan Snouck Hurgronje sebagai orientalis kolonial di kemudian hari.
Abraham Kuenen, salah satu modernis Leiden yang dikenal sebagai ahli Penjanjian Lama, telah memberikan pelajaran kritik biblik atau kritik atas Kitab Suci kepada Christiaan Snouck Hurgronje. Kritik biblik yang menggunakan metode rasional menghasilkan pemikiran kontroversial dan kadang sangat bertentangan dengan ajaran agama yang dianut di kala itu. Akibat perjumpaan-perjumpaan dengan kaum modernis Lieden Christiaan Snouck Hurgronje menjadi salah satu pengikut fanatik rasionalisme Leiden. Ciri-cirinya adalah penolakan terhadap sesuatu yang irasional. Trinitas dan posisi Yesus sebagai anak Allah dalam ajaran Kristen (Katholik) ditolaknya karena dianggap bagian ajaran agama yang tak masuk akal.
Karya-karya Snouck Hurgronje
Karya ilmiah Snuck terbagi dalam dua jenis, yaitu karya dalam bentuk buku dan dalam bentuk makalah-makalah kecil. Di antara hasil karya besarnya ialah tulisannya tentang kota Makkah terdiri atas dua bagian, bagian pertama terbit di kota Den Haag pada tahun 1888 dan bagian kedua juga terbit di kota yang sama pada tahun 1889. Kemudian karyanya yang berjudul De Atjehers dalam dua bagian, bagian pertama terbit di Batavia (sekarang dikenal Jakarta) pada tahun 1893 dan bagian kedua di Leiden pada tahun 1894, Daerah Gayo dan Penduduknya dicetak di Batavia pada tahun 1903. Bagian kedua dari buku Makkah dan bagian pertama dan kedua dari buku De Atjehers sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya-karya dalam bentuk makalah adalah “Munculkan Islam”, “Perkembangan Agama Islam”, “Perkembangan Politik Islam”, dan “Islam dan Pemikiran Modern”. Semua makalah itu telah dikumpulkan oleh muridnya, A.J. Wensinck dengan judul Bunga Rampai dari Tulisan Christian Snouck Hurgronje, dalam enam jilid, jilid pertama tentang Islam dan sejarahnya, jilid kedua tentang syari’at Islam, jilid ketiga tentang Jazirah Arab dan Turki, jilid keempat tentang Islam di Indonesia, jilid kelima tentang bahasa dan sastra, dan jilid keenam tentang kritik buku, dan tulisan-tulisan lain daftar indeks, serta rujukan-rujukan.[3]
Banyaknya karya tulis Christiaan Snouck Hurgronje. Melalui karya-karyanya bisa diungkap alur-alur kekolonialnya dalam bentuk pemikiran-pemikirannya. Di antara karya tulis doktor pengikut modernis Leiden ini yang mudah dijumpai di perpustakaan kita adalah[4]:
1.      C. Snouck Hurgronje, The Holy War, Made In Germany, (New York and London: The Knickerbocker Press, 1915).
2.      C. Snouck Hurgronje, The Revolt in Arabia, (New York and London: The Knickerbocker Press, 1917).
3.      C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, (Jakarta: Bratara Karya Asara, 1 973).
4.      C. Snouck Hurgronje, Aceh, Rakyat & Adat Istiadatnya, (Jakarta: INIS, 1 873).
5.      C. Snouck Hurgronje, Mekka in the Latter, Het Mekkaansche Feest, terj. Supardi, Perayaan Mekah, (Jakarta: INIS 1989).
6.      E. Gobee dan C. Adiaanse (penyunting), Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1 936, Jilid I-XI, (Jakarta: INIS, 1990-1995).
Metode Pendekatan
Metode yang digunakan oleh Snouck Hurgronje dalam mengemban tugasnya untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat di Indonesia terutama Aceh adalah dengan pendekatan sosiologis dimana dia langsung berbaur kepada masyarakat guna mendapatkan apa yang ia cari. 

POKOK PEMIKIRAN DAN ANALISIS
Pokok-Pokok Pemikiran Tokoh
Arah pemikiran Snouck adalah Ia berpandangan liberal dan rasional. Dalam aliran pemikiran ini, agama hanyalah sekedar kesadaran etis yang ada pada setiap manusia. Ia beranggapan budaya Eropa memiliki superioritas kebudayaan sehingga interaksi antara agama Kristen dengan budaya Eropa adalah proses puncak perkembangan kebudayaan. Sedangkan kebudayaan lain – Islam dan budaya Timur – merupakan suatu bentuk “degenerasi” kebudayaan. Christian Snouck Hurgronje, orientasi studinya adalah membangun pandangan yang komprehensif tentang Islam sebagai Agama dan Budaya (bahasa dan literatur, sejarah, realitas sosial, agama).
Snouck menggalakkan pembukaan sekolah-sekolah misi dengan harapan agar penganut Islam secara berangsur beralih ke agama Kristen. Cara demikian ditempuh karena ratusan ribu penduduk merindukan pendidikan, tetapi mereka tidak menyukai pendidikan Kristen untuk anak-anak mereka. Aktivitas mereka pun didasarkan pada politik asosiasi karena ia berpendapat bahwa penyebaran sekolah-sekolah berpola Eropa merupakan satu-satunya sarana untuk mewujudkan impian, sekali pun hal itu dilakukan melalui sekolah-sekolah misi.[1]
Deislamisasi
Sesuai dengan tugasnya, Snouck merumuskan kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam. Ia membedakan Islam dalam arti “ibadah” dengan Islam sebagai “kekuatan sosial politik”. Ia membagi masalah Islam atas tiga kategori.
Pertama, dalam semua masalah ritual keagamaan atau aspek ibadah, rakyat Indonesia harus dibiarkan bebas menjalankannya. Snouck menyatakan bahwa pemerintah Belanda yang ”kafir” masih dapat memerintah Indonesia sejauh mereka dapat memberikan perlakuan yang adil dan sama-rasa sama-rata, bebas dari ancaman dan despotisme.
Kedua, sehubungan dengan lembaga-lembaga sosial Islam atau aspek muamalat, seperti perkawinan, warisan, wakaf, dan hubungan-hubungan sosial lain, pemerintah harus berupaya mempertahankan dan menghormati keberadaannya.
Ketiga, dalam masalah-masalah politik, Snouck menasihati pemerintah untuk tidak menoleransi kegiatan apa pun yang dilakukan kaum Muslim yang dapat menyebarkan seruan-seruan Pan-Islamisme atau menyebabkan perlawanan politik atau bersenjata menentang pemerintah kolonial Belanda. Dalam hal ini, Snouck menekankan pentingnya politik asosiasi kaum Muslim dengan peradaban Barat. Cita-cita seperti ini mengandung maksud untuk mengikat jajahan itu lebih erat kepada penjajah dengan menyediakan bagi penduduk jajahan itu manfaat-manfaat yang terkandung dalam kebudayaan pihak penjajah dengan menghormati sepenuhnya kebudayaan asal (penduduk).
Hubungan Snouck dengan Missi Kristen dan Penyamarannya
Adapun hubungan Snouck Hurgronje dengan misi kristenisasi, kembali pada asal usul lingkungan kelahirannya sendiri pada masa dia hidup dan belajar, serta fakultas tempat dia menimba ilmu. Dia adalah putra penganut gereja Protestan Calvinisme yang terkenal akan ajaran-ajaran  dan kekerasan teologinya, kemudian belajar teologi pada fakultas yang didirikan khusus untuk menyiapkan  para pendeta. Dia hidup pada masa Eropa menguasai sebahagian besar penduduk dunia, termasuk di dalamnya kaum Muslimin. Dia belajar bahasa Arab pada de Goeje, ilmuwan ulung yang memiliki sikap ilmiah obyektif dan mentalitas mulia, serta kesungguhan luar biasa dalam penelitian dan penerbitannya. Kenyataan itu menonjol pada muridnya, Van Fluton (w. 1902), dan keilmiahannya pada teks-teks yang diterbitkannya Miftah al-’Ulum oleh Al-Khawarizmi serta  Al-Mahasin wa Al-Adhdan yang dinisbahkan kepada Al-Jahiz dan lain-lain.[2]

Dukungan terhadap Snouck Hurgronje
Jendral Van Houts merupakan orang yang menugaskan Snouck Hurgronje untuk memantau keadaan dan perkembangan Islam di Indonesia. Demikianlah faktanya. Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin. Karena itu, Jendral tadi mendapat julukan Pedang Snouck yang ampuh karena keberhasilannya dalam memerangi umat Islam.
Di samping itu Snouck Hurgronje juga banyak membantu dalam pembinaan kader missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di seluruh wilayah jajahannya.
Pendapat HM Rasjidi ,bagi Rasjidi figur sosok Snouck Hurgronje justru merupakan teman ummat Islam Indonesia. Penilaian keliru terhadap Snouck itu, menurut Rasjidi disebabkan karena pada umumnya orang belum pernah membaca buku-buku karya orientalis tadi secara lengkap dan teliti. Sebagai cendekiawan yang sudah membaca seluruh karya Snouck Hurgronje secara tuntas, Rasjidi sampai pada kesimpulan, bahwa doktor (Snouck Hurgronje) tersebut pada hakekatnya adalah teman ummat Islam Indonesia.
Snouck, di kalangan orang Belanda sendiri dikenal sebagai seorang yang anti-zending dan anti-missi. Snouck pernah berpolemik dengan anggota parlemen Belanda yang menaruh simpati pada gereja.[1]
Kontra terhadap Snouck Hurgronje
Van Teijn yang menjabat sebagai Gubernur Aceh pada waktu itu melarang Snouck masuk Aceh. Van Teijn menyangka Snouck seorang sekutu bagi Aceh karena diketahui Snouck banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Aceh sewaktu di Mekkah.[2]
Ide dan cara yang diusulkan Snouck itu ditentang oleh pihak missionaris yang memang ditugaskan secara resmi oleh kerajaan Belanda ke Indonesia, sehingga terjadi polemik antara Snouck dengan anggota parlemen. Menteri Belanda Lohman, menuduh Snouck  sebagai orang yang menghalangi kristenisasi di Indonesia.
Analisis Pemakalah
Dilihat dari perpsektif sejarahnya, Snouck Hurgronje merupakan tokoh Orientalis yang kontemporer karena beliau lahir pada abad ke- 19 yang merupakan abad Modern dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan.
Sedangkan jika dilihat dari perspektif studinya, apa yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje adalah Islamic Studies karena beliau mampu untuk melepaskan dirinya dari Agamanya dan fokus pada apa yang dia ingin dapatkan. Serta melakukan semuanya dengan berbagai teori dan metode pendekatan.
Kontribusi tokoh, Snouck Hurgronje melakukan ini semua atas perintah pemerintahan Belanda yang didasari untuk menjajah dan menguasai Indonesia. Dan dari hasil yang didapatkan oleh Snouck diperolehlah kesimpulan yang menyatakan apabila ingin menguasai Indonesia terutama di Aceh ialah pisahkan pengaruh ulama terhadap masyarakat luas. Sehingga Belanda mampu mengambil kendali masayarakat pada waktu itu. Jadi menurut saya, Snouck Hurgronje hanya berpura-pura masuk Islam guna dapat diterima masuk ke wilayah Aceh dan dengan lancar melaksanakan inti misinya yang sebenarnya. Tidak ada keraguan bahwa Snouck pandai memainkan peran di hadapan istri dan anak-anaknya, seperti kepandaiannya memainkan peran di tengah kebanyakan umat Islam yang menganugerahkan kepadanya kecintaan lalu dikhianatinya sendiri.

Kesimpulan
Orientalis secara garis besar ada tiga kategori:
a. Mengabdi kepentingan penjajah.
b. Menjalankan misi Kristen/ Katolik.
c. Berupaya obyektif, tetapi ini sangat langka dan bahkan dimusuhi oleh dua kelompok lainnya.
Christian Snouck Hurgronje adalah orientalis Belanda terkemuka akhir abad 19 dan abad 20 (w 1936) yang menjadi penasihat khusus kolonial Belanda urusan (Islam) di Hindia Belanda. Snouck memang telah meninggal pada 1936. Meskipun sebegitu tegasnya untuk menghancurkan ulama dan Muslimin Aceh, namun Snouck tidak setuju kalau kristenisasi di Indonesia itu memakai cara-cara yang dilakukan missionaris selama ini. Snouck menyarankan agar kristenisasi dilakukan secara pendekatan dan sosialisasi budaya Eropa/ Belanda. Dengan cara pendekatan budaya itu menurut Snouck, umat Islam Indonesia tidak bereaksi, dan bahkan nantinya mereka masuk Kristen dengan sendirinya. Namun, semangat dan pemikirannya meninggalkan pengaruh besar di Indonesia. Ia telah memperlebar akses sekulerisasi dan Kristenisasi. Hingga kini, kedua hal ini menjadi tantangan dakwah terbesar umat Islam Indonesia. Wallahu a‘lam.
 


[1] Hartono Ahmad Jaiz. “Kristenisasi di Indonesia dan rekayasa Snouck Hurgronje”. Diakses pada tanggal 12 Januari 2013. http://nahimunkar.com/10352/kristenisasi-di-indonesia-dan-rekayasa-snouck-hurgronje/
[2] Nuryanto Dwisihyono, “Snouck Hurgronje, Siapa Dikau ?” diakses pada tangal 14 Januari 2013. http://elhaniev-cyberultimate.blogspot.com/2012/05/snouck-hurgronje-siapa-dikau.html
 



[1] Hurgronje Snouck. Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, diterjemahkan Soedarso Soekarno, dkk. Jilid X, (Jakarta INIS : 2000) hlm. 165-166

[2]Hartono Ahmad Jaiz. ”Kristenisasi di Indonesia dan Rekayasa Snouck Hurgronje”  di akses pada tanggal 12 Januari 2012 http://www.muslimdaily.net/opini/wawasanislam/kristenisasi-di-indonesia-dan-rekayasa-snouck-hurgronje-.html

 



[1] Referensi Makalah. Referensi Inspiratif. “Biografi Christian Snouck Hurgronje” diakses pada tanggal 11 Januari 2013 http://www.referensimakalah.com/2013/01/biografi-christiaan-snouck-hurgronje.html
[2] Badawi. Abdurrahman. Ensiklopedi Tokoh Orientalis. ( Yogyakarta LKiS : 2003 ). Hal. 183
[3] Badawi. Abdurrahman. Ensiklopedi Tokoh Orientalis. (Yogyakarta LKiS : 2003) . hal. 185-186
[4] Referensi Makalah. Referensi Inspiratif. “Biografi Christian Snouck Hurgronje” diakses pada tanggal 11 Januari 2013 http://www.referensimakalah.com/2013/01/biografi-christiaan-snouck-hurgronje.html
 




[1] W. Montgomery Watt, The Influence of Islam on Medieval Europe, (Edinburg: Edinburg University Press, 1972), hal. 74-77.
[2] Dr Qasim As-Samra’i, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M,  hal.  139.

Kamis, 18 April 2013

unsur-unsur dan peroses pembentukan opini publik

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Opini Publik merupakan aktifitas manusia yang muncul ketika ada seseorang yang atau tokoh yang dianggap lebih misalnya fakar ekonomi Indonesia. Ketika imformasi yang disebarkan melalui media maka akan muncul timbal balik, yang kemudian akan membentuk kekuatan untuk membahas atau menyelesaikan masalah yang di informasikan. Tentunya ada unsur-unsur yang menjadi  bagaimana proses bias terbentuknya opini publik tersebut sehingga bisa dikatakan opini publik.
1.2  POKOK PERMASALAHAN
Untuk memudahkan proses penjabaran dan penjelasan, makalah ini memilikibeberapa rumusan masalah, yaitu :

1.      Apa Sajakah Unsur-Unsur Opini Publik?
2.      Bagaimanakah Proses Pembentukkan Opini Publik?
3.      Factor-Faktor  apakah Yang Mempengaruhi Opini Publik?
4.      Bagaimanakah Opini Publik Jika Dilihat Dari Katagori Peristiwa?
1.3  TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah untuk mengetahui unsure-unsur opini publik, sebab yang menimbulkan opini publik, proses terbentuknya opini publik, hukum pembentukan opini publik, factor-faktor yang mempengaruhi opini publik, serta opini publik jika dilihat dari katagori peristiwa. Selain ini juga sebagai tugas kelompok dalam mata kuliah Opini Publik.


BAB II
PEMBAHASAN

II.1 UNSUR-UNSUR OPINI PUBLIK
1.      Belief/keyakinan
Kepercayaan terhadap sesuatu. Misalnya masyarakat akan percaya terhadap berita yang disampaikan oleh media massa.
2.      Attitude/sikap,
Apa yang sebenarnya dirasakan oleh seseorang. Misalnya masyarakat bersikap ingin tahu atau sebaliknya terhadap berita yang sampaikan oleh media massa.
3.      Persepsi
Proses memberi makna pada  sensasi ( apa yang ditangkap oleh alat indra) sehingga manusia mendapatkan pengetahuan yang baru. Misalnya ada suatu kejadian jatuhnya Pesawat Lion Air di Laut Bali, dari sini akan muncul berbagai macam persepsi yang akan membentuk Opini Publik.

II.2 UNSUR-UNSUR OPINI PUBLIK MENURUT PARA AHLI
a.       Kemungkinan pro dan kontra, sebelum mencapai konsesus;
b.      Melibatkan lebih dari seseorang ( misalnya, kelompok, masyarakat, dll)
c.       Dinyatakan; dan
d.      Mengadakan atau mungkin mengadakan tanggapan yang pro maupun yang kontra.
2.      Herbert Blumer telah menyelidiki opini publik dan segi sosiologi yaitu bahwa istilah publik digunakan untuk suatu kelompok orang.
a.       Dikonfrontasikan/dihadapkan pada suatu isu;
b.      memiliki perbedaan pendapat tentang isu; dan
c.       terlibat dalam diskusi mengenai isu tersebut.


Dari beberapa definisi yang dikemukakan, dapatlah disimpulkan intinya bahwa opini publik mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 
1.      Adanya suatu isu yang kontroversial.
2.      Adanya publik yang secara spontan terpikat pada masalah termaksud dan melibatkan diri di dalamnya, serta berusaha untuk memberikan pendapatnya.
3.      Adanya kesempatan untuk bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tadi oleh suatu publik.
4.      Adanya interaksi antara individu-individu dalam publik yang menghasilkan suatu pendapat yang bersifat kolektif dan di ekspresikan.[1]

II.3   JIKA KITA MELIHAT DARI UNSUR YANG MENIMBULKAN         OPINI PUBLIK:
1.                  Opini ini mulai terbentuk ketika adanya suatu masalah yang controversial, yaitu masalah lengahnya pengawasan paspampers dan juga tindakan paspampers yang justru menyalahkan orang lain (kakek tukang kebun).
2.                  Kemudian ketika peristiwa ini ramai di bicarakan oleh media massa, adanya publik yang merespon secara spontan karena terpikat pada masalah tersebut melibatkan diri dan berusaha untuk memberikan opininya. Publik kemudian ramai membicarakan peristiwa tersebut dan memberikan opini-opini yang mereka yakini dalam menyikapi permasalahan tersebut, opini-opini tersebut terus berkembang sehingga menjadi opini yang mempengaruhi persepsi masyarakat dalam menyikapi peristiwa tersebut.
3.                  Kesempatan untuk bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang controversial oleh publik. Ada masyarakat yang PRO dan KoNTRA menyikapi peristiwa kebobolan paspampres maka melalui interaksi antar individu maka akan menghasilkan suatu opini yang bersifat kolektif untuk diekspresikan.
II.4 PROSES PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK
Sosiolog dan ahli komunikasi Jerman, Ferdinand Tonnties, mengemukakan tiga tahap pembentukan opini publik berikut :
5.             Die Luftartigen position, yaitu posisi bagaikan angin yang dimana yang merupakan tahap dimana suatu masalah masih acak; tidak menentu; sebatas kabar angin.
6.             Die Fleissigen position, yaiu tahap pembicaraan mengenai suatu masalah mulai terarah untuk membentuk pola yang jelas. Pada tahap ini muncul pro dan kontra; isu bisa disetujui bisa juga tida.
7.             Die Festigen position, yaitu tahap yang dapat menyatukan pendapat anggota kelompok dari tahap-tahap sebelumnya. Adapun kesepakatan bagaimana seharusnya masalah diselesaikan.
Kemudian dari beberapa pendapat ahli, setidaknya ada empat tahap sebagai proses terbentuknya opini publik, yaitu :
1.      Ada isu yang perlu dipecahkan sehingga orang mencari alternative pemecahan, dan masalah tersebut sangat dirasakan relevan bagi kehidupan orang banyak.
2.      Isu tersebut relative baru hingga memunculkan kekaburan standar penilaian atau standar ganda sehingga memicu beberapa alternative yang memungkinkan terjadinya diskusi untuk pemilihan alternatif-alternatif yang ada.
3.      Dalam debat dan diskusi, kemudian diambil keputusan   yang melahirkan kesadaran kelompok. Dalam proses ini biasanya ada opinion leaders ( tokoh pembentuk opini) yang juga tertarik dengan isu tersebut, seperti pulitisi, akademisi, agamawan, dan tokoh masyarakat lainnya).
4.      Untuk melaksanakan keputusan, disusunlah program yang memerlukan dukungan yang lebih luas. Sehingga banyak keputusan dari diskusi pemilihan alternative, disengaja atau tidak diekspos media massa hingga informasi dan reaksi terhadap isi tersebut diketahui khalayak.
Setelah syarat dan proses terbentuknya opini publik terpenuhi. Kemunculan opini publik dapat direncanakan dan tidak direncanakan. Opini publik yang direncanakan merupakan salah satu dari kegiatan humas untuk merancangnya. Sehingga perencanaan, pengaturan, media target sasaran harus dipersiapkan. Selain itu, opini publik dirancang untuk mempengaruhi, merubah atau menolak opini yang sudah berkembang dimasyarakat. Sementara itu, oini publik yang tidak direncanakan muncul secara alamiah tanpa rekayasa. Media biasanya sekedar memberitahukan sesuatu peristiwa, karena publik menganggap isu tersebut penting, kemdian menjadi pembahasan diantara mereka. Setalah menjadi pembicaraan dimasyarakat, media massa member penekanan tertentu atas sebuah isi dan akhirnya menjadi opini publik.[2]
II.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OPINI PUBLIK
Opini publik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1.         Pendidikan
Pendidikan, baik formal maupun non formal, banyak mempengaruhi dan membentuk persepsi seseorang.Orang berpendidikan cukup, memiliki sikap yang lebih mandiri ketimbang kelompok yang kurang berpendidikan.Yang terakhir cenderung mengikut.
2.         Kondisi Sosial
Masyarakat yang terdiri dari kelompok tertutup akan memiliki pendapat yang lebih sempit dari pada kelompok masyarakat terbuka. Dalam masyarakat tertutup, komunikasi dengan luar sulit dilakukan.
3.         Kondisi Ekonomi
Masyarakat yang kebutuhan minimumnya terpenuhi dan masalah survive bukan lagi merupakan bahaya yang mengancam, adalah masyarakat yang tenang dan demokratis.

4.         Ideologi
Ideologi adalah hasil kristalisasi nilai yang ada dalam masyarakat. Ia juga merupakan pemikiran khas suatu kelompok. Karena titik tolaknya adalah kepentingan ego, maka ideologi cenderung mengarah pada egoisme atau kelompokisme.
5.         Organisasi
Dalam organisasi orang berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai ragam kepentingan. Dalam organisasi orang dapat menyalurkan pendapat dan keinginannya.Karena dalam kelompok ini orang cenderung bersedia menyamakan pendapatnya, maka pendapat umum mudah terbentuk.
6.         Media Massa
Persepsi masyarakat dapat dibentuk oleh media massa. Media massa dapat membentuk pendapat umum dengan cara pemberitaan[3]

II.6 Jika Kita Melihat Dari Wajah Opini Publik Maka Peristiwa Dapat   Dikategorikan Beberapa Macam :
1.      Opini Massa
Opini mengenai peristiwa tersebut dapat di kategorikan sebagai opini massa karena merupakan ungkapan-ungkapan, pandangan yang baru dan tidak terorganisir. Masalah ini menjadi perbincangan dalam masyarakat massa baik kalangan bawah, menengah maupun atas sehingga tidak terorganisir secara baik.

2.      Opini Kelompok
Opini ini juga bisa dikategorikan dalam opini kelompok karena pemberian dan penerimaan opini didalam kelompok social. Misalnya dalam kelompok kerja, dalam kelompok organisasi kemahasiswaan, dan lembaga pemerintahan.


3.      Opini Rakyat
Opini ini juga bisa disampaikan bukan melalui kelompok terorganisasi melalui kebebasan pribadi yang relative dalam tempat pemberian suara. Misalanya opini nya di sampaikan melalui surat pembaca di media massa, atau juga melalui telepon interactive yang di sediakan oleh metrotv misalnya, dapat juga berargumen melalui tulisan-tulisan lewat Blog dan media lainnya. Isu mengenai kebobolan dan kesalan paspampers menjadi masalah yang sangat banyak di perbincangkan oleh banyak pihak.[4]


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Setelah saya tuliskan makalah yang berjudul unsur-unsur opini publik serta proses pembentukan opini publik. Saya dapat menyimpulkan bahwa opini publik memiliki beberapa unsur, yang pertama Belief/keyakinan, kedua Attitude/sikap,dan ketiga Persepsi. Setelah adanya unsur-unsur ini akan terbentuknya suatu permasalahan/isu yang di cetuskan oleh seorang fakar tertentu kemudian akan muncul suatu tanggapan dari masyarakat. Bisa juga permasalahan yang ada langsung di rasakan oleh masyarakat. Tetapi pasti ada pro dan kontra di dalam suatu opini yang di pengaruhi oleh beberapa faktor .misalanya pendidikan, kondisi ekonomi, ideology, media massa. Organisasi, dan kondisi sosial. Alur terbentuknya opini publik juga di mulai dari pernyataan setelah ada pernyataan akan ada pro dan kontra terhadap pernyataa (kontroversi), kemudian reaksi, dari reaksi akan menimbulkan intensitas, dan menciptakan gagasan baru kemudian sikap.
Jika kita melihat dari wajah opini publik maka peristiwa dapat dikategorikan beberapa macam diantaranya :
1.    Opini Massa
2.    Opini Kelompok
3.    Opini Rakyat




DAFTAR PUSTAKA

http://eltorf.blogspot.com/2011/11/argumentasi-terhadapkesalahan.html diakses     pada tanggal 3 April 2013 jam 14.30 WIB
http://kancahkreatif.blogspot.com/2011/10/opini-publik.html diakses pada tanggal 3 April 2013 jam 19.00 WIB
http://sisil-masterpiece.blogspot.com/2010/09/opini-publik.html diakses pada          tanggal 7 April 2013 jam 16.00 WIB
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/skom4103/skom4103b/materi2.swf dikases pada tanggal 17 April 2013 jam 19.30 WIB


[1] http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/03/karakteristik-opini-publik.html
[2] http://www.ut.ac.id/html/suplemen/skom4103/skom4103b/materi2.swf
[3]http://kancahkreatif.blogspot.com/2011/10/opini-publik.html

Selasa, 16 April 2013

Pengertian, Tujuan dan Fungsi Public Relations

1 komentar

PUBLIC RELATION

2.1. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Public Relations

2.1.1. Pengertian Public Relations
Pada hakekatnya Public Relations ini merupakan metode komunikasi yang meliputi berbagai teknik komunikasi. Dimana didalam kegiatannya terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara suatu badan / perusahaan dengan publiknya. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Public Relations merupakan suatu fungsi management. Disini diciptakan suatu aktifitas untuk membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi suatu lembaga/ perusahaan disuatu pihak dengan public dipihak lain.

Berikut ini beberapa pengertian dari public relations :
Menurut Public Relations News ( Bettrand R Canfield, 1964, hal 4) “Public Relations is the management function which evaluates public attitudes, identifies the polieses and procedures of public interest and executes a program of action to earn public understanding and acceptance” (Public Relations adalah fungsi manajemen dimana manajemen mengevaluasi perilaku masyarakat, mengidentifikasi dan mencari tahu minat masyarakat kemudian menyusun program dan melaksanakannya untuk menciptakan pengertian di masyarakat).

Lembaga Public Relations di Amerika Serikat mendefinisikan : Public Relations adalah “Usaha yang direncanakan secara terus menerus dengan sengaja guna membangun dan pengertian timbal – balik antara organisasi dan masyarakatnya”.

Sedangkan menurut The British Institute Of Public Relations (Teguh Meinanda, 1989 : 36) : Public Relations adalah “Keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya”.

2.1.2 Tujuan dan Fungsi Public Relations
Tujuan dari public relations adalah mewujudkan hubungan yang harmonis atau menciptakan opini public yang favorable baik internal maupun eksternal.

Adapun fungsi dari Public Relations menurut Bettrand R. Canfield ( 1964 : 6 ) adalah sebagai berikut :
a. Mengabdi kepada kepentingan umum
Jika tidak untuk kepentingan publik baik itu internal maupun eksternal, maka tidak mungkin akan tercipta suatu hubungan yang menyenangkan. Sebaliknya suatu badan / perusahaan akan dapat sukses apabila segala tindakannya adalah sebagai pengabdian kepada kepentingan umum.

b. Memelihara komunikasi yang baik
Seorang pimpinan yang melakukan kegiatan Public Relations akan berhasil di dalam kepemimpinannya, apabila ia ikut bergaul dengan para karyawannya. Ia harud melakukan kegiatan komunikasi bukan saja dalam hubungan dinas tetapi juga diluar dinasnya. Misalnya dengan mengadakan pertandingan olahraga, kegiatan anjangsana dan lain – lain.

c. Menitik beratkan kepada moral dan tingkah laku yang baik
Seorang pemimpin yang baik dalam tingkah lakunya akan menitik beratkan kepada moralitas, ia juga akan mempunyai wibawa apabila tidak cacat moral dan tingkah lakunya. Ia harus menjadi teladan bagi bawahannya.

2.2 Peran dan Tahapan Komunikasi dalam Public Relations

2.2.1 Peran Public Relations
Peran seorang Public Relations sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi / perusahaan. Public Relations adalah sebagai Jembatan antara perusahaan dengan publik atau antara manajemen dengan karyawannya agar tercapai Mutual Understanding (saling pengertian) antara kedua belah pihak. Public Relations bertindak sebagai komunikator ketika manajemen berhubungan dengan para karyawan.
Adapun peran Public Relations menurut Dozier & Broom (20 : 2000) antara lain :
a. Penasehat Ahli ( Expert Prescriber )
Seorang praktisi Public Relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (Communicator Fasilitator ).

b. Fasilitator Komunikasi ( Communication Fasilitator )
Dalam hal ini, praktisi Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal mendengar apa yang diinginnkan dan diharapkan oleh publiknya

c. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah ( Problem Solving Process Fasilitator )
Peranan praktisi Public Relations dalam pemecahan masalah persoalan Public Relations ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat ( adviser ) hingga mengambil rindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.

d. Teknisi Komunikasi ( Communication Technician )
Peranan communications technician ini menjadikan praktisi Public Relations sebagai journalist in recident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan of communication in organization.

2.2.2 Tahapan Komunikasi dalam Public Relations
Dalam Public relations terdapat hubungan komunikasi dengan pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Dalam kegiatan komunikasi tersebut terdapat beberapa tahapan, Cultip & Center membagi tahapan komunikasi ini menjadi empat, adapun tahapan – tahapan tersebut adalah :
1. Fact – Finding
Tahapan ini merupakan tahapan dalam pencarian fakta mengenai situasi dan pendapat public terhadap kegiatan suatu perusahaan / lembaga. Dalam hal ini apakah terjadi hal – hal yang menghambat atau menunjang kegiatan perusahaan / lembaga tersebut. Disini dilakukan analisa – analisa yang mengarah kepada :
a. Bagaimana sikap kerja para karyawannya.
b. Faktor apa saja yang disenangi ataupun tidak disenangi oleh para karyawannya.
c. Mengadakan perbaikan – perbaikan sesuai dengan keinginan para karyawannya, tetapi tidak merugikan perusahaan / lembaga yang bersangkutan.
d. Menantikan saat untuk mengadakan perbaikan – perbaikan itu agar supaya kedua belah pihak mendapat keuntungan atau menikmati suasana kerja yang baik.

2. Planning and Programing
Apabila telah diperoleh fakta pada tahapan fact – finding, maka pada tahapan selanjutnya dibuat perencanaan mengenai langkah–langkah, perumusan tujuan dan perincian waktu secara teratur. Dalam tahapan ini menurut Cultip & Center membutuhkan :
a. A searching look backward.
b. A deep look inside.
c. A wide look around.
d. A long, long look a head.

Pada perencanaan ini dikenal pula istilah perumusan 7 C, yaitu suatu penilaian terhadap hubungan komunikator dengan komunikan, perumusan itu adalah :
a. Credibility, yaitu nilai kepercayaan public terhadap pihak komunikator.
b. Context, yaitu factor yang menghubungkan isi dari pesan dengan kenyataan pada lingkungannya.
c. Content, yaitu makna dan arti yang terdapat dalam pesan yang dapat dipahami oleh komunikan.
d. Clarity, yaitu factor kesedrhanaan dan kejelasan tidaknya suatu perumusan di dalam pesan yang disampaikan.
e. Continuity dan Consistency, yaitu factor ada tidaknya pertentangan atau perbedaan dalam pesan.
f. Capability, yaitu factor kemampuan untuk memberikan penjelasan.

3. Communication
Tahapan ini adalah tahapan penyampaian. Damana pada tahapan ini sangat menentukan satu planning dan programming. Sebab jika penyampaiannya dilakukan secara berlainan, maka dapat menimbulkan efek yang berlainan. Pada tahapan ini menurut Joseph Klepper perlu diperhatikan tiga factor yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
a. Group membership.
b. Selective processes.
c. Predispotion.

4. Evaluation
Pada tahapan yang terakhir ini dilakukan perbaikan – perbaikan untuk menciptakan hubungan yang harmonis diantara public suatu badan / lembaga / perusahaan.

2.3 Public Relations Internal
Pengertian Public Internal adalah Publik yang berada didalam perusahaan seperti karyawan. Karyawan tersebut bisa terdiri dari manager, secretary, supervisor, receptionist dan lain sebagainya. Menurut Cutlip & Center ( 1982 : 290 ), pengertian publik internal atau lebih dikenal dengan sebutan Employee relations yaitu sekelompok orang bekerja ( karyawan / pegawai ) didalam suatu perusahaan.

Karyawan sebuah perusahaan merupakan aset yang cukup penting, karena karyawan itu sendiri terkait dengan status atau kedudukan yang saling berbeda antara satu dengan yang lainnya tapi pada prinsipnya memiliki keinginan yang sama terhadap pimpinan atau perusahaan.

Menurut Frank Jefkins dalam bukunya Public Relations (1995), “Hubungan publik internal sama pentingnya dengan hubungan publik eksternal, karena kedua bentuk hubungan publik tersebut diumpamakan sebagai dua sisi mata uang yang mempunyai arti sama dan saling terkait satu sama lain“.

Dengan demikian dapat juga diartikan bahwa hubungan kepegawaian ( Employee Relations ) tersebut tidak dilihat dalam pengertian yang sempit, yaitu sama dengan hubungan industrial yang hanya menekankan pada unsur dua proses “produksi & upah“ yang terkait dengan “lingkungan kerja“ pengertiannya lebih dari itu, hubungan tersebut dipengaruhi oleh hubungan komunikasi internal antar karyawan dengan karyawan lainnya atau hubungan karyawan dengan manajemen perusahaan yang efektif (Cutlip & Center, 1982, hal. 292).

Efektifitas hubungan publik internal memerlukan suatu kombinasi antara :
1. Sistem manajemen yang sifatnya terbuka ( open management ).
2. Kesadaran pihak manajemen terhadap nilai dan pentingnya memelihara komunikasi timbal balik dengan para karyawan.
3. Kemampuan Public Relations yang memiliki keterampilan manajerial ( manager skill ) serta berpengalaman.

Pelaksanaan program Employee Relations ( hubungan publik internal ) yang tepat bagi suatu perusahaan merupakan sarana teknis atau suatu kegiatan metode komunikasi yang memiliki kekuatan mengelola sumber daya manusia demi pencapaian tujuan perusahaan. Kemudian pada akhirnya hal tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas perusahaan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Bentuk produk, barang atau pemberian jasa yang ditawarkan kepada publik sasarannya.

Keberhasilan pelaksanaan program kerja Public Relations Internal dalam membina bagian employee relations tersebut, akan menghasilkan kualitas teknis produk barang yang lebih baik dan dapat memberikan kepuasan terhadap pemakai barang atau pelanggan serta peningkatan citra.

Hubungan Public Internal ( internal Public Relations ) dalam suatu perusahaan, terdiri dari :
1. Hubungan dengan pekerja atau karyawan ( employee relations ) pada umumnya beserta keluarga karyawan pada khususnya.
2. Hubungan dengan pihak jajaran pimpinan dalam manajemen perusahaan ( management relations ).
3. Hubungan dengan pemilik perusahaan atau pemegang saham ( stockholders relations ).

Dengan demikian Public Relations Internal berupaya melakukan hubungan komunikasi yang efektif melalui suri tauladan yang dimulai dari pihak atasan ( pimpinan ).

Selain itu Public Relations internal juga menjadi corong informasi dari para karyawan kepada pihak perusahaan atau sebaliknya, mampu bertindak sebagai mediator dari perusahaan ( pimpinan ) terhadap para karyawan, mampu mempertemukan atau menyampaikan tujuan – tujuan dan keinginan – keinginan dari pihak karyawan kepada perusahaan atau sebaliknya (Colin Coulson – Thomas, 2005, hal. 14).

2.4 Hubungan Antara Manajemen dan Karyawan
Pengertian hubungan antara manajemen dan karyawan didasarkan pada suatu kontrak atau perjanjian kerja. Dalam kontrak tersebut berbagai hal yang terkait dengan hak – hak dan kewajiban – kewajiban yang harus dilaksanakan. Hak – hak karyawan yang tercantum dalam kontrak antara lain adalah gaji, bonus, hak cuti, kenaikan gaji dan lain – lain.

Berkaitan dengan tugas, hubungan antara manajemen dan karyawan umumnya merupakan hubungan formal yang kaku dan birokratis. Terdapat beberapa jenjang dan jalur yang membatasi komunikasi sehingga menjadi kurang efektif dan panjang. Hal ini seringkali menimbulkan salah pengertian dan penafsiran karyawan terhadap kebijakan yang diambil oleh manajemen karena kurang efektifnya hubungan tersebut.

Dalam rangka mengatasi kesenjangan hubungan manajemen dan karyawan, dapat dilakukan hubungan secara informal. Hubungan informal dapat mereduksi jenjang birokrasi dan jalur komunikasi, sehingga hubungan komunikasi dapat berlangsung secara lebih cepat, tepat dan efektif. Jalur informal dapat dilakukan melalui pertemuan informal antara manajemen dan karyawan (Colin Coulson – Thomas, 2005, hal. 14).

Saat ini perkembangan dalam dunia kerja telah menimbulkan masalah yang serius dalam hubungan antara manajemen dan karyawan. Karena jumlah karyawan meningkat, maka garis hubungan antara manajemen dan karyawan menjadi semakin renggang. Itu semua disebabkan karena komunikasi yang kurang baik, sehingga pada akhirnya menimbulkan kesalahpahaman anta kedua belah pihak dan karyawan merasa tidak memiliki cukup kesempatan untuk menyatakan pendapatnya.

Untuk membina hubungan yang lebih baik perusahaan harus membentuk Public Relations untuk merekrut, memilih, menempatkan, melatih karyawan, mendengar keluhan, merundingkan perjanjian serta memberikan upah dan keuntungan.

Pada dasarnya dalam memelihara hubungan yang baik antara manajemen dan karyawan meliputi :
1. Upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja ( quality of work life ) yang lebih baik.
2. Bagaimana manajemen dan Public Relations mempengaruhi kualitas kehidupan kerja.
3. Bagaimana peran Public Relations dalam berkomunikasi.

Kompetisi global yang semakin tajam, mendorong perusahaan untuk menyempurnakan berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas kehidupan karyawan. Para manajer dan Public Relations proaktif memberikan temuan – temuan baru untuk meningkatkan produktivitas karyawan.

Salah satu segi hubungan antara manajemen dengan karyawan lazim dikenal dengan istilah “hubungan karyawan“. Pemeliharaan hubungan karyawan dalam rangka keseluruhan proses manajemen Pubic Relations berkisar pada pemikiran bahwa hubungan yang serasi dan harmonis antara manajemen dan karyawan yang terdapat dalam perusahaan perlu ditumbuhkan, dijaga dan dipelihara demi kepentingan bersama dalam perusahaan.

Hubungan kerja merupakan hubungan kerjasama antara semua pihak yang berada dalam proses produksi disuatu perusahaan. Penerapan hubungan kerja merupakan perwujudan dan pengakuan atas hak dan kewajiban karyawan sebagai partner manajemen yang menjamin kelangsungan hidup dan keberhasilan suatu perusahaan. Semua pihak baik manajemen, karyawan dan pemerintah pada dasarnya mempunyai kepentingan atas keberhasilan dan keberlangsungan hidup suatu perusahaan.

Perusahaan dan karyawan mempunyai kepentingan yang sama atas kelangsungan hidup dan keberhasilan suatu perusahaan. Kegagalan perusahaan berarti kehilangan tempat kerja dan sumber penghasilan bagi pengusaha dan karyawan. Atas dasar persamaan kepentingan tersebut, maka saran – saran dan pendapat karyawan untuk membangun perusahaan perlu didengar.Demikian pula dalam berbagai tingkat pengambilan keputusan, karyawan atau wakil perlu diikut sertakan. Didorong oleh adanya kepentingan yang sama antara manajemen dan karyawan dalam memajukan perusahaan dimungkinkan akan muncul hubungan kerja yang baik antara kedua belah pihak, serta terciptanya suasana kerja yang nyaman.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com