Jumat, 02 November 2012

PERBANDINGAN ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN MU’TAZILAH (ILMU KALAM )

0 komentar

MAKALAH

ILMU KALAM

PERBANDINGAN ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN  MU’TAZILAH
Dosen Pembimbing : Abdullah Firdauz,LC.MA



NAMA : ARJAMUDIN
NIM      :UR.110973
                                                                                         
JURUSAN FUBLIC RELATION
FAKULTAS USHULUDDIN  INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN AKADEMIK
  2011/2012

KATA PENGANTAR

Assalamualikum wr.wb
Pertama-tama, saya mengajak semua untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dalam perlindungan-Nya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdullah Firdauz,LC.MA selaku dosen mata kuliah Ilmu Kalam yang memberikan pelajaran serta bimbingan yang tidak pernah putus kepada kita semua, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari makalah ini jauh dari sempurna dan tentu masih banyak kesalahan, kejanggalan dan kehilafan serta kekurangan disana sini. Tapi ini bukan lah halangan untuk memahami Mu’tazilah dan Asy’ariyah ini, justru ini akan menjadi pendorong semangat dalam mengejar pengetahuan di maksud untuk di kuasai secara utuh.
Akhirnya kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini kami  harapkan. Untuk menjadi bahan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb   
                                       Jambi, 14 November 2011
                                                                                                       Penulis

 ARJAMUDIN
 NIM : UR110973


DAFTAR ISI

Kata Pengantar .........................................................................................     i
Daftar Isi ..................................................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ............................................................................       1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………...       1
C.     Tujuan …………………………………………………………..      1
D.    Manfaat …………………………………………………………      1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Asal Nama Mu’tazilah …………………………………………..     2
B.     Sejarah Munculnya Mu’tazilah………………………………….      2
C.     Aliran Mu’tazilah ………………………………………………       3
D.     Lima Ajaran Mu’tazilah ………………………………………..      7
E.     Pengertian Asy’ariyah …………………………………………        6
F.      Awal Munculnya Aliran Asy’ariyah ……………………………      6         
G.    Aliran Asy’ariyah ……………………………………………..         8
H.    Paham Asy’ariyah ……………………………………………..        9
I.       Perkembangan Aliran Asy’ariyah ………………………………      9
J.       Penyebab Keluarnya Al-Asy’ari Dari Aliran Mtazilah …………...   9
K.    Cirri-Ciri Penganut Aliran Asy’ariyah …………………………       11
L.     Tokoh-Tokoh Aliran Asy’ariyah ……………………………….       11
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
Daftar Pustaka ………………………………………………………….      14



BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sebelum kita membahas lebih jauh dari Asy’ariyah dan Mu’tazilah saya sebagai penulis makalah ini mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak  Abdullah Firdauz,LC.MA, dan kepada teman-teman yang telah memberikan saran dan kritikan sehingga makalah ini dapat saya selesaikan tepat pada waktunya. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itulah saya menghibau para teman-teman untuk dapat  membandingkan antara mu’tazilah dengan al-asy’ariyah.

B.       Rumusan masalah
A.       Agar dapat membandingkan antara aliran  Mu’tazilah dengan Asy’ariyah?
B.       Apa pengertian Mu’tazilah?
C.       Apa pengertian Asy’ariyah  ?
D.       Agar mengetahui lima ajaran Mu’tazilah menurut Abu Huzail Al-Allaf.

C.       Tujuan
A.  Agar mengetahui sejarah munculnya aliran Mu’tazilah danAsy’ariyah
B.   Agar dapat memahami aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
C.   Agar dapat membedakan antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
D.      Manfaat
A.  Dapat mengambil hikmah diantara perbedaan aliran Mu’takzilah dengan Asy’ariyah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      ASAL NAMA MU’TAZILAH
Secara harifah kata  mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri. Nama ini pada mulanya diberikan oleh orang diluar mu’tazilah, karena tokoh pendirinya. Washil bin Atha’. Mu’tazilah berarti  memisahkan atau menjauhkan diri dari yang salah sebagi suatu  tindakan terbaik. [1]
B.       SEJARAH MUNCULNYA MU’TAZILAH
Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzali. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid (seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. [2]
Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. [3]
Mengapa Disebut Mu’tazilah?
Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang imam di kalangan tabi’in.
C.    Aliran Mu’tazilah
Aliran mu’tazilah, sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, berpendapat bahwa perbutan tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa tuhan tidak mampu melakukan perbuan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu.
Andai kata tuhan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentulah tidak benar atau merupak berita bohong.[4]
Dasar pemikiran tersebut serta konsep tentang keadilan tuhan yang sejajar dengan paham adanaya batasan-batasan bagi kekuasaan dan kehendak tuhan, mendorong kelompok mu’tazilah untuk berpendapat bahwa tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiabn itu dapat disimpulkan dalam satu hal, yaitu kewajiban berbuat baik, bahkan yang terbaik (ash-Shalah wa al- ashalah) mengonsekuensikan aliran mu’tazilah memunculkan kewajiban Allah sebagai berikut :[5]
a.       Kewajiban tidak memberi beban di luar kemampuan manusia.
Memberikan kemampuan di luar kempuan manusia  (taklif ma yutaq) adalah bertentangan dengan faham baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan faham mereka tentang keadilan tuhan. Tuhan tidak adil jika memberikan beban yang terlalu berat kepada manusia.
b.      Kewajiban Mengirimkan Rasul
Bagi aliran mu’tazilah bahwa akal dapat mengetahui hal-hal gai. Pengiriman rasul tidaklah begitu penting.namun, mereka memasukkan pengiriman rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Tuhan. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahui setiap apa yang harus diketahui manusia tentang tuhan dan alam gaib. Oleh karena itu, tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan cara mengirim rasul. Tanpa rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c.       Kewajiban Menepati Janji (Al-Wa’d ) dan Ancaman (Al-Wa’id)
Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduannya yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberikan pahal untuk orang yang berbuat baik;dan menjalankan ancaman bagi orang yang berbuat jahat. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman bertentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia. Oleh karena itu, menati janji dan menjalankan ancaman adalah wajib bagi tuhan.[6]
Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.
Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut:


D.      LIMA AJARAN MU’TAZILAH
Lima ajaran yang dirumuskan oleh, Abu Huzail Al-Allaf :
1.    Al-tahuhid ( keesaan Allah)
2.    Al-Adl (keadilan Allah)
3.    Al-Wa’dwa’id ( janji dan ancaman)
4.    Al-Manzilah bain al- manzilatain
5.    Amar Makhruf dan Mahi Mungkar.
1.      Al-thuhid
Al-athuhid ( pengesaan tuhan) merupakan perinsip utama dan inti sari  ajaran mu’tazilah. Namun, bagi mu’tazilah, tauhid  memiliki arti yang spesifik dari  prinsip-prinsip Al-Tahuhid, lahir beberapa pendapat mu’tazilah diantaranya
a.       Manafikan sifat-sifat Allah, mu’tazilah tidak mengakui adanya sifat-sifat pada Allah.
b.      Al-Quran adalah mahkluk, karena itu al-quran diciptakan dan tidak qadim.
c.       Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat kelak.
d.      Tuhan tidak sama dengan mahkluk  (tajassum).
2.      Al-Adl ( Keadilan Tuhan).
Mu’tazilah sangat menekankan bahwa tuhan itu adil dan tidak berlaku lazim pada umat manusia.
3.      Al-Wa’d Wa Al-Wa’id ( Janji Baik Dan Ancaman)
Yaitu janji Allah yang akan  diberikan pahala kepada orang yang bebuat baik dan menyiksa orang yang berbuat jasa.
4.      Al_Manzilah Bain Al- Manzilatain
Seorang muslim yang melakukan dosa besar dan tidak sempat bertobat kepada Allah SWT tidaklah mukmin, tetapi tidak pula kafir.
5.      Amar Makruf dan Nahi Mungkar
Prinsip ini lebih banyak berakaitan dengan masalah hokum atau fiqih. Bahwa amar amkruf dan Nahi Mungkar harus ditegakkan dan di laksanakan. [7]
Ada beberapa pendapat yang menerangkan apa sebab-sebab maka kaum ini di namakan kaum mu’takzilah, yaitu :
a.       Di Bagdad terdapat seorang ulama besar namanya Syekh Hasan Basyryi (w.110H) orang-orang pada saat itu banyak berguru kepadanya dan diantara muridnya itu adalah Washil bin Atha (80-131 H).
b.      Ada orang yang mengatakan bahwa sebab mereka di namakan Mu’tazilah karena mereka mengasingkan diri dari masyarakatsebab pada asalnya adalah penganut Syi’ah yang patah hati akibat menyerahnya Khalifah Hasin bin Ali Thalib kepada Khalifah Muawyah dari bani Umayyah.
c.       Ada juga yang mengtakan bahwa ini adalah kaum yang suka memakai pakaian jelek-jelek dan kasar-kasar dan hidupnya meminta-minta (Darawisy) dn bertempat tinggal jauh dari keramaian orang.[8]
E.     PENGERTIAN ASY’ARIYAH
Menurut Ibn Asakir, ayah asy’ariyah adalah orang yang berpaham Ahlussunnah dan Ahli Hadis. Asy’ariyah menganut paham paham tau’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun.[9]
F.     AWAL MUNCULNYA ALIRAN ASY’ARIYAH

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M. Pada awalnya Al-Asy’ari ini berguru kepada tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.

Ketika berumur 40 tahun, dia bersembunyi dirumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Pada hari jum’at dia naik mimbar dimasjid Bashrah secara resmi dan menyatakan pendiriannya keluar dari Mu’tazillah. Pernyataan tersebut adalah: “wahai masyarakat, barang siapa mengenal aku, sungguh dia telah mengenalku, barang siapa yang tidak mengenalku, maka aku mengenal diri sendiri. Aku adalah fulan bin fulan, dahulu aku berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat dengan mata, maka perbuatan–perbuatan jelek aku sendiri yang membuatnya. Aku bertaubat, bertaubat dan mencabut paham-paham Mu’tazillah dan keluar dari padanya.[10]


Contoh perdebatan antara Imam Al-asy’ary dengan Abu Ali Al-Jubai:
  • Abu Hasan Al-Asy’ary bertanya: Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dalam keadaan berlainan, mukmin, kafir dan anak kecil.
  • Al-Jubai: Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka dan anak kecil selamat dari neraka.
  • Al-Asy’ari: Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudah meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin?
  • Al-Jubai: Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai dengan taat kepada Allah, sedangkan Engkau (anak kecil) belum beramal seperti itu.
  • Al-Asy’ari: Seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat. seandainya aku dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang mukmin.
  • Allah menjawab: Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu Aku menjaga kebaikanmu. Aku mematikan mu sebelum engkau mencapai umur dewasa.
  • Al-Asy’ari: seandainya si kafir itu bertanya: Engkau telah mengetahui keadaanku sebagaimana juga mengetahui keadaannya, mengapa engkau tidak menjaga kemashlahatanku, sepertinya? Maka Al-Jubai diam saja, tidak meneruskan jawabannya .
G.     Aliran Asy’ariyah
Terhadap pelaku dosa besar, agaknya al-Asy’ari sebagai ahli As-Sunnah, tidak mengfirkan orang-orang yang sujud ke baitullah (Ahl Al _Qiblah) walaupun melakukan dosa besar seperti berzina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar.
 Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan (halal) dan tidak menyakini keharamnnya, ia dipandang telah kafir.
 Adapun balasan diakhirat kelak bagi pelaku dosa besar apabila ia meninggal dan tidak sempat bertobat, maka menurut Al-Asy’ari, hal itu bergantung pada kebijakan Tuhan Yang Maha Berkehendak Mutlak. Tuhan dapat saja mengampuni dosanya atau pelaku dosa besar itu mendapat syafaat dari Nabi SA. Sehingga terbebas dari siksaan neraka atau kebalikannya, yaitu Tuhan memberikannya siksaan sesuai dengan ukuran dosa yang dilakukannya. Meskipun begitu, ia tidak akan kekal di neraka seperti orang-orang kafir lainnya. Setelah penyiksaan terhadapdirinya selesa, ia akan dimasukan ke dalam surga. Dari  paparan singkat ini jelaslah bahwa Asy’ariyah sesungguhnya mengambil posisi yang sama dengan murji’ah. Khususnya dalam pernyataan yang tidak mengafirkan para pelaku dosa besar.[11]
H.    Paham Asy’ariyah
Paham kaum Asy’ariyah berlawanan dengan paham Mu’tazilah. golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu mempunyai sifat diantaranya, mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana. Namun semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya)
Aliran Asy’ari mengatakan juga bahwa Allah dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala. Asy’ari menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud. karena Allah mempunyai wujud ia dapat dilihat .
I.       Perkembangan Aliran Asy’ariyah
            Aliran ini termasuk cepat berkembang dan mendapat dukungan luas dikalangan sebelum meninggalnya pendiri Aliran Asy’aiyah itu sendiri yaitu Imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, yang wafat pada tahun 324 H/934 M.
            Sepeninggalnya Al-Asy’ari sendiri mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat karena pada akhirnya Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal pikiran murni dari pada dalil nash.
J.      Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran Mu’tazillah
Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran mu’tazillah antara lain:
  1. Pengakuan Al-Asy’ari telah bertemu Rasulullah SAW sebanyak 3 kali. yakni pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. dalam mimpinya itu Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan paham Mu’tazillah .
  2. Al-Asy’ari merasa tidak puas terhadap konsepsi aliran Mu’tazilahdalam soal – soal perdebatan yang telah ditulis diatas.
  3. Karena kalau seandainya Al-Asy’ari tidak meninggalkan aliran Mu’tazillah maka akan terjadi perpecahan dikalangan kaum muslimin yang bisa melemahkan mereka
Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran. ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal-soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan.
Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan.

Beberapa pendapat Al-Asy’ari adalah tentang :       
1. Sifat.
Al-Asy’ari mengakui sifat-sifat Tuhan (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama’, basyar, dll), sesuai dengan zat Tuhan itu sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sufat – sifat makhluk. Tuhan dapat mendengar tetapi tidak seperti kita, mendengar dan seterusnya.

2. Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan manusia.
Al-Asy’ari mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa untuk memperoleh sesuatu perbuatan.

3. Melihat Tuhan pada hari kiamat.
Al-Asy’ari mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, tetapi tidak menuntut cara tertentu dan tidak pula arah tertentu. Al-Maturidi mengatakan juga bahwa manusia dapat melihat Tuhan .

4. Dosa besar
Al-Asy’ari mengatakan bahwa orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik, terserah kepada Tuhan, apakah akan diampuni-Nya dan langsung masuk syurga atau akan dijatuhi siksa karena kefasikannya, tetapi dimasukkan-Nya kedalam surga .

K.     Ciri-ciri Penganut Aliran Asy’ariyah

Ciri-ciri orang yang menganut aliran Asy’ariyah adalah sebagai berikut:
  1. Mereka berpikir sesuai dengan Undang-Undang alam dan mereka juga mempelajari ajaran itu.
  2. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia. dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar.
  3. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.
L.      TOKOH-TOKOH ALIRAN ASY’ARIYAH

1. Al-Baqillani

Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. 
Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

2. Al-Juwaini
Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.

Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:
  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.
4.      Al-Ghazaly
Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll

Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Setelah tersusunnya makalah ini maka dapat saya simpulkan bahwa Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M.
Paham kaum Asy’ariyah berlawanan dengan paham Mu’tazilah. golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu mempunyai sifat diantaranya, mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana.
Sedangkan Aliran Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Karena mereka berpendapat bahwa tuhan berpendapat bahwa perbutan tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa tuhan tidak mampu melakukan perbuan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu.
Andai kata tuhan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentulah tidak benar atau merupak berita bohong.
B.  Saran
Setelah makalah ini tersusun dan dapat saya selesaikan tepat pada waktunya, saya mengharapkan kepada pembaca supaya makalah ini jadikan sebagai sumber pengetahuan yang akan membawa kita ke jalan yang lebih baik.. Amin-amin yarobal alamin.




DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, Abduh. Teologi Rasional Mu’tazilah harun nasution UIP
Drs.H.M.Yusran Asmuni.PT Raja Grapindo. Jakarta.
Prof..Harun,Nasution.Teologi islam. Aliran-aliran sejarah analisa perbandingan hlm.40-61
Syekh Muhammad Abduh. Risalah Tauhid. Bulan Bintang: Jakarta Hlm.10-17
Drs Abduh Rozak,M.Ag dan Drs.Rosihon Anwar,M.Ag. Ilmu Kalam.Pustaka Setia.Bandung 2007


[1] Prof. Dr. Harun Nasotion. Universitas Indonesia. Jakarta  hlm. 1
[2] Syekh Muhammad Abduh. Risalah Tauhid. Bulan Bintang: Jakarta Hlm.10-17
[3] DR.Abdul Rozak,M.Ag. dan Dr.Rosihon Anwar,M.Ag. “Ilmu Kalam”. Pustaka Setia. Hlm. 156-157.
[4] DR.Abdul Rozak,M.Ag. dan Dr.Rosihon Anwar,M.Ag. “Ilmu Kalam”. Pustaka Setia. Hlm. 153-154.
[5] DR.Abdul Rozak,M.Ag. dan Dr.Rosihon Anwar,M.Ag. “Ilmu Kalam”. Pustaka Setia. Hlm. 154-155.
[6] Dr.Abdul Rozak,M.Ag dan DR.Rosihon Anwar,M.Ag.”Ilmu Kalam”. Pustaka Setia.Hlm.154-155.
[7] Drs.H.M.Yusran Asmuni.PT Raja Grapindo. Jakarta. Hlm116
[8] Muhammad Abduh. Teologi Rasional Mu’tazilah harun nasution UIP
[9] Prof.Dr. Rosihin Anwar.CV Pustaka Seti,. Bandung.Hlm 120
[10] Risalah Tuhid.Bulan Bintang.Jakarta. Hlm 10-17
    [11] Drs.Abdul Rozak,M.Ag dan Drs Anwar,M.Ag “Ilmu Kalam”. Penerbit Pustaka Setia. Hlm 137-138

Dasar -Dasar Pengetahuan ( Filsafat Ilmu )

0 komentar

MAKALAH
FILSAFAT ILMU
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
(Rasionalisme, emperalisme, dan Kritisme)
Dosen Pembimbing : Nurhasanah,S.Ag.M.Hum


DISUSUN OLEH :
NAMA : ARJAMUDIN
NIM      : UR110973


JURUSAN PUBLIC REALTION FAKULTAS USHULUDDIN
IAIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN AKADEMIK
2011/2012

KATA PENGANTAR

Assalmu’alaikum Wr.Wb.

            Untaian Puji syukur hanyalah milik Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasi, Karena dengan rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW kepada keluarganya para sahabatnya dan kepada kita semua umatnya. Amin
            Dalam makalah ini saya ingin memaparkan kajian tentang “Dasar-dasar Pengetahuan dalam Filsafat Ilmu”sebagai tugas dari mata kuliah filsafat ilmu dengan Dosen pembimbing Ibu Nurhasanah, S.Ag.M.Hum.

            Pemakalah juga menyadari bahwa isi makalah ini jauh dari kesempurnaan, saran dan kritik pemakalah sangat harapkan untuk proses perbaikan dan penyempurnaan dalam menyusun makalah selanjutnya. Dan juga saya berharap semoga makalah ini bisa berguna dan bermanfaat bagi kita semua umumnya dan bagi saya khususnya. Amin yaa robbal ‘alamin.                
Walaikumsalam Wr.Wb.
   Jambi, 8 November 2011
                Penulis


                ARJAMUDIN
                NIM.UR110973


                                                                                
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Latar belakang masalah ini adalah untuk membantu kita dalam memperbanyak pengetahuan tentang dasar-dasar pengetahuan dalam filsafat ilmu.
Inzaallah dengan makalah ini kita dapat memahami sekilas tentang rasionalisme, emperalisme, dan kritisme di dalam dasar-dasar pengetahuan.
B.     Rumusan Masalah
1.         Agar mengetahui dasar-dasar pengetahuan ?
2.         Mengetahui keterkaitan dasar-dasar pengetahuan  ?
3.         Agar mengetahui istilah-istilah dalam filsafat ilmu ?

C.    Tujuan
1.         Agar mengetahui tujuan dan manfaat dasar-dasar pengetahuan .
2.         Agar dapat membedakan rasionalisme, emperalisme, dan kritisme.
D.      Manfaat
Manfaat makalah ini adalah agar kita lebih  mengetahui dan memahami dasar-dasar pengetahuan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Rasionalisme
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.
Descartes juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang yang ragu-ragu terhadap segala sesuatu, dlam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berpikir. Sebab yang sedang berpikir itu tentu ada yang dan jelas terang benderang. Cogito Ergo Sum (saya berpikir, makna saya ada) rasio merupakn sumber kebenaran.
Rasio sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran. Yang benar adalah tindakan akal yang terang benderang yang di sebut Ideas Claires el Distenctes ( pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilih).
Ida yang terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan  ( Idea Innatae = ide bawaan). Sebagai pemebrian tuhan, maka tak mungkin tak benar.
Jadi rasonalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.

B.        Sebab Timbulnya Pemikiran Rasionalisme
Descartes merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi. Ia banyak menguasai filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar filfasat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya. Ia berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Hal ini merupakan terobosan baru semenjak zaman Aristoteles dan hal ini merupakan sebuah neo-self-confidence yang dihasilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan. Dia berhasrat untuk menemukan “sebuah ilmu yang sama sekali baru pada masyarakat yang akan memecahkan semua pertanyaan tentang kuantitas secara umum, apakah bersifat kontinim atau terputus.”
Dalam usahanya untuk mencapai kebenaran dasar tersebut Descartes menggunakan metode “Deduksi”, yaitu dia mededuksikan prinsip-prinsip kebenaran yang diperolehnya kepada prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya yang berasal dari definisi dasar yang jelas.
C.  Pola Pikir Rasionalisme
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, dari pada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut: Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik. Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
Di luar konteks religius, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum, umpamanya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer.
Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.
D.   Implikasi Aliran Rasionalisme Terhadap Dunia Pendidikan
Seperti kita ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan atau “angan-angan” yang mungkin (all possible intelligebles).
Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan ini harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud. Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.
Rasionalisme mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan adagiumnya: Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Ia beranggapan bahwa pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu tidak dapat meyakinkan, bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat diandalkan. Yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.
B.  Empirisme
 Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang meneakankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani epeiria yang berari coba-cobaatau pengalaman. Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivism logis ( logical positivism ) dan dan filsafat Ludwig wettegenstein. Akan tetapi teori makna dalam empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman.
Perjalanan empirisme yang dimulai dari Plato sampai John Locke selain jatuh pada dogmatisme emprisme[5], juga terjebak kepada kepada skeptisisme berlebih (kecurigaan) dan ketidakpercayaan terhadap golongan lain semisal rasionalisme. Empirisme lahir dan terjebak kepada afirmasi rasio praksis dan menegasikan rasio murni sehingga muncul dogmatisme empiris sendiri, terlebih dengan membangun kecurigaan/ ketidakpercayaan/ menegasikan (skeptisis) terhadap epistema yang lainnya telah banyak dianut oleh pendidikan modern, inilah bukti kenaifannya.
Dampak epistemologis dari kecendrungan-kecendrungan tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1.      Terjadinya pemisahan antara bidang sangkral dan bidang duniawi
misalnya pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik, atau pemisahan materi dan ruh yang terwujud dalam seorang ahli fisika atau ekonomi tidak akan berbicara agama dalam karya ilmiah mereka, sementara fisika dan ekonomi direduksi menjadi angka-angka, materi dan ruh tampak tidak kompatebel di mata mereka.[6]
2.      Kecendrungan kearah reduksionisme, materi dan benda direduksi kepada element-elemennya. Ini tampak pada fisika Newton, sama halnya dengan homo ekonomi-kus dalam ekonomi modern. (dua hal ini pengaruh sejarah rasionalisme empirisme).
3.      Pemisahan antara subyektivitas dan obyektifitas, misalnya dalam ilmu sosial hal yang merupakan debuku obyektif adalalah keniscayaan yang mengarah kepada relitas pasti, (pengaruh positivisme pengetahuan yang berujung pada statusquo hinggga dominasi kebenaran).
4.      Antroposentrisme, ini tampak dalam dalam konsep demokrasi dan individualisme (ini merupakan pengaruh dari rasionalisme Rendescartes dengan jargon individu bebas atau subyek manusia akan menjadi sentral peradaban dunia).
5.      Progresivisme, progresivisme diwakili oleh Marx, tetapi juga diyakini secara luas seperti pada kemajuan ilmu pengetahuan dan obat-obatan.



C. Dampaknya terhadap penyelenggaraan pendidikan Islam
Rasionalisme maupun empirisme sudah sama-sama menjadi landasan perfikir para penyelenggaran pendidikan di negeri ini, semangat keduanya terlihat dari pelaksanaan pembelajaran yang banyak menitikberatkan pada kemampuan logika semata dan sedikit banyak mengenyampingkan potensi, talenta, motivasi, kemauan, kemampuan pesertadidik yang lainnya. Semangat pendidikan semacam itu merupakan turunan dari cara berfikir berbasis rasionalisme.
Misalnya, dalam hal ini adalah kebijakan tentang UN, apakah persoalan hidup yang mereka hadapi hanya mampu dipecahkan dengan berbekal kemahiran mereka dalam menjawab soal-soal normatif diatas kertas. Pesertadidik pada akhirnya miskin pengalaman atau belum banyak teruji di lapangan dan cendrung normatif serta tidak kreatif menghadapi persoalan hidup dan menyelesaikannya. Pesertadidik kemudian berkembang tidak dengan seluruh potensi yang mereka miliki tetapi hanya berbekal logika tersebut, sebuah perkembangan yang timpang dan tidak utuh, hal ini tentu saja dilarang agama Islam yang melarang cara-cara seperti ini karena terlalu menyederhanakan ciptaanNYA yang mulia dan penuh potensi yang bernama manusia.
Adapun empirisme ekpresinya dapat kita temukan dari cara-cara pendidik untuk membuat pesertadidik belajar dengan menciptakan suasana atau lingkungan dan mendisiplinkan pikiran dan aktivitas mereka yang kecendrungannya memaksa mereka untuk kemudian mengikuti selera dan warna lingkungan yang telah tercipta sebelumnya. Sebuah cara berfikir yang tidak lagi sensitiv bahkan masabodoh terhadap potensi pesertadidik, mesin sudah dibuatkan tinggal memasukkan dan mencetak bahan-bahan yang akan diproses melalui mekanisme dan proses-proses yang telah dibuat sebelumnya.
Pada taraf inilah kemudian kecendrungan pendidikan adalah mencetak siswa sesuai kemauan, persepsi, pengetahuan, selera, anggapan, asumsi kita sebagai orangtua dan kita sebagai para ahli pendidikan. Keadaan ini diperparah dengan cara pandang instrumental (implikasi industrialisasi) yang beranggapan bahwa pendidikan itu laksana mengumpulkan pasukan perang untuk mencapai tujuan tertentu, pesertadidik pada akhirnya dididik hanya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu saja. Pendidikan sudah bergesar dari tujuan semula yaitu proses untuk membantu pesertadidik untuk menemukan dan mengasah potensi dan jatidirinya sendiri.
Pengaruh lainnya adalah sistem kontrol dan evaluasi yang jamak digunakan oleh para guru terhadap pesertadidik adalah metode induksi, yaitu penilaian aktivitas (dengan berkesimpulan) dan memberlakukannya secara universal terhadap seluruh siswa dengan hanya melihat kebiasaan mereka secara umum tanpa memperhatikan secara lebih dan inten keragaman karakter mereka.
Dalam hal kurikulum, mayoritas pola rancangan dan pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam akan banyak memakai cara-cara yang berkesadaran Eropasentris, taruhlah dalam hal ini, 1. Pola kurikulum yang menekankan pada isi, 2. Pola kurikulum yang menekankan pada proses, 3. Pola kurikulum yang menekankan perpaduan pada isi dan proses serta pengalaman belajar sekaligus.
E.  Kritisisme
Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu: Immanuel Kant (1724-1804).
Kritisisme; Semangat Rennissance Sepanjang Masa
Menggambarkan kritisisme sebagai semangat rennissance sepanjang masa paling tidak dapat dilakukan dengan telaah historis. Dengan pembacaan historis filosofis—sebagaiman a yang pernah dilakukan Ibnu Kholdûn dalam Muqaddimah-nya—"borok-borok" sejarah akan terungkap, sekaligus membedakannya dari ide-ide brilian para pendekar peradaban.
Berawal dari Yunani, gudang segala ilmu pengetahuan, para raksasa filsafat bermunculan. Masa ini mengenal para raksasa filsafat dengan segala temuan sainsnya. Doktrinasi filosofis yang mereka kemukakan mengenai hakekat alam semesta diterima dengan cerdas oleh para pengikutnya. Sejarah mencatat, di masa itu [hampir] tak ditemukan perbedaan antara ilmuwan dengan agamawan; mereka adalah ilmuwan yang beragama sekaligus agamawan yang intelek. Taruhlah misal, Phytagoras—sebagai filosof pertama yang tertintakan sejarah—selain menemukan teori Phytagoras dalam Matematika, ia pula seorang agamawan yang memiliki doktrin metempsychosis; sebuah doktrin agama yang mengajarkan reinkarnasi jiwa manusia.
Dua filosof Yunani paling masyhur, Plato dan Aristoteles, pun tak ketinggalan. Ajaran intuisi Plato dalam mencapai hakekat kebenaran tak disangka adalah semacam counter terhadap kaum Sophia yang tak mempunyai dasar epistemologis yang tegas dalam pencapaian hakekat. Baginya, hati adalah epistemologi paling logis dalam menyingkap kebenaran. Tak terima dengan konsep gurunya yang cenderung gnostis, Aristo pun mengangkat suara. Baginya, nalar paripatetik adalah jawaban segala keraguan. Dua ide filosof kawakan ini kemudian bermetamorfosis menjadi Ruwâqiyyah [Plato] dan Misyâiyyah [Aristo] yang menyusupi peradaban selanjutnya; peradaban Islam dengan segala nalaritas retorika-demonstrat ifnya.
Era Islam, al-Kindi pun menjadi filosof muslim pertama secara de yure. Meski ia menyerap sekian banyak intelektualitas Yunani, ia tetap mantap dengan keislamannya. Jika "katanya" Yunani mengingkari ke-hâdits-an alam semesta, ia menyuarakan sebaliknya; baginya alam adalah hâdits, hanya Tuhanlah yang qadîm.  Ia benar-benar berusaha mengharmonisasikan filsafat dengan agama laiknya Mutakallimin.
Belum rampung usaha ini di sini. Dua filosof Muslim paling populer pun muncul. Al-Fârâbi dan Ibnu Sîna kembali menggebrak dunia filsafat. Mereka tetap meyakini ke-qadîm-an alam, namun di sisi lain mereka cukup inovatif; mereka berusaha menggabungkan nalar gnostik milik Plato dengan paripatetik Aristo.
Al-Ghazâli sebagai agamawan-filosofis- sufistik cukup "kebakaran jenggot" dengan "ulah" kedua filosof di atas. Dengan berasumsi the incoherency of philosophers ia pun mengkafirkan keduanya sekaligus banyak filosof. Baginya ide mereka membahayakan orang awam. Meski terkesan defensif, tak disangka ternyata diam-diam al-Ghazâli bersimpati pada mereka. Karyanya Ma'ârij al-Quds menyimpan hakekat pemikiran al-Ghazâli. Riset ilmiah membuktikan bahwa al-Ghazâli adalah filosof ramah kebapakan yang melindungi "anak-anaknya" dengan menyembunyikan kefilosofisannya. (Sulaimân Dunyâ, 1994).
Kritisisme filosofis Aswaja semakin tak punya masa depan pada kurun-kurun berikutnya. Apalagi semenjak muncul "fatwa-fatwa liar" dari rahim muhadditsîn, yang cenderung demonstratif dan membenci paripatetik, semisal Ibnu Shâlah, Ibnu Taimiyyah dan al-Suyûthi yang mengharamkan filsafat secara mutlak atau sangat ketat. ('Ali Sâmi Nasysyâr, 2008).  Aswaja pun kehilangan kejayaannya dan berangsur-angsur surut pamornya ditelan zaman.    
Dunia Islam telah lesu dengan semangat intelektualitasnya dan membutuhkan penyegaran. Di abad-19 muncul pemikir brilian Mesir, Muhammad 'Abduh, yang sebelumnya Rifa'ah Thahthâwi muncul dengan ide liberalismenya dan Jamâluddin al-Afghâni dengan evolusi politiknya. Yang pertama berusaha membangunkan jiwa kritisisme dan menghendaki gerakan puritanisme. Jika di Nejd M. 'Abdul Wahhab dengan puritanismenya mengedepankan teks dan cenderung radikal sehingga dicap Neo-Khawârij, Muhammad 'Abduh dengan rasionalitas- filosofisnya dan cenderung liberal sehingga dicap Neo-Muktazilah. Saat inilah Islam mulai mengenal rennissance kembali.  
Berkat kegigihan mereka, terutama 'Abduh, era kontemporer melahirkan banyak pemikir prolifik yang gigih memperjuangkan rasionalitas agama tanpa takut ancaman ideologi apapun. Sebagai misal, 'Ahmad Na'im dengan sekularismenya, Arkoun dengan arkeologisnya, 'Âbed al-Jâbiri dengan epistemologisnya, Khalîl 'Abdul Karîm dengan historiografi marxismenya, Hasan Hanafi dengan Islam-Kirinya, Abu Zaid dengan hermeneutiknya, Adonis dengan al-Tsâbit wa al-Mutahawwil-nya, Jamâl Bannâ dengan Fiqh Jadîd-nya dan seabrek pemikir lain adalah para pejuang rennissance Islam Timur Tengah.
Di Indonesia, para pecinta intelektualitas pun tak kalah. Sebut saja Harun Nasution dengan teologinya, Nur Kholis Majid dengan pluralismenya, 'Abdurrahman Wâhid dengan sekulerismenya, JIL dengan liberalismenya, Hussein Muhammad dengan feminismenya, Quraisy Syihab dengan moderasi tafsirnya adalah para pejuang rasionalitas. Bahkan yang terakhir adalah alumnus lembaga pendidikan tertua di dunia, al-Azhar University, tempat 'Âbduh mengucurkan ide pembaharuannya.
Dengan belajar dari historisitas kita pun memahami bahwa kritisisme adalah semangat rennissancerennissance anti kemapanan atau fundamentalisme pendukung status quo. yang tak boleh pudar. Ketika sedikit mengendur, karena fatwa-fatwa pembenci filsafat misalnya, rasionalitas pun mati dan intelektualitas terancam. Sekarang saatnyalah kita yang memilih antara kritisisme
pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang Rasionalisme berpendirian bahwa rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut.














BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran
Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang meneakankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri.
Sedangkan Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.
B.       Saran
           Tidak ada gading yang tak retak,  disini saya sebgai penulis menyadari makalah jauh dari sempurna. Saya mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk di jadikan bahan pedoman untuk pembuatan makalah selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, hlm. 3-5.
Hakim Abdul Atang dan Saebani Ahmad, Beni Filsafat Umum dari Metologi sampia Teofisikolog, CV Pustaka Setia. Bandung Desember 2008.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com