Senin, 23 Juli 2012

MATERI BAHASA INDONESIA

0 komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Teriring salam dan do’a aku ucapakan kepada Ibu Eka. Semoga Ibu beserta keluargannya di sana baik-baik saja Amin… tidaka lupa juga saya aturkan kepada Allah SWt yang telah memberikan kesehatan serta kepandaian. Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia ini sebgai Pengganti Ujian Semester, dikarenakan pada waktu Ujian Semester saya tidak dapat hadir karena sakit. Sehingga saya ditugaskan untuk membuat contoh-contoh materi yang saya senangi beserta contohnya. Semoga apa yang telah saya tulis dapat bermanfaat untuk kita semua dalam memahami materi-materi yang ada di mata kuliah Bhasa Indonesia.. Amin.. Amin Ya Robal Alamin..!!! adapun materi yang saya senangi dan saya pahami adalah sebagai berikut :

A.    Pengertian bahasa Indonesia
Bahasa “ Ungkapan, pikiran, dan perasaan manusia yang dilalui alat ucap baik lisan/tulisan” (STA)

B.     Makna Kata
Ialah suatu kata yang mempunyai arti tersendiri dalam kata tersebut sehingga menimbulkan kata yang berbeda dari asal kata itu.
C.                 Macam-macam Makna Kata
a.       Homonim ialah kata yang memiliki kata yang berbeda tetapi lafal dan ejaannya sama.
Contoh : Contoh pasangan kata yang termasuk homonim:
a.
bisa
: dapat

bisa
: racun
b.
buku
: ruas

buku
: kitab
c.
salak
: nama buah

salak
: bunyi gonggongan anjing
c.
bulan
: waktu 30 hari

bulan
: nama satelit bumi
d.
genting
: gawat

genting
: benda penutup atap rumah
e.
malam
: nama waktu lawannya siang

malam
: nama zat bahan membatik


b.      Homograf
Homograf adalah kata  yang sama ejaannya dengan kata yang lain tertapi beda lafal dan maknanya.
Contoh kata-kata yang termasuk homograf:
a.
apel (lafal e seperti pada teh)
: upacara

apel (lafal e seperti pada teman)
: nama buah
b.
seminar (lafal e seperti  pada teman)
: bersinar-sinar

seminar (lafal e seperti pada sate)
: pertemuan ilmiah
c.
teras (kayu) lafal e seperti pada tebu)
: inti kayu

teras (rumah) lafal e seperti pada sate
: bagian depan rumah   (beranda)






c.       Homofon
Kata yang sama lafalnya dengan kata lain tetapi beda ejaan danmaknanya.
Contoh kata-kata yang termasuk homofon:
a.
sangsi
: ragu-ragu

sanksi
: hukuman
b.
bank
: tempat menanbung
 
c.
bang
hak

: panggilan untuk orang laki-laki
: hak (sepatu)
: hak (asasi)
D.    Sifat kalimat efektif
1.      Kaliamat harus memiliki kelengkapan unsure fungsi
2.      Kalimat harus memiliki kesatuan pikiran
3.      Kalimat harus memiliki kepaduan
4.      Kalimat harus logis
5.      Kalimta harus memiliki struktus yang benar
Ad. 1. Memiliki kesatuan gagasan
·         Jangan di asumsikan hanya memiliki 1 ide tunggal tetapai lebih dari 1 dengan catatan “kalimat tersebut jangan menghendaki jawaban setelah itu”.
·         Kesatuan terbagi: kesatuan tunggal, kesatuan gabungan ,kesatuan pertentangan , dan kesatuan pilihan.
·         Contoh kesatuan tunggal : “Semua mahasiswa fakultas ushuluddin IAIN mengadakan bakti social pada masyarakat”

Kesatuan gabungan :
·         Terbentuk dalam kalimat majemuk, bias gabungan, bertingat, setara.
·         Contoh :
·         1. Ia menyesali perbuatanya berusaha untuk merobahnya.
·         2. Ia tertawa kemudian ia mengangis.

Kesatuan pertentangan :
·                     Terbentuk dalam kalimat majemuk yang bertentangan, bias berbentuk realitas, dan bias berbentuk batin.
·                     Contoh :
·                     1. Ia kaya tetapi tidak bahagia.
·                     2. Saya mencintainya tetapi orang tuanya tidak setuju.

Keatuan pilihan :
·                     Menggunakan penghubung”atau”
·                     Contoh :
·                     1. Kamu ingin pergi denganku atau tinggal dirumah ?
·                     2. Apakah aku yang slah bicara atau dia yang kurang mengerti ?

Ad. 2. Memiliki koherinsi yang baik
·         Koherinsi maksudnya: hubungan timbale balik antara unsure kata atau kelompok kata yang membentuk kalimat itu
Beberapa hal yang merusak koherensi :
1.    Kesalahan memakai pola kalimat
Contoh : Ayah obat minum dengan
2.      Kesalahan memakai kata depan/kata penghubung
(kadang-kadang penggunaan kata depan tersebut penggunaanya mubazir)
Contoh : bagi,sesuatu,akan
3.      Kesalahan pemakaian kata kata yang kontradiksi (kata yang belawanan artinya)
Contoh : para hadirin,demi untuk,seperti misalnya,agar supaya
4.      Kesalahan pemakaian keterangan aspek
Contoh ; sudah,akan sedang,belum (Buku itu sudah saya baca)

Ad.3. Memiliki penekanan
Cara pemakaian penekanan dalm kalimat ;
a.       Merubah posisi dalam alimat
Prinsip merobah posisi dalam kalimat ;
1.      Kata yang didepan dianggap kata yang dipentingkan
2.      Boleh merobah posisi letak kata asal tidak merobah arti
3.      Boleh menambah/mengurangi imbuhan asal tidak merobah arti
Contoh : kami harap pada kesempatan lain kita
1                        2                                            3


dapat membicarakan soal ini.
4
Pada penekanan ini diperlukan intonasi dan tanda baca.
b.      Membuat repetisi (pengulangan kata yang dianggap penting)
Contoh : 1. Berani berbuat bertanggung jawab
2. Sekali tidak, tetap tidak
3. Dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat
c. Menggunakan penekanan partikel
Contoh ; 1.Saudaralah yang bertanggung jawab dalam hal ini
2. Apakah aku tidak mengenal cinta ?
d. Membuat pertentangan
Contoh : Ia tidak menginginkan perubahan sedikit tetapi menyeluruh

Ad.5. Paralelisme
§  Yaitu menepatkan gagasan yang sama dalam struktur yang sama dengan mempertahankan hal-hal yang sederajat dalam konstruksi yang sama.
Contoh ; - Jauh berjalan, banyak pilihan
§  Lama hidup, banyak dirasa
                  Ad.6. Penalaran dan logika
§  Yaitu cara berpikir yang menghubungkan data-data menuju preposisi (kesimpulan)
Contoh ; - Negara kesatuan adalh Negara tunggal yang terdiri dari satu Negara saja bik keluar maupun kedalam merupakan kesatuan.

Ad.4. Variasi (bertolak belakang dengan repitis, tapi mencari sinonim kata)

a.       Sinonim kata
Contoh: 1. Seribu puspa ditaman bunga, Seribu wangi menejar kita
              2. Berjenjang naik, bertangga turun.
              3. Ia idola didesanya karena ia adalah bunga desa.
                    b. Panjang pendek kalimat
                        - Harap perhatikan bentuk kalimat
                        - Memperhatikan kata-kata mubazir
                        c. Me dan di
                            Kaliamt aktif diuabah menjadi kalimat pasif




E.     Surat Menyurat
a.       Pengertian Surat
Surat adalah alat komunikasi yang dibuat secara tertulis untuk menyampaikanberita/informasi dari seseorang/lembaga/instansi kepada seseorang/lembaga/instansi dengan mengikuti aturan dan bentuk tertentu.
b.      Fungsi Surat
1.       Sebagai pengganti diri ( data) yang mencerminkan  Watak, keperibadaia, kebijaksanaan seseorang/organisasi.
2.       Sumber bukti tertulis yang digunakan sebagai pegangan
3.       Bukti sumber data yang digunakan sebagai alat pengeikat seperti surat resm, surat pentin, yang diarsipkan
4.       Pedoman kerja yang digunakan sebagai alat instruksi/indicator
5.       Bukti sejarah yang digunakan untuk mengetahui perkembangan organisasi masa lampau.
c.       Klasifkisai surat menurut lembagai administrasi negera :
d.      Berdasarkan tujuan /maksud :
1.     Surat pemebritahuan
2.     Surat perintah
3.     Surat permohonan
4.     Surat peringatan
5.     Surat panggilan
6.     Surat perjanjian
7.     Surat pergantian

Sabtu, 14 April 2012

kamus palembang indonesia

0 komentar
Read more: Kamus Bahasa Palembang Lengkap

*besak Kelakar/ngawak=ngebual
*siru/takoan=belagu(banyak gaya)
*payo=ngajakin pergi
*berenggot=begerak
*jabo=teras depan
*lawang=pintu
*kongkon=nyuruh
*Alep = Cantik
*Ambal = karpet
*Ari = Hari
*Asil = Hasil
*Awak = anda (halus), badan
*Tubu, ambo = Saya
*Ayuk = Kakak perempuan
*Bicek, bicik = Panggilan untuk bibi
*Mangcek, mangcik = Panggilan untuk paman
*Cek = NonaBaseng = Terserah / sembarang (tergantung kalimat)
*Datuk = kakek
*Nyai/nyek = nenek
Yai/yek = kakek
man = Kalau (cth: aman kau ke sano gek, jangan lupo bawa pempek)
* Antok = Menyantuk suatu benda, biasa digunakan anak kecil dalam permainan ‘gambaran’ (cth: kartu kau tu antok, ulang oi !)
* Asak = Asalkan (cth: asak kau dapet cepek, ku enjok mobil la)
* Awak = Kamu, bisa digunakan sebelum ‘kau’ (cth: awak kau yang salah, nak nyalahke wong)
* Awan = Siang (cth: awan tadi, budak plaju mati ditabrak fuso)
* Bae/be = Saja (cth: kau bae/be la yang bayar)
* Balak = Masalah (cth: dak usah nyari balak la, kagek mati kau)
* Balek = Pulang (cth: aku abes ni nak balek ke rumah)
* Balen = Ulang (cth: balen oi, mano ado maen cak tu)
* Banyu = Air (cth: nak minum apo? banyu putih be)
* Baseng = Terserah (cth: baseng kau la, aku dak melok melok be)
* Basa = Gawat (cth: basa ni! dak pacak gawe galo)
* Baso = Bahasa (cth: ae baso inggris be dak pacak kau, cupu ni!)
* Bebala = Bertengkar mulut (cth: wong sebelah ni galak bebala sampe subuh)
* Belagak = Tampan (cth: wew, belagak nian kau hari ni!)
* Belago = Bertengkar saling pukul (cth: budak kecik tu galak belago, laporke plisi peh?)
* Bengak = Bodoh (cth: bengak makan taik kau tu!)
* Begoco = Berantem/Berkelahi (cth: dak usah jingok jingok, begoco be kito!)
* Berejo = Bersusah-susah (cth: berejo la kau! tula, diomongi dak galak denger)
* Bi Cek = Ibu, bibi (cth: bi cek! nak kemano?)
* Budak = Anak (cth: budak sekolahan emang paleng mudah diculik)
* Buntang = Bangkai (cth: depan kelas kito ado buntang tikus)
* Buyan = Bodoh (cth: buyan nian kau! cak ini be dak biso)
* Cak mano = Bagaimana (cth: cak mano ni? pacak dak lulus kito)
* Cak itula = Ya begitulah (cth: cak itula, basa nian kito)
* Calak = Curang (cth: kalo kau maen calak lagi, laporke guru gek kau)
* Cemeke’an = Pelit (cemeke’an nian, goceng be dak ngasi)
* Cetuk = Patuk (cth: lakinyo mati dicetuk ulo)
* Cotang = Menebak nebak dalam soal pilihan (cth: cotang 5 bener 4, hebat dak?)
* Cugak = Kecewa (cth: keno cugak be aku lantak dio)
* Cucung = Cucu (cth: woi cung, kalo kau ke plaju, belike aku ganja)
* Cindo = Cantik (cth: cindo nian tino tu, pacak peca utak aman jingokinnyo terus)
* Dak papo = Tidak Apa-apa (dak papo la! cuman denget koq)
* Dak katek = Tidak ada (lebih tegas) (cth: dak katek malu nian kau ni!)
* Dak katek katek = Tidak (membela diri) (cth: aq bunuh dio? dak katek katek)
* Dak terti = Tidak mengerti (cth: dak terti aku pelajaran ni)
* Dewe’an = Sendirian (cth: pegi samo siapo kau? dewe’an be)
* Dulur = Saudara (cth: oi dulur! po kabar?)
* Galak = Mau (cth: galak makan dak?)
* Galo = Semua (cth: dio wong bener galo, tae kucing nian)
* Gancang = Cepat (cth: pacak mati gancang wong lantak budak itu)
* Geli geli = Mudah (cth: mak ini sih geli geli bae)
* Geli geli basa = Sangat mudah (cth: pacak dak? geli geli basa)
* Geta basa = Bokek, pelit (cth: geta basa dio tu)
* Enjuk = Beri (cth: enjuk siapo la bunga ni ye?)
* Ekar = Kelereng (cth: ekar aku hargonyo goban, kau punyo?)
* Idak = Tidak (cth: idak galak makan dio dari kemaren)
* Igo = Terlalu (cth: tula pelit igo! rasoke kau sekarang)
* Iwak = Ikan (cth: iwak belido emang paleng mantep dibikin pempek)
* Jabo = Luar (cth: buangke sampah ni ke jabo ye)
* Jingok = Lihat (cth: jingok soal mak ini, nangis darah aku)
* Jiron = Tetangga (cth: kenal dak kau samo jiron kau?)
* Julak = Dorong (cth: kagek kau ku julak ke rel MRT, dak usa macem-macem)
* Kacek = Selisih (cth: kacek dikit jugo, dak apo la)
* Kacuk’an = Berhubungan sex (cth: jangan kacuk’an di luar nika ye, doso tu)
* Kagek = Nanti (cth: nak pegi lum? kagekla)
* Kambang = Kolam (cth: jangan galak ke kambang iwak, diculik wong gek kau)
* Kampang = Tak punya ayah, anak haram (cth: oi kampang! dak jingok wong lagi nyebrang!)
* Katek = Tidak Ada (cth: kesian jingok dio, katek duit, katek rumah, katek kerjo)
* Kecik = Kecil (cth: pempek telok kecik seporsi berapo?)
* Kempet = Kempes (cth: ai, ban mobil aku kempet pulok)
* Kendak = Kehendak (cth: apola kendak kau nulis wiki ni?)
* Ketek = Perahu (cth: turis tu lagi naek ketek nyebrang sunge musi)
* Kleker = Kelakar (cth: pak Tomz emang rajo kleker, nghayal telalu tinggi)
* Klepeh = Dompet (sth: supayo dak dimaling, pastike klepeh disimpen dengan aman)
* La = Sudah (cth: la selesai lum? lamo nian)
* Laju = Ayo (cth: galak laju, dak galak sudah), akibatnya/jadinya (cth: lantak bebala laju keno marah budak tu)
* Lajuke = Urusi (cth: aman kau galak, lajuke la)
* Lanjak’i = Kerjain, urusin (cth: tugas gilo babi tu mase be dilanjak’i nyo)
* Lantak = gara-gara (cth: lantak kau la, jd rusak komputer aku)
* Lemak = Enak (cth: makanan disini la dak lemak, mahal pulok)
* Lihai = Pintar (cth: lihai sudah dio sekarang, make obat apo ye?)
* Lokak = Kerjaan, masalah (cth: dio tu emang galak cari lokak, pecake be palaknyo)
* Lolo = Bodoh (cth: Lenglolo tu emang lolo nak pindah dari Sriwijaya)
* Lum = Belum (cth: sudah lum?)
* Madak’i = Masa sih? (cth: mada’i kito kalah, pake dukun apo mereka?)
* Mak ini ari = Hari gini (cth: mak ini ari, mase ado bae wong yang galak maleng ayam)
* Mang Cek = Bapak, Paman (cth: jangan beli maenan dari mang cek tu, dio galak ngolaki)
* Melok = Ikut (cth: aku nak ke Kandang Kawat, melok dak?)
* Mekot = Ikut (cth: mekot oi ke PS, la bosen aku ke PTC)
* Menujah = Menusuk (cth: rai kau ni mirip yang nujah adek aku)
* Mengot = Lengkung (cth: mistar ni pacak mengot pulok)
* Meseng = Buang air besar (cth: budak tu galak meseng di celano aman aku kejutke)
* Metu = keluar (cth: dio tu dak pernah metu dari kamar sejak diputusi ceweknyo)
* Nak = Mau (cth: diemla! nak keno marah guru kau?)
* Ngampok = Pamer (cth: dak usah ngampok kau! jingok dulu na gambar aku)
* Ngatoke = Mengatakan (cth: walikota ngatoke kalo dio bakal gusur semua pedagang kaki limo tanpa ampun)
* Ngolaki = Menipu (cth: koko kau tu galak ngolaki, ngomong jual permen taunyo ganja)
* Ngotaki = Membohongi (cth: ae kau ni ngotaki aku dari dulu, putus be kito)
* Nian = Sangat (cth: kau cantik nian malem ni)
* Nianan = Beneran (cth: nianan oi! pesta pesta kito malem ni)
* Ngibak’i = Peduli amat (cth: ngibak’i kau la, emang kau siapo)
* Ngigik = Lucu, ada ada aja (cth: ngigik nian wong yang bikin kamus ni)
* Ngenyek = Ngejek (cth: pak itu emang galak ngenyek, kesel jugo lamo lamo)
* Nyampak = Jatuh (cth: ajaib, la nyampak dari lante 30 masi pacak idup)
* Nyenyes = Tidak bisa menjaga rahasia, mulut ember (cth: aku dak seneng dengan wong nyenyes cak dio)
* Oncak = Jagoan (cth: pakela oncak kau, tetep tula aku yg menang pasti)
* Oplet = Angkot (cth: kalo oplet warno merah stop dimano ye?)
* Pacak = Bisa (cth: pacak gilo jugo aku kalo cak ini terus)
* Palak = Kepala (cth: pening palak aku jingok kelakuan dio)
* Pasak = Pasar (cth: pasak Kuto tu pangkalan preman, jangan galak kesano)
* Payo = Ayo (cth: ke PIM dak? payo!)
* Pecak = Seperti (cth: badan pecak gorila cak tu, kalahla dio)
* Pecik = Menembak (cth: ae cupu ni, pecik ekar be dak pacak)
* Peh la = Yuk (cth: maen dak? peh la)
* Penesan = Bercanda (cth: jangan langsung tujah2an oi, cuma penesan dio tu)
* Pilat = Kata kasar, arti: orang yang bibirnya ada bekas operasi(?) (cth: pilat ni! bawa mobil tu beneran dikit!)
* Pocok = Atas (cth: dio lagi di pocok, beneri atep)
* Prei = Libur (cth: kapan prei?)
* Rai = Muka, tampang (cth: jingok rai kau, nak muntah aku)
* Ringam = Reseh (cth: ringam nian jadi wong tu!)
* Sanjo = Bertamu (cth: kagek sincia sanjo ke tempat aku ye, banyak makanan la)
* Sangkek = Keranjang, bungkusan berisi makanan yang dibagikan waktu ultah anak kecil (cth: la dapet sangkek lum kau?)
* Saro = Sulit (cth: kalo cak ini saro! jadinyo cak mano? cari dulu turunannyo)
* Sapo = Siapa (cth: sapo be yang nak mekot, bayar sejuta)
* Semekuk = Berbentuk (cth: dak semekuk nian gambar kau, budak TK be lebih lihai)

Sabtu, 07 April 2012

Makalah Sosial Budaya da lam pendidikan

0 komentar

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendidikan Dalam Sekolah
Dalam kehidupan modern lembaga pendidikan sekolah mempunyai peranan penting dalam dalm mengembangkan sumber daya manusia. Sekolah yang seiring juga dipandanag sebagai lingkungan pendidikan kedua bagi anak setelah lingkungan keluarga, diserahi sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul orang tua dalam keluarga. Hal ini terjadi karena orang tua sudah kecil kemungkinan untuk dapat mendidik anaknya untuk menguasai berbagai kemampuan yang diperlukan dalam kehidupannya.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan orang tua tidak sanggup lagi untuk mendidik anaknya tentang berbagi pengetahuan dan kemampuan tersebut, untuk kemudian menyerahkan sebagian tugas dan tanggung jawabnya kepada guru yang menjadi pendidikan di sekolah. Sehubungan hal tersebut lembaga pendidikan sekolah yang bersifat formal mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
A. Karakteristik pendidikan sekolah
Dalam melaksanakan tugasnya sekolah tergolong pada lembaga pendidikan formal merupakan tempat berlangsungnya proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Penyelenggaraan proses pembelajaran di sekolah dilakukan oleh petugas khusus dengan menggunakan cara-cara tertentu menurut norma-norma tertentu, untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Mengacu pada sistem pendidikan nasional sekolah sebagai lembaga pendidikan yang tergolong pada jalur pendidikan formal memiliki karakteristik jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidkan yang melandasi jenjang pendidkan menengah. Pendidkan dasar berbentuk sekolah dasar ( SD) dam madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajatnya.pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah.
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah juga merupakan tempat terjadinyah proses sosialisasi yang kedua bagi anak setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya, serta mempunyai tanggung jawab yang penting bagi pendidikan anak-anak dan pemuda dalam kehidupan.
B. Fungsi dan tujuan pendidikan sekolah
Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sisem pendidikan nasional pembelajaran disekolah hendaknya memiliki fungsi dan tujuan yang mengacu pada pendidikan nasional. Dalam kaitan ini sekolah hendaknya berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Soleh Soegiyanto (1994) mengemukakan fungi – fungsi sekolah sebagai lembaga sosial, yaitu:
1.      Sekolah berfungsi sebagai lembaga sosialisasi, membantu anak-anak dalam mempelajari cara-cara hidup di tempat mereka dilahirkan.
2.      Sekolah berfungsi untuk mentransmisi dan mentranspormasikan kebudayaan.
3.      Sekolah berfungsi menyeleksi murid untuk melajutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Pada kehidupan modern sekarang ini disamping pendidikan lainnya, kehadiran sekolah sebagai jalur pendidikan formal mempunyai peranan penting, karena tanpa lembaga sekolah, sumber-sumber dan kemampuan -kemampuan masyarakat yang sangat kompleks sulit kiranya untuk ditranspormasikan, atau disampaikan kepada generasi berikutnya secara efektif dan efisien.
2.2 Pendidikan Dalam Keluarga
Awal kehidupan seseorang dimulai dalam lingkungan keluarga, bahkan dalam keluarga pula pada umumnya seseoramg mengakhiri kehidupannya. Sejak mulai lahir dari bayi sampai tumbuh dewasa tidak terlepas dari kehidupannya yang terus menerus berputar sampai terbentuk sebuah keluarga kembali. Dalam keluarga terjadi apa yang dinamakan interaksi antar anggota keluarga, interaksi tersebut dapat terjadi antara suami (ayah) dengan anak, istri ( ibu) dengan anak, anak dengan anak, bahkan terjadi pula antar keluarga satu dengan keluarga lainnya. Dalam interaksi itu terjadi proses belajar, pembinaan, bimbingan atau proses pendidikan.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertana dan utama, berlangsung secara wajar dan informal, serta lebih dominan melalui media permainan. Keluarga merupakan dunia anak yang pertama yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadapnya. Dalam keluarga anak lambat laun membentuk konsepsi tentang pribadinya baik tepat maupun kurang tepat. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengidentifikasi dirinya denga kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
Orang tua (ibu dan ayah) sebagai pendidik betul – betul merupakan pletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan bermanfaat atau berperan terhadap pengaruh – pengaruh atau pengalaman – pengalaman selanjutnya, yang datang kemudian,. Anak lahir dalam pemeliharaan keluarga dan dibesarkan dalam keluarga. Anak akan menyerap norma-norma yang ada pada anggota keluarga, dari ibu. Ayah, maupun dari saudara-saudara yang lain. Karena itu orang tua didalam keluarga merupakan kewajiban kodrati untuk memperhatikan dan mendidik anak-anaknya sejak anak dilahirkan, bahkan sudah ditanamkan rasa kasih sayang sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Jadi tugas orang tua dalam mendidik ana-anaknya terlepas dari kedudukan, keahlian atau pengalaman dalam bidang pendidikan yang resmi.

Melalui pendidikan dalam keluarga, anak bukan saja diharapkan agar menjadi suatu pribadi yang mantap, yang secara mandiri dapat melaksanakan tugas hidupnya yang baik, melainkan ia juga diharapkan kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang baik. Kedua segi pendidikan tersebut, kepribadian yang mantap dan anggota mayarakat yang baik, bukan dua hal yang dipertentangkan, melainkan keduanya harus terjalin dalam kehidupan yang serasi. Karena itulah maka pendidikan dalam keluarga merupakan salah satu fungsi pokok dalam keluarga.
A. Peranan anggota keluarga dalam pendidikan anak
Pada umumnya peranan seseorang itu berkaitan dengan harapan-harapan orang lain atau masyarakat terhadapnya sesuai dengan status dan kedudukannya itu.
Pada kebanyakan keluarga, ibu yang memegang peranan pnting terhadap pendidikan anak-anaknya. Ibu dalam keluarga merupakan orang yang pertama kali berinteraksi dengan anak-anak. Pendidikan yang diberikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar yag tak dapat diabaikan sama sekali. Baik buruknya pendidikan ibu terhadap anaknya tentu akan mempengaaruhi terhadap pembentukan kepribadian mereka.

Disamping ibu, ayahpun pmempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya terhadap pembentukan kepribadian anak. Dari seorang ayah anak akan mengenal yang namanya wibawa.
Tindakan orang tua diharapkan saling menyeimbangi dan orang tua tampil sebagai penjelas nilai – nilai yang dianut oleh keluarga yang bersangkutan. Peranan orang tua dalam konteks pembinaan anak dalam keluarga meliputi:
1.      Peran sebagai pendidik
2.      peran sebagai panutan
3.       peran sebagai pendorong
4.      peran sebagai pengawas
5.      peran sebagai teman
6.      peran sebagai inspirasi
7.      peraan sabagai konselor
2.3 Dasar Teoritik Kependidikan Anak
Otoritas orang tua diperkecil oleh otoritas lembaga kemasyarakatan. Peanan orang tua sebagai pendidik dan sumber informasipun telah berkurang, karena pengaruh sumber lain seperti: radio, televisi, mass media lainnya. Banyak teori tentang perilaku manusia dalam merumuskan asumsi dasar sifat manusia. Tetapi pendekata paling dominan adalah psikoanalisis, behaviorisme, kogitif, dan humanisme.
Konsep psikoanalisis melukiskan: manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh keinginannya terpendam. Konsep behaviorisme memandang bahwa manusia itu merupakan makhluk yang digerakkan oleh lingkugannya. Konsep kognitip melihat manusia itu sebagai makhluk yang aktif mengorganisaikan dan mengolah rangsangan (stimulus) yang diterimanya. Konsep humanisme menggambarkan bahwa manusia ini merupakan pelaku aktif untuk merumuskan syrategi transaksional dengan lingkungannya. Ini merupakan teori – eori perilaku yang dipandang relevan untuk dijadikan pijakan atau menjawab masalah perilaku mengasuh anak balita.
Teori stimulus-Respons (S-R) dari Watson (1913) sbenarnya sudah diketengahkan oleeh Pavlop (1902) da Thondikke (1908). Pavlop telah menyodorkan hukum penguat (Law of Reinforvement) dan Thondike telah mengukuhkan Hukum Efek (Law Efect).

Krech dan Crutcfield menyatakan bahwa perilaku setiap orang dibentuk oleh konspsi – konsepsinya sendiri tentang dunia. Karena itu dunia sosial seseorang arus digambarkan sebagaimana dipersepsinya. Kemudian ia merumuskan proposisi dinamika perilaku sebagi berikut:
1.      Unit peting memadai untuk menganalisis motivasi adalah perilaku yang melibatkan kebutuhan dan tujuan
2.      Dinamika perilaku merupakan akibat dari ciri lapangan psikologik pada saat itu
3.      Ketidak stabilan lapangan psikologik menimbulkan “ktegangan” yang cenderung mempengauhi pesepsi, kognisi, dan aksi untuk merubah lapangan tersebut ke arah stuktur yang lebih stabil lagi
4.      Frustasi terhadap pencapaian tujuan dan kegagalan dalam mengurangi ketegangan dapat menimbulkan berbagai perilaku adaptif atau maladatif
5.      Cara yang khusus dalam pencapaian tujuan dan penggunaan ketegangan dapat dipelajari dan dirasakan oleh seseorang.
Van Dijk (dalam soelaeman,1994) menunjuk, bahwa dahulu pendidikan berpusat pada keluarga sebagai pusat pendidikan bagi anak dalam segala bidang. Tugas keluarga dalam mendidik anaknya tidak saja mencakup pengembangan individu anak agar menjadi pribadi yang mantap, akan tetapi meliputi pula upaya membantuhnya dan mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Karl Mannhein (dalam Soelaeman) mengemukakan, bahwa anak tidak didik dalam ruang dan keadan yang abstrak, melainkan dalam kehidupan masyarakat tertentu.
2.4 Fungsi Sosialisasi dan Pola Asuh Keluarga

Dalam rangkah melaksanakan fungsi sosialisasi itu keluarga menduduki kedudukan sebagai penghubung anak dalm kehidupan sosial dan norma – norma sosial.
Faktor yang menyebabkan peran keluarga sangat penting dalam proses sosialisasi anak adalah sebagai berikut :

a. Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggotanya berinteraksi face to face secara tertutup.
b. Orang tua mempunyai motivasi kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan buah dari kasih sayang hubungan suami istri.
c. Karena hubungan sosial dalam keluarga bersifat tetap.
Fungsi sosialisasi menunjukkan peran keluarga dalm membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari pola-pola sikap, tingkah laku, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai di masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya.
Adapun tujuan dari sosialisasi dalam lingkungan keluarga, yaitu orang tua mengajarkan kepada anaknya tentang :
a. Penguasaan Diri
Masyarakat menuntut penguasaan diri setiap anggotanya. Proses mengajar anak untuk menguasai dirinya timbul pada saat orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan dirinya.

b. Nilai
Nilai dasar dalam diri seseorang terbentuk pada saat berusia enam tahun. Bersamaan dengan latihan penguasaan diri. Sebaiknya anak nilai-nilai.
c. Peranan Sosial
Setelah pada diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya.
Alat pendidikan yang digunakan dalam keluarga adalah kasih sayang dan kewibawaan. Kasih sayang orang tua berperan melindungi anak dalam hal ketidakberdayaannya. Dengan dilandasi oleh kasih sayang, anak akan merasa terlindungi dan merasa aman, memungkinkan anak akan tumbuh dan berkembang secara baik. Tindakan kewibawaan sebagai perilaku seseorang yang tercermin pada rasa tanggung jawab, sehingga orang lain merasa hormat kepadanya.
Polah asuh yang dilaksanakan dalam keluarga sangat berperan dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional muncul karena hubungan cinta kasih sayang ada dalam keluarga merupakan unsur yang paling mendasar bagi perkembangan anak. Pola asuh dalam keluarga diantaranya :

a. Pola asuh yang memanjakan
Dalam hal ini masih ada orang tua yang mengartikan kasih sayang dengan memanjakan yang berlebihan, sehingga sesala sesuatu yang diberikan kepada si anak diluar batas kewajaran. Akibat hal ini si anak tidak dapat mengembangkan dirinya karena terlalu dikhwatirkan oleh orang tuanya.


b. Pola asuh membiarkan

Pola ini dilakukan eloh orang tua degan membiarkan anak sendiri tanpa mengarahkan. Anak dapat berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya. Akibat hal ini kemungkinan yang muncul adalah anak akan mementingkan dirinya sendiri, sulit untuk bekerja sama, sikap menentamg.
c. Pola asuh otoriter
Dalam pola ini orang tua bertindak bahwa segala sesuatu yang menjadi aturannya harus dijalani dan dipatuhi oleh anak. Akibat dari pola ini yaitu anak tidak akan pernah mampu mengambil keputusan sendiri selalu bertanya kepada orang tuanya, atau enggan dam tidak dapat mengambil inisiatif sendiri.
d. Pola asuh otoriatif
Pola asuh yang wajar dan tepat untuk membantu perkembangan petensi- potensi anak yang dibawanya sejak lahir. Dalam penerapan pola ini disesuaikan denagn situasi dan kondisi.








BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dalam melaksanakan tugasnya sekolah tergolong pada lembaga pendidikan formal merupakan tempat berlangsungnya proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sisem pendidikan nasional pembelajaran disekolah hendaknya memiliki fungsi dan tujuan yang mengacu pada pendidikan nasional. Dalam kaitan ini sekolah hendaknya berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertana dan utama, berlangsung secara wajar dan informal, serta lebih dominan melalui media permainan. Keluarga merupakan dunia anak yang pertama yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadapnya. Dalam keluarga anak lambat laun membentuk konsepsi tentang pribadinya baik tepat maupun kurang tepat. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengidentifikasi dirinya denga kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya. Fungsi sosialisasi menunjukkan peran keluarga dalm membentuk kepribadian anak
Pola asuh yang dilaksanakan dalam keluarga sangat berperan dalam pembentukan pribadi anak. Dalam menentukan pola asuh, harus dilandasi oleh kasi sayang yang merupakan alat pendidkan, sehimgga potensi anak dapat berkembang sewajarnya. Pola asuh yang digunakan dalam keluarga juga harus memperhatikan perkembangan anak itu sendiri.
3.2  Saran
Kita sebagai calon guru maupun orang tua harus mengetahui betapa pentingnya pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Pendidikan yang seyogyiannya untuk kepentingan kita dan juga harus bisa dirasakan oleh semuannya manusia agar dapat mengembangkan kemampuan dan membentuk watak kita dan untuk mengembangkan potensi kita agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sehimgga dapat bersaing dengan manusia lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Ardiwinata, jajat dan achmad hufad. (2007). Sosiologi antropologi Pendidikan. Bandung: UPI PRESS
Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga Serangkai
Sadulloh Uyoh, Drs. (2003). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: AlFABETA.
Sadulloh Uyoh, dkk. ( 2007). PEDAGOGIK.. Bandung: CIPTA UTAMA.


Sabtu, 24 Maret 2012

Berhenti atau meneruskan

0 komentar

Berhenti atau Meneruskan

Sudah pernah terjatuh?
Ketika terjatuh, teman-teman berpikir seperti apa?
Terus berjalan atau berhenti?
Setiap diantara kita tentunya pernah merasakan terjatuh ketika ingin mencapai harapan yang kita inginkan. Tetapi apakah diantara kita semua sudah memilih berdiri kembali dan meneruskan untuk mencapai mimpi kita meskipun akan terjatuh kembali.
Moment terjatuh yang pernah terjadi dihidup saya ketika saya mau melanjutkan pendidikan di tahun 2010, saat itu saya mengikuti test di salah satu perguruan tinggi yang ada di Palembang, yaitu politeknek sriwijaya. Bersama salah 9 orang teman saya dari SMA Negeri 1 Semendo Darat Laut. Yang ketika itu saya dan teman-temanku tidak ada satupun yang lulus. Dikarenakan kurangnya pengawasan dari kepala sekolah kami. Padahal kami semua sudah bersusa semaksimal mungkin.  Tapi sekarang syukur Alhamdulillah saya dan kawan-kawan saya yang gagal pada waktu itu beserta saya bisa melanjutkan pendidikan. Atas kejadian saya sadar usahan tanpa bantuan orang lain tak bisa berbuat apa-apa, dan saya bisa mengambil hikmah dari kejadian ini…
Tentunya teman-teman memiliki cerita tersendiri ketika terjatuh, cerita yang menjadikan pengalaman untuk teman-teman. Cerita yang membuat alasan memilih untuk berhenti atau meneruskan karena itu semua pilihan. Jadikan cerita atau pengalaman teman-teman sebagai dorongan motivasi untuk tidak berhenti.
Saat memutuskan untuk berhenti, menurut saya teman-teman sudah tidak hidup. Mengapa? Pernah dengar statement ini “Hidup itu Susah, Jika mau hidup maka berjuang. Jika tidak mau berjuang, maka tidak usah hidup”. Dari kita dilahirkan sampai dengan kondisi kita sekarang seperti ini sebenarnya kita sudah berjuang tetapi apakah hanya sampai sebatas itu? Kembali ke teman-teman ingin meneruskan atau berhenti itu pilihan.
Sang pencipta menghadirkan diri ini di dunia nyata; manusia memilih untuk bekerja keras apa yang ada di hadapannya, mengganti kata masalah menjadi tantangan. Berjuang, walau hasil yang didapat belum tentu terlihat, bekerja keras mengantarkan ke impian dunia nyata. Manusia telah sampai di sini karena hidup tidak ada yang sempurna, hidup selalu melahirkan batas antara harapan dan kenyataan. Karena layaknya hidup adalah tantangan yang harus dihadapi dengan berani, dan setiap kita pun tahu, kita menjadi baik karenanya. Manusia tidak akan mencapai tingginya langit dan dalamnya samudera jika hidup adalah sempurna, karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna
By : Arjamudin

Kamis, 22 Maret 2012

Perempuan dalam Tiga Judul

0 komentar
Tentang Perempuan yang Menjadi Lukisan
Entah dengan apa perempuan itu membawa sekian wangi yang begitu saja menusuk hidungku. Hilangkan sekian juta aroma lain yang jauh lebih dulu kukenal. Mengubahku menjadi lelaki pelupa. Terlupakan banyak hal kecuali namanya saja yang kurapal layaknya mantra.
Entah dengan apa pula perempuan itu membuatku bisa menjadi pelukis. Sedang aku tidak pernah bersentuhan dengan ilmu lukis. Tidak tahu fungsi dari berbagai bentuk garis. Tak terlalu kenal rumusan komposisi warna. Tetapi ia tiba-tiba sudah berubah ujud di ruang kamar imajinasiku, sebagai lukisan yang seakan-akan benar-benar pernah kulukis.
Juga entah dengan apa perempuan itu membuatku menjadi penari. Bersama dengan berbagai nama nama tarian. Sedang ia sendiri lekat utuh menari bersamaku. Ditatapi langit yang menaruh iri karena tak kulirik meski ia menjanjikan lebih  banyak warna. Ditatapi bunga yang menjanjikan lebih banyak aroma. Tetapi tarian ini adalah tarianku bersamanya.

Pada Perempuanku: Dari Jakarta
Ada kegilaan yang terkadang menjadi keindahan. Ketika kegilaan itu menjadi penyatuan jari jemari, penyatuan tatapan, sampai berubah menjadi penyatuan tanpa rumus matematika, soal jumlah bibir dari dua wajah. Juga jumlah rambutmu yang membilas peluhku yang diperas dan mengucur oleh rindu.
Lantas setelah cerita penyatuan itu dibuyarkan pagi yang terlalu cepat datang. Kemudian menyisakan ingin, agar terjadi rotasi pada waktu, pada dimensi, yang tidak sekadar imajinasi, biar semua itu terulang kembali.
Tentang pada ketika jarak yang demikian jauh menjadi dekat. Ketika yang terpisah menjadi menyatu. Juga, ketika keraguan menjadi keyakinan yang lebih keras dari tiang-tiang penyangga gedung pongah di  Jakarta. Sampai dengan ketika bayangan yang hanya sekelebat datang menjadi kehadiran utuh. Tubuhmu di tubuhku. Ruh milikku pada ruh milikmu.

Tentang Janji yang Kutulis di Keningmu
Pada keningmu sudah kutuliskan sekian huruf yang tidak perlu ditafsirkan. Sebab itu bukan medan logika. Bahwa kecupan pertama bukan isyarat untuk tibanya kata akhir. Karena memang aku tidak ingin semua itu berakhir.
Pada keningmu sudah kubasuh dengan tintaku yang berwarna bening yang tidak perlu kau benturkan dengan rasio. Sebab itu bukan wilayah rasio.
Bahwa dalam tanpa jumlah dari kecup itu, seperti itu pula cerita tentang cinta itu tidak kuinginkan untuk terbentur dengan tanda tanya; Bilamana? Kapan? Hingga mana?
Bahkan aku tak tertarik menjumlahkan waktu!

Rabu, 21 Maret 2012

Pasar Murah ^_^

0 komentar
Aku tak mengharapkan ini terjadi. Sangat tak ingin! Kendatipun aku telah berhasil mendapatkan lima kilo beras, dua kilo gula pasir, dan sekilo minyak goreng, dengan menerobos lautan manusia di acara pasar murah itu.


Kepala-kepala menyemut dan berkeringat, sedari pagi telah memaksaku fokus ke depan. Fokus berusaha menjangkau tenda beratap terpal biru dengan wajah-wajah Tionghoa yang selalu tersenyum ramah. Hasilnya kau tahu,cengkeraman tanganku di pergelangan tangan Sulai,anakku yang baru berumurduasetengahtahunitu, tak dinyana terlepas. Entak kapan dia lolos dari genggamanku.

Aku terlalu berambisi sebagai orang super kere untuk mendapatkan barang-barang seharga beberapa ribu rupiah itu. “Anakku!” Orang-orang di sekelilingku sebentar terganggu oleh teriakanku. Mereka bertanya dengan sorot mata menyelidik. “Anakku hilang!”lanjutku. Berpasang-pasang mata itu menatapku iba.Tapi hanya sebentar. Setelah itu mereka merangsek ke depan, menjepitku seakan memencet duri yang menusuk ke kulit tapak kaki. Akhirnya aku terlepas dan terengah, menjauh semeter dari lautan manusia itu.

Sulai ke mana? Anakku? Aku mencari-cari dan berdoa kepada Tuhan kiranya turun keajaiban.Misalnya Sulai tibatiba terlepas dari lautan manusia dan melihatku sambil berteriak,“ Ibu!!” Sayang sekali, aku hanya bermimpi.Bagaimana mungkin mencari seorang anak kecil di kerumunan manusia yang tak habis-habis? Tak surut-surut walaupun petang mulai mengintip dari ufuk barat.Anakku pasti hanya bisa menangis,menjerit- jerit memanggil ibunya. Anakku akan disapa seseorang atau beberapa orang. Anakku dibawa.Sulai diculik! Perasaanku tak nyaman.

Sengaja kulepaskan beban penat di bawah pohon akasia meranggas. Terbayang di benakku bagai-mana kalau Sulai benarbenar diculik.Bagaimana kalau dia akhirnya dijadikan umpan iba di perempatan-perempatan jalan. Atau di bawah lampulampu lalu lintas.Ya, dijadikan pengemis, seperti yang beberapa minggu lalu kulihat beritanya di televisi tetangga sebelah rumah. Beberapa orang anak usia antara enam sampai dua belas tahun diculik dari sekian ibukota propinsi yang berbeda.

Mereka dipaksa mengamen dan mengemis di kota yang sangat jauh dan sangat asing.Mereka menjadi kacung jalanan tanpa bisa melepaskan diri. Kalaupun seorang-dua bisa bebas karena keberanian sekaligus kenekatan,itu hanyalah pengecualian. Itu keberuntungan, sehingga segelintir kejadian penculikan, bisa terbongkar. Segelintir.Hanya segelintir! Terbayang pula aku kepada Samingan, suamiku. Lelaki itu amat sangat mengasihi Sulai, sejak memberojol dari rahimku, hingga seusia sekarang ini.

Wajah dan tingkah laku Sulai yang setali tiga uang dengannya, pun menambah berlipatlipat rasa pengasihan itu.Maka itu, Samingan tak pernah memarahi Sulai kendati berlaku nakal. Apa-apa permintaan Sulai selalu diturutinya.Meskipun untuk semua itu terkadang kami harus semakin memperkencang ikat pinggang yang sudah membuat kami megapmegap. Terlebih-lebih ketika aku mengomel kepada Sulai yang senang mengulah. Alihalih membantuku melembutkan hati anak yang mulai alot itu, Samingan malahan memarahiku. Berani mengangkat tangan hendak menamparku.

Bagaimana pula kalau berita memedihkan ini diketahui Samingan? Oh,oh, anak pengasihannya itu telah hilang di kerumunan manusia kere.Aku yakin dia akan mengerkahku. Aku harus rela menjadi bulanbulanan omelan, pun pukulanpukulannya. Yang paling kutakutkan adalah harus pasrah bila dia menjagal nyawaku alias memampuskanku.Oh,Tuhan. Kenapa anak itu bisa terlepas dari cengkeramanku? “Kau mau ke mana?” Itu ucapan Samingan tadi pagi ketika dia pulang salat subuh dari langgar. Dia melihatku mengenakan pakaian yang agak lumayan dan berbedak tipis-tipis. Artinya,aku pasti akan pergi ke suatu tempat.

“Ada pasar murah di kota. Ini jarang terjadi, Pak. Sekali setahun saja,mungkin mustahil!” “Sulai dititip sama siapa?” “Biarkah aku bawa. Dititipkan ke rumah Mak, tak mungkin. Mak masih di Jambi.” “Membawa Sulai ke tempat seramai itu?” “Aku akan menjaganya!” “Yakin?” Dia ragu-ragu. Direbahkannya tubuh di atas dipan tanpa kasur. “Aku akan menjaganya!” ulangku. “Terserahlah! Tapi kau harus benar-benar menjaganya!” Matanya seolah mengancam. Sebelum akhirnya terpejam dan suara napasnya terdengar berat menjelang terlelap .

Mengingat kata-kata terakhir Samingan itu, membuat tubuhku menggigil. Aku tak berani pulang tanpa Sulai.Aku tak ingin dilabrak. Aku tak ingin mengotori tangan Samingan hanya sekadar menyiksa badanku.Walaupun dia taat menjalankan perintah agama, tohkekuatan apa yang bisa menahan kepasrahan atas kehilangan orang yang dikasihi? Siapa pun bisa gelap mata tak hanya karena kehilangan anak, misalnya.

Bahkan diputus cinta oleh pacar, bisa gantung diri atau mencebur ke Sungai Musi. Konon lagi Samingan rela menyerahkan nyawanya jika itu kait-mengait dengan hal tak menyenangkan yang terjadi kepada anak terkasihnya. “Tak pulang,Romlah? Sudah hampir magrib!”Bu Bariah menyapaku. “Kalau tak punya ongkos angkot,pulang sama kami saja.Kami menumpang pikap Pak Soleh.

”Dia menoleh ke arah beberapa ibu yang jalan bersamanya. Mereka menganggukangguk pertanda setuju. “Aku belum bisa pulang,Bu Bariah! Sulai hilang! Tadi dia terlepas dari tanganku.” Aku seolah meratap. “Sudah kau cari?” “Sudah! Tapi, bagaimana mencarinya di tengah manusia yang sangat banyak?” “Woi, mau berangkat, nih!” Pak Soleh melongokkan kepala dari jendela pikap.Bu Bariah ragu-ragu antara ingin membantuku dan memenuhi panggilan Pak Soleh.Tapi,dia akhirnya tak enak hati permisi kepadaku karena ibu-ibu yang berjalan bersamanya sudah naik ke bak pikap.

Tinggal aku sendiri tertunduk- tunduk menatap barang bawaanku.Tak ada lagi arti semua itu kalau Sulai hilang.Aku tak berani pulang.Aku gamang bernapas. Selintas ada godaan buruk untuk menceburkan diri ke Sungai Musi seandainya Sulaitakkutemukanlagi. Hanya,di sebalik hatiku yang lain mengingatkan, bunuh diri bukanlah penyelesaian terbaik. Bila aku bunuh diri,Samingan tak hanya kehilangan seorang yang dikasihinya. Tapi,duaorang.Duaorang sekaligus! Azan magrib yang berkumandang deras dari Masjid Agung telah pula menggenapkan petang menjadi sangat remang.

Pasar murah mulai lengang. Hanya ada beberapa orang yang memberesi karduskardus kosong dan memuatnya ke bak truk berwarna kuning terang.Beberapa lagi yang lainnya sibuk memunguti sampahsampah plastik bekas makanan, juga kertas-kertas koran yang menggunung. Segera kuhela kaki mendatangi kelengangan. Dapat kulihat tak ada sama sekali anak kecil di situ apalagi usianya yangmasihdibawahlimatahun. Barang bawaanku tak kuhiraukan lagi. Biarlah pohon akasia yang meneduhinya dari gelap. Kalaupun ada yang menginginkannya, aku tak peduli lagi.

Aku lebih mementingkan Sulai. Seorang perempuan dengan pipi merah melihatku. Dia tersenyum dengan tatap mata seperti menyesal.“Maaf,Bu.Pasar murahnya sudahselesai.Barangbarangnya tak ada lagi.”Dia tak enak hati,lalu berteriak kepada seorang lelaki berkepala plontos. Lelaki itu mengatakan bahwasemuasudahhabis.“Nah, tak ada lagi kan, Bu! Atau?”Dia mengeluarkan uang dari dalam tasnya yang segera kutampik. “Aku hanya mencari Sulai, Bu. Anakku!” Suaraku tercekat.

Dia semakin iba. “Anakmu hilang?” Beberapa orang mendekati kami. Masing-masing menunjukkan rasa kasihan. Seroang-dua menepuk- nepuk bahuku pertanda kasihan. “Siapa nama anak Ibu? Oh, iya saya lupa.Sulai ya,Bu?”Perempuan berpipi merah itu semakin merapatiku. “Apa ibu mempunyai foto anak itu?” Aku lekas menggeleng. Belum sekalipun Sulai difoto. Kami tak memikirkannya. Untuk makan saja susah, apalagi sekadar berfoto.

“Mungkin lebih baik dilaporkan ke polisi saja ya, Bu? Atau Ibu ada kawan untuk melapor?” Seorang lelaki ubanan bermata sangat sipit ikut sumbang saran. “Aku datang sendiri ke mari, Pak.Maksudku bersama Sulai.” Sumbang-saran semakin ramai. Mereka bertanya-tanya tentang alamatku.Mereka berjanji akan menemuiku besok pagi dan mengajakku melapor ke kantor polisi. Dan malam semakin pekat. Bagaimanapun rasa iba yang menggembung di benak mereka, toh harus pupus karena mereka memiliki kesibukan lain. Mereka masih harus menyelesaikan bisnis ini-itu.

Mereka harus pulang ke rumah masingmasing, menjumpai keluarga yang menunggu dengan sukacita. Ya, sukacita! Hari ini hari baru bagi mereka. Hari dengan lampion merah berlampu yang menyala-nyala. Mereka harus berkumpul dengan keluarga seperti aku dan suami berkumpul saling maafmemaafkan ketika lebaran tiba. Tuhan,sekarang ini yang kubutuhkan hanya Sulai.Temukan aku dengan yang terkasih itu. Apa yang kutakutkan ternyata terbukti.Tak hanya Sulai yang lepas dariku,juga barang bawaanyangentahkenapakutitipkan kepada pohon akasia itu.

Coba, siapa sekarang yang tega membiarkan barang teronggok tanpa pemilik? Ada pemiliknya saja, orangbisamencuri,mengancam, memalak.Oh,aku tak bisa menangis lagi. Aku tak mampu berpikir lagi. Mungkin pilihan terbaik hanyalah mengubek seluruh tempat di seputaran sini demi mencari Sulai. Terseok-seok aku mendatangi siapa saja yang masih duduk mengumpul. Beberapa orang yang sedang mabuk tuak melihatku mendekat. Merasa tatapan mereka adalah jebakan, buru-buru aku menjauh.

Sekumpulan lagi kudatangi, anak-anak yang legam berbaju kusam, ibu-ibu yang muram. Kuteliti masing-masing anak itu. Ya, Tuhan, tak ada juga anakku,si Sulai! Mereka malah mengusirku karena tak ingin kenyamanannya terganggu. Suara nyaring ceramah di Masjid Agung tiba-tiba menarik langkahku mendekat ke sana. Aku merasa bersalah hanya mampu meminta tolong kepada Tuhan,tapi aku sama sekali melupakan kewajibanku sebagai hamba. Dari pagi aku sudah sibuk berebut kebutuhan dunia.

Lohor yang membahana,seolah tertutup di telingaku.Asar yang merayap-rayap, tak sekalipun kurasakan menyentuh kulit ini. Bahkan magrib terlewat oleh ratapku. Isya melayang karena kebuntuan pikiran.Oh, betapa nistanya hamba-Mu ini. Aku tiba-tiba tersihir ketika memasuki pelataran Masjid Agung.Bukankah itu Sulai? Ya, Tuhan, itu memang anakku. Dia digendong seorang lelaki. Meskipun pelataran masjid itu temaram sebab ada beberapa lampunya yang mati,aku yakin itu Sulai.

Ajaib,aku mendadak menemukan kayu balok di pinggiran semak. Ini adalah kesempatan merebut Sulai dari tangan penculik.Harus kurebut dia! Aku berlari mengejar mereka yang berjalan hampir sepuluh meter di hadapanku.Aku memejamkan mata saking takutnya. Buk!

Pukulanku mengena telak dan membuat lelaki itu mengaduh.Tapi, dia tak terjatuh dan hanya mengerang sambil menoleh ke arahku. Lelaki itu berteriak,“Ibu!” Lelaki itu menatapku takjub. Ya, Tuhan! Dia suamiku. “Bapak!” Kupeluk dia eraterat. Kuciumi Sulai dengan beringas sehingga dia mendorong wajahku.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com