Selasa, 06 November 2012

Unsur-Unsur Komunikasi Dan Prinsip Unsur-unsur komunikasi dan prinsip Dasar Proses Berlangsungnya Komunikasi

0 komentar

Mata Kuliah               : Ilmu Komunikasi
Dosen Pembimbing   : Agus Salim,S.Ag,M.Pd.I
Kelompok                   : I (Satu )
Judul                          : Unsur-Unsur Komunikasi Dan Prinsip                                                                  Dasar Proses Berlangsungnya Komunikasi
Nama                          : 1. Arjamudin
  2. Tyas Safitri
Fak/Jur                      : Ushuluddin/Public Relation

PENDAHULUAN
Dalam Upaya untuk mencapai respon timbal balik dalam berkomunikasi sesama manusia, baik dalam bentuk tulisan maupun elektronik tentunya tidak dapat dipisahkan dari kualitas yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Seperti pemahaman terhadap Unsur-unsur komunikasi dan prinsip dasar proses berlangsungnya komunikasi yang yang mana unsur-unsur tersebut saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai harapan dalam komunikasi itu sendiri.
Kegiatan berkomunikasi  merupakan proses transformasi pesan kepada penerima pesan berupa berita, hiburan, pengalaman, dan lain-lain sebagainya. Dalam percakapan yang disampaikan oleh pengirim pesan dan penerima pesan saling memahami satu sama lain.


PEMBAHASAN
A.                PENGERTIAN KOMUNIKASI
Sebelum kita memahami bagaimana prinsip-prinsip dasar komunikasi lebih jauh, kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi itu sendiri.
1.             Menurut Bahasa
Kata komunikasi berasal dari bahasa Inggris “Communicate” artinya menghubungkan, berhubungan dengan.”[1]
2.                   Menurut Istilah
Adapun pengertian komunikasi menurut istilah yaitu:
a.      Pengertian komunikasi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa komunikasi itu adalah perhubungan oleh pihak ketiga.[2]
b.      James A.F Stoner, dalam bukunya yang berjudul : Manajemen, menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.[3]

c.       Pengertian komunikasi menurut Ensiklopedia adalah penyelenggaraan tata hubungan kegiatan menyampaikan warta, dari satu pihak ke pihak lain dalam suatu organisasi/instansi.[4]

B.                 UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, jelas bahwa komunikasi antar manusia hanya bias terjadi, jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalu didukung oleh adanya sumber, pesan ,media, penerima dan efek. Unsure-unsur ini juga bisa disebut komponen atau elemen komunikasi.
Terdapat beberapa macam pandangan tentang banyaknya unsure atau elemen yang mendukung terjadinya komunikasi. Ada yang menilai bahwa proses tejadinya komunikasi. Cukup di dukung oleh tiga unsure, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan selain lima unsure yang telah disebutkan.
Arestoteles, ahli filsafat Yunani Kono dalam bukunya Rhetorica  menyebut bahwa suatu proses komunikasi memerlukan tiga unsur yang mendukungnya, yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, dan siapa yang mendengarkan. Pandangan Arestoteles ini oleh besar pakar komunikasi dinilai lebih tepat untuk mendukung suatu proses komunikasi public dalam bentuk pidato atau retorika. Hal ini bisa dimengerti, karena pada zaman Arestoteles retorika menjadi bentuk komunikasi yang sangat popoler bagi masyarakat Yunani.[5]
a.             Sumber
Semua pristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunkasi antarmanusia, sumber bsa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya, partai., organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengiri, komunikator atau dalam bahasa inggrisnya Source,sencer atau encoder.
b.             Pesan
Pesan yang dimaksud dalam proses komunkasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalu media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasehat atau propaganada. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, cantent atau information.

c.              Media
Media  yang dimaksud disini ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Terdapat bebrapa pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang enilai bahwa media bisa bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi antarpribadi pancaindra dianggap sebagai media komunikasi.
Selain indra manusia, ada juga saluran komunikasi seperti telepon, surat, telegram, yang digolongkan sebagai media komunikasi antarpribadi.[6]
Dalam komunkasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, di mana setiap orang dapat melihat, membaca, dan mendengarnya.
Media dalam komunikasi massa dapat dibedakan atas dua macam, yakni media cetak dan media elektronik. Media cetak seperti halnya surat kaba, majalah, buku, leaflet , brosur, stiker, bulletin hand out, poster, spanduk, dan sebagainya. Sementara itu media elektronik antara lain : radio, film, televise, vedio recording, computer, electronic board, audio cassette dan semacamnya.
Berikut perkembangan teknologi komunikasi khusunya di bidang komunikasi massa elektronik massa elektronik yang begitu cepat, media massa elektronik makin banyak bentuknya, dan makin mengaburkan batas-batas untuk membedakan antara media komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi. Hal ini disebabkan karena makin canggihnya media komunikasi iru sendiri yang bisa dikombinasikan (multimedia) antar satu sama lainnya.
Media komunikasi seperti diatas, kegiatan dan tempat-tempat yang banyak ditemui dalam masyarakat pedesaan, bisa juga dipandang sebagai media komunikasi social, misalnya rumah-rumah ibadah, balai desa, srisan, panggung kesenian, dan pesta rakyat.
d.             Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai atau Negara.
Penerima bisa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa inggris disebut audience atau receiver. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber.
Penerima adalah elemn penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran dalam komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang sering kali menuntut perubahan, apakah pada sumber , pesan, atau saluran.
Kenallah khalayakmu adalah prinsip dasar dalam berkomunikasi. Karena mengetahui dan memahami karakteristik penerima ( khalayak ), berarti suatu peluang untuk mencapai keberhasilan komunikasi.[7]

e.              Pengaruh
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang ( De Fleur,1982). Oleh karena itu,  pengarh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.
f.              Tanggapan Balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasala dari penerima. Akan tetapi tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsure yang lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima. Misalnya sebuah konsep surat yang memerlukan perubahan-perubahan sebelum dikirim, atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu mengalami gangguan sebelum sampai ke tujuan. Hal-hal seperti itu menjadi tanggapan balik yang diterima oleh sumber.
g.             Lingkungan
Lingkungan atau situasi ialah factor-faktor tertentu yang dapat memengaruhi jalannya komunikasi. Factor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakini lingkuang fisik, lingkungan social buday, lingkungan psikologis, dan demensi waktu.
Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikai hanya bisa terjadi kalau tidak terdapat rintangan fisik, misalnya geografis. Komunikasi sering kali sulit dilakukan karena factor jarak yang begitu jauh, di mana tersedia fasilitas komunikasi seperti telepon, kantor pos atau jalan raya.[8]
Lingkuangan social menunjukkan factor social budaya, ekonumi dan politik yang bisa menajdi kendala terjadinya komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, kepercayaan, adat istiadat,  dan status social.
Demensi psikologi adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi, misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lai, menyajikan materi yang usia khalayak. Demenis psikologis ini bisa desebut demensi internal ( Vora, 1979 ).
Sedangkan demensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakaukan kegiatan komunikasi. Banyak proses komunikasi tertunda karena pertimbangan  waktu, misalnya musim. Namun perlu diketahui demensi waktu maka informasi memiliki nilai.
Jadi, setiap unsur memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun proses komunikasi. Bahkan ketujuh unsure ini saling bergantung satu sama lain. Artinya tanpa keikutsertaan satu unsure akan member  pengaruh pada jalannya komunikasi.[9]
Komunikasi telah didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia, sehingga untuk terjadinya proses komunikasi minimal terdiri dari 3 unsur yaitu:
2.    Penerima pesan (komunikan).
3.    Pesan itu sendiri.
Awal tahun 1960-an, David K. Berlo membuat formula komunikasi yang lebih sederhana yang dikenal dengan ”SMCR”, yaitu: Source (pengirim), Message (pesan), Channel (saluran-media) dan Receiver (penerima).[10]
Perkembangan terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph de Vito, K,Sereno dan Erika Vora yang menilai factor lingkungan merupakan unsure yang tidak kalah pentingnyadalam mendukung terjadinya proses komunikasi.
Kalau unsur-unsur komunikasi yang dikemukakan diatas dilukiskan dalam gambar, kaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya dapat dilihat seperti berikut.[11]
1.             Komunikator
Pengirim pesan (komunikator) adalah manusia berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasinya.
Komunikator dapat dilihat dari jumlahnya terdiri dari:
a.         Satu orang.
b.         Banyak orang dalam pengertian lebih dari satu orang.
c.         Massa.
http://www.lusa.web.id/wp-content/uploads/2009/04/unsur-komunikasi-komunikator.jpg
2.             Komunikan
Komunikan (penerima pesan) adalah manusia yang berakal budi, kepada siapa pesan komunikator ditujukan.
Peran antara komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling bergantian. Dilihat dari jumlah komunikator dan komunikan, maka proses komunikasi dapat terjadi 9 kemungkinan.
http://www.lusa.web.id/wp-content/uploads/2009/04/9-kemungkinan-proses-komunikasi.jpgBagan. Sembilan kemungkinan proses komunikasi
3.             Pesan
Pesan bersifat abstrak. Pesan dapat bersifat konkret maka dapat berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan, dan bahasa tulisan.
Pesan bersifat verbal (verbal communication) antara lain:
1.    Oral (komunikasi yang dijalin secara lisan).
2.    Written (komunikasi yang dijalin secara tulisan).
a.              Gestural communication (menggunakan sandi-sandi -> bidang kerahasiaan)
http://www.lusa.web.id/wp-content/uploads/2009/04/unsur-komunikasi-pesan.jpg

C.                PRINSIP DASAR BERLANGSUNGNYA KOMUNIKASI
Untuk dapat memahami hakikat suatu komunikasi perlu diketahui prinsip dari komunikasi tersebut. Menurut Seiler (1988), ada empat prinsip dasar komunikasi yaitu : suatu proses, suatu sistemek, intraksi dan transaks, dimaksudkan atau tidak dimaksudkan. Masing-masing dari prinsip itu akan dijelaskan berikut ini.

1.                  Komunikasi adalah suatu proses
Komunikasi adalah suatu proses Karena merupakan suatu seri kegiatan yang terus-menerus, yang tidak mempunyai permulaan atau akhir dan selalu berubah-ubah. Komunikasi juga bukanlah suatu barang yang dapat di tangkap dengan tangan untuk dapt ditelit.  Komunikasi menurut Seiler (1988) lebih merupakan cuaca yang terjadi dari bermacam-macam variabel yang kompleks dan terus berubah. Kadang-kadang cuaca hangat, , matahari bersianar, pada waktu yang lain cuaca dingin, berawan dan lembap. Keadaan cuaca merefleksikan  satu pariasi saling berhubungan yang kompleks yang tidak pernah ada publikatnya.
Komunikasi juga melinbatkan suatu variasi saling berhubungan yang kompleks yang tidak pernah ada duplikat dalam cara yang persis sama yaitu : saling berhubungan diantara orang, lingkungan, keterampilan, sikap, status, pengalaman, dan perasaan, semuanya menentukan komunikasi yang terjadi pada suatu waktu tertentu.
Contoh: seorang pengawas sedang memperhatikan karyawannya sesuatu pekerjaan. Tiba-tiba pengawas tersebut mengucapkan kata salah, maka karyawan yang sedang bekerja tersebut menghentikan pekerjaannya dan mungkin bertanya dimana letak kesalahannya. Atau kalau karyawan tersebut tahu dimana  letak kesalahannya dia dapat langsung memperbaiki pekerjaannya pada saat diawasi tersebut.[14]

2.                  Komunikasi adalah sistem
Seperti kita ketahu diatas bahwa komunkasi terdiri dari beberapa unsur-unsur dan unsur-unsur tersebut mempunyai tugas masing-masing. Tugas dari unsure-unsur itu berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan suatu komunikasi. Misalnnya pengirim mempunyai peranan untuk menentukan apa informasi atau apa arti yang dikomunikasikan. Setelah tahu apa arti komunikasi atau informasi yang akan dikirimkan, informasi tersebut perlu diubah ke dalam kode atau sandi-sandi tertentu sesuai dengan aturannya sehingga berupa suatu pesan. Jadi komponen pesan ada kaitannya dengan komponen pengirim. Bila pengririm tidak benar menyandikan arti yang akan dikirim maka terjadilah pesan itu kurang tepat. Kurang tepatnya pesan yang dikirim akan mempengaruhi komponen penerima dalam menginterperstasikannya. Kaitan komponen pesan dengan saluran misalnya bila pesan disampaikan dengan lisan maka gelombang suara adalah saluran dan ini juga berkaitan dengan si penerima dalam mengikuti pesan yang harus menggunakan pendengarannya dalam menerima pesan tersebut. Begitulah, antara satu komponen yang lain saling berkaitan dab bila terdapat gangguan pada suatu komponen akan berpengaruh pada proses komunikasi secara keseluruhan.[15]

3.                  Komunikasi bersifat iteraksi dan transaksi
Yang dimaksud dengan istilah interaksi adalah saling bertukar komunikasi. Misalnya seseorang berbicara kepada temannya mengenai sesuatu, kemudian temannya yang mendengar memberikan reaksi atau komentar terhadap apa yang sedang dibicarakan itu. Begitu selanjutnya  berlangsung secara teratur ibarat orang yang bermain melempar bola. Seorang yang melemparkan yang lainnya menangkap kemudian yang menangkap melemparkan kembali keada si pelempar pertama.
Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi yang kita lakukan tidak teratur itu prosesnya. Banyak dalam percakapan  tatap muka berlibat dalam proses pengiriman  pesan secara simultan tidak terpisah seperti contoh diatas. Dalam keadaan demikian komunikasi tersebut bersifat transaksi. Sambil menyandikan pesan kita juga menginterprestasikan pesan yang kita terima. Misalnya dalam situasi pengajaran di kelas antara guru dengan murid seringklai memperlihatkan komunikasi transaksi ini. Sambil guru menyampaikan informasi kepada murid atau sedang menjelaskan pengajaran muridpun menyampaikan pesan kepada guru dalam bermacam-macam bentuk. Jadi, kmunikasi yang terjadi antara manusia dapat berupa intraksi dan transaksi.


4.                  Komunikasi dapat terjadi  disengaja maupun tidak disengaja.
Komunikasi yang disengaja terjadi apabila pesan yang mempunyai maksud tertentu dikirimkan kepada penerima yang dimaksudkan. Misalnya seorang pemimpin bermaksud mengadakan rapat dengan kepala-kepala bagiannya. Apabila pimpinan tersebuut mengirimkan pesan yang berisi undangan rapat kepada kepala-kepala bagiannya, maka itu dinamakan komunikasi disengaja. Tetapi  apabila pesan yang tidak sengaja atau tidak dimaksudkan untuk orang tertentu untuk menerimanya maka itu dinamakan komunikasi tidak disengaja.  Misalnya seseorang memakai warna pakaian yang agak terang yang tidak mempunyai maksud untuk mengirim pesan tertentu, kadang-kaadng diterima secara tidak sengaja sebagai pesan oleh orang lain, karena tanpa disadari orang lain melihat warna pakaian yang dipakainya.
Komunikasi yang ideal terjadi apabila seseorang bermaksud mengirim pesan tertentu terhadap oang lain yang ia inginkan untuk menerimanya. Tetap itu bermulah merupakan jamian bahwa pesan untuk akan efektif, karena tergantung kepada factor lain yang juga ikut berpengaruh kepada proses komunikasi. Kadang-kadang ada juga pesan yang sengaja dikirimkan kepada orang orang yang dimaksudkan tetapi sengaja tidak diterima oleh orang itu. Misalnya orang tua yang berbicara kepda anaknya tetapi anaknya tidak mau mendengarnya.
Ada juga situasi komunikasi yang tidak disengajatetapi diterima oleh orang lain dengan sengaja. Misalnya : dalam suatu kelsa yang hening tiba-tiba seorang murid berdiri maju kedepan mengambil kapur untuk menghisap tinta penanya. Gerakan murid dengan tidak sengaja sebagai pesan itu diterima murid-murid lainnya sebagai pesan karena tiba-tiba temannya yang lain memperhatikan geraknya yang menimbulkan bermacam-macam interprestasi bagi mereka. Dari bermacam-macam contoh diatas jelaslah, bahwa komunikasi itu dapat terjadi disengaja maupun tidak dengan disengaja.[16]









PENUTUP  

Kesimpulan
1.                  Komunikasi adalah suatu proses penyampaian berita dari suatu pihak ke pihak lain dengan mempergunakan suatu sarana untuk mendapatkan saling pengertian antara kedua belah pihak.
2.                  Komunikasi memiliki beberapa unsur yang mana unsure-unsur ini saling berkaiatan, yaitu sumber, pesan, media, penerima, pengaruh, tanggapan balik, dan lingkungan. Tetapi berlangsungnya komunikasi minimal ada tiga unsure, yakni Pengirim pesan, penerima pesan dan pesan itu sendiri.
3.                  Komunikasi mempunyai beberapa prinsip pertama komunikasi dikatakan suatu proses Karena merupakan suatu seri kegiatan yang terus-menerus, yang tidak mempunyai permulaan atau akhir dan selalu berubah-ubah, kedua Seperti kita ketahu diatas bahwa komunkasi terdiri dari beberapa unsur-unsur dan unsur-unsur tersebut mempunyai tugas masing-masing. Tugas dari unsur-unsur itu berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan suatu komunikas, ketiga Yang dimaksud dengan istilah interaksi adalah saling bertukar komunikasi dan yang  keempat Komunikasi yang disengaja terjadi apabila pesan yang mempunyai maksud tertentu dikirimkan kepada penerima yang dimaksudkan.






[1] Baraba, Faiz, CS, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Surabaya, Indah, 1994.
[2] Karyono, Hari, Etika Komunikasi, Bandung: Angkasa, 1995.
[3] Widjaya,AW, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta : Bumi Aksara,1993. Hlm.8.
[4] Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1985.
[5] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.
hlm 22-  23.
[6] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.hlm 25
[7] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.hlm 26
[8] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.hlm 27
[9] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.hlm 28
[10] Cangara,Hafied, Pengantar Ilmu komunikasi,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007.hlm 23.
[11] Vardiyansah, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.
[12] Wiryanto, DR., 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Grasindo.
[13] Tyastuti, dkk., 2008. Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.

[14] Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi Aksara, 2005 hlm 20
[15] Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi Aksara, 2005 hlm 20
[16] Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi Aksara, 2005 hlm 22

IBNU MISKAWAIH DAN FILSAFATNYA

0 komentar


IBNU MiSKAWAIH DAN FILSAFATNYA
1.      Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Akal  merupakan salah satu anugrah Allah SWT.yang paling istimewa bagi manusia .sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri.Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan di bawah sejak lahir karena  manusia ketika dilahirkan belum mengetahui apa-apa. Dua sumber pengetahuan  yang di peroleh  manusia, yaitu pengetahuan yang di peroleh melalui wahyu dan pengetahuan yang di peroleh melalui panca indra.
Demikian halnya Ibnu Miskawaih seorang anak manusia yang tumbuh berkembang seperti manusia lainnya, mencari kebenaran baik melaui penelitian ,pelatihan untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan dari pengalaman ia berinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan manusia dan alam sekitarnya.Sehingga dalam berbagai literaturnya ia juga menulis tentang kajian kedokteran, Sejarah, Bahasa dll. Sehingga Ibnu Miskawaih tumbuh menjadi seorang filosop Muslim yang termaktub dalam sejarah pemikiran islam. Ia memiliki tempat dalam sejarah pemikiran.
Ibnu Miskawaih hidup di tengah tengah situasi masyarakat yang memperhatinkan, Kehidupan lingkungannya yang di warnai praktek praktek amoral seperti perzinahan, perjudian, perkosaan, penganiayaan dll.keadaan ini menjadi alasan Ibnu Miskawaih untuk lebih berkonstrasi mengkaji ilmu yang menyangkut etika atau moral manusia karena dengan moral yang baik akan tercipta suasana masyarakat yang damai dan bersahaja.

2.      Biografi Ibnu Miskawaih
Nama lengkap Ibnu  Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu yakkub ibnu miskawaih.ia dilahirkan di kota Rayy, iran pada tahun 330 H/ 941M dan wafat di asfahan pada tanggal 9 shafar 421 H / 16 februari 1030M. Sejarah hidup tokoh ini tidak banyak di ketahui banyak orang, para penulis dalam berbagai literature tidak mengungkapkan biografinya secara rinci[1].
Namun demikian ,ada beberapa hal yang perlu di jelaskan bahwa inbnu miskawaih  belajar sejarah terutama Tharikh Al-Tabhari kepada Abu Bakar Ibnu Kamil Al- Qadhi dan belajar filsafat pada ibnu al-khammar, mufasir kenamaan Karya-karya Aristoteles. Ada diantara penulis yang mengatakan bahwa ibnu miskawaih sebelum masuk islam  beragama majusi. Kredibilitas statemen ini perlu diragukan ,karena dilihat dari namanya, Muhammad, menunjukkan nama orang muslim. Agaknya benar yang di kemukakan Abdurrahman Badawi bahwa statemen ini lebih tepat ditujukan kepada bapaknya.Ibnu Miskawaih seorang penganut syiah .indikasi ini didasarkan pada pengabdiaannya kepada Sulthan dan Wazir-Wazir syiah dalam masa pemerintahan Bani Buwaih(320-448H). Ketika  Sultahn Ahmad ‘Adhud Daulah memegang tumpuk pemerintahan,ia menduduki jabatan yang penting, seperi diangkat menjadi Khazin, Penjaga perpustakaan yang besar dan bendahara negara.
3.      Pemikiran Ibnu Miskawaih
a.       Tentang Ketuhanan
Tuhan, menurut miskawaih adalah zat yang tidak berjism, Azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan adaNya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkanNya.Tampaknya pemikiran Ibnu MIskawaih sama denagan pemikiran al-Farabi dan Al-Kindi. Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negative dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, prograsi positif. Alasannya prograsi posotif akan menyamakan Tuhan dengan alam. Segala sesuatu di alam ini ada gerakan.
Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula .ia bukti tentang adanya Tuhan pencipta alam.pendapat ini berdasarkan pada pemikiran aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula.Sabagai filosofis  releguis sejati.Ibnu Miskawaih mengatakan,alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada,karena penciptaan yang suadah ada bahan sebelumnya tidak ada artinya.disinilah letak persamaan pemikirannya dengan Al-Kindi dan berbeda dengan Al-Farabi bahwa Allah menciptakan alam dari sesuatu yuang sudah ada.

b.      Tentang Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi,Ibnu MIskawaih juga menganut paham emanasi,yakni Allah menciptakan alam secara pancaran.Namun Emanasinya berbeda dengan Al-Farabi.menurut entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif.akal aktif ini tanpa perantara apapun.ia kadim,Sempurnah  dan Tak berubah.Dari akal inilah  timbul jiwa dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus menerus dari Allah  dapat memelihara tatanan di dalam ala mini.Andaikan Allah menahan Pancaran-Nya,maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
Untuk lebi jelasnya dapat dikemukakan perbedaan Emanasi Antara Ibnu  Miskawah dan Al-Farabi sebagai berikut
.
1.      Bagi Ibnu Miskawaih ,Allah menjadiakan ala mini secara Emanasi dari tiadak menjadi ada.sementara itu menurut Al-Farabi alam dijadikan tu7han secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
2.      Bagi Ibnu Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif.Sementara itu ,bagi Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.
Dari uaraian diatas dapat ditegaskan bahwa dalam masalah pokok Ibnu Miskawaih sejalan dengan pemikiran Guru Kedua,Al-Farabi akan tetapi,Dalam penyelesaian  masalah ini lebuh cendrung kepada Al-Kindi dan Teolog Muslim.
Sebagaimana Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Miskawaih juga mengemukakan  teori Evolusi,menurutnya alam mineral,alam tumbuh-tumbuhan,alam hewan dan alam manusia merupakan rentetan yang sambung mernyambung.Antara setiap alam tersebut terdapat  jarak waktu yang sangat panjang.taransisi dari alam mineral kea lam tumbuh-tumbuhan terjadi melalui merjan dari alam tumbuh tumbuhan kea lam hewan melalui pohon kurma dan dari alam hewan ke alam manusia melalui kera.

c.       Tentang Jiwa
Jiwa, menurut Ibnu Miskawaih,adalah jauhar rohani yang tidak hancur  dengan sebab kematian jasad.ia adalah satu kesatuan  yang tidak dapat terbagi bagi.ia akan hidup selalu ia tidak dapat diaraba dengan panca Indra karena ia bukan jism dan bagian dari jisim.jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya danh memngetahui keaktivitasnya[2].
Argumen yang di majukan adakah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan..Jadi Ibnu Miskawaih mensinyalkan bahwa jiwa tidak dapat di bagi-bagi itu tidak mempunyai unsure,sedangakan unsur unsur hanya terdapat pada materi.namun demikian,jiwa dapat menyerap materi yang kompleks dan non materi yang sederhana.
Dalam kesempatan lain,Ibnu Miskawaih juga membedakan antara pengetahuan jiwa dan pengetahuan panca indra.secara tegas menyatakan bahwa panca indra tidak dapat menangkap selain apa yang dapat diraba atau di indra.Sementara jiwa dapat menangkap apa yang dapat ditangkap panca indra,yakni dapat diraba  dan juga tidak dapat di raba. Tentang balasan Akhirat,sebagaimana Al-Farabi,Ibnu Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima  balasan di akhirat.karena,menurutnya,kelezatan jasmaniyyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.

d.      Tentang Akhlak
Ibnu Miskawaih seorang moralis yang terkenal.hampir setiap pembahasan akhlak dalam islam ,filsafat ini selalu dapat perhatian utama,keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran islam dan di kombinasiakan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap,seperti filsafat yunani dan Persia.yang di maksud sumber pelengkap dalah sumber lain baru diambil jika sejalan dengan ajaran islam dan sebaliknya ia tolak ,jika tidak demikian[3].
Akhak menuruit konsep Ibnu Miskawaih,ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan.Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur,yakni unsur naluriah dan unsure lewat kebiasaan dan latihan
Berdasarkan ide diatas,secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang orang yunani yang mengatakan  bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah.Babi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan dan latihan latihan.pemikiran seperti ini sejalan dengan pemikiran dan ajaran islam karena  secara  eksplisit telah mengisyaratkan kearah ini  dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia.karena kebenaran ini tidak dapat di bantah sedangkan sifat binatang saja bisa berubah jadi liar menjadi jinak,apalagi akhlak manusia.
Ibnu Miskawaih juga menjelaskan sifat sifat yang utama,sifat sifat ini ,menurutnya,erat kaitannya dengan jiwa.jiwa memiliki tiga daya :daya marah,daya berfikir,dan daya keinginan.Sifat Hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berfikir yang lahir dari ilmu.Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang tinbul dari jiwa hilm,sementara Murah adalah sifat utama pada jiwa keinginan lahir dari iffah.dengan demikian  ada tiga sifat utama yaitu hikmah,berani dan murah.apabila  ketiga sifat utama ini serasi,muncul sifat utama yang keempat,yakni adil.
Dalam kitab Al-akhlak Ibnu Miskawaih juga memaparkan kebahagian,menurutnya meliputi jasmani dan rohani.pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat plato dan Aristoteles.Menurut plato kebahagian yang sebenarnya adalah kebahagian rohani.Hal ini dapat diperoleh manusia apabila rohaniyah telah berpisah dengan jasadnya.Dengan redsaksi lain selama rohaniyah masih  terikat pada jasadnya,yang selalu menghalanginya mencara hikmah,kebahagiaan dimaksud tidak akan tercapai.sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagian dapat di capai dalam kehidupan di dunia ini,namun kebahagian tersebut berbeda di antara manusia ,seperti orang miskin kebahagiaanya  adalah kekayaan ,yang sakit pada kesehatan dan lainnya.
Urain di atas adapat dijadikan bukti bukti bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran islam.Sementara gabungan pendapat plato Aristoteles merupakan  pemikiran pelengkap yang ia terima karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

e.       Tenang Kenabian
Sebagaimana Al-Farabi,Ibnu Miskawaih juga Menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah.Usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan pilosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu.Menurut Ibnu Miskawaih,nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat hakikat kebenaran  seperti ini juga  diperoleh oleh para pilosof. Perbedaannya hanya terletak pada tehnik memperolehnya[4].
Filosof mendapatkan kebenaran tersebut sari bawah keatas  dari daya indrawi menaik kedaya khayal dan menaik lagi kedaya Fikir yang dapat berhubungan dan menangkap kebenaran  dari akal aktif.sementara itu  Nabi mendapatkan kebenaran  diturunkan dari atas kebawah,yakni ndari akal aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah.
Penjelasan diatas dapat dijadikan petunjuk bahwa bahwa Ibnu Miskawaih berusaha merekonsiliasi antara agama dan filsafat dan keduanya mesti cocok dan serasi,karna sumber keduanya sama.justru itulah filosof adalah orang yang paling cepat menerima  dan mempercayai apa yang di bawa oleh nabi karena nabi membawa ajaran yang tidak bertolak pada akal fikiran manusia.Namun demikian ,tidak berarti manusia tidak membutuhkan nabi karena dengan perantaraan nabi  dan wahyulah manusia dapat mengetahui hal hal yang bermanfaat.yang dapat menbawa manusia kepada kebahagian.ajaran ini tidak dapat dipelajari oleh manusia  kecuali para pilosof,denmgan kata lain  sangat sedikit kuantitas manusia  yang dapat mencapainya.Hal ini karena filsafat tidak dapat di jangkau oleh semua lapisan masyarakat.

4.      karya Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih tidak hanya dikenal sebagai seorang Pemikir,tetapi ia juga seorang penulis yang Produktif.Dalam buku The Histiry of the  Muslim Philosophy,di sebutkan beberapa karya tulisnya.yaitu
    1. Al-Fauz Al-Akbar Wal Asghar
    2. Tajarib Alumam
    3. Tahzib Al-Akhlaq
    4. Thaharah An-Nafs
5.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka di simpulkan  beberapa poin penting sebagai berikut :
  1. Pemikiran  Filsafat Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran Islam ,Sementara gabungan pendapat plato dan aristoteles merupakan pemikiran pelengkap yang ia terima selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
  2. Ibnu Miskawaih diberi julukan  sebagai Bapak Filsof Akhlak sebab Objek kajiaannya lebih menitik beratkan pada masalah Moralitas.
  3. Ibnu Miskawaih  mengatakan bahwa kebahagian manusia meliputi kebahagian jasmani dan rohani.
Daftar Pustaka
Ø  Daud, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Ø  Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Ø  Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Ø  Hasyim Nasution. Filsafat Islam, Jakarta: Radar Jaya Jakarta, 2002.
Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum, Bandung: VC Pustaka Setia, 2008.

komunikasi efektif dalam pembelajaran

0 komentar
KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN
Oleh : Arjamudin
ABSTRAK
Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi. Komunikasi adalah proses pengiriman informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk tujuan tertentu. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan.
Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga dosen sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif.
Kata kunci : komunikasi, pembelajaran.
A. Pendahuluan
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya peningkatan kualitas pendidikan yang sekarang ini sedang menjadi sorotan dan harapan banyak orang di Indonesia. Wujud dari proses pendidikan yang paling riil terjadi di lapangan dan bersentuhan langsung dengan sasaran adalah berupa kegiatan belajar mengajar pada tingkat satuan pendidikan. Kualitas kegiatan belajar mengajar atau sering disebut dengan proses pembelajaran tentu saja akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang output-nya berupa sumber daya manusia.
Kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar kepada pembelajar. Dalam pembelajaran terjadi proses komunikasi untuk menyampaikan pesan dari pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar pesan dapat diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman serta perubahan tingkah laku. Dengan demikian keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat tergantung kepada efektifitas proses komunikasi yang terjadi dalam pembelajaran tersebut.
B. Komunikasi dan Pembelajaran
1. Pengertian Komunikasi
Banyak pendapat dari berbagai pakar mengenai definisi komunikasi, namun jika diperhatikan dengan seksama dari berbagai pendapat tersebut mempunyai maksud yang hampir sama. Menurut Hardjana, sebagaimana dikutip oleh Endang Lestari G (2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, atau bersama dengan, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris disebut communion, yang mempunyai makna kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau berteman. Dengan demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus. Selain definisi yang telah disebutkan di atas, pemikir komunikasi yang cukup terkenal yaitu Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detil. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.(Suranto : 2005)
Tidak seluruh definisi dikemukakan di sini, akan tetapi berdasarkan definisi yang ada di atas dapat diambil pemahaman bahwa :
a. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses penyampaian informasi.
Dilihat dari sudut pandang ini, kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan atau informasi dan cara penyampaiannya. Menurut konsep ini pengirim dan penerima pesan tidak menjadi komponen yang menentukan.
b. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain. Pengirim pesan atau komunikator memiliki peran yang paling menentukan dalam keberhasilan komumikasi, sedangkan komunikan atau penerima pesan hanya sebagai objek yang pasif.
c. Komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Pemahaman ini menempatkan tiga komponen yaitu pengirim, pesan, dan penerima pesan pada posisi yang seimbang. Proses ini menuntut adanya proses encoding oleh pengirim dan decoding oleh penerima, sehingga informasi dapat bermakna.
2. Pengertian Pembelajaran
Sardiman AM (2005) dalam bukunya yang berjudul “Interaksi dan Motivasi dalam Belajar Mengajar” menyebut istilah pembelajaran dengan interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif adalah interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya. Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam kehidupannya, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani. Proses edukatif memiliki ciri-ciri :
a. ada tujuan yang ingin dicapai ;
b. ada pesan yang akan ditransfer ;
c. ada pelajar ;
d. ada guru ;
e. ada metode ;
f. ada situasi ada penilaian.
Terdapat beberapa faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran, yaitu pengajar, mahasiswa, sumber belajar, alat belajar, dan kurikulum (Once Kurniawan : 2005). Association for Educational Communication and Technology (AECT) menegaskan bahwa pembelajaran (instructional) merupakan bagian dari pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen sistem instruksional, yaitu komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar atau lingkungan.
Suatu sistem instruksional diartikan sebagai kombinasi komponen sistem instruksional dan pola pengelolaan tertentu yang disusun sebelumnya di saat mendesain atau mengadakan pemilihan, dan di saat menggunakan, untuk mewujudkan terjadinya proses belajar yang berarah tujuan dan terkontrol, dan yang : a) didesain untuk mencapai kompetensi tertentu atau tingkah laku akhir dari suatu pembelajaran; b) meliputi metodologi instruksional, format, dan urutan sesuai desain; c) mengelola kondisi tingkah laku; d) meliputi keseluruhan prosedur pengelolaan; e) dapat diulangi dan diproduksi lagi; f) telah dikembangkan mengikuti prosedur; dan g) telah divalidasi secara empirik. (Yusufhadi M, dkk.:1986)
Dengan demikian pembelajaran dapat dimaknai sebagai interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang dilakukan secara sengaja dan terencana serta memiliki tujuan yang positif. Keberhasilan pembelajaran harus didukung oleh komponen-komponen instuksional yang terdiri dari pesan berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu pengajar, bahan untuk menuangkan pesan, peralatan yang mendukung kegiatan belajar, teknik atau metode yang sesuai, serta latar atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.
C. Proses Komunikasi dalam Pembelajaran
1. Proses Komunikasi


Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu yang bersifat statis. Komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok.
Pengirim pesan melakukan encode, yaitu memformulasikan pesan yang akan disampaikannya dalam bentuk code yang sedapat mungkin dapat ditafsirkan oleh penerima pesan. Penerima pesan kemudian menafsirkan atau men-decode code yang disampaikan oleh pengirim pesan. Berhasil tidaknya komunikasi atau tercapai tidaknya tujuan komunikasi tergantung dari ketiga komponen tersebut.
Dilihat dari prosesnya, komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambing, mimik muka, dan sejenisnya.
Ketercapaian tujuan merupakan keberhasilan komunikasi. Keberhasilan komunikasi tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
a. Komunikator (Pengirim Pesan)
Komunikator merupakan sumber dan pengirim pesan. Kredibilitas komunikator yang membuat komunikan percaya terhadap isi pesan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi.
b. Pesan yang disampaikan
Pesan harus memiliki daya tarik tersendiri, sesuai dengan kebutuhan penerima pesan, adanya kesamaan pengalaman tentang pesan, dan ada peran pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima.
c. Komunikan (Penerima Pesan)
Agar komunikasi berjalan lancar, komunikan harus mampu menafsirkan pesan, sadar bahwa pesan sesuai dengan kebutuhannya, dan harus ada perhatian terhadap pesan yang diterima.
d. Konteks
Komunikasi berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif sangat mendukung keberhasilan komunikasi.
e. Sistem Penyampaian
Sistem penyampaian berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang digunakan dalam proses komunikasi harus disesuaikan dengan kondisi atau karakterisitik penerima pesan. (IGAK Wardani : 2005)
Menurut Endang Lestari G dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi yang Efektif” ada dua model proses komunikasi, yaitu :
a. Model linier
Model ini mempunyai ciri sebuah proses yang hanya terdiri dari dua garis lurus, dimana proses komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Berkaitan dengan model ini ada yang dinamakan Formula Laswell. Formula ini merupakan cara untuk menggambarkan sebuah tindakan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: who, says what, in wich channel, to whom, dan with what effect.
a. Model sirkuler
Model ini ditandai dengan adanya unsur feedback. Pada model sirkuler ini proses komunikasi berlangsung dua arah. Melalui model ini dapat diketahui efektif tidaknya suatu komunikasi, karena komunikasi dikatakan efektif apabila terjadi umpan balik dari pihak penerima pesan.
Dengan demikian proses komunikasi dapat berlangsung satu arah dan dua arah. Komunikasi yang dianggap efektif adalah komunikasi yang menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Dalam proses komunikasi yang baik akan terjadi tahapan pemaknaan terhadap pesan (meaning) yang akan disampaikan oleh komunikator, kemudian komunikator melakukan proses encoding, yaitu interpretasi atau mempersepsikan makna dari pesan tadi, dan selanjutnya dikirim kepada komunikan melalui channel yang dipilih. Pihak komunikan menerima informasi dari pengirim dengan melakukan proses decoding, yaitu menginterpretasi pesan yang diterima, dan kemudian memahaminya sesuai dengan maksud komunikator. Sinkronisasi pemahaman antara komunikan dengan komunikator akan menimbulkan respon yang disebut dengan umpan balik.
1. Desain Pesan dalam Pembelajaran
Pembelajaran sebagai proses komunikasi dilakukan secara sengaja dan terencana, karena memiliki tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Agar pesan pembelajaran yang ingin ditransformasikan dapat sampai dengan baik, maka Malcolm sebagaimana disampaikan oleh Abdul Gaffur dalam handout kuliah Teknologi Pendidikan PPs UNY (2006) menyarankan agar dosen perlu mendesain pesan pembelajaran tersebut dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Kesiapan dan motivasi.
Kesiapan disini mencakup kesiapan mental dan fisik. Untuk mengetahui kesiapan mahasiswa dalam menerima belajar dapat dilakukan dengan tes diagnostik atau tes prerequisite.
Motivasi terdiri dari motivasi internal dan eksternal, yang dapat ditumbuhkan dengan pemberian penghargaan, hukuman, serta deskripsi mengenai keuntungan dan kerugian dari pembelajaran yang akan dilakukan.
b. Alat Penarik Perhatian
Pada dasarnya perhatian/konsentrasi manusia adalah jalang, sering berubah-ubah dan berpindah-pindah (tidak focus). Sehingga dalam mendesain pesan belajar, dosen harus pandai-pandai membuat daya tarik, untuk mengendalikan perhatian mahasiswa pada saat belajar. Pengendali perhatian yang dimaksud dapat berupa : warna, efek musik, pergerakan/perubahan, humor, kejutan, ilustrasi verbal dan visual, serta sesuatu yang aneh.
c. Partisipasi Aktif Siswa
Dosen harus berusaha membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Untuk menumbuhkan keaktifan mahasiswa harus dimunculkan rangsangan-rangsangan, dapat berupa : tanya jawab, praktik dan latihan, drill, membuat ringkasan, kritik dan komentar, serta pemberian proyek (tugas).
d. Pengulangan
Agar peserta didik dapat menerima dan memahami materi dengan baik, maka penyampaian materi sebaiknya dilakukan berulang kali. Pengulangan dapat berupa : pengulangan dengan metode dan media yang sama, pengulangan dengan metode dan media yang berbeda, preview, overview, atau penggunaan isyarat.
e. Umpan Balik
Dalam proses pembelajaran, sebagaimana yang terjadi pada komunikasi, adanya feedback merupakan hal yang penting. Umpan balik yang tepat dari dosen dapat menjadi pemicu semangat bagi mahasiswa. Umpan balik yang diberikan dapat berupa : informasi kemajuan belajar siswa, penguatan terhadap jawaban benar, meluruskan jawaban yang keliru, memberi komentar terhadap pekerjaan siswa, dan dapat pula memberi umpan balik yang menyeluruh terhadap performansi mahasiswa.
f. Menghindari Materi yang Tidak Relevan
Agar materi pelajaran yang diterima peserta belajar tidak menimbulkan kebingungan atau bias dalam pemahaman, maka sedapat mungkin harus dihindari materi-materi yang tidak relevan dengan topik yang dibicarakan. Untuk itu dalam mendesain pesan perlu memperhatikan bahwa : yang disajikan hanyalah informasi yang penting, memberikan outline materi, memberikan konsep-konsep kunci yang akan dipelajari, membuang informasi distraktor, dan memberikan topik diskusi.
Desain pesan pembelajaran merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan oleh dosen, agar proses belajar mengajar dapat berlangung secara efektif. Dengan mendesain materi kuliah terlebih dahulu, akan memudahkan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.
2. Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran
Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Setidaknya terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu :
a. Kejelasan
Hal ini dimaksudkan bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.
b. Ketepatan
Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.
c. Konteks
Konteks atau sering disebut dengan situasi, maksudnya adalah bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
d. Alur
Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap
e. Budaya
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. (Endang Lestari G : 2003)
Menurut Santoso Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in tune”. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat :
a. menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan
b. menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti
c. pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan
d. pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan
e. pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.
Terkait dengan proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif oleh mahasiswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang dosen. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
Sokolove dan Sadker seperti dikutip IGAK Wardani dalam bukunya membagi keterampilan antar pribadi dalam pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Kemampuan untuk Mengungkapkan Perasaan Mahasiswa.
Kemampuan ini berkaitan dengan penciptaan iklim yang positif dalam proses belajar mengajar, yang memungkinkan peserta didik mau mengungkapkan perasaan atau masalah yang dihadapinya tanpa merasa dipaksa atau dipojokkan. Iklim semacam ini dapat ditumbuhkan oleh dosen dengan dua cara, yaitu menunjukkan sikap memperhatikan dan mendengarkan dengan aktif. Untuk menumbuhkan iklim semacam ini, pendidik harus bersikap: 1) memberi dorongan positif; 2) bertanya yang tidak memojokkan; dan 3) fleksibel.
b. Kemampuan Menjelaskan Perasaan yang Diungkapkan Mahasiswa.
Apabila mahasiswa telah bebas mengungkapkan problem yang dihadapinya, selanjutnya tugas dosen adalah membantu mengklarifikasi ungkapan perasaan mereka tersebut. Untuk kepentingan ini, dosen perlu menguasai dua jenis keterampilan, yaitu merefleksikan dan mengajukan pertanyaan inventori. Pertanyaan inventori adalah pertanyaan yang menyebabkan orang melacak pikiran, perasaan, dan perbuatannya sendiri, serta menilai kefektifan dari perbuatan tersebut. Pertanyaan inventori dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pertanyaan yang menuntut mahasiswa untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, pertanyaan yang menggiring mahasiswa untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan, pikiran, dan perbuatannya, dan pertanyaan yang menggiring mahasiswa untuk mengidentifikasi konsekuensi/akibat dari perasaan, pikiran, dan perbuatannya.
Agar dapat merefleksikan ungkapan perasaan peserta didik secara efektif, pengajar perlu mengingat hal-hal berikut :
1) Hindari prasangka terhadap pembicara atau topik yang dibicarakan.
2) Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun nonoverbal dari pembicara.
3) Lihat, dengarkan, dan rekam dalam hati, kata-kata/perilaku khas yang diperlihatkan pembicara.
4) Bedakan/simpulkan kata-kata/pesan yang bersifat emosional.
5) Beri tanggapan dengan cara memparaphrase kata-kata yang diucapkan, menggambarkan perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan mengenai kedua hal tersebut.
6) Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti memusuhi.
7) Meminta klarifikasi terhadap pertanyaan atau pernyataan yang disampaikan.
c. Mendorong Mahasiswa untuk Memilih Perilaku Alternatif.
Untuk keperluan ini, dosen harus memiliki kemampuan :
1) Mencari/mengembangkan berbagai perilaku alternatif yang sesuai.
2) Melatih perilaku alternatif serta merasakan apa yang dihayati mahasiswa dengan perilaku tersebut.
3) Menerima balikan dari orang lain tentang keefektifan setiap perilaku alternatif.
4) Meramalkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dari setiap perilaku alternatif.
5) Memilih perilaku alternatif yang paling sesuai dengan kebutuhan pribadi mahasiswa.
Wiranto Arismunandar dalam pidato Apresiasi Guru Besar ITB (2003) mengatakan bahwa, tantangan bagi dosen adalah bagaimana dapat menjelaskan materi kuliah dengan baik, memberikan yang esensial dengan cara yang menarik, percaya diri, dan membangkitkan motivasi para mahasiswanya. Komunikasi dan interaksi di dalam kelas dan di luar kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan. Dosen yang menjelaskan, mahasiswa yang bertanya; berbicara dan mendengarkan yang terjadi silih berganti, semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang penting serta berlaku dalam kehidupan yang sejahtera. Bertanya pun harus jelas serta menggunakan bahasa yang baik dan benar, supaya diperoleh jawaban yang baik dan benar pula. Mereka yang pandai mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat belajar dan mendapatkan informasi lebih banyak. Mahasiswa hendaknya didorong untuk bertanya tentang sesuatu yang belum jelas atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian dosen dipacu untuk senantiasa mengikuti perkembangan dan mahasiswa memahami semua materi yang dibahas. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa mutu pendidikan sangat tergantung dari partisipasi dan kontribusi dari semua yang terlibat. Hal tersebut sangat menarik karena baik dosen maupun mahasiswa senang dan merasa perlu datang kuliah. Secara tidak langsung dosen akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau gagasan mahasiswa (the unborn ideas) serta membantu mahasiswa mengungkapkan pikiran dan gagasannya tersebut.
Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan mahasiswa, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut, maka para pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi yang dimaksud dapat berupa kemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses pembelajaran.
D. Kesimpulan
Pembelajaran sebagai subset dari proses pendidikan harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, yang pada ujungnya akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Agar pembelajaran dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan, maka dalam proses pembelajaran harus terjadi komunikasi yang efektif, yang mampu memberikan kefahaman mendalam kepada peserta didik atas pesan atau materi belajar.
Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga dosen sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif.
Daftar Pustaka
Arismunandar, Wiranto. (2003). Komunikasi dalam Pendidikan. Departemen Teknik Mesin ITB. Bandung.
Gafur, Abdul. (2006). Handout Kuliah Landasan Teknologi Pendidikan. PPs UNY. Yogyakarta
Lestari G, Endang dan Maliki, MA. (2003). Komunikasi yang Efektif. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta.
Miarso, Yusufhadi. (1986). Definisi Teknologi Pendidikan. Rajawali. Jakarta
Pratikno, R. (1987). Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Remadja Karya. Bandung
Sardiman AM. (2005). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali Press. Jakarta.
Suranto. (2005). Komunikasi Perkantoran. Media Wacana. Yogyakarta
Wardani, IGAK. (2005). Dasar-Dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar Mengajar. PAU-DIKTI DIKNAS. Jakarta.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com