Kamis, 14 Februari 2013

makalah humas (bekerja dengan media)

1 komentar

makalah humas (bekerja dengan media)

Kata Pengantar

            Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang maha esa, karena atas rahmat-Nya jualah, kami dapat menyelesaikan makalah tentang Media Kehumasan ini yang  lebih dikhususkan kepada pembahasan tentang bekerja dengan media. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan masukan dan kritik yang membangun yang dapat menjadikan makalah ini lebih lengkap dan lebih layak sebagai informasi.
            Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Ansori, M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah media Kehumasan yang telah berkenan memberikan informasi tentang materi yang akan kami bahas.
            Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan masukan dan penyempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini  dapat bermanfaat bagi para pembaca.


                                                                           Jambi,        Februari 2013
                                                                                            Penulis
 
 
                                                                                            Arjamudin
                                                                                            NIM.UR.110973

                                                             Bab I
Pendahuluan

Hubungan masyarakat yang sering kita kenal dengan humas atau dalam bahasa Inggris yakni Public Relation adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik, sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap individu/ organisasi seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program sebuah institusi dalam mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya-upayanya mempertahankan dan memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakat. Ketika berbicara mengenai keberadaan sebuah organisasi, maka eksistensi sebuah organisasi akan sangat tergantung pada Humas atau biasa disebut PR (Public Relations) dalam menciptakan citra positif dan pengertian antara organisasi dengan publiknya, karena ketika pengertian tersebut telah dicapai, maka apa yang menjadi tujuan organisasi akan dapat dicapai secara lebih efektif dan efisien.

Di dalam masyarakat sering kita jumpai hubungan masyarakat dengan media seperti wartawan. Salah satu yang ada dihumas adalah bekerja dengan media, dengan pemahaman dasar tentang hubungan yang kompleks antara praktisi public relation dengan wartawan. Kedua mitra ini mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling membutuhkan. Media merupakan sarana atau alat untuk menyampaikan informasi kepada publik, berbagai masalah yang berhubungan dengan masyarakat luas diberitakan oleh media. Segala pilihan media yang ada, akan memudahkan masyarakat untuk menikmati dan mengakses sesuai dengan kebutuhan masing-masing, termasuk mencari informasi yang berkembang secara cepat dan aktual. Banyak hal yang terdapat atau yang akan dibahas pada kerjasama sebuah humas dengan wartawan atau media dan bagaimana hubungan keduanya.


Bab 2
Pembahasan

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai masalah yang berhubungan dengan masyarakat atau humas. Humas atau public relaton ini sendiri mempunyai pengertian yakni kegiatan komunikasi dalam organisasi yang berlangsung dua arah atau timbale balik. Posisi humas merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh suatu manajemen organisasi. Sasaran humas adalah public internal dan eksternal, dimana secara operasional humas bertugas membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya dan mencegah timbulnya rintangan psikologis yang mungkin terjadi diantara keduanya.
Salah satu kerja sama yang dijalin humas adalah dengan media (pers) atau wartawan hubungan keduanya sangatlah saling membutuhkan. Hubungan keduanya bagaikan hubungan dua orang teman atau mitra yang saling memerlukan, membutuhkan, dan interdependen. Dengan demikian, tidak satu pihak pun yang boleh menganggap dirinya lebih tinggi dan penting daripada mitranya. Mereka bekerja berdasarkan mandat masyarakat. Ada dua hal pokok isi mandat masyarakat yang diembankan kepada lembaga pers, yang diaktualisasikan wartawan, yakni hak tahu dan hak memberitahukan. Wartawan wajib mewujudkan isi kedua hak masyarakat tersebut. Agar hubungan kemitraan ini dapat berjalan dengan baik dan tujuan mereka dapat diwujudkan secara optimal, yakni melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka ada beberapa hal yang sangat penting dilakukan tiap atau praktisi humas, yakni:
1. Hubungan humas dengan wartawan bersifat profesional. Selain melayani masyarakat, humas wajib melayani wartawan secara profesional, Dimata wartawan humas harus berwibawa, wibawa yang alamiah, bukan sok berwibawa atau wibawa yang dibuat-buat agar disegani wartawan. Humas yang profesional pastilah cerdas, berpengetahuan sangat luas (terpelajar), disiplin, dan benar-benar menguasai bidang pekerjaannya. Ia juga sanggup menganalisis dengan tajam tiap berita di media massa. Dengan demikian, humas mampu memberikan masukan yang baik terhadap para pengambil keputusan di instansi di mana ia bekerja. Humas yang benar-benar mampu bekerja secara profesional, termasuk menjaga jarak yang pas dengan mitranya, pastilah dhormati, disegani, dan dipercayai wartawan.

2. Humas harus mengetahui seluk-beluk dunia wartawan atau jurnalisme, termasuk irama kerja wartawan di tiap jenis media massa serta fungsi media massa. Ini berarti humas mesti tahu nilai-nilai berita, tenggat waktu laporan wartawan, peta media massa baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, Kode Etik Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran, Undang-undang No. 40/1999 tentang Pers, Undang-undang No. 32/2002 tentang penyiaran, kekuasaan atau kekuatan media massa, visi dan missi media massa yang beredar/beroperasi di wilayahnya, dan sebagainya.

3. Humas juga harus atau perlu memiliki kemampuan praktik jurnalisme, yakni meliput, wawancara, memotret, menulis berita langsung, berita khas (feature news), dan artikel opini. Selain memperkaya pengetahuan dan praktik melalui bacaan dan pelatihan jurnalisme, humas juga perlu sekali-sekali magang di media massa, terutama di media massa besar.

4.      Humas harus mampu mengenal wartawan dan redaktur secara personal. Ini sangat penting, agar humas mampu berkomunikasi dengan efektif dengan mitranya. Humas harus tahu tingkat atau jenis komunikasi yang lazim digunakan wartawan yang sedang berbicara dengannya. Sesuai latar belakang budaya daerah dan tingkat pendidikan, tiap wartawan pastilah memiliki gaya berkomunikasi masing-masing. Ada wartawan yang lazim menerapkan komunikasi konteks rendah (menyatakan sesuatu secara halus atau “berputar-putar”, tak langsung ke tujuan). Tapi ada pula wartawan yang biasa menerapkan komunikasi konteks tinggi (berbicara blak-blakan atau berterus terang, langsung ke tujuan). Humas harus mampu berbahasa dengan baik sesuai bahasa dan tingkat bahasa (abstraksi) wartawan yang sedang dihadapi. Dengan demikian, humas dapat menjalin hubungan insani (human relations) secara efektif dengan mitranya.

5. Humas jangan bersikap diskriminatif terhadap wartawan/media massa. Semua wartawan profesional (muda atau tua, kaya atau miskin, berpenampilan keren atau “kumuh”) dan media massa (besar atau kecil, lokal atau nasional, baru atau lama, partisan atau independen) harus diperlakukan dengan adil (tak ada “anak emas” dan “anak tiri”). Hal terpenting, humas wajib melayani hanya wartawan yang benar-benar wartawan. Yang dimaksud melayani di sini adalah memberikan fakta-fakta atau informasi penting yang dibutuhkan oleh khalayak media massa di mana wartawan yang bersangkutan bekerja. Ini berarti humas tak boleh merusak idealisme atau profesi wartawan dengan memberikan uang atau yang sejenisnya. Humas sama sekali tak berurusan dengan pemenuhan kesejahteraan wartawan. Ini adalah urusan pihak manajemen perusahaan media massa di mana wartawan itu bekerja.

Posisi antara humas dan wartawan setara, namun peran atau fungsi, motif dan tujuannya berbeda. Keduanya mempunyai perbedaan atara fungsi dan tugas, seperti halnya dibawah ini:






dari gambar di atas dapat terlihat bahwa humas dan media atau wartawan mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda. Tetapi walaupun begitu sangatllah erat hubungan kedunya yang dapat membuat kedua mitra ini berhubungan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Di dalam sebuah humas haruslah bekerja dengan media untuk memenuhi segala kebutuhan lembaganya yang berhubungan dengan media. Dapat dilihat beberapa tujuan humas menjalin hubungan dengan media seperti, Pengenalan (awareness), Mencari publisitas (publicity), Peluncuran suatu produk (product launching), Kegiatan kampanye (campaign), Mempengaruhi opini publik (public opinion) dan Menetralisir berita negative


2.1 Bekerja dengan Media
            Saran terbaik ketika bekerja dengan media adalah berikanlah apa yang dibutuhkan oleh para wartawan, baik itu dalam hal isi, bentuk, dan bahasa yang mereka inginkan. Sebagai contoh, praktisi public relation yang bekerja dengan klien berteknologi tinggi atau perusahaan yang baru berdiri, tahu bahwa karyawan khususnya mereka yang bekerja di majalah perdagangan dan industri akan berkeinginan untuk memverifikasi klaim tentang produk dari ahli atau analis luas. Dengan demikian, praktisi public relations yang pintar akan bersiap-siap untuk memberikan daftar para ahli atau analis yang dapat dihubungi kepda wartawan majalah atau keuangan. Pendekatan ini merespons permintaan media dengan baik dan jujur. Dengan cara ini, praktisi public relations yang bekerja membangun hubungan saling percaya dengan wartawan tertentu, dapat meredam banyak potensi yang bersifat antagonis. Di dalam menjalin hubungan biasanya terdapat beberapa prinsip agar hubungannya dapat terjalin dengan baik. Beberapa prinsip yang dapat diperhatikan di dalam menjalin hubungan dengan media. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memahami dan melayani media.
Dengan berbekal semua pengetahuan di atas, seorang praktisi humas akan mampu menjalin kerja sama dengan pihak media, ia juga akan dapat menciptakan suatu hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan.

2. Membangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya. 
Parapraktisi humas harus senantiasa siap menyediakan atau memasok materi-materi yang akurat di mana saja dan kapan saja hal itu dibutuhkan. Hanya dengan cara inilah ia akan dinilai sebagai suatu sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya oleh para jurnalis. Bertolak dari kenyataan itu maka komunikasi timbal-balik yang saling menguntungkan akan lebih mudah diciptakan dan dipelihara.

3. Menyediakan salinan yang baik.
Misalnya saja menyediakan reproduksi foto-foto yang baik, menarik, dan jelas. Dengan adanya teknologi input langsung melalui komputer (teknologi ini sangat memudahkan koreksi dan penyusunan ulang dari suatu terbitan, seperti siaran berita atau news release), penyediaan salinan naskah dan foto-foto yang baik secara cepat menjadi semakin penting.
4. Bekerja sama dalam penyediaan materi. 
Sebagai contoh, petugas humas dan jurnalis dapat bekerja sama dalam mempersiapkan sebuah acara wawancara atau temu pers dengan tokoh-tokoh tertentu.
5. Menyediakan fasilitas verifikasi.
 Para praktisi humas juga perlu memberi kesempatan kepada para jumalis untuk melakukan verifikasi (membuktikan kebenaran) atas setiap materi yang mereka terima. Contoh konkretnya, para jurnalis itu diizinkan untuk langsung menengok fasilitas atau kondisi-kondisi organisasi yang hendak diberitakan.
6.      Membangun hubungan personal yang kokoh.
Suatu hubungan personal yang kukuh dan positif hanya akan tercipta serta terpelihara apabila dilandasi oleh keterbukaan, kejujuran, kerja sama, dan sikap saling menghormati profesi masing-masing.
Beberapa prinsip di atas akan membuat sebuah hubungan terjalin dengan baik. Berikut juga beberapa bentuk kerjasama humas dan media yaitu kontak resmi dan tidak resmi. Yang termasuk ke dalam kontak resmi yakni, dapat dikontrol oleh pihak humas karena pengendalian berita sepenuhya di pihak humas, Publikasi pemberitaan tidak menyimpang jauh dari tema pembicaraan dan tujuan yg disiapkan humas. Sedangkan Kontak tidak resmi meliputi, Pemberitaan/publikasi tdk dpt dikontrol penuh oleh humas karena yg mempunyai inisiatif membuat dan mengendalikan berita adalah pers.


2. 1.1 Bersiap Bertemu Media
            Untuk bekerja dengan media perlu adanya tatap muka antara kedua mitra tersebut. Pelajarilah situasi berikut:
            Sebagai direktur public relation dari sebuah universitas swasta besar, Anda memutuskan untuk mengadakan sebuah konferensi pers untuk mengumumkan instansi sebuah usaha pengumpulan dana penting. Seorang alumnus terkemuka telah mendonasikan dana sebesar 55 juta untuk memulai kegiatan promosi. Anda tahu bahwa liputan terakhir dai media telah mengkritisi masalah ketersediaan anggaran universitas, kenaikan uang kuliah, penyerbuan ke lingkungan sekitar sekolah yang telah menggusur orang miskin, dan mengikis basis pajak komunitas.
Dalam kasus di atas, sebuah pertemuan dengan media membawa tantangan kritis terhadap organisasi. Beberapa organisasi memandang tantangan tersebut sebagai masalah yang harus diselesaikan, namun akan lebih konstruktif untuk memandang tantangan tersebut sebagai sebuah peluang. Publisitas tidak dapat menggantikan kerja yang baik atau tindakan yang efektif, namun publisitas dapat memperoleh perhatian public kepada masalah, ide, atau produk tertentu. Dia dapat menyorot kepribadian organisasi, kebijakan, atau kinerjanya. Publisitas dapat membuat sesuatu atau seseorang dikenal publik
            Setiap kontak media adalah peluang untuk memperoleh umpan balik,  untuk menyampaikan berita Anda,  dan untuk menciptakan respons yang positif kepada organisasi Anda.


2.1.2 Strategi Persiapan
            Sebelum siapapun dalam organisasi bertemu denan media, langkah pertama adalah mengembangkan seperangkat prilaku. Bertemu dengan media adalah sebuah peluang dan bukan sebuah masalah sehingga sikap defensif adalah sikap yang tidak tepat, khususnya jika sasaran Anda adalah untuk memperoleh nilai atau harga.
            Diantara sikap yang harus dijaga dalam wawancara dengan para wartawan adalah ramah, bekerja sama, dan terbuka. Pada saat yang sama, pewawancaraharus menyadari bahwa warawan seharusnya tidak menjadi orag yang dikontrol. Pewawancara perlu memutuskan apa yang perlu dibicarakan dan kemudian sampaikanlah, tidak masalah dengan apa yang mungkin ditanyakan wartawan. Sebelum melihat lebih jauh bagaimana setiap individu dapat berinteraksi dengan sukses dengan media, kita akan membahas bagaimana organisasi dapat mempublikasikan diri mereka secara efektif.


2.1.3 Riset dan Perencanaan dalam Media Relation
            Pepatah lama mengatakan “ sukses adalah ketika peluang bertemu dengan persiapan yang matang” menemukan kebenarannya ketika diterapkan dalam dunia publisitas. Riset berarti mengenali dengan siapa Anda berurusan dan apa ketertarikan mereka. Spesialis media relations terutama berurusan dengan manajemen mereka dan media sehingga mereka dapat saling mengerti antara kedua belah pihak.
            Setelah memahami organisasi, praktisi, public relations harus mempelajari media spesifik dimana mereka akan bekerja dengan media tersebut. Riset dibidang ini terdiri dari usaha mencari tahu minat dan kebutuhan orang-orang yang berafiliasi dengan berbagai outlet media. Mayoritas berita dan publisitas organisasi didasarkan pada rencana media. Rencana media mendeskripsikan keadaan yang akan dihadapi organisasi, menjelaskan tujuan dan sasaran, mengidentifikasi audiensi utama, serta menspesifikasikan pesan kunci dan saluran media. Daya tarik publisitas adalah kredibilitas. Oleh karena publisitas muncul di media berita dalam bentuk cerita ketimbang iklan sehingga publisitas menerima apa yang dianggap sebagai pengesahan pihak ketiga dari editor. Oleh karena editor telah menilai kelayakan materi publisitas, publik mungkin tidak akan menganggapnya sebagai sebuah iklan.
            Publisitas dapat dibagi menjadi dua kategori spontan dan terencana. Kecelakaan besar, ledakan, demonstrasi, atau kejaduan yang tidak terencana lainnya menciptakan publisitas spontan. Ketika peristiwa itu terjadi, media berita akan sangat ingin mencari tahu penyebabnya, keadaannya, dan siapa orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Sementara publisitas spontan tidak harus bermakna negatif sehingga hal ini harus direncanakan dalam perencanaan berkelanjutan seperti halnya perencanaan untuk keadaan darurat. Disisi lain, publisitas terencana tidak berasal dari situasi darurat. Publisitas ini merupakan hasil dari usaha sadar untuk menarik perhatian publik terhadap suatu isu, peristiwa, dan organisasi. Waktu tersedia untuk merencanakan peristiwa dan bagaimana hal itu dikomunikasikan ke media.

2.2 Elemen Program Media Relation
            Metode yang digunakan untuk mengkomunikasikan sebuah peristiwa dapat mempengaruhi dampaknya. Tiga cara atau metode langsung yang ditujukan untuk menjangkau media cetak adalah melalui rilis, diskusi (percakapan, panggilan telepon, pertemuan, atau wawancara), atau konferensi berita. Media elektronik dapat dijangkau melalui video rilis berita (video news release—VNRs), wawancara satelit, atau tur ke media satelit. Organisasi nirlaba juga dapat menjangkau media elektronik denagn iklan layanan social (public services announcements—PSA’s).
            Jenis yang paling umum dari rilis publisitas adalah rilis berita. Setiap peristiwa yang terjadi dalam organisasi, baik pada skala local, regional, atau nasional yang memiliki nilai berita adalah peluang untuk publisitas. Terkadang, sebuah berita tidak menyenangkan bagi organisasi. Namun, bahkan pada kasus ini, rilis tetap dperlukan. Sebuah berita akan tetap keluar jika ada sesuatu yang salah. Peran dari praktisi public relations adalah penyampaian semua dimensi beritanya secara lengkap dan melaporkan tindakan korektif yang dilakukan.

A.                Macam-macam Rilis
Ø                  Fitur Bisnis
Rilis adalah satu bentuk penting dari publisitas dan satu jenis yang paling dihargai oleh banyak organisasi. Selain itu, fitur bisnis merupakan fitur srtikel yang dibuat oleh media professional, pelaku bisnis, perdagangan, atau publikasi bisnis.
Ø                  Fitur layanan konsumen
Banyak surat kabar dan majalah, termasuk juga beberapa stasiun TV, memublikasikan atau menyiarkan materi yang dirancang untuk membantu para konsumen. Informasi tentang produk dan jasa untuk konsumen dapat menjadi sarana untuk publisitas produk dan lembaga.
Ø                  Fitur keuangan
Kebanyakan surat kabar, stasiun TV, serta beberapa majalah dan stasiun radio, menyampaikan fitur artikel tentang berita keuangan. Selain itu, sekarang cukup banyak penerbitan yang khusus bergerak di bidang ini. Publisitas ini sangat efektif, khususnya dalam membina hubungan dengan para pemegang saham.
Ø                  Fitur produk
Publisitas produk sering dapat menjadi cukup bernilai untuk dan digunakan oleh editor berita. Kisah tentang produk harus diarahkan langsung ke bagian surat kabar, majalah, program radio, dan televise yang spesialis di bidang informasi produk untuk konsumen. Para editor yang menggunakan jenis materi ini tertarik cirri-ciri produk, komposisi, tampilan, dan aplikasi produk yang dapat membantu para konsumen dalam membuat keputusan untuk membeli sebuah barang atau tidak. Selain mengeksploitasi fitur unik sebuah produk, praktisi public relation juga dapat mengadakan acara khusus yang bernilai berita untuk mendramatisasi dan menggambarkan tampilan produk bagi perwakilan media.
Ø                  Fitur majalah bergambar
Meningkatnya popularitas jurnalisme foto telah membuat semakin banyak surat kabar dan majalah bersikap reseptif dengan foto yang luar biasa serta bernilai berita yang dapat mengomunikasikan pesan dengan sendirinya. Foto-foto seperti itu sering digunakan hanya dengan satu tulisan di bawahnya tanpa dilengkapi dengan berita. Oleh karena itu foto-foto unik dan berkualitas tinggi ini, sulit bagi editor untuk merencanakannya sehingga foto memberi peluang emas untuk publisitas . seorang manajer public relations harus terus menerus bersiap siaga dengan foto-foto yang mungkin bernilai cukup baik untuk tujuan ini.
Ø                  Iklan layanan publik (public service announcements—PSAs).
Organisasi nirlaba kadang dapat menggunakan iklan layanan public untuk publisitas. PSA adalah sebuah spot singkat yang mungkin televisi dan radio merasa wajib untuk menyiarkannya untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen dengan “kepentingan publik” sebagai syarat pembaharuan izin mereka.


2.2.1 Mengemas Rilis Berita       
            Kemasan dalam bentuk media kit sering dapat meningkatkan kemungkinan bahwa informasi dari rilis benar-benar akan digunakan akan digunakan oleh editor. Media kit, kadang disebut dengan pers kit,termasuk kumpulan rilis publitas, kertas berisi fakta, brosur, foto, atau informasi lainnya yang ditutup dalam sehelai amplop yang berkover organisasi. Walaupun kemasan atraktif dapat menarik perhatian editor yang sibuk, yang mejanya dipenuhi dengan berbagai rilis, namun desain bukanlah hal yang utama dalam menyusun media kit. Hal yang lebih penting adalah rilis berita, foto, kertas berisi fakta, informasi latar serta fitur lainnya yang dikemas dalam bentuk yang rapid an dapat dibaca sehingga memungkinkan editor untuk dapat memilih informasi yang ingin dia gunakan.
            Media kit tidak harus mahal. Rilis dapat dikemas dalam bentuk yang sederhana, tetapi memilki desain yang baik dengan satu atau dua warna folder, selama mereka dapat beradaptasi dengan kebutuhan semua media. Peran dasar dari media kit adalah untuk menyediakan informasi kepada editor yang tanpa adanya media kit, mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk melakukan riset. Pers kit dapat memberikan layanan kepada media dengan menghemat waktu riset serta dapat mengidentifikasi informasi penting bagi konsumen dan lainnya.


2.2.2 Mendistribusikan Rilis Berita
            Saat ini, rilis berita lebih mungkin sampai ke tujuan melalui e-mail ketimbang  via faks, surat, atau diantar langsung. Kenyataannya, memang kebanyakan rilis berita dikirim baik melalui e-mail atau faks langsung ke editor atau ke orang yang dituju oleh rilis tersebut. Broadcast fax, yaitu bahan yang dikirim computer ke semua mesin faks yang dibuat computer Anda, semakin sering  digunakan oleh departemen media relation.


2.2.3 Mengorganisasikan Konferensi Pers
            Oleh karena dianggap sebagai komponen dasar dari media relations, konferensi pers saat ini mengambil posisi di belakang pendistribusian informasi melalui internet dan komponen multimedia. Sekarang mari asumsikan bahwa konferensi pers harus tetap diadakan. Konferensi pers atau konferensi berita merupakan kesempatan terstruktur untuk merilis berita secara simultan kepada semua berita. Konferensi seharusnya hanya digunakan jika beritanya sangat penting serta ketika interaksi diperlukan untuk memperoleh pemahaman tentang topikkontroversial dan kompleks.
            Untuk kesempatan yang jarang tersebut, dimana konferensi berita cocock dilakukan. Petunjuk berikut dapat membantu memastikan agar konferensi berjalan dengan sukses.
1. Rencanakan kegiatan dengan hati-hati
            Undanglah semua perwakilan media yang mungkin memiliki ketertarikan jauh hari sebelum konferensi dilaksanakan untuk memberi waktu yang cukup  bagi editor untuk mengirim wartawan dan fotografernya.
2. Persiapkanlah pimpinan organisasi atau yang lainnya untuk diwawancarai
            Pastikan bahwa mereka memahami topik yang akan didiskusikan. Bantu mereka dalam mengantisipasi manjawab pertanyaan yang sulit. Sarankan mereka untuk bicara sejujurnya. Jika mereka tidak tahu jawaban sebuah pertanyan , mereka harus mengatakan apa adanya dan berusaha untuk mencari tahu. Jika jawaban atas pertanyaan dianggap informasi pribadi, mereka harus mengatakan bahwa informasi tersebut bukan untuk konsumsi publik.
3. Koordinasikan pertemuan dengan praktisi public relations yang menjabat sebagai direktur dan stage manager.
            Buatlah pertemuan menarik, namun jangan ambil alih pekerjaan dari perakilan media. Usahakan untuk menjaga hubungan dengan ramah dan profesional walaupun dicerca dengan pertanyan pedas. Jangan pernah terlalu mengontrol pertemuan, kecuali jika sesuatu berjalan tidak seperti direncanakan.

2.3 Penggunaan video

Video menjadi metode utama dalam menyampaikan berita organisasi pada media elektronik tahun 1980-an. Pemotongan anggaran untuk operasional TV berita dan berkembangnya teknologi penyiaran baru telah berkontribusi pada meningkatnya penggunaan teknologi video oleh praktisi public relation.
Selain internet, masih ada empat jenis penggunaan video yang umum :

1.      Rilis berita video
adalah kemasan berita pendek yang menyampaikan sebuah berita dari sdutu pandang organisasi. VNR yang paling popular berdurasi sekitar 90 detik, namun ditemani oleh materi B-roll (video latar) dengan audio pada saluran terpisah. Rilis berita video merupakan akset video berkualitas layak siar.

2.      Media kit elektonik
Mirip dengan media kit konvensional, kecuali mereka termasuk VNRs, barangkali versi yang lebih lama dari yang biasa dan memberi materi latar yang lebih banyak. Mereka juga memasukkan bahan cetak latar yang khas seperti foto, rilis berita, brosur, makalah latar, kertas tentang fakta, dan informasi terkait lainnya.

3.      Konferensi pers satelit
Memberi peluang pada wartawan TV untuk berpartisipasi dalam sesi Tanya jawab melalui satelit dengan perwakilan organisasi. Organisasi sering membuat presentasi yang diikuti dengan konferensi pers. Beberapa partisipan mungkin berada di studio dengan fasilitas uplink interaktif. Namun sebagian yang lain menonton melalui satelit feed dan bertanya melalui telepon.

4.      Tour media satelit
Menyediakan wawancara individual dengan seorang tamu di studio yang jauh. Setiap wawancara adalah ekslusif dan sebagian yang disiarkan secara langsung. Dengan cara ini, tamu mungkin dapat muncul pada dua atau tiga lusin stasiun TV dalam sehari.

Kebanyakan isi VNR dibuat dengan sedikit atau bahkan tanpa pengeditan, dan muncul ke pemirsa seakan-akan hal tersebut adalah laporan berita.

2.4 Peran teknologi dalam public relation

Saat ini media relations memperoleh pekerjaan tambahan dan agak berbeda dengan sebelumnya, dengan menjangkau public target yang lebih kecil dan tersegmentasi atau segmen audiensi yang dijangkau melalui media massa, spesialis, dan terkontrol oleh organisasi. Pada skala besar, lingkungan media relations yang baru ini merupakan hasil dan pengaruh dari internet, pengaruh jumlah outlet media yang terus tumbuh, serta media social yang baru.

2.4.1 Internet
Internet telah mengubah setiap ruang kerja wartawan di seluruh dunia untuk beroperasi selama dua puluh empat jam. Ketika menulis di public relations Strategist, Michael Lissauer mendeskripsikan dunia media yang baru ini dari sudut pandang MSNBC dan CNN. MSNBC.com dapat mendatangkan audiensi harian lima kali lebih banyak seperti yang dilakukan orang tuanya, program berita TV kabel MSNBC.CNN.com menghasilkan sekitar 2,7 juta pengunjung berbeda setiap hari dibandingkan dengan masing-masing hanya 4.500 dan 5.000 pemirsa yang menonton berita jam 5 sore dan jam 11 malamnya.
            Para wartawan memperoleh isyarat awal berita mereka dan latar informasi berita tersebut dari internet serta sering mengecek situs Website ketika menulis berita tersebut, khususnya untuk berita berskala luas. Akibatnya, organisasi bekerja dengan giat, mengantisipasi pertanyaan wartawan terkait pedoman yang ada di situs Web. Biasanya, hal ini termasuk informasi tentang sejarah dan latar belakang perusahaan, informasi produk, ceramah para pimpinan perusahaan, dan file rilis berita. Update situs web secara regular merupakan sebuah keharusan.

Biogosphere telah meledak didalam internet akhir-akhir ini. Menurut Pew internet and american life project (2006), saat ini ada 57 juta orang Amerika yang membaca blog. Hal yang sama menariknya bagi public relations adalah semakin banyak wartawan yang membaca blog. Menurut Euro RSCG magnet and columbia university survey of media (2005), 51% jurnalis membaca blog secara reguler dan 28% dari mereka bergantung pada blog ini dalam membuat laporan berita.

v     Peran para Blogger
Banyak para blogger menganggap dirinya sebagai komentator berita hari itu. Banyak dari mereka yang memandang peran mereka dalam posisi berlawanan dengan media utama. Banyak para blogger bukanlah para profesional dan mereka tidak memperoleh bayaran apapun dari tulisan yang mereka buat. Para blogger sesungguhnya ingin menjadi bagian dari audiensi sasaran tulisan mereka. Oleh karena alasan tersebut, sebagai seorang profesional public relatians, anda perlu mendekati parablogger sebagaimana halnya pendekatan dalam situasi sosial, yaitu perkenalkan diri anda dan kenali mereka. Para ahli blogging menyarankan agar para blogger diposisikan secara unik karena beberapa alasan, seperti blog mempresentasikan sebuah peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk menargetkan pesan anda. Para blogger juga mempengaruhi media tradisional. Para wartawan dan editor membaca blog untuk mencari ide. Blogger juga akan mempengaruhi sebuah pencarian di web. Banyak link yang terlibat di dalam blogging dan hal ini akan mempengaruhi tingkat pencarian dari situs web lain yang signifikan bagi organisasi anda.

v     Lima aturan emas untuk memperoleh blogger relations yang efektif
Ø      Kerjakanlah pekerjaan rumah anda.
   Jika blog sesuai dengan berita perusahaan, mungkin anda sudah familier    dengan   isinya . jika tidak usahakanlah anda familier dengan topik yang anda bahas dan yang lebih penting dengan persfektif yang mereka punya. Dengan cara ini, anda tidak hanya lebih mungkin memperoleh respons positif dari para blogger.
Ø      Bergabunglah dengan klub
Blogsphere adalah sebuah komunitas dan agar anda terlibat secara penuh di dalamnya, anda harus ikut serta  di dalamnya. Partisipasi dalam komunitas ini dapat dilakukan dalam beberapa bentuk.
Ø      Bawa sesuatu ke pesta
Kehancuran bisa terjadi pada seseorang profesional public relations adalah mereka tidak terlibat dalam hubungan dua arah yang benar. Anda harus menyediakan waktu untuk mengenali para blogger dan mencari tahu topik apa yang menarik untuk mereka.
Ø      Kejujuran adalah kebijakan terbaik
Blogger sering memandang diri mereka berbeda dengan media tradisional dan sangat kritis dengan setiap usaha media yang tidak terbuka dan tidak jujur.
Ø      Buat hubungan jangka panjang
Profesional public relations online yang paling berhasil memiliki hubungan dengan blogger yang telah mereka pelihara sejak lama. Jika anda telah melakukan kerja anda secara tepat dan bergaul dengan para blogger dengan baik, maka anda dapat berharap respons positif ketika anda berusaha mempromosikan pesan anda secara online.

2.4.2 Blog, podcasts dan RSS Feeds
            Blog, podcast dan RSS Feeds adalah penggunaan teknologi terbaru yang telah didapat oleh para konsumen dan telah membawa keberhasilan dalam kerja public relations sebagai alat untuk berkomunikasi dengan audiensi target. Dari ketiga penggunaan teknologi tersebut, blog adalah yang paling banyak digunakan audiensi.

a. Blog.
Blog adalah journal online berbasis web yang digunakan orang untuk membicarakan topic, pandangan, atau ide tertentu (lihat spotlight 9.2). Penggunaan blog adalah cara terbaik dalam menjangkau audiensi  yang sangat berminat dengan topic tertentu.
            Namun, selain efektif, blog juga memiliki lubang perangkat. Sebagai contoh, di antara tugas public relations karyawan adalah menentukan bagaimana membuat para pekerja tetap sejalan dengan posisi organisasi. Pertanyaannya kapan seharusnya seorang karyawan mengidentifikasi dirinya dengan perusahaan? Beberapa organisasi memasukkan kebijakan seperti itu dalam buku petunuk karyawannya.

b. Podcasts.
Podcasts (salah satu metode untuk mempublikasikan file suara di internet serta mengizinkan pengguna untuk berlangganan dan memperoleh file audio terbaru secara otomatis) menyediakan fasilitas audio dan videocast untuk digunakan di kemudian hari. Awalnya fasilistas ini digunakan untuk sebagai alat untuk memindahkan music ke peralatan, mobile yang disebut dengan iPods. Namun, podcast juga dapat disampaikan dengan cara lain melalui Web. Sebagai contoh, jaringan televise besar sekarang memiliki podcasts untuk berita mereka. Kebanyakan podcasts  digunakan untuk mengarsipkan berita sehingga nanti dapat digunakan oleh konsumen mereka.

3. RSS.
Really Simple Syndication (RSS) adalah teknologi yang memungkinkan orang mendistribusikan dan menampilkan isi web-nya. RSS menyediakan berita atau informasi lain yang dapat ditempatkan dan diakses oleh pemilik situs Web di situsnya. Isinya dikontrol oleh apa yang diputuskan oleh pemilik situs untuk didistribusikan. Isinya dapat digunakan untuk komunikasi internal atau eksternal karena RSS member cara yang bagus untuk sebuah organisasi agar tetap menjaga hubungan dengan partner, consumen dan karyawannya dengan cara memberikan informasi tentang apa yang sedang terjadi dengan organisasi.

2.4.3 Wiki Intranet, Ekstranet dan Situs Web
            Tidak ada satupun aplikasi teknologi yang telah mengubah media relations lebih dari Internet serta penggunaan wiki, intranet, dan ekstranet. Wiki ada adalah situs web interaktif yang memperkenankan orang dengan hak keamanan untuk memposting dan mengubah isi postingannya. Wiki memengaruhi kedua intranet dan ekstranet karena wiki bersifat interaktif, sementara intranet dan ekstranet tidak. Istilah intranet mengacu pada system berbasis computer untuk berkomunikasi dengan karyawan dan semua orang dalam lainnya, sementara ekstranet mengacu pada proses yang sama untuk menjangkau audiensi eksternal seperti para investor, konsumen, pimpinan komunitas dan pemerintahan, dan lainnya. Situs web media relations adalah sebuah lokasi yang didedikasikan untuk semua jenis informasi bagi semua pihak yang berkepntingan dengan media. Di dalamnya ada berita terkini, termasuk informasi yang mengarahkan wartawan pada sumber informasi, position statement, kalender kegiatan, arsip pers rilis, arsip ceramah, serta materi tentang latar perusahaan dan pimpinannya.
Para ahli menyarankan organisasi dengan anggaran media relations terbatas untuk menggunakan juru bicara andal, membuat identitas grafik yang kuat mengabaikan konferensi pers, membuat berita dengan sudut ekslusif untuk media yang berbeda, dan secara umum, buatlah suasana menyenangkan di situs media anda.
Satu alasan mengapa strategi media berbasis internet menjadi begitu popular adalah karena ketersediaan dan bantuan dari penempatan media internet serta adanya layanan tracking  di internet.

3. Penutup

3.1 Kesimpulan
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Humas atau public relaton ini sendiri mempunyai pengertian yakni kegiatan komunikasi dalam organisasi yang berlangsung dua arah atau timbale balik. Salah satu kerja sama yang dijalin humas adalah dengan media (pers) atau wartawan hubungan keduanya sangatlah saling membutuhkan. Hubungan keduanya bagaikan hubungan dua orang teman atau mitra yang saling memerlukan, membutuhkan, dan interdependen.
      
Daftar Pustaka

Lettimore, dkk. 2010. Public Relation Profesi dan Praktik. Jakarta: Salemba Humanika

www.google.com 2011. “bekerja dengan Media”. Humas-Hubungan-Pers-Media-Relations.ppt. Di akses tanggal 9 maret 2011

www.google.com. 2011. “humas dan media”. http://publikasi.umy.ac.id/index.php/komunikasi/article/viewFile/1850/826. Diakses tanggal 9 maret 2011
 
Sumber : http://ekariahasanabundbund.blogspot.com/2011/05/makah-humas-bekerja-dengan-media.html
 

Selasa, 05 Februari 2013

KEUNGGULAN PUBLIC RELATION/HUMAS BUAT "KITA"

0 komentar

keunggulan kuliah jurusan PR/HUMAS

banyak sekali orang-orang yang tak mengetahui betapa penting nya Humas,masih banyak perusahaan/di pemerintahan Daerah yang tidak memiliki Divisi Humas.saya menegas kan bahwa Perusahaan/Lembaga yang tidak memiliki Divisi Humas itu adalah Perusahaan Jadul dan tak kan bisa berkembang,karena kalu kita lihat di Ngeri paman sam sana Humas sangat-sangat di berdayakan,dan Humas pun menempati 10 besar Gaji terbesar,tapi di indonesia sendiri?cumu bebebarapa persen saja orang menganggap Humas itu penting.

    mungkin banyak orang/organisai/lembaga yang tidak mengetahui apa manfaat dari Humas.di bawah ini saya mengutip dari buku nya Frank Jeffkins seorang praktisi PR/Humas yang sangat terkenal di dunia PR.
dia menyebutkan :
  1. Manajemen krisis
Tidak ada satu pun perusahaan yang bebas krisis. Minimal mempunyai resiko mengalami krisis. Maka tim PR yang ada di dalam struktur perusahaan bertugas untuk menyelesaikan krisis yang terjadi dengan serangkaian persiapan dan kesiapan tersendiri.
  1. Penerbitan Desk-top
PR bertanggung jawab atas jurnal internal komputer perusahaan. Oleh karena itu, biasanya perusahaan memiliki bagian internal relations untuk mengurusi hal tersebut.
  1. Identitas perusahaan
Identitas perusahaan merupakan sebuah wahana komunikasi bagi segenap karyawan perusahaan, para pemilik saham, para agen atau dealer, konsumen, lembaga-lembaga keuangan dan berbagai pihak lainnya yang punya kepentingan dan kaitan dengan organisasi. Tim PR adalah bagian yang bertanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara identitas sebuah perusahaan.
  1. Hubungan parlementer
PR wajib menjalin hubungan parlementer yang baik. Hubungan parlementer dalam konteks ini adalah hubungan-hubungan antara berbagai organisasi dengan pihak pemerintah, para anggota parlemen, serta para birokrat dari berbagai departemen dan instansi pemerintah. Legistator atau regulator adalah publik yang sangat penting dalam keberlangsungan usaha suatu perusahaan.


  1. PR financial
Sebagai sebuah perusahaan yang telah go public, maka perusahaan memerlukan tim PR yang melakukan kegiatan-kegiatan PR di seputar peristiwa keuangan atau bisnis dalam rangka mendukung rencana perusahaan kliennya untuk memasuki bursa saham atau dalam rangka mendukung peluncuran laporan keuangan tahunan.

demikian lah dia menjelaskan manfaat -manfaat dari PR.

Jadi menurut Saya ilmu Kehumasan Bukan hanya bisa di pakai untuk menjadi bekerja di perusahaan/Lembaga tetapi jauh dari itu kita bisa memanfaat kan ilmu kehumasan apabila kita menjadi seorang pengusaha.
tetapi di indonesia sendiri banyak sekali orang yang berada di divisi humas suatu organisasi/perusahaan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Humas.memang untuk menjadi seorang Humas tidak harus orang ilmu komunikasi.tetapi lebih penting lagi dia mengerti terlebih dahulu apa itu Humas?apa fungsi dari humas?banyak orang berfikir pekerjaan seorang Humas hanyalah sebatas Juru bicara/tukang Liput.pemikiran yang demikian sangat lah salah.karena untuk menjadi seorang Humas yang paling utama harus kaya dengan ide-ide yang cemerlang,seorang humas bukan hanya menjadi Juru bicara,kita harus tahu bahwa 70% pekerjaan humas adalah tulis menulis,30 persen nya lagi baru lah berpidato.

Selasa, 29 Januari 2013

KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

0 komentar

KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

KOMUNIKASI VERBAL
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.
Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti. Kalimat dalam bahasa Indonesia Yang berbunyi ”Di mana saya dapat menukar uang?” akan disusun dengan tatabahasa bahasa-bahasa yang lain sebagai berikut:
· Inggris: Dimana dapat saya menukar beberapa uang? (Where can I change some money?).
· Perancis: Di mana dapat saya menukar dari itu uang? (Ou puis-je change de l’argent?).
· Jerman: Di mana dapat saya sesuatu uang menukar? (Wo kann ich etwasGeld wechseln?).
  • Spanyol: Di mana dapat menukar uang? (Donde puedo cambiar dinero?).
Tatabahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa. Sintaksis merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata.
Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.
  1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
  2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
  3. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:
· Mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu sampai pada kemajuan teknologi saat ini.
· Berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, dan atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang di sekitar kita.
· Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami mengenal diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.
Keterbatasan Bahasa:
· Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.
Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi buka realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak.
Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb.
· Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.
Kata-kata bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeda pula. Kata berat, yang mempunyai makna yang nuansanya beraneka ragam*. Misalnya: tubuh orang itu berat; kepala saya berat; ujian itu berat; dosen itu memberikan sanksi yang berat kepada mahasiswanya yang nyontek.
· Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa terikat konteks budaya. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda, tidak mengherankan bila terdapat kata-kata yang (kebetulan) sama atau hampir sama tetapi dimaknai secara berbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketiaka mereka menggunakan kata yang sama. Misalnya kata awak untuk orang Minang adalah saya atau kita, sedangkan dalam bahasa Melayu (di Palembang dan Malaysia) berarti kamu.
Komunikasi sering dihubungkan dengan kata Latin communis yang artinya sama. Komunikasi hanya terjadi bila kita memiliki makna yang sama. Pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideologi yang sama; pendeknya mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isomorfisme total.
· Percampuranadukkan fakta, penafsiran, dan penilaian.
Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta (uraian), penafsiran (dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan dengan kekeliruan persepsi. Contoh: apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat seorang pria dewasa sedang membelah kayu pada hari kerja pukul 10.00 pagi? Kebanyakan dari kita akan menyebut orang itu sedang bekerja. Akan tetapi, jawaban sesungguhnya bergantung pada: Pertama, apa yang dimaksud bekerja? Kedua, apa pekerjaan tetap orang itu untuk mencari nafkah? .... Bila yang dimaksud bekerja adalah melakukan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah, maka orang itu memang sedang bekerja. Akan tetapi, bila pekerjaan tetap orang itu adalah sebagai dosen, yang pekerjaannya adalah membaca, berbicara, menulis, maka membelah kayu bakar dapat kita anggap bersantai baginya, sebagai selingan di antara jam-jam kerjanya.
Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.
___________________
* Makna dapat pula digolongkan ke dalam makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya (faktual), seperti yang kita temukan dalam kamus dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Makna konotatif adalah makna yang subyektif, mengandung penilaian tertentu atau emosional (lihat Onong Effendy, 1994, h. 12)
Daftar Pustaka:
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.
KOMUNIKASI NONVERBAL
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.
Klasifikasi pesan nonverbal.
Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:
  • Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan taksenang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk; b. Wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.
Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.
Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.
  • Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.
  • Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
  • Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.
  • Pesan sentuhan dan bau-bauan.
Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.
Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan –menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.
Fungsi pesan nonverbal.
Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:
  1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.
  2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
  3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
  4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
  5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.
Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Nonverbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Yaitu:
a. Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatamuka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.
b. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal.
c. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.
d. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.
e. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.
f. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).
Daftar pustaka:
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com