Jumat, 30 November 2012

Profil Jurusan Ilmu Komunikasi (IAIN STS JAMBI)

0 komentar



A. VISI PROGRAM STUDI

Menjadi Pusat Unggulan Pendidikan, Penelitian dan penerapan Ilmu Komunikasi menuju UNHAS sebagai World Class University.

b. MISI PROGRAM STUDI

1. Menyelenggarakan pendidikan ilmu komunikasi dalam jenjang sarjana
2. Mengembangkan riset yang berorientasi pada penemuan, penerapan, pengembangan dan pengayaan khasanah Ilmu Komunikasi dan teknologi informasi .
3. Menyelenggarakan pelatihan profesional dan aktivitas komunikasi lainnya yang aplikatif untuk membantu masyarakat sebagai wujud dari University Social Responsibility (USR)

c. TUJUAN PROGRAM STUDI

Tujuan Umum:
Menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual (cognitive, afektif, psychomotoric) dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Komunikasi serta menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Tujuan Khusus :
1. Menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, jujur, santun, memiliki kepekaan dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.
2. Menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan di bidang ilmu, seni, dan teknologi komunikasi .
3. Menguasai prinsip-prinsip dasar pemecahan masalah dalam bidang komunikasi yang dihadapi masyarakat dengan berbasis ilmu pengetahuan, seni dan teknologi secara kreatif dan inovatif

SASARAN PROGRAM STUDI

Menghasilkan sarjana ilmu komunikasi yang terampil, kreatif dan inovatif dalam memenuhi kebutuhan kerja dibidang jurnalistik, Public Relations, dan penyiaran

PROFIL LULUSAN PROGRAM STUDI

Profil lulusan jurusan/program studi komunikasi dikelompokkan berdasarkan 3 konsentrasi sebagai berikut:
1. Konsentrasi Jurnalistik:
  • Wartawan
  • Manager Media
  • Fotografer
  • Konsultan Media
  • Pendidik/Trainer
  • Penelitian
2. Konsentrasi Public Relations:
  • PR/Humas
  • Public Speaker/juru bicara
  • Bagian Pemasaran/promosi
  • Event Organiser
  • Publisher
  • Pendidik/Trainer
  • Peneliti
  • Konsultan PR
3. Konsentrasi Penyiaran:
  • Jurnalist Radio.TV
  • Penyiar Radio/TV
  • Radio/Video Editor
  • Script Writer
  • Programmer
  • Producer
  • Pendidik/Trainer
  • Peneliti

D. KOMPETENSI LULUSAN

I. Kompetensi lulusan Konsentrasi jurnalistik:
a. Kompetensi Utama
  1. Mampu memanfaatkan IPTEKS dalam bidang jurnalistik surat kabar, radio, dan TV dan internet, serta beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi dalam penyelesaian masalah jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  2. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan spesialis dan mendalam di bidang-bidang jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  3. Mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan analisis informasi dan data, dan memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi dalam bidang jurnalistik surat kabar/radio/TV/internet.
  4. Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi dan individu dalam bidang jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
b. Kompetensi Pendukung
  1. Mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam merancang dan mengelola kegiatan jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  2. Mampu memecahkan permasalahan jurnalistik dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi.
  3. Menguasai konsep dan teori tentang jurnalistik serta mampu menerapkan konsep dan teori tersebut dalam mengelola lembaga dan kegiatan jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  4. Mampu menawarkan alternatif penyelesaian masalah prosedural untuk efektivitas dan efisiensi pengelolaan lembaga dan kegiatan jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  5. Menguasai metode dan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif dalam bidang jurnalistik surat kabar/radio/TV/Internet.
  6. Mampu menyusun telaahan (evaluasi) tentang kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam proses penyelenggaraan lembaga dan kegiatan jurnalistik.
  7. Mampu memanfaatkan informasi dan data dalam menentukan alternatif yang paling tepat dalam pemecahan masalah jurnalistik.
  8. Mampu mengelola lembaga dan kegiatan jurnalistik surat kabar/radio/TV dengan berpedoman pada nilai-nilai kejujuran, seimbang, adil dan demokratis baik secara individual maupun tim.
c. Kompetensi Lainnya
  1. Berpikir logis dan berstruktur berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan dalam bidang jurnalistik surat kabar, radio, dan TV.
  2. Terampil dalam mengelola lembaga dan kegiatan-kegiatan jurnalistik surat kabar, radio, dan TV.
  3. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum, etika, moral dan ketuhanan, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja yang tinggi dalam menyelenggarakan layanan kepada masyarakat yang terkait dengan bidang jurnalistik surat kabar, radio, dan TV,
II. Kompetensi lulusan Konsentrasi Public Relations
a. Kompetensi Utama
  1. Mampu memanfaatkan IPTEKS dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan Public Relations, serta beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi dalam penyelesaian masalah lembaga dan kegiatan Public Relation.
  2. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan spesialis dan mendalam dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan Public Relations serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural kelembagaan dan kegiatan Public Relations.
  3. Mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan analisis informasi dan data, dan memberikan petunjuk dalam memilih berbagai solusi alternatif dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan Public Relations .
  4. Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi dan individu dalam pengelolaan dan kegitaan Public Relations.
b. Kompetensi Pendukung
  1. Mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam merancang dan mengelola lembaga dan kegiatan Public relations baik pada instansi pemerintah maupun swasta.
  2. Mampu memecahkan permasalahan Public Relations dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi.
  3. Menguasai konsep dan teori tentang Public Relations dan mampu menerapkan konsep dan terori tersbut dalam mengelola lembaga dan kegiatan Public Relations.
  4. Mampu menawarkan alternatif penyelesaian masalah prosedural untuk efektivitas dan efisiensi pengelolaan lembaga dan kegiatan Public Relations.
  5. Menguasai metode dan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif dalam bidang Public Relations
  6. Mampu menyusun telaahan (evaluasi) tentang kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam prosespengelolaan lembaga dan kegiatan Public Relations.
  7. Mampu memanfaatkan informasi dan data dalam menentukan alternatif yang paling tepat dalam pemecahan masalah kelembagaan dan kegiatan Public Relations.
  8. Mampu mengelola lembaga dan kegiatan Public Relations dengan berpedoman pada nilai-nilai kejujuran, seimbang, adil dan demokratis baik secara individual maupun tim.
c. Kompetensi Lainnya
  1. Berpikir logis dan berstruktur berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan dalam bidang Public Relations.
  2. Terampil memanfaatkan teknologi dalam mengelola lembaga dan kegiatan-kegiatan Public Relations.
  3. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum, etika, moral dan ketuhanan, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja yang tinggi dalam menyelenggarakan layanan kepada masyarakat yang terkait dengan bidang Public Relations.
III. Kompetensi lulusan Konsentrasi Penyiaran
a. Kompetensi Utama
  1. Mampu memanfaatkan IPTEKS dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/ presentase acara/program radio dan TV, serta beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi dalam penyelesaian masalah lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/presentase.
  2. Menguasai konsep dan teori dalam bidang pengetahuan spesialis dan mendalam dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/presentasi acara/program radio dan TV, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural kelembagaan dan kegiatan penyiaran/reportase/presentasi.
  3. Mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan analisis informasi dan data, dan memberikan petunjuk dalam memilih berbagai solusi alternatif dalam pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/presentasi acara/program radio dan TV.
  4. Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi dan individu dalam pengelolaan dan kegitaan penyiaran/reportase/presentasi.
b. Kompetensi Pendukung
  1. Mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam merancang dan mengelola lembaga dan kegiatan Public relations baik pada instansi pemerintah maupun swasta.
  2. Mampu memecahkan permasalahan Public Relations dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi
  3. Menguasai konsep dan teori tentang kelembagaan dan kegiatan Penyiaran/reprtase/presentasi dan mampu menerapkan konsep dan terori tersebut dalam mengelola lembaga dan kegiatan tersebut.
  4. Mampu menawarkan alternatif penyelesaian masalah prosedural untuk efektivitas dan efisiensi pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/presentasi.
  5. Menguasai metode dan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif dalam bidang penyiaran/reportase/presentase.
  6. Mampu menyusun telaah (evaluasi) tentang kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam proses pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/ reportase/presentasi.
  7. Mampu menyusun telaah (evaluasi) tentang kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam proses pengelolaan lembaga dan kegiatan penyiaran/ reportase/presentasi.
  8. Mampu mengelola lembaga dan kegiatan penyiaran/reportase/ presentase acara/program radio dan TV dengan berpedoman pada nilai-nilai kejujuran, seimbang, adil dan demokratis baik secara individual maupun tim.
c. Kompetensi Lainnya
  1. Berpikir logis dan berstruktur berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan dalam bidang penyiaran/reportase/presentasi acara/program radio dan TV.
  2. Terampil dalam mengelola lembaga dan kegiatan-kegiatan penyiaran/reportase/presentasi acara/program radio dan TV.
  3. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum, etika, moral dan ketuhanan, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja yang tinggi dalam menyelenggarakan layanan kepada masyarakat yang terkait dengan bidang penyiaran/ reportase/presentasi acara/ program radio dan TV


    Nama                  : Arjamudin
    NIM                   : UR. 110973
    Fak/Jur               : Ushuluddin/Public Relation
    Perguruan Tinggi : IAIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

Public Relation : Definisi, Fungsi dan Tujuan Public Relation

0 komentar


Definisi public relation adalah usaha yang direncanakan secara terus-menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa public relation dianggap sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar organisasi (Coulsin-Thomas, 2002).
Pengertian public relation adalah: Interaksi dan menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan untuk kedua belah pihak, dan merupakan profesi yang profesional dalam bidangnya karena merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat dan dengan secara terus menerus karena public relation merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan (Maria, 2002, p.7).
Hal ini didukung oleh pendapat Alma yang mengatakan bahwa “public relation adalah kegiatan komunikasi yang dimaksudkan untuk membangun citra yang baik terhadap perusahaan” (2002, p.145). Sedangkan Marston mengatakan “public relation adalah suatu perencanaan dengan menggunakan komunikasi persuasif untuk mempengaruhi persepsi masyarakat” (1999, p.1). Scholz (1999,p.2) mengatakan bahwa “public relation adalah suatu perencanaan yang mendorong untuk mempengaruhi persepsi masyarakat melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial berdasarkan suatu komunikasi timbal balik untuk mencapai keuntungan pada kedua belah pihak”.
Pengertian public relation secara umum dan khusus sebagai berikut:
1. Pengertian Umum
Public relation adalah proses interaksi dimana public relation menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak, dan menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya. Crystallizing
Public Opinion menyebutkan bahwa public relation adalah profesi yang mengurusi hubungan antara suatu perusahaan dan publiknya yang menentukan hidup perusahaan itu (Widjaja,2001).
2. Pengertian Khusus
Public relation adalah fungsi khusus manajemen yang membantu membangun dan memelihara komunikasi bersama, pengertian, dukungan, dan kerjasama antara organisasi dan publik, melibatkan masalah manajemen, membantu manajemen untuk mengetahui dan merespon opini publik, menjelaskan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani minat publik, membantu manajemen untuk tetap mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif, berguna sebagai sistem peringatan awal untuk membantu mengantisipasi tren, dan menggunakan penelitian dan teknik suara yang layak dalam komunikasi sebagai alat utama (Maria, 2002). Dalam buku dasar-dasar public relation (Wilcox dan Cameron,2006,p.5) juga mengatakan bahwa “public relations is a management function, of a continuing and planned character, through which public and private organizations and institutions seek to win and retain the understanding, sympathy, and support of those with whom there are or maybe concerned by evaluating public opinion about themselves, in order to correlate, as far as possible their own policies and procedures, to achieve by planned and widespread information more productive corporation and more efficient fulfillment of their common interests”. yang kurang lebih memiliki arti public relations merupakan fungsi manajemen dari sikap budi yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi atau lembaga umum dan swasta untuk memperoleh dan membina saling pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang mempunyai hubungan atau kaitan, dengan cara mengevaluasi opini publik mengenai organisasi atau lembaga tersebut, dalam rangka mencapai kerjasama yang lebih produktif, dan untuk memenuhi kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan kegiatan penerangan yang terencana dan tersebar luas.

Tujuan Public Relation
Tujuan utama dari public relation adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan, dimana persepsi, sikap dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan sebuah perusahaan (Davis, 2003).

Menurut Rosady Ruslan (2001, p.246) tujuan public relation adalah sebagai berikut:
a. Menumbuhkembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.
b. Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.
c. Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan public relation.
d. Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.
e. Mendukung bauran pemasaran.

Jefkins (2003, p.54) mendefinisikan dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan tujuan public relation sebuah perusahaan, beberapa diantaranya yang pokok adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengubah citra umum di mata masyarakat sehubungan dengan adanya kegiatan-kegiatan baru yang dilakukan oleh perusahaan.
b. Untuk meningkatkan bobot kualitas para calon pegawai.
c. Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses yang telah dicapai oleh perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mendapatkan pengakuan.
d. Untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas, serta membuka pangsa pasar baru.
e. Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau saham tambahan.
f. Untuk memperbaiki hubungan antar perusahaan itu dengan masyarakatnya, sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan masyarakat terhadap niat baik perusahaan.
g. Untuk mendidik konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan.
h. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadinya suatu krisis.
i. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi resiko pengambilalihan oleh pihak lain.
j. Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru.
k. Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas dan partisipasi para pimpinan perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari.
l. Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor dari suatu acara.
m. Untuk memastikan bahwa para politisi benar-benar memahami kegiatan-kegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan.
n. Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualitas dalam berbagai hal.
Secara keseluruhan tujuan dari public relation adalah untuk menciptakan citra baik perusahaan sehingga dapat menghasilkan kesetiaan publik terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan (Mulyana, 2007). Selain itu public relation bertujuan untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi lembaga atau organisasi di satu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi yang harmonis dan timbal balik (Maria, 2002).

Fungsi Public Relation

Menurut Maria (2002, p.31), “public relation merupakan satu bagian dari satu nafas yang sama dalam organisasi tersebut, dan harus memberi identitas organisasinya dengan tepat dan benar serta mampu mengkomunikasikannya sehingga publik menaruh kepercayaan dan mempunyai pengertian yang jelas dan benar terhadap organisasi tersebut”. Hal ini sekedar memberikan gambaran tentang fungsi public relation yaitu:
1. Kegiatan yang bertujuan memperoleh itikad baik, kepercayaan, saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik atau masyarakat pada umumnya.
2. Memiliki sasaran untuk menciptakan opini publik yang bisa diterima dan menguntungkan semua pihak.
3. Unsur penting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik, sesuai harapan publik, tetapi merupakan kekhasan organisasi atau perusahaan. Sangat penting bagaimana organisasi memiliki warna, budaya, citra, suasana, yang kondusif dan menyenangkan, kinerja meningkat, dan produktivitas bisa dicapai secara optimal.
4. Usaha menciptakan hubungan yang harmonis antara organisasi atau perusahaan dengan publiknya, sekaligus menciptakan opini publik sebagai efeknya, yang sangat berguna sebagai input bagi organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.
Dapat disimpulkan bahwa public relation lebih berorientasi kepada pihak perusahaan untuk membangun citra positif perusahaan, dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya karena mendapatkan opini dan kritik dari konsumen. Tetapi jika fungsi public relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan, dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan pendekatan khusus dan motivasi
dalam meningkatkan kinerjanya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa fungsi public relation adalah memelihara, mengembangtumbuhkan, mempertahankan adanya komunikasi timbal balik yang diperlukan dalam menangani, mengatasi masalah yang muncul, atau meminimalkan munculnya masalah (Black, 2002).


By : Arja 

CERITE TENTANG PEMBURU DAN BATIN MPAI UDE MELUKU

0 komentar

Suatu hari ada seorang pemburu yang kehabisan bekal, sedangkan perutnya sudah lapar sekali. Dengan susah payah ia berharap bertemu seseorang dengan harapan bisa menolongnya memberi sedikit makanan buat mengisi perutnya yang sudah kelaparan. Akhinya dia bertemu dengan seorang “batin” di “dangau” yang sedang istirahat dan sebentar lagi akan menyantap bekal yang dibawanya. Dengan perasaan gembira Pemburu beranjak menemui “batin” itu dengan harapan dapat memberi dia sesuatu untuk mengganjal perutnya. Setelah sampai di “dangau” terjadilah percakapan berikut ini:
Pemburu : Assalamualaikum, Mang…!!!
Batin: Walaikum salam…
Pemburu: Numpang beghadu dikit Mang… adak mpai ude beburu… (Pemburu itu bebasa basi, sambil melepas sepatu Bot lah tukak tumitnye, terustu duduk di kayu Kung dangau berharap dipantau li Batin itu tadi).
Batin: Lajulah, dikkah ngape… ame jiku naik kiah ke pucuk, sambil kite ngecap gulaian ibung kamu nih…. (batin itu bebasa basi, memang die dik beniat nak ngajak makan, karne kebiaseean jeme Semende bebasa basi dengan sape kinah, laju teumung pule nga pemburu itu)
Pemburu : Nah… ini die luka’an (awak tini lah ndie tu ditunggu-tunggu… dalam ati, langsung naik ke dangau ngayapi idangan)
Batin: Dalam ati batin itu (Nah…. ngguk nian batin ini ni, awak aku tadi sembawe ampung, lah ngayap nian ke sini… lukak kurang suap kalu mak ini ceritenye; mula’i batin itu beperangi)
Dengan berat ati batin itu mbagi ibatan nasinye.
Saking lapaghnye dik bemalu agi  mikut makan pule…. ndik basa basi lagi pemburu itu ngumung-ngumung nga Batin tu sambil makan;
Pemburu: Nduk… Mang, lemak pule nasi kamu nih…mane mempur lemak kiamat neguknye…Tuape name  tini…?
Batin: (Karne lah marah, die mulai beperangi nga pemburu tu)… au…lemak ndie Nasi  ni, namenye Beghas SEKALI NGAJAK LAH GALAK…MANGKENYE ASENYE LEMAK KIAMATTTAN…..!!!!
Pemburu: Oooo…ooo… Mak itu…!! (die belum sadar), trus kalu teghung kamu ni kecik-kecik menae pule, ade dikde yang besak agi…?
Nengagh Umungan Luk itu, batin itu Emosi… jawabnyelah…Gegacang…
Batin: Ade agi, yang besak LUK INI….. (Sambil ngacungkah GUCUH ke dai pemburu tu),
Nginak batin tu lah luk itu, mpai sadar kalu die lah mbuat batin tu marah, karne ngurangi suapnye…Untung die lah ude makan, laju belaghi gegacang… sebelum batin itu ngeluaghkah gerahang….
Disadur dari cerita sang kakak waktu penulis masih SD
Selamat Menikmati

Jumat, 23 November 2012

Rangkuamn Psikologi Komunikasi dan Kepercayaan Pribadi

0 komentar

Meningkatkan citra diri pemimpin organisasi perempuan ( Behaviour, brain, beauty) oleh : Shita Wardani Singgih Workshop Kepemimpinan & Keperibadian Organisasi Permpuan BKOW Provinsi  Jambi, 13 Desember 2011.

Alur presentasi
·         Definisi keperibadian & konsep diri
·         Pemimpin & Kepemimpinan
·         Citra pribadi pemimpin perempuan

Keperibadian
·         Salah satu factor penunjang keberhasilan dalam kehidupan, karier, pekerjaa, dan pergaulan adalah mempunyai keperibadian yang baik.
·         Seseorang yang pintar & cerdas saja tidak cuku, dia harus mempunyai keperibadian dan prilaku yang baik.
·         Pertanyaan :
-          Apa itu keperibadian ?
-          Dapatkah keperibadian yang baik itu dipelajari ?
-          Kenapa keperibadian ini menjadi sangat penting dalam kehidupa, pergaula, dan karier ?
Keperibadian
o   Dalam arti yang luar KEPERIBADIAN  adalah integrasi dari seluruh sifat seseorang yang dipelajarinya, maupun sifat-sifat yang diwarisinya sehingga menimbulkan sesuatu yang khas dari orang tersebut.
o   Seseorang yang mempunyai KEPERIBADIAN yang baik, tidak harus cantik atau tampa, tetapi mempunyai sifat yang menarik. Ia membrikan kesan yang menyenangkan bagi orang lain, tulus dan berbudi luhur, penuh dedikas, kejujuran dan keberanian  dan sebagainya.

MENJADI DIRI SENDIRI 

·         Sering kita mengatakan, jadilah dirimu sendir, meskipun tidak semudah yang dikatakan.
·         Sering kali, kita lain dengan sekitar kita, contohnya bila sedang ada model busana atau tat arias wajah dan rambut, si anu sangat menarik, lalu kita berusaha semirip seperti dia, padahal belum tentu cocok dengan tubuh, wajah dan keperibadian kita.
Ø  Mengapa tidak belajar mensyukuri apa yang telah kita miliki.

MENGGALI & MENGEVALUASI DIRI SENDIRI.

§  Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing
§  Perbandingan merasa kurang dari orang lai, dapat dikurangi sampai merasa tidak berbeda denga orang lai, bila kita mengenali diri sendiri.
§  Cobalah menelusuri kehidupan kita sendir, apa yang salaam ini kita perbuat, kita lakukan, lalu kita membuat evaluasi, apa lagi yang dapat kita lakukan untuk kedepan.
§  Batu-batu sandungan yang pernah kita trima, dapat dijadikan pengalaman yang berharg, tanpa perlu menyalahkan diri sendiri.


MENILAI DIRI SENDIRI SECARA POSITIF.
Sering kali kita mengatakan saya jelek tidak secntik si Mira, hidung saya pesek tidak semancung Dewi, saya hanya lulus S3 ( SD, SMP, SMA ) ,terus semakin panjang daftar kekurangan kita ( ini menurut kita sendiri).

MEMPUNYAI HARGA DIRI
·         Mempunyai harga diri, berate kita sudh dapt menghargai diri kita secara baik, secara positif, tidak sama dengan mempunyai rasa percaya diri.
·         Kita akan mempunyai rasa percaya diri, bila kita sudah dapat menghargai diri sendiri.
·         Mengahrgai diri sendiri berarti kita sudah tahu bagaimana kita memperlakukan diri, agar kita dapat diperlakukan dengan baik oleh orang lain.

APAKAH KONSEP DIRI ITU ?
Konsep diri adalah konsepsi tentang bagaimana seseorang memandang diri sendiri dan situasi di sekelilingnya.

IMPLEMENTASI KONSEP DIRI
·         TAMPIL SMART AND HEALTY
·         KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI
·         MEMBANGUN KEPERIBADIAN
·         KEMANDIRIAN
SMART DAN HEALTY 

v  DISIPLIN
v  OPTIMIS
v  PENAMPILAN
v  TANGGAP TERHADAP PERUBAHAN
DISIPLIN
·         Dispilin dalam social waktu, kulaitas maupun prosedur.
·         Meliputi :
Penguasaan diri, pengekangan diri,

OPTIMIS
·         Mampu melihat segala sesuatu dari sisi positif
·         Mampu menyakini bahwa setiap masalah mempunyai sisi positif
·         Memnadang masalah sebagai bagian dari proses kematengan diri.
Penampilan
·         Bersih
·         Bugar
·         Rapi
·         Serasi
Tanggapan terhadap perubahan
·         L earning Driven ( semangta belajar )
·         O pen-minded (berjiwa terbuka )
·         V isionary and Missionary ( punya visi dan misi )
·         E motionally intelegent ( cerdas emosi )


·         H umorous ( punya rasa homur )
·         E mpowering ( semangat pemberdayaan )
·         R esourceful ( kaya sumber )


Keterampilan berkomunikasi
·         BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF
·         PERLUNYA KOMUNIKASI EFEKTIF
·         KETIDAK MAMPUAN BERKOMUNIKASI

BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF
·         Munculnya kesan pertama ( citra diri)
·         Arahkan focus (arahkan lawan bicara kepada orang yang diinginkan )
·         Spesifik ( pilih kata yang tepat dengan ucapan yang jelas )
·         Berbicara secara inklusif ( suasana menyenangkan, melibatkan lawan bicara )

PERLUNYA KOMUNIKASI EFEKTIF
·         Sebagai makhluk social, individu manusia bila dia berada diantara sesama manusia dan efektif berkomunikasi dengan  sesamanya
·         Sebagai individu, seseorang akan manjadi aset organisasi, apabila mampu berkomunikasi secara verbal , non verbal dan tertulis.
·         Ketidak-mampuan berkomunikasi merugikan organisasi

Ketidak mampuan berkomunikasi
·         Kemampuan berkomunikasi akan mengakibatkan pada diri  : tidak produktif, merasa tertekan; terhambat dalam pengembangan diri dan tidak mungkin menjadi pemimpin yang efektif
·         Akibat ketidak mampuan berkominikasi bagi organisasi : menjadi beban organisasi sering terjadi miss-communication; penyelesaian pekerjaan menjadi terhambat.




Sabtu, 17 November 2012

Bilangan/Hitungan dalam Bahasa Arab (‘Adad dan Ma’dud/Tamyiz-nya, Mudzakkar dan Mu’annats-nya, Mufrad dan Jamak-nya) » Alfiyah Bait 726-723-724

0 komentar
–·•Ο•·–

العدد

Bab ‘Adad (Bilangan/Hitungan)

ثَلَاثَةً بِالتَّاءِ قُلْ لِلعشَرَهْ ¤ فِي عَدِّ مَا آحَادُهُ مُذَكّرَهْ

Ucapkan angka Tsalatsatun (tiga) sampai ‘Asyarotun (sepuluh) dg menggunakan Ta’ didalam menghitung sesuatu yg mufrodnya Mudzakkar. 

في الضِّدِّ جَرِّدْ وَالْمُمَيِّزَ اجْرُرِ ¤ جَمْعاً بِلَفْظِ قِلَّةٍ فِي الأكْثَرِ

Sebaliknya buanglah Ta’nya (pada mufrod ma’dud muannats). Jarkanlah! Lafazh Mumayyiz/Ma’dud yg jamak qillah pada kebanyakannya (daripada yg jamak katsrohnya). 

وَمِائَةً وَالأَلْفَ لِلْفَرْدِ أضِفْ ¤ وَمِائَةٌ بِالجَمْعِ نَزْراً قَدْ رُدِفْ

Terhadap angka Mi’atun (seratus) dan Alfun (seribu) mudhafkan pada Isim Mufrod. Dan angka Mi’atun (seratus) jarang diikuti oleh Jamak (jarang dimudhafkan pada jamak). 
–·•Ο•·–
Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Isim Adad (kata bilangan/hitungan) menurut istilah Ulama’ Nahwu terbagi menjadi 4 bagian.
1. “Adad Mufrad”
Adalah Isim Adad yg kosong dari Tarkib dan ‘Athaf. Yaitu bilangan dari Wahidun (satu) sampai ‘Asyarotun (sepuluh), Bidh’un (sejumlah antara 3-9), Mi’atun (seratus), dan Alfun (seribu).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mudhaf” karena dapat dimudhafkan pada Tamyiznya/Ma’dudnya, yang selain wahidun (satu) dan Itsnani (dua).
2. “Adad Murakkab”
Adalah Isim Adad susunan dua bilangan menjadi satu dengan susunan Tarkib Mazji. Yaitu bilangan dari Ahada ‘Asyaro (sebelas) sampai Tis’ata ‘Asyaro (Sembilan belas).
3. “Adad ‘Aqd”
Adalah Isim Adad puluhan/kelipatan sepuluh. Yaitu bilangan dari ‘Isyruuna (dua puluh) sampai Tis’uuna (sembilan puluh).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mufrod” karena tidak Mudhaf juga tidak Murokkab.
4. “Adad Ma’thuf”
Adalah Isim Adad susunan Athaf. Yaitu bilangan yg ada diantara dua Adad Aqd (angka yg ada diantara 20>…<30, 30>…<40, dst.). Contoh Wahidun wa ‘Isyruuna (dua puluh satu), Itsnaani wa Isyruuna (dua puluh dua), dst. Hingga Tis’atun wa Tis’uuna (sebilan puluh Sembilan).
Insyaallah 4 bagian diatas akan diterangkan menurut penerangan Kitab Alfiyah pada tiga bahasan sebagai berikut:
  • Hukum Mudzakkar&Muannatsnya
  • Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya
  • Hukum I’robnya
I. ‘ADAD MUFROD
A. WAHIDUN (SATU) dan ITSNAANI (DUA)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : harus mencocoki pada Ma’dudnya.
Contoh:

في القرية مسجد واحد

FIL-QORYATI MASJIDUN WAAHIDUN = Di desa itu hanya ada satu masjid.

في القرية مدرسة واحدة

FIL-QORYATI MADROSATUN WAAHIDATUN = Di desa itu hanya ada satu Madrasah.

اشتريت كتابين اثنين

ISYTAROITU KITAABAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua kitab.

اشتريت كراستين اثنتين

ISYTAROINI RURROOSATAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua buku tulis.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : harus disebutkan setelah ma’dudnya seperti contoh-contoh diatas. Dan tidak boleh menyebutkan ma’dud sebelumnya, maka tidak boleh mengatakan :

في القرية واحدُ مسجدٍ

FIL-QORYATI WAAHIDU MASJIDIN.

اشتريت اثني كتابين

ISYTAROITU ITSNAIY KITAABAINI.
Karena cukup penyebutan ma’dud secara langsung sudah mencukupi jumlah yg dimaksud (mufrad/mutsanna = satu/dua). Maka tidak perlu untuk menyebut ‘adad pada sebelum ma’dudnya.
III. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam. Sedangkan I’rob ma’dudnya mengikuti irob ‘adad sebelumnya yakni sebagai Tabi’ Taukid.
B. TSALATSATUN (TIGA) sampai ‘ASYAROTUN (SEPULUH) dan BIDH’UN/BIDH’ATUN (sejumlah 3-9)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : kebalikan dari ma’dudnya, yakni dimudzakkarkan apabila ma’dudnya mu’annats, dan dimuannatskan apabila ma’dudnya mudzakkar,.
Contoh :

عندي سبعةُ رجال

INDIY SAB’ATU RIJAALIN = disisiku tujuh pria.

عندي ثلاثُ نسوةٍ

INDIY TSALAATSU NISWATIN = disisiku tiga wanita.

صافحت بضعة رجال

SHOOFAHTU BIDH’ATA RIJAALIN = aku berjabat tangan dengan beberapa pria.

نصحت بضع نساء

NASHOHTU BIDH’A NISAA’IN = aku menasehati beberapa wanita.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا

SAKHKHOROHAA ‘ALAIHIM SAB’A LAYAALIN WA TSAMAANIYATA AYYAAMIN HUSUUMAN = yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus (QS Al-Haaqqah : 7)
>> lafazh LAYAALIN = Ma’dud mu’annats karena mufrodnya LAILATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar SAB’A.
>> lafazh AYYAAMIN = Ma’dud mudzakkar karena mufrodnya YAUMIN, maka menggunakan ‘adad muannats TSAMAANIYATA.

فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ

FA SYAHAADATU AHADIHIM ARBA’U SYAHAADAATIN = maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah (QS. An-Nuur : 6)

ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ

TSUMMA LAM YA’TUU BI ARBA’ATI SYUHADAA’A = dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi (QS. An-Nuur : 4)
>> lafazh SYAHADAATIN = ma’dud mu’annats karena mufrodnya SAHAADATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar ARBA’U.
>> lafazh SYUHADAA’A = ma’dud mudzakkar karena mufrodnya SYAAHIDUN/SYAHIIDUN, maka menggunakan ‘adad mu’annats ARBA’ATI.
Dengan demikian, yang dipandang mudzakkar dan muannatsnya dalam hal ini bukan pada bentuk lafazh jamaknya, akan tetapi yg dipandang adalah bentuk isim mufrodnya. contohnya lagi :

جاء خمسة فتية

JAA’A KHOMSATU FITYATIN = lima orang pemuda telah datang.
>> Lafazh “FITYATIN” mempunyai bentuk mufrod “FATAA” adalah ma’dud mudzakkar, makanya menggunakan ‘adad mu’annats (KHOMSATU). Tidaklah memandang bentuk lafazh jamaknya yg mu’annats (FITYATIN).
Apabila terdapat dua ma’dud dalam satu ‘adad. Yang satu mudzakkar dan yg lain muannats, maka yg dipandang muannats dan mudzakkarnya adalah pada ma’dud yg disebut pertama kali.
Contoh:

حضر سبعة رجال ونساء

HADHORO SAB’ATU RIJAALIN WA NISAA’IN = tujuh orang pria dan wanita telah hadir.

وأقبل خمس نساءٍ ورجال

AQBALA KHOMSATU NISAA’IN WA RIJAALIN = lima orang wanita dan pria telah menghadap.
Akan berbeda nanti hukum mudzakkar dan mu’annatsnya apabila adad-adad mufrad tersebut diatas dibentuk menjadi ‘Adad Murokkab atau ‘Adad Ma’thuf yg insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.
II. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam.
III. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya :
A. Dijadikan mudhaf ilaih dg susunan idhofah, yakni memudhofkan adad kepada ma’dud yg dibutuhkan sebagai tamyiznya, seperti pada contoh-contoh diatas. Dan terkadang tidak dimudhofkan kepada tamyiznya tapi cukup dimudhofkan langsung kepada siempunya tamyiz/ma’dud. Kerena dalam hal ini si pembicara sudah memaklumi akan jenis/bentuk ma’dud. Sehingga tidak perlu ditamyizi. Semisal contoh:

هذه خمسةُ محمد

HADZIHI KHOMSATU MUHAMMADIN = ini adalah limanya Zaid (yakni, ini lima barang punya zaid)

خذ سبعتك

KHUDZ! SAB’ATAKA = ambillah! Tujuhmu. (yakni, ambilah tujuh barangmu)
B. Ma’dudnya berbentuk jamak, yg sering digunakan adalah dalam bentuk Jamak Taksir Qillah. Dan diketahui juga bahwa maksud jamak dalam ma’dud di sini tidak harus berupa bentuk jamak dalam istilah, tapi juga bisa masuk kepada semua jenis isim yg menunjukkan jamak, seperti Isim Jamak dan Isim Jinsi Jam’i, yg dalam penggunaannya banyak menyertakan huruf jar MIN. contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ

FA KHUDZ! ARBA’ATAN MINATH-THOIRI = ambillah empat ekor burung (QS. Al-Baqoroh : 260)

جاء ثلاثة من القوم

JAA’A TSALAATSATUN MINAL QOUMI = telah datang tiga kaum.

في المزرعة سبع من النخل وتسع من الشجر

FIL MAZRO’ATI SAB’UN MINAN-NAKHLI WA TIS’UN MINAS-SYAJARI = di ladang itu ada tujuh pohon kurma dan Sembilan pepohonan.
Terkadang juga langsung disusun secara idhofah. Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ

WA KAANA FIL-MADIINATI TIS’ATU ROHTHIN = Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki (QS. An-naml:48).
Yang berbeda dengan tiga hal diatas dalam hukum penggunaan ma’dudnya yakni : 1. Jamak. 2. Jamak Taksir. 3. Jamak Taksir Qillah. Adalah :
1. Menggunakan bentuk isim mufrod, apabila adad-adad tersebut diatas bertamyiz pada lafazh MI’ATUN. Contoh :

في المعهد ثلثمائة طالب وأربعمائة مقعد

FIL-MA’HADI TSALATSUMI’ATI THOOLIBIN WA ARBA’UMI’ATI MAQ’ADIN = di lembaga itu ada 300 siswa dan 400 bangku.
2. Menggunakan bentuk jamak shohih, apabila tidak terdapat dalam bentuk jamak taksirnya. Contoh:

خمس صلوات

KHOMSU SHOLAWAATIN = lima sholat.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

ALLAHUL-LADZII KHOLAQO SAB’A SAMAAWAATIN WA MINAL-ARDHI MITSLAHUNNA = Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (QS. Ath-Tholaaq : 12)
>> Lafazh “SAMAWAATIN” = menggunakan jamak shohih (jamak muannats salim) karena tidak mempunyai bentuk jamak lain selain itu.

ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ

TSALAATU ‘AUROOTIN = tiga ‘aurat bagi kamu (QS. An-Nur : 58)
>> lafazh “‘AUROOTIN” = jamak shohih sebab juga tidak ada dalam bentuk jamak taksirnya.
Demikian juga menggunakan jamak shohih, apabila bentuk jamak taksirnya jarang digunakan. Semisal contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

فِي تِسْعِ آيَاتٍ

FII TIS’I AAYAATIN = termasuk sembilan buah mukjizat (QS. An-Naml : 12)
>> lafazh “AAYAATIN” = jamak shohih dari “AAYATIN” ditemukan dari bangsa arab menggunakan jamak taksirnya yaitu AAYUN tapi tidak banyak digunakan (lihat Al-Mishbahul Munir hal. 23).
Demikian juga menggunakan bentuk jamak shohih apabila digunakan bersamaan dengan jamak yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, seperti contoh:

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ

YUUSUFU AYYUHASH-SHIDDIIQU AFTINAA FII SAB’I BAQOROOTIN SIMAANIN YA’KULUHUNNA SAB’UN ‘IJAAFUN WA SAB’I SUNBULAATIN KHUDHRIN WA UKHORU YAABISAATIN = (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering (QS. Yusuf : 46)
>> lafazh SAB’I “SUNBULAATIN” = menggunakan jamak shohih karena berdampingan dengan lafazh sebelumnya yaitu SAB’I “BAQOROOTIN” yg tidak diketahui bentuk jamak taksirnya.
Sedangkan apabila tidak berdampingan dengan jamak shohih yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, maka menggunakan bentuk jamak taksirnya yaitu “SANAABILA”, contoh dalam Ayat :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

MATSALUL-LADZIINA YANFIQUUNA AMWAALAHUM FII SABIILILLAAHI KAMATSALI HUBBATIN ANBATAT SAB’A SANAABILA FII KULLI SUNBULATIN MA’ATU HABBAH. = Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqoro : 261).
3. Tetap menggunakan bentuk Jamak Taksir Katsroh sekalipun ada dalam bentuk Jamak Taksi Qillahnya, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

WAL-MUTHOLLAQOOTU YATAROBBASHNA BI ANFUSIHINNA TSALAATSATA QURUU’IN = Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (QS. Al-Baqoroh : 228)
>> ‘Adad TSALAATSATA dimudhofkan kepada ma’dudnya lafazh “QURUU’IN” yg berupa Jamak Taksir Katsroh, beserta ia mempunyai bentuk Jamak Taksir Qillah yaitu “AQROO’IN”.
C. MI’ATUN (SERATUS) dan ALFUN (SERIBU)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : Tetap dalam bentuknya baik ma’dudnya Mudzakkar atau Mu’annats.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : Pada umumnya harus berupa Isim Mufrod yg dijarkan menjadi mudhaf ilaih.
Contoh :

قلَّ من يعيش مائة سنةٍ

QOLLA MA YA’IISYU MI’ATA SANATIN = Jarang orang yg hidup seratus tahun.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

AZZAANIYATU WAZ-ZAANIY FAJLIDUU KULLA WAAHIDIN MINHUMAA M’ATA JALDATIN = Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (QS. An Nuur : 2)

يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ

YAWADDU AHADUHUM LAW YU’AMMARU ALFA SANATIN = Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun (QS. Al-Baqarah : 96)
Terkadang menggunakan ma’dud/tamyiz bentuk jamak majrur dari ‘adad MI’ATUN, contoh dalam Ayat AL-Qur’an :

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

WA LABITSUU FIY KAHFIHIM TSALAATSA MI’ATIN SINIINA WAZDAADUU TIS’AN = Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-Kahfi 25).
>> karena dalam ayat ini oleh bacaan salah satu qiro’ah sab’ah (Hamzah dan Al-Kasa’iy) memudhofkan lafazh MI’ATIN pada lafazh SINIINA menjadi “MI’ATI SINIINA”.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com